Kesatuan dalam Keberagaman
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
BAB IX
KESATUAN DALAM KEANEKARAGAMAN
( Disampaikan di London, 3 November 1896 )
"Yang Maha Ada memproyeksikan indra ke luar, oleh karena itu manusia memandang ke luar, bukan ke dalam dirinya sendiri. Seorang bijak tertentu, karena mendambakan keabadian, dengan indra yang dibalikkan ke dalam, menyaksikan Diri di dalam." Sebagaimana telah saya katakan, penyelidikan pertama yang kita temukan dalam Veda menyangkut hal-hal lahiriah, dan kemudian muncullah gagasan baru bahwa realitas segala sesuatu tidak ditemukan di dunia eksternal; bukan dengan memandang ke luar, melainkan dengan membalikkan pandangan, sebagaimana diungkapkan secara harfiah, ke dalam. Dan kata yang digunakan untuk Jiwa sangatlah bermakna: Dia adalah yang telah masuk ke dalam, realitas terdalam dari keberadaan kita, pusat hati, intinya, dari mana, seolah-olah, segala sesuatu memancar keluar; matahari pusat yang darinya pikiran, tubuh, organ-organ indra, dan segala sesuatu lain yang kita miliki hanyalah berkas-berkas sinar yang memancar keluar. "Manusia yang berakal kekanak-kanakan, orang-orang yang bodoh, mengejar hasrat-hasrat yang bersifat eksternal, dan masuk ke dalam jerat kematian yang membentang luas; tetapi orang bijak, yang memahami keabadian, tidak pernah mencari Yang Kekal di dalam kehidupan benda-benda yang terbatas ini." Gagasan yang sama dijelaskan di sini, bahwa di dunia eksternal ini, yang penuh dengan benda-benda terbatas, tidaklah mungkin melihat dan menemukan Yang Tak Terbatas. Yang Tak Terbatas harus dicari hanya pada apa yang tak terbatas, dan satu-satunya hal tak terbatas tentang kita adalah apa yang ada di dalam diri kita, jiwa kita sendiri. Baik tubuh, maupun pikiran, bahkan tidak juga pikiran-pikiran kita, ataupun dunia yang kita lihat di sekitar kita, bersifat tak terbatas. Sang Pelihat, Dia kepada siapa semuanya itu menjadi milik, Jiwa manusia, Dia yang terjaga di dalam manusia batiniah, hanya Dialah yang tak terbatas, dan untuk mencari Penyebab Tak Terbatas dari seluruh alam semesta ini, kita harus pergi ke sana. Hanya di dalam Jiwa Tak Terbatas itulah kita dapat menemukan-Nya. "Apa yang ada di sini, ada juga di sana, dan apa yang ada di sana, ada pula di sini. Ia yang melihat yang beraneka ragam, akan berpindah dari kematian ke kematian." Kita telah melihat bagaimana pada mulanya ada hasrat untuk pergi ke surga. Ketika bangsa Arya kuno menjadi tidak puas dengan dunia di sekeliling mereka, secara wajar mereka berpikir bahwa setelah kematian mereka akan pergi ke suatu tempat yang seluruhnya kebahagiaan tanpa penderitaan apa pun; tempat-tempat itu mereka perbanyak dan menamakannya Svarga — kata itu dapat diterjemahkan sebagai surga — di mana akan ada sukacita selama-lamanya, tubuh akan menjadi sempurna, demikian pula pikiran, dan di sana mereka akan hidup bersama para leluhur mereka. Akan tetapi, segera setelah filsafat muncul, manusia menemukan bahwa hal ini mustahil dan tidak masuk akal. Gagasan tentang yang tak terbatas dalam tempat itu sendiri merupakan suatu pertentangan istilah, sebab tempat haruslah bermula dan berlanjut dalam waktu. Oleh karena itu, mereka harus melepaskan gagasan itu. Mereka menemukan bahwa para dewa yang tinggal di surga-surga itu dahulu pernah menjadi manusia di bumi, yang melalui perbuatan-perbuatan baik mereka telah menjadi dewa; dan ke-dewa-an itu, sebagaimana mereka sebut, adalah keadaan-keadaan yang berbeda, posisi-posisi yang berbeda; tidak ada satu pun dewa yang dibicarakan dalam Veda yang merupakan individu yang permanen.
Misalnya, Indra dan Varuna bukanlah nama-nama orang tertentu, melainkan nama-nama jabatan sebagai penguasa dan sebagainya. Indra yang hidup dahulu bukanlah orang yang sama dengan Indra masa kini; ia telah berlalu, dan orang lain dari bumi telah mengisi tempatnya. Demikian pula dengan semua dewa lainnya. Itu adalah jabatan-jabatan tertentu, yang diisi secara berurutan oleh jiwa-jiwa manusia yang telah mengangkat diri mereka ke kondisi sebagai dewa, namun bahkan mereka pun mati. Dalam Rig-Veda kuno kita menemukan kata "keabadian" digunakan berkenaan dengan para dewa ini, tetapi kemudian kata itu sepenuhnya ditinggalkan, sebab mereka menemukan bahwa keabadian, yang melampaui ruang dan waktu, tidak dapat dibicarakan berkenaan dengan bentuk jasmaniah mana pun, betapapun halusnya bentuk itu. Betapapun halusnya, ia haruslah bermula di dalam ruang dan waktu, sebab faktor-faktor yang diperlukan untuk membentuk wujud berada di dalam ruang. Cobalah memikirkan suatu bentuk tanpa ruang: itu mustahil. Ruang adalah salah satu materi, seolah-olah, yang membentuk wujud, dan ini terus-menerus berubah. Ruang dan waktu berada di dalam maya (ilusi kosmik), dan gagasan ini diungkapkan dalam baris itu — "Apa yang ada di sini, ada juga di sana." Jika ada dewa-dewa itu, mereka pasti terikat oleh hukum-hukum yang sama yang berlaku di sini, dan semua hukum melibatkan kehancuran dan pembaharuan berulang-ulang. Hukum-hukum ini membentuk materi ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda, dan menghancurkannya kembali. Segala yang dilahirkan pasti mati; jadi, jika ada surga-surga, hukum-hukum yang sama tentu berlaku di sana.
Di dunia ini kita menemukan bahwa segala kebahagiaan diikuti oleh penderitaan sebagai bayangannya. Kehidupan memiliki bayangannya, yaitu kematian. Keduanya pasti berjalan bersama, sebab keduanya tidak bertentangan, bukan dua eksistensi yang terpisah, melainkan manifestasi-manifestasi berbeda dari satu kesatuan yang sama, kehidupan dan kematian, kesedihan dan kebahagiaan, kebaikan dan kejahatan. Konsepsi dualistik bahwa kebaikan dan kejahatan adalah dua entitas yang terpisah, dan bahwa keduanya berlangsung secara kekal, jelas tidak masuk akal pada pandangan pertama. Keduanya adalah manifestasi yang beraneka dari satu fakta yang sama, pada satu waktu tampak sebagai buruk, dan pada waktu yang lain sebagai baik. Perbedaannya tidak terletak pada jenis, melainkan hanya pada derajat. Keduanya berbeda satu sama lain dalam derajat intensitasnya. Kita menemukan sebagai fakta bahwa sistem saraf yang sama menghantarkan sensasi baik maupun buruk secara serupa, dan ketika saraf-saraf itu terluka, tak satu pun sensasi sampai kepada kita. Jika sebuah saraf tertentu lumpuh, kita tidak mendapatkan perasaan menyenangkan yang dahulu mengalir melalui kawat itu, dan pada saat yang sama kita pun tidak mendapatkan perasaan menyakitkan. Keduanya tidak pernah dua, melainkan sama. Sekali lagi, hal yang sama menghasilkan kesenangan dan rasa sakit pada waktu-waktu berbeda dalam hidup. Fenomena yang sama akan menghasilkan kesenangan pada seseorang, dan rasa sakit pada yang lain. Memakan daging menghasilkan kesenangan bagi seseorang, tetapi rasa sakit bagi binatang yang dimakan. Tidak pernah ada sesuatu pun yang memberikan kesenangan kepada semua orang secara sama. Sebagian senang, yang lain tidak senang. Demikianlah seterusnya. Oleh karena itu, dualitas eksistensi ini ditolak. Dan apa konsekuensinya? Saya telah menyampaikan kepada Anda dalam ceramah terakhir bahwa kita tidak akan pernah pada akhirnya memiliki segalanya yang baik di bumi ini dan tidak ada yang buruk. Hal itu mungkin telah mengecewakan dan menakutkan sebagian dari Anda, tetapi saya tidak dapat berbuat lain, dan saya terbuka pada keyakinan apabila ditunjukkan kepada saya yang sebaliknya; namun sampai hal itu dapat dibuktikan kepada saya, dan saya dapat menemukan bahwa itu benar, saya tidak dapat mengatakan demikian.
Argumen umum yang menentang pernyataan saya, dan tampaknya sangat meyakinkan, adalah ini: bahwa dalam perjalanan evolusi, segala yang jahat di antara apa yang kita lihat di sekitar kita secara bertahap sedang dihapuskan, dan akibatnya adalah jika penghapusan ini berlanjut selama jutaan tahun, akan tiba suatu waktu ketika seluruh kejahatan akan tercabut, dan hanya kebaikan yang akan tersisa. Ini tampaknya merupakan argumen yang sangat kokoh. Andai saja itu benar! Akan tetapi, di dalamnya terdapat suatu kekeliruan, yaitu bahwa argumen itu menganggap sebagai sesuatu yang sudah pasti bahwa baik kebaikan maupun kejahatan adalah hal-hal yang secara kekal tetap. Argumen itu menganggap pasti bahwa ada sejumlah kejahatan yang pasti, yang dapat diwakili oleh angka seratus, demikian pula dengan kebaikan, dan bahwa massa kejahatan ini dikurangi setiap hari, sehingga hanya kebaikan yang tersisa. Tetapi apakah memang demikian? Sejarah dunia menunjukkan bahwa kejahatan adalah kuantitas yang terus-menerus meningkat, demikian pula kebaikan. Ambillah manusia paling rendah; ia tinggal di hutan. Rasa kenikmatannya sangat kecil, demikian pula kemampuannya untuk menderita. Penderitaannya sepenuhnya berada pada bidang indra. Jika ia tidak memperoleh makanan yang cukup, ia menderita; tetapi berikan kepadanya makanan yang berlimpah serta kebebasan untuk berkeliaran dan berburu, maka ia sepenuhnya bahagia. Kebahagiaannya hanya terletak pada indra, demikian pula penderitaannya. Akan tetapi, jika manusia itu bertambah pengetahuannya, kebahagiaannya akan meningkat, akalnya akan terbuka baginya, dan kenikmatan indrawinya akan berkembang menjadi kenikmatan intelektual. Ia akan merasakan kesenangan dalam membaca sebuah puisi yang indah, dan sebuah soal matematika akan menjadi minat yang menyerap perhatiannya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, saraf-saraf batiniah akan menjadi semakin peka terhadap penderitaan-penderitaan rasa sakit mental, yang tidak terpikirkan oleh manusia biadab itu. Ambillah suatu ilustrasi yang sangat sederhana. Di Tibet tidak ada pernikahan, dan tidak ada kecemburuan, namun kita tahu bahwa pernikahan adalah suatu keadaan yang jauh lebih tinggi. Orang-orang Tibet belum mengenal kenikmatan yang luar biasa, berkat kesucian, kebahagiaan memiliki istri yang suci dan berbudi luhur, atau suami yang suci dan berbudi luhur. Mereka tidak dapat merasakan hal itu. Demikian pula mereka tidak merasakan kecemburuan yang mendalam dari istri atau suami yang suci, atau penderitaan yang disebabkan oleh ketidaksetiaan dari salah satu pihak, dengan segala kepedihan hati dan kesedihan yang dialami oleh mereka yang percaya pada kesucian. Di satu sisi, yang terakhir memperoleh kebahagiaan, tetapi di sisi lain, mereka juga menderita kesengsaraan.
Ambillah negara Anda yang paling kaya di dunia, dan yang lebih mewah daripada negara lain mana pun, dan lihatlah betapa hebatnya penderitaan itu, betapa banyak lebih banyak orang gila yang Anda miliki, dibandingkan dengan ras-ras lain, hanya karena hasratnya begitu tajam. Seseorang harus mempertahankan standar hidup yang tinggi, dan jumlah uang yang ia keluarkan dalam satu tahun akan menjadi kekayaan besar bagi seseorang di India. Anda tidak dapat berkhotbah kepadanya tentang hidup sederhana, sebab masyarakat menuntut begitu banyak darinya. Roda masyarakat terus berputar; ia tidak berhenti karena air mata janda ataupun ratapan anak yatim. Inilah keadaan segala sesuatu di mana-mana. Rasa kenikmatan Anda telah berkembang, masyarakat Anda jauh lebih indah daripada sebagian lainnya. Anda memiliki lebih banyak hal untuk dinikmati. Akan tetapi, mereka yang memiliki lebih sedikit juga jauh lebih sedikit menderita. Anda dapat berargumen demikian sepanjang waktu: semakin tinggi ideal yang Anda miliki di dalam otak, semakin besar kenikmatan Anda, dan semakin mendalam pula penderitaan Anda. Yang satu seperti bayangan dari yang lain. Bahwa kejahatan sedang dihapuskan mungkin benar, tetapi jika demikian, kebaikan pun pasti sedang menghilang. Akan tetapi, bukankah kejahatan justru berlipat ganda dengan cepat, dan kebaikan berkurang, jika boleh saya katakan demikian? Jika kebaikan meningkat dalam deret aritmetika, kejahatan meningkat dalam deret geometri. Dan inilah maya. Ini bukanlah optimisme dan bukan pula pesimisme. Vedanta tidak mengambil posisi bahwa dunia ini hanyalah dunia yang penuh penderitaan belaka. Itu tidak benar. Pada saat yang sama, adalah suatu kekeliruan untuk mengatakan bahwa dunia ini penuh kebahagiaan dan berkat. Maka tidak ada gunanya memberitahukan kepada anak-anak bahwa dunia ini seluruhnya baik, semuanya bunga, semuanya susu dan madu. Itulah yang telah kita semua impikan. Pada saat yang sama, adalah keliru untuk berpikir, karena seseorang telah lebih banyak menderita daripada yang lain, bahwa segala sesuatu adalah jahat. Inilah dualitas, permainan antara baik dan jahat inilah yang membentuk dunia pengalaman kita. Pada saat yang sama Vedanta berkata, "Janganlah berpikir bahwa kebaikan dan kejahatan adalah dua, adalah dua esensi yang terpisah, sebab keduanya adalah satu dan hal yang sama, muncul dalam derajat yang berbeda dan dalam selubung yang berbeda serta menghasilkan perbedaan perasaan dalam pikiran yang sama." Maka, pemikiran pertama Vedanta adalah penemuan kesatuan dalam yang lahiriah; Satu Eksistensi yang memanifestasikan Diri-Nya, betapapun berbeda Ia tampak dalam manifestasi-Nya. Pikirkanlah teori Persia kuno yang sederhana — dua dewa menciptakan dunia ini, dewa yang baik melakukan segala yang baik, dan yang jahat melakukan segala yang jahat. Pada pandangan pertama, Anda melihat ketidakmasukakalannya, sebab jika dijabarkan, setiap hukum alam pasti memiliki dua bagian, yang satu dimanipulasi oleh satu dewa, kemudian ia pergi dan dewa yang lain memanipulasi bagian yang lain. Di sinilah muncul kesulitan, sebab keduanya bekerja di dunia yang sama, dan kedua dewa ini menjaga keharmonisan mereka dengan melukai satu bagian dan berbuat baik kepada bagian yang lain. Ini tentu saja kasus yang kasar, cara paling kasar untuk mengungkapkan dualitas eksistensi. Akan tetapi, ambillah teori yang lebih maju, yang lebih abstrak, bahwa dunia ini sebagian baik dan sebagian jahat. Ini juga tidak masuk akal, dengan berargumen dari sudut pandang yang sama. Hukum kesatuan itulah yang memberikan kita makanan kita, dan hukum yang sama pula yang membunuh banyak orang melalui kecelakaan atau musibah.
Maka kita menemukan bahwa dunia ini bukanlah optimistis ataupun pesimistis; ia adalah campuran dari keduanya, dan seiring kita melangkah maju, kita akan menemukan bahwa seluruh kesalahan diambil dari alam dan diletakkan di atas bahu kita sendiri. Pada saat yang sama, Vedanta menunjukkan jalan keluar, tetapi bukan dengan menyangkal kejahatan, sebab Vedanta menganalisis dengan berani fakta sebagaimana adanya dan tidak berusaha menyembunyikan apa pun. Vedanta tidaklah putus asa; ia bukan pula agnostik. Vedanta menemukan suatu obat, tetapi ia ingin meletakkan obat itu di atas fondasi yang sekokoh intan: bukan dengan menutup mulut anak dan membutakan matanya dengan sesuatu yang tidak benar, yang akan diketahui oleh anak itu dalam beberapa hari saja. Saya ingat ketika saya masih muda, seorang ayah dari seorang pemuda meninggal dan meninggalkannya dalam keadaan miskin, dengan keluarga besar yang harus ditanggung, dan ia mendapati bahwa teman-teman ayahnya tidak bersedia menolongnya. Ia berbincang dengan seorang pendeta yang menawarkan hiburan ini, "Oh, semuanya baik, semuanya dikirim demi kebaikan kita." Itulah metode lama untuk mencoba menempelkan selembar daun emas pada luka tua. Itu adalah pengakuan kelemahan, kekonyolan. Pemuda itu pergi, dan enam bulan kemudian seorang putra lahir bagi pendeta itu, dan ia mengadakan pesta syukuran yang juga mengundang pemuda itu. Pendeta itu berdoa, "Syukur kepada Tuhan atas rahmat-Nya." Maka berdirilah pemuda itu dan berkata, "Berhenti, ini semuanya penderitaan." Pendeta itu bertanya, "Mengapa?" "Karena ketika ayah saya meninggal, Anda mengatakan itu baik, meskipun tampak jahat; jadi sekarang, ini tampaknya baik, tetapi sesungguhnya jahat." Apakah inilah cara untuk menyembuhkan penderitaan dunia? Jadilah baik dan tunjukkanlah belas kasih kepada mereka yang menderita. Janganlah mencoba menambal-nambalnya, tidak ada yang akan menyembuhkan dunia ini; lampauilah ia.
Inilah dunia kebaikan dan kejahatan. Di mana pun ada kebaikan, kejahatan mengikutinya, tetapi di luar dan di balik semua manifestasi ini, semua pertentangan ini, Vedanta menemukan Kesatuan itu. Vedanta berkata, "Lepaskanlah apa yang jahat dan lepaskanlah apa yang baik." Lalu apa yang tersisa? Di balik kebaikan dan kejahatan berdiri sesuatu yang adalah milik Anda, "Anda" yang sejati, melampaui setiap kejahatan, dan juga melampaui setiap kebaikan, dan itulah yang memanifestasikan diri-Nya sebagai baik dan buruk. Ketahuilah itu lebih dahulu, dan setelah itu, dan hanya setelah itu, Anda akan menjadi seorang optimis sejati, dan tidak sebelumnya; sebab pada saat itu Anda akan mampu mengendalikan segala sesuatu. Kendalikanlah manifestasi-manifestasi ini, dan Anda akan bebas memanifestasikan "Anda" yang sejati. Pertama-tama jadilah tuan atas diri Anda sendiri, berdirilah dan bebaskanlah diri, lampauilah batasan hukum-hukum ini, sebab hukum-hukum ini tidaklah secara mutlak menguasai Anda, mereka hanyalah bagian dari keberadaan Anda. Pertama-tama temukanlah bahwa Anda bukanlah budak alam, tidak pernah menjadi dan tidak akan pernah menjadi; bahwa alam ini, betapapun tak terbatasnya menurut Anda, sebenarnya terbatas, setetes di lautan, dan Jiwa Anda adalah samudra itu; Anda berada melampaui bintang-bintang, matahari, dan bulan. Mereka bagaikan gelembung-gelembung belaka jika dibandingkan dengan keberadaan tak terbatas Anda. Ketahuilah itu, dan Anda akan mengendalikan baik kebaikan maupun kejahatan. Hanya pada saat itulah seluruh penglihatan akan berubah, dan Anda akan berdiri dan berkata, "Betapa indahnya kebaikan dan betapa menakjubkannya kejahatan!"
Itulah yang diajarkan Vedanta. Ia tidak mengajukan obat asal-asalan dengan menutupi luka dengan daun emas, dan semakin luka itu membusuk, menambahkan lebih banyak daun emas. Hidup ini adalah suatu kenyataan yang keras; tempuhlah ia dengan berani, meskipun ia mungkin sekeras intan; tidak masalah, jiwa lebih kuat. Vedanta tidak meletakkan tanggung jawab pada dewa-dewa kecil; sebab Andalah pembuat nasib Anda sendiri. Andalah yang membuat diri Anda menderita, Andalah yang membuat kebaikan dan kejahatan, dan Anda pulalah yang meletakkan tangan Anda di depan mata Anda dan berkata bahwa ini gelap. Singkirkan tangan Anda dan lihatlah cahaya itu; Anda bercahaya, Anda sudah sempurna sejak permulaan. Sekarang kita memahami ayat itu: "Ia berpindah dari kematian ke kematian yang melihat yang banyak di sini." Lihatlah Yang Satu itu dan bebaslah.
Bagaimana kita harus melihat-Nya? Pikiran ini, yang begitu tertipu, begitu lemah, begitu mudah disesatkan, bahkan pikiran ini pun dapat menjadi kuat dan boleh jadi memperoleh sekilas pandangan tentang pengetahuan itu, tentang Keesaan itu, yang menyelamatkan kita dari kematian berulang-ulang. Bagaikan hujan yang turun di atas gunung mengalir dalam berbagai aliran menuruni lereng gunung, demikianlah semua energi yang Anda lihat di sini berasal dari satu Kesatuan itu. Ia telah menjadi beragam ketika jatuh ke atas maya. Janganlah berlari mengejar yang beraneka; melangkahlah menuju Yang Satu. "Ia ada di dalam semua yang bergerak; Ia ada di dalam semua yang murni; Ia memenuhi alam semesta; Ia ada di dalam korban suci; Ia adalah tamu di dalam rumah; Ia ada di dalam manusia, di dalam air, di dalam binatang, di dalam kebenaran; Ialah Yang Maha Agung. Sebagaimana api yang datang ke dunia ini memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk, demikian pula Jiwa Tunggal alam semesta itu memanifestasikan Diri-Nya dalam semua bentuk yang beragam ini. Sebagaimana udara yang datang ke alam semesta ini memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk, demikian pula Jiwa Tunggal dari segala jiwa, dari semua makhluk, memanifestasikan Diri-Nya dalam segala bentuk." Hal ini benar bagi Anda apabila Anda telah memahami Kesatuan ini, dan tidak sebelumnya. Maka itulah seluruh optimisme, karena Ia terlihat di mana-mana. Pertanyaannya adalah, jika semua ini benar bahwa Yang Maha Murni itu — Diri, Yang Tak Terbatas — telah memasuki semua ini, bagaimana mungkin Ia menderita, bagaimana Ia menjadi sengsara, tidak murni? Ia tidak demikian, kata Upanishad. "Sebagaimana matahari adalah penyebab penglihatan setiap makhluk, namun ia tidak menjadi cacat oleh cacat pada mata mana pun, demikian pula Diri dari segala tidak terpengaruh oleh penderitaan tubuh, atau oleh penderitaan apa pun yang ada di sekitar Anda." Saya mungkin menderita suatu penyakit dan melihat segala sesuatu sebagai kuning, tetapi matahari tidak terpengaruh olehnya. "Ialah Yang Esa, Pencipta segala, Penguasa segala, Jiwa Batiniah dari setiap makhluk — Dialah yang membuat Keesaan-Nya menjadi beragam. Demikianlah para bijak yang menyadari-Nya sebagai Jiwa dari jiwa mereka, kepada mereka termasuk kedamaian kekal; bukan kepada yang lain, bukan kepada yang lain. Ia yang di dunia yang sementara ini menemukan Dia yang tidak pernah berubah, ia yang di alam semesta kematian ini menemukan Kehidupan Tunggal itu, ia yang di tengah yang beragam ini menemukan Keesaan itu, dan semua orang yang menyadari-Nya sebagai Jiwa dari jiwa mereka, kepada mereka termasuk kedamaian kekal; bukan kepada yang lain, bukan kepada yang lain. Di mana menemukan-Nya di dunia eksternal, di mana menemukan-Nya di dalam matahari, dan bulan, dan bintang-bintang? Di sana matahari tidak dapat menerangi, demikian pula bulan, ataupun bintang-bintang, kilatan halilintar tidak dapat menerangi tempat itu; apatah lagi api fana ini? Ketika Ia bersinar, segala sesuatu yang lain bersinar. Itu adalah cahaya-Nya yang mereka pinjam, dan Ia bersinar melalui mereka." Inilah perumpamaan lain yang indah. Mereka di antara Anda yang pernah berada di India dan telah melihat bagaimana pohon beringin tumbuh dari satu akar dan menyebar luas ke segala arah, akan memahami hal ini. Ialah pohon beringin itu; Ialah akar dari segalanya dan telah bercabang sampai Ia menjadi alam semesta ini, dan sejauh apa pun Ia merentang, setiap batang dan cabang itu terhubung.
Berbagai surga dibicarakan dalam bagian Brahmana dari Veda, tetapi ajaran filosofis Upanishad meninggalkan gagasan untuk pergi ke surga. Kebahagiaan tidak ada di surga ini atau di surga itu, ia berada di dalam jiwa; tempat tidaklah berarti apa-apa. Inilah bagian lain yang menunjukkan keadaan-keadaan realisasi yang berbeda: "Di surga para leluhur, sebagaimana seseorang melihat segala sesuatu di dalam mimpi, demikianlah Kebenaran Sejati dilihat." Sebagaimana di dalam mimpi kita melihat segala sesuatu samar dan tidak begitu jelas, demikianlah kita melihat Realitas di sana. Ada surga lain yang disebut Gandharva, yang di dalamnya gambaran itu bahkan lebih kurang jelas; sebagaimana seseorang melihat bayangannya sendiri di dalam air, demikianlah Realitas terlihat di sana. Surga tertinggi yang dipahami oleh orang Hindu disebut Brahmaloka; dan di dalamnya, Kebenaran terlihat jauh lebih jelas, bagaikan terang dan bayangan, tetapi belum sepenuhnya berbeda. Akan tetapi, sebagaimana seseorang melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, sempurna, jelas, dan terang, demikianlah Kebenaran bersinar di dalam jiwa manusia. Oleh karena itu, surga tertinggi berada di dalam jiwa kita sendiri; kuil pemujaan terbesar adalah jiwa manusia, lebih agung daripada segala surga, kata Vedanta; sebab tidak di surga mana pun di mana pun kita dapat memahami realitas itu sejelas dan setegas di dalam kehidupan ini, di dalam jiwa kita sendiri. Berpindah tempat tidaklah banyak menolong seseorang. Saya berpikir ketika saya berada di India bahwa tempat pertapaan di dalam ceruk gunung akan memberi saya penglihatan yang lebih jernih. Saya menemukan ternyata tidak demikian. Lalu saya berpikir hutan akan begitu, kemudian Varanasi. Akan tetapi, kesulitan yang sama ada di mana-mana, karena kita membuat dunia kita sendiri. Jika saya jahat, seluruh dunia adalah jahat bagi saya. Itulah yang dikatakan Upanishad. Dan hal yang sama berlaku untuk semua dunia. Jika saya mati dan pergi ke surga, saya akan menemukan hal yang sama, sebab sampai saya murni, tidak ada gunanya pergi ke ceruk pertapaan, atau hutan, atau ke Varanasi, atau ke surga, dan jika saya telah memoles cermin saya, tidak menjadi masalah di mana saya tinggal, saya memperoleh Realitas itu sebagaimana adanya. Maka tidak ada gunanya berlari ke sana ke mari, dan membuang energi dengan sia-sia, yang seharusnya hanya digunakan untuk memoles cermin itu. Gagasan yang sama diungkapkan lagi: "Tidak seorang pun melihat-Nya, tidak seorang pun melihat bentuk-Nya dengan mata. Di dalam pikiranlah, di dalam pikiran yang murni, Ia terlihat, dan keabadian ini diperoleh."
Mereka yang hadir pada ceramah musim panas tentang Raja-Yoga (yoga pengendalian pikiran) akan tertarik untuk mengetahui bahwa apa yang diajarkan saat itu adalah jenis yoga yang berbeda. Yoga yang sedang kita bahas sekarang terutama terdiri dari pengendalian indra. Ketika indra ditundukkan sebagai budak oleh jiwa manusia, ketika mereka tidak lagi dapat mengganggu pikiran, maka Yogi telah mencapai tujuannya. "Ketika semua hasrat sia-sia dalam hati telah dilepaskan, maka makhluk fana ini menjadi abadi, maka ia menjadi satu dengan Tuhan bahkan di sini. Ketika semua simpul hati telah dipotong putus, maka yang fana menjadi abadi, dan ia menikmati Brahman di sini." Di sini, di bumi ini, dan tidak di tempat lain.
Beberapa kata perlu dikatakan di sini. Anda umumnya akan mendengar bahwa Vedanta ini, filsafat ini dan sistem-sistem Timur lainnya, hanya memandang sesuatu yang berada di balik, dengan melepaskan kenikmatan dan perjuangan kehidupan ini. Gagasan ini sepenuhnya salah. Hanya orang-orang yang bodoh, yang tidak mengetahui apa pun tentang pemikiran Timur, dan tidak pernah memiliki cukup akal untuk memahami apa pun dari ajaran yang sesungguhnya, yang memberitahukan demikian kepada Anda. Sebaliknya, kita membaca dalam kitab-kitab suci kita bahwa para filsuf kita tidak ingin pergi ke dunia-dunia lain, melainkan merendahkan dunia-dunia itu sebagai tempat di mana orang menangis dan tertawa untuk sesaat saja kemudian mati. Selama kita lemah, kita harus melewati pengalaman-pengalaman ini; tetapi apa pun yang sejati, ada di sini, dan itulah jiwa manusia. Dan hal ini juga ditekankan, bahwa dengan bunuh diri, kita tidak dapat lari dari yang tak terhindarkan; kita tidak dapat menghindarinya. Akan tetapi, jalan yang benar sulit ditemukan. Orang Hindu sama praktisnya dengan orang Barat, hanya pandangan kita tentang kehidupan yang berbeda. Yang satu berkata, bangunlah rumah yang baik, miliki pakaian dan makanan yang baik, budaya intelektual, dan sebagainya, sebab inilah seluruh kehidupan; dan dalam hal itu ia sangat praktis. Akan tetapi orang Hindu berkata, pengetahuan sejati tentang dunia berarti pengetahuan tentang jiwa, metafisika; dan ia ingin menikmati kehidupan itu. Di Amerika dahulu ada seorang agnostik yang besar, seorang yang sangat mulia, sangat baik, dan seorang orator yang sangat baik. Ia memberikan ceramah tentang agama, yang menurutnya tidak berguna; mengapa kita harus memusingkan kepala tentang dunia-dunia lain? Ia menggunakan perumpamaan ini: kita memiliki jeruk di sini, dan kita ingin memeras semua sarinya. Saya menjumpainya suatu kali dan berkata, "Saya sepenuhnya setuju dengan Anda. Saya memiliki suatu buah, dan saya juga ingin memeras sarinya. Perbedaan kita terletak pada pilihan buahnya. Anda menginginkan jeruk, dan saya lebih memilih mangga. Anda berpikir cukuplah hidup di sini dan makan dan minum dan memiliki sedikit pengetahuan ilmiah; tetapi Anda tidak berhak mengatakan bahwa itu akan sesuai untuk semua selera. Konsepsi semacam itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Jika saya hanya harus mempelajari bagaimana sebuah apel jatuh ke tanah, atau bagaimana arus listrik menggetarkan saraf-saraf saya, saya akan bunuh diri. Saya ingin memahami hati dari segala sesuatu, intinya itu sendiri. Studi Anda adalah manifestasi kehidupan, studi saya adalah kehidupan itu sendiri. Filsafat saya mengatakan Anda harus mengetahui itu dan mengusir dari pikiran Anda segala pikiran tentang surga dan neraka serta segala takhayul lainnya, meskipun semuanya itu ada dalam pengertian yang sama dengan dunia ini ada. Saya harus mengetahui hati dari kehidupan ini, esensinya itu sendiri, apakah ia, bukan hanya bagaimana ia bekerja dan apa manifestasinya. Saya menginginkan 'mengapa' dari segala sesuatu, saya menyerahkan 'bagaimana' kepada anak-anak. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang dari bangsa Anda, 'Sementara saya mengisap sebatang rokok, seandainya saya menulis sebuah buku, itu akan menjadi ilmu pengetahuan tentang rokok.' Adalah baik dan agung untuk bersikap ilmiah, semoga Tuhan memberkati mereka dalam pencarian mereka; tetapi ketika seseorang mengatakan itu sajalah segalanya, ia berbicara dengan bodoh, tidak peduli untuk mengetahui raison d'être kehidupan, tidak pernah mempelajari eksistensi itu sendiri. Saya dapat berargumen bahwa semua pengetahuan Anda adalah omong kosong, tanpa dasar. Anda mempelajari manifestasi-manifestasi kehidupan, dan ketika saya bertanya kepada Anda apakah kehidupan itu, Anda mengatakan Anda tidak tahu. Anda dipersilakan dengan studi Anda, tetapi biarkan saya dengan studi saya."
Saya praktis, sangat praktis, dengan cara saya sendiri. Maka gagasan Anda bahwa hanya Barat yang praktis adalah omong kosong. Anda praktis dengan satu cara, dan saya dengan cara yang lain. Ada berbagai jenis manusia dan pikiran. Jika di Timur seseorang diberitahu bahwa ia akan menemukan kebenaran dengan berdiri di atas satu kaki sepanjang hidupnya, ia akan menjalankan metode itu. Jika di Barat orang mendengar bahwa ada tambang emas di suatu tempat di negeri yang belum beradab, ribuan orang akan menghadapi bahaya di sana, dengan harapan memperoleh emas itu; dan, mungkin, hanya satu yang berhasil. Orang-orang yang sama telah mendengar bahwa mereka memiliki jiwa, tetapi mereka puas menyerahkan pemeliharaannya kepada gereja. Orang yang pertama tidak akan mendekati orang-orang biadab itu, ia berkata mungkin berbahaya. Akan tetapi, jika kita memberitahukan kepadanya bahwa di puncak gunung yang tinggi tinggal seorang bijak yang mengagumkan yang dapat memberinya pengetahuan tentang jiwa, ia akan mencoba mendaki menuju kepadanya, meskipun ia harus mati dalam usahanya itu. Kedua jenis manusia adalah praktis, tetapi kesalahannya terletak pada memandang dunia ini sebagai keseluruhan kehidupan. Cara Anda adalah titik lenyap dari kenikmatan indra — tidak ada yang permanen di dalamnya, ia hanya membawa lebih banyak dan lebih banyak penderitaan — sementara cara saya membawa kedamaian kekal.
Saya tidak mengatakan pandangan Anda salah, Anda dipersilakan menjalankannya. Kebaikan dan berkat besar muncul darinya, tetapi oleh karena itu, janganlah mengecam pandangan saya. Pandangan saya juga praktis dengan caranya sendiri. Marilah kita semua bekerja menurut rencana kita masing-masing. Kiranya Tuhan menghendaki kita semua sama-sama praktis di kedua sisi. Saya pernah melihat beberapa ilmuwan yang sama praktisnya, baik sebagai ilmuwan maupun sebagai manusia rohani, dan menjadi harapan besar saya bahwa pada waktunya, seluruh umat manusia akan efisien dengan cara yang sama. Ketika seketel air mendekati titik mendidih, jika Anda mengamati fenomena itu, Anda menemukan mula-mula satu gelembung naik, kemudian gelembung yang lain, dan demikian seterusnya, sampai pada akhirnya semuanya bergabung, dan terjadilah pergolakan yang dahsyat. Dunia ini sangat serupa. Setiap individu seperti sebuah gelembung, dan bangsa-bangsa, menyerupai banyak gelembung. Lambat laun bangsa-bangsa ini bergabung, dan saya yakin akan tiba hari ketika pemisahan akan lenyap dan Keesaan itu, yang menuju ke sana kita semua sedang menuju, akan menjadi nyata. Suatu waktu pasti akan tiba ketika setiap manusia akan sama-sama praktis dalam dunia ilmiah seperti dalam dunia rohani, dan pada saat itu Keesaan itu, harmoni Keesaan itu, akan meliputi seluruh dunia. Seluruh umat manusia akan menjadi Jivanmukta — bebas selagi masih hidup. Kita semua sedang berjuang menuju satu tujuan itu melalui kecemburuan dan kebencian kita, melalui kasih dan kerja sama kita. Suatu arus yang dahsyat mengalir menuju samudra dengan membawa kita semua bersamanya; dan meskipun bagaikan jerami dan potongan-potongan kertas kita kadang-kadang mengapung tanpa arah, dalam jangka panjang kita pasti akan bergabung dengan Samudra Kehidupan dan Kebahagiaan.
English
CHAPTER IX
UNITY IN DIVERSITY
( Delivered in London, 3rd November 1896 )
"The Self-existent One projected the senses outwards and, therefore, a man looks outward, not within himself. A certain wise one, desiring immortality, with inverted senses, perceived the Self within." As I have already said, the first inquiry that we find in the Vedas was concerning outward things, and then a new idea came that the reality of things is not to be found in the external world; not by looking outwards, but by turning the eyes, as it is literally expressed, inwards. And the word used for the Soul is very significant: it is He who has gone inward, the innermost reality of our being, the heart centre, the core, from which, as it were, everything comes out; the central sun of which the mind, the body, the sense-organs, and everything else we have are but rays going outwards. "Men of childish intellect, ignorant persons, run after desires which are external, and enter the trap of far-reaching death, but the wise, understanding immortality, never seek for the Eternal in this life of finite things." The same idea is here made clear that in this external world, which is full of finite things, it is impossible to see and find the Infinite. The Infinite must be sought in that alone which is infinite, and the only thing infinite about us is that which is within us, our own soul. Neither the body, nor the mind, not even our thoughts, nor the world we see around us, are infinite. The Seer, He to whom they all belong, the Soul of man, He who is awake in the internal man, alone is infinite, and to seek for the Infinite Cause of this whole universe we must go there. In the Infinite Soul alone we can find it. "What is here is there too, and what is there is here also. He who sees the manifold goes from death to death." We have seen how at first there was the desire to go to heaven. When these ancient Aryans became dissatisfied with the world around them, they naturally thought that after death they would go to some place where there would be all happiness without any misery; these places they multiplied and called Svargas — the word may be translated as heavens — where there would be joy for ever, the body would become perfect, and also the mind, and there they would live with their forefathers. But as soon as philosophy came, men found that this was impossible and absurd. The very idea of an infinite in place would be a contradiction in terms, as a place must begin and continue in time. Therefore they had to give up that idea. They found out that the gods who lived in these heavens had once been human beings on earth, who through their good works had become gods, and the godhoods, as they call them, were different states, different positions; none of the gods spoken of in the Vedas are permanent individuals.
For instance, Indra and Varuna are not the names of certain persons, but the names of positions as governors and so on. The Indra who had lived before is not the same person as the Indra of the present day; he has passed away, and another man from earth has filled his place. So with all the other gods These are certain positions, which are filled successively by human souls who have raised themselves to the condition of gods, and yet even they die. In the old Rig-Veda we find the word "immortality" used with regard to these gods, but later on it is dropped entirely, for they found that immortality which is beyond time and space cannot be spoken of with regard to any physical form, however subtle it may be. However fine it may be, it must have a beginning in time and space, for the necessary factors that enter into the make-up of form are in space. Try to think of a form without space: it is impossible. Space is one of the materials, as it were, which make up the form, and this is continually changing Space and time are in Maya, and this idea is expressed in the line — "What is hole, that is there too." If there are these gods, they must be bound by the same laws that apply here, and all laws involve destruction and renewal again and again. These laws are moulding matter into different forms, and crushing them out again. Everything born must die; and so, if there are heavens, the same laws must hold good there.
In this world we find that all happiness is followed by misery as its shadow. Life has its shadow, death. They must go together, because they are not contradictory, not two separate existences, but different manifestations of the same unit, life and death, sorrow and happiness, good and evil. The dualistic conception that good and evil are two separate entities, and that they are both going on eternally is absurd on the face of it. They are the diverse manifestations of one and the same fact, one time appearing as bad, and at another time as good. The difference does not exist in kind, but only in degree. They differ from each other in degree of intensity. We find as a fact that the same nerve systems carry good and bad sensations alike, and when the nerves are injured, neither sensation comes to us. If a certain nerve is paralysed, we do not get the pleasurable feelings that used to come along that wires and at the same time we do not get the painful feelings either. They are never two, but the same. Again. the same thing produces pleasure and pain at different times of life. The same phenomenon will produce pleasure in one, and pain in another. The eating of meat produces pleasure to a man, but pain to the animal which is eaten. There has never been anything which gives pleasure to all alike. Some are pleased, others displeased. So on it will go. Therefore, this duality of existence is denied. And what follows? I told you in my last lecture that we can never have ultimately everything good on this earth and nothing bad. It may have disappointed and frightened some of you, but I cannot help it, and I am open to conviction when I am shown to the contrary; but until that can be proved to me, and I can find that it is true, cannot say so.
The general argument against my statement, and apparently a very convincing one, is this that in the course of evolution, all that is evil in what we see around us is gradually being eliminated, and the result is that if this elimination continues for millions of years, a time will come when all the evil will have been extirpated, and the good alone will remain. This is apparently a very sound argument. Would to God it were true! But there is a fallacy in it, and it is this that it takes for granted that both good and evil are things that are eternally fixed. It takes for granted that there is a definite mass of evil, which may be represented by a hundred, and likewise of good, and that this mass of evil is being diminished every day, leaving only the good. But is it so? The history of the world shows that evil is a continuously increasing quantity, as well as good. Take the lowest man; he lives in the forest. His sense of enjoyment is very small, and so also is his power to suffer. His misery is entirely on the sense-plane. If he does not get plenty of food, he is miserable; but give him plenty of food and freedom to rove and to hunt, and he is perfectly happy. His happiness consists only in the senses, and so does his misery also. But if that man increases in knowledge, his happiness will increase, the intellect will open to him, and his sense-enjoyment will evolve into intellectual enjoyment. He will feel pleasure in reading a beautiful poem, and a mathematical problem will be of absorbing interest to him. But, with these, the inner nerves will become more and more susceptible to miseries of mental pain, of which the savage does not think. Take a very simple illustration. In Tibet there is no marriage, and there is no jealousy, yet we know that marriage is a much higher state. The Tibetans have not known the wonderful enjoyment, the blessing of chastity, the happiness of having a chaste, virtuous wife, or a chaste, virtuous husband. These people cannot feel that. And similarly they do not feel the intense jealousy of the chaste wife or husband, or the misery caused by unfaithfulness on either side, with all the heart-burnings and sorrows which believers in chastity experience. On one side, the latter gain happiness, but on the other, they suffer misery too.
Take your country which is the richest in the world, and which is more luxurious than any other, and see how intense is the misery, how many more lunatics you have, compared with other races, only because the desires are so keen. A man must keep up a high standard of living, and the amount of money he spends in one year would be a fortune to a man in India. You cannot preach to him of simple living because society demands so much of him. The wheel of society is rolling on; it stops not for the widow's tears or the orphans' wails. This is the state of things everywhere. Your sense of enjoyment is developed, your society is very much more beautiful than some others. You have so many more things to enjoy. But those who have fewer have much less misery. You can argue thus throughout, the higher the ideal you have in the brain, the greater is your enjoyment, and the more profound your misery. One is like the shadow of the other. That the evils are being eliminated may be true, but if so, the good also must be dying out. But are not evils multiplying fast, and good diminishing, if I may so put it? If good increases in arithmetical progression, evil increase in geometrical progression. And this is Maya. This is neither optimism nor pessimism. Vedanta does not take he position that this world is only a miserable one. That would be untrue. At the same time, it is a mistake to say that this world is full of happiness and blessings. So it is useless to tell children that this world is all good, all flowers, all milk and honey. That is what we have all dreamt. At the same time it is erroneous to think, because one man has suffered more than another, that all is evil. It is this duality, this play of good and evil that makes our world of experiences. At the same time the Vedanta says, "Do not think that good and evil are two, are two separate essences, for they are one and the same thing, appearing in different degrees and in different guises and producing differences of feeling in the same mind." So, the first thought of the Vedanta is the finding of unity in the external; the One Existence manifesting Itself, however different It may appear in manifestation. Think of the old crude theory of the Persians — two gods creating this world, the good god doing everything that is good, and the bad one, everything bad. On the very face of it, you see the absurdity, for if it be carried out, every law of nature must have two parts, one of which is manipulated by one god, and then he goes away and the other god manipulates the other part. There the difficulty comes that both are working in the same world, and these two gods keep themselves in harmony by injuring one portion and doing good to another. This is a crude case, of course, the crudest way of expressing the duality of existence. But, take the more advanced, the more abstract theory that this world is partly good and partly bad. This also is absurd, arguing from the same standpoint. It is the law of unity that gives us our food, and it is the same law that kills many through accidents or misadventure.
We find, then, that this world is neither optimistic nor pessimistic; it is a mixture of both, and as we go on we shall find that the whole blame is taken away from nature and put upon our own shoulders. At the same time the Vedanta shows the way out, but not by denial of evil, because it analyses boldly the fact as it is and does not seek to conceal anything. It is not hopeless; it is not agnostic. It finds out a remedy, but it wants to place that remedy on adamantine foundations: not by shutting the child's mouth and blinding its eyes with something which is untrue, and which the child will find out in a few days. I remember when I was young, a young man's father died and left him poorly off, with a large family to support, and he found that his father's friends were unwilling to help him. He had a conversation with a clergyman who offered this consolation, "Oh, it is all good, all is sent for our good." That is the old method of trying to put a piece of gold leaf on an old sore. It is a confession of weakness, of absurdity. The young man went away, and six months afterwards a son was born to the clergyman, and he gave a thanksgiving party to which the young man was invited. The clergyman prayed, "Thank God for His mercies." And the young man stood up and said, "Stop, this is all misery." The clergyman asked, "Why?" "Because when my father died you said it was good, though apparently evil; so now, this is apparently good, but really evil." Is this the way to cure the misery of the world? Be good and have mercy on those who suffer. Do not try to patch it up, nothing will cure this world; go beyond it.
This is a world of good and evil. Wherever there is good, evil follows, but beyond and behind all these manifestations, all these contradictions, the Vedanta finds out that Unity. It says, "Give up what is evil and give up what is good." What remains then? Behind good and evil stands something which is yours, the real you, beyond every evil, and beyond every good too, and it is that which is manifesting itself as good and bad. Know that first, and then and then alone you will be a true optimist, and not before; for then you will be able to control everything. Control these manifestations and you will be at liberty to manifest the real "you". First be master of yourself, stand up and be free, go beyond the pale of these laws, for these laws do not absolutely govern you, they are only part of your being. First find out that you are not the slave of nature, never were and never will be; that this nature, infinite as you may think it, is only finite, a drop in the ocean, and your Soul is the ocean; you are beyond the stars, the sun, and the moon. They are like mere bubbles compared with your infinite being. Know that, and you will control both good and evil. Then alone the whole vision will change and you will stand up and say, "How beautiful is good and how wonderful is evil!"
That is what the Vedanta teaches. It does not propose any slipshod remedy by covering wounds with gold leaf and the more the wound festers, putting on more gold leaf. This life is a hard fact; work your way through it boldly, though it may be adamantine; no matter, the soul is stronger. It lays no responsibility on little gods; for you are the makers of your own fortunes. You make yourselves suffer, you make good and evil, and it is you who put your hands before your eyes and say it is dark. Take your hands away and see the light; you are effulgent, you are perfect already, from the very beginning. We now understand the verse: "He goes from death to death who sees the many here." See that One and be free.
How are we to see it? This mind, so deluded, so weak, so easily led, even this mind can be strong and may catch a glimpse of that knowledge, that Oneness, which saves us from dying again and again. As rain falling upon a mountain flows in various streams down the sides of the mountain, so all the energies which you see here are from that one Unit. It has become manifold falling upon Maya. Do not run after the manifold; go towards the One. "He is in all that moves; He is in all that is pure; He fills the universe; He is in the sacrifice; He is the guest in the house; He is in man, in water, in animals, in truth; He is the Great One. As fire coming into this world is manifesting itself in various forms, even so, that one Soul of the universe is manifesting Himself in all these various forms. As air coming into this universe manifests itself in various forms, even so, the One Soul of all souls, of all beings, is manifesting Himself in all forms." This is true for you when you have understood this Unity, and not before Then is all optimism, because He is seen everywhere. The question is that if all this be true that that Pure One — the Self, the Infinite — has entered all this, how is it that He suffers, how is it that He becomes miserable, impure? He does not, says the Upanishad. "As the sun is the cause of the eyesight of every being, yet is not made defective by the defect in any eye, even so the Self of all is not affected by the miseries of the body, or by any misery that is around you." I may have some disease and see everything yellow, but the sun is not affected by it. "He is the One, the Creator of all, the Ruler of all, the Internal Soul of every being — He who makes His Oneness manifold. Thus sages who realise Him as the Soul of their souls, unto them belongs eternal peace; unto none else, unto none else. He who in this world of evanescence finds Him who never changes, he who in this universe of death finds that One Life, he who in this manifold finds that Oneness, and all those who realise Him as the Soul of their souls, to them belongs eternal peace; unto none else, unto none else. Where to find Him in the external world, where to find Him in the suns, and moons, and stars? There the sun cannot illumine, nor the moon, nor the stars, the flash of lightning cannot illumine the place; what to speak of this mortal fire? He shining, everything else shines. It is His light that they have borrowed, and He is shining through them." Here is another beautiful simile. Those of you who have been in India and have seen how the banyan tree comes from one root and spreads itself far around, will understand this. He is that banyan tree; He is the root of all and has branched out until He has become this universe, and however far He extends, every one of these trunks and branches is connected.
Various heavens are spoken of in the Brâhmana portions of the Vedas, but the philosophical teaching of the Upanishads gives up the idea of going to heaven. Happiness is not in this heaven or in that heaven, it is in the soul; places do not signify anything. Here is another passage which shows the different states of realisation "In the heaven of the forefathers, as a man sees things in a dream, so the Real Truth is seen." As in dreams we see things hazy and not so distinct, so we see the Reality there. There is another heaven called the Gandharva, in which it is still less clear; as a man sees his own reflection in the water, so is the Reality seen there. The highest heaven, of which the Hindus conceive is called the Brahmaloka; and in this, the Truth is seen much more clearly, like light and shade, but not yet quite distinctly. But as a man sees his own face in a mirror, perfect, distinct, and clear, so is the Truth shining in the soul of man. The highest heaven, therefore, is in our own souls; the greatest temple of worship is the human soul, greater than all heavens, says the Vedanta; for in no heaven anywhere, can we understand the reality as distinctly and clearly as in this life, in our own soul. Changing places does not help one much. I thought while I was in India that the cave would give me clearer vision. I found it was not so. Then I thought the forest would do so, then, Varanasi. But the same difficulty existed everywhere, because we make our own worlds. If I am evil, the whole world is evil to me. That is what the Upanishad says. And the same thing applies to all worlds. If I die and go to heaven, I should find the same, for until I am pure it is no use going to caves, or forests, or to Varanasi, or to heaven, and if I have polished my mirror, it does not matter where I live, I get the Reality just as It is. So it is useless, running hither and thither, and spending energy in vain, which should be spent only in polishing the mirror. The same idea is expressed again: "None sees Him, none sees His form with the eyes. It is in the mind, in the pure mind, that He is seen, and this immortality is gained."
Those who were at the summer lectures on Râja-Yoga will be interested to know that what was taught then was a different kind of Yoga. The Yoga which we are now considering consists chiefly in controlling the senses. When the senses are held as slaves by the human soul, when they can no longer disturb the mind, then the Yogi has reached the goal. "When all vain desires of the heart have been given up, then this very mortal becomes immortal, then he becomes one with God even here. When all the knots of the heart are cut asunder, then the mortal becomes immortal, and he enjoys Brahman here." Here, on this earth, nowhere else.
A few words ought to be said here. You will generally hear that this Vedanta, this philosophy and other Eastern systems, look only to something beyond, letting go the enjoyments and struggle of this life. This idea is entirely wrong. It is only ignorant people who do not know anything of Eastern thought, and never had brain enough to understand anything of its real teaching, that tell you so. On the contrary, we read in our scriptures that our philosophers do not want to go to other worlds, but depreciate them as places where people weep and laugh for a little while only and then die. As long as we are weak we shall have to go through these experiences; but whatever is true, is here, and that is the human soul. And this also is insisted upon, that by committing suicide, we cannot escape the inevitable; we cannot evade it. But the right path is hard to find. The Hindu is just as practical as the Western, only we differ in our views of life. The one says, build a good house, let us have good clothes and food, intellectual culture, and so on, for this is the whole of life; and in that he is immensely practical. But the Hindu says, true knowledge of the world means knowledge of the soul, metaphysics; and he wants to enjoy that life. In America there was a great agnostic, a very noble man, a very good man, and a very fine speaker. He lectured on religion, which he said was of no use; why bother our heads about other worlds? He employed this simile; we have an orange here, and we want to squeeze all the juice out of it. I met him once and said, "I agree with you entirely. I have some fruit, and I too want to squeeze out the juice. Our difference lies in the choice of the fruit. You want an orange, and I prefer a mango. You think it is enough to live here and eat and drink and have a little scientific knowledge; but you have no right to say that that will suit all tastes. Such a conception is nothing to me. If I had only to learn how an apple falls to the ground, or how an electric current shakes my nerves, I would commit suicide. I want to understand the heart of things, the very kernel itself. Your study is the manifestation of life, mine is the life itself. My philosophy says you must know that and drive out from your mind all thoughts of heaven and hell and all other superstitions, even though they exist in the same sense that this world exists. I must know the heart of this life, its very essence, what it is, not only how it works and what are its manifestations. I want the why of everything, I leave the how to children. As one of your countrymen said, 'While I am smoking a cigarette, if I were to write a book, it would be the science of the cigarette.' It is good and great to be scientific, God bless them in their search; but when a man says that is all, he is talking foolishly, not caring to know the raison d'être of life, never studying existence itself. I may argue that all your knowledge is nonsense, without a basis. You are studying the manifestations of life, and when I ask you what life is, you say you do not know. You are welcome to your study, but leave me to mine."
I am practical, very practical, in my own way. So your idea that only the West is practical is nonsense. You are practical in one way, and I in another. There are different types of men and minds. If in the East a man is told that he will find out the truth by standing on one leg all his life, he will pursue that method. If in the West men hear that there is a gold mine somewhere in an uncivilised country, thousands will face the dangers there, in the hope of getting the gold; and, perhaps, only one succeeds. The same men have heard that they have souls but are content to leave the care of them to the church. The first man will not go near the savages, he says it may be dangerous. But if we tell him that on the top of a high mountain lives a wonderful sage who can give him knowledge of the soul, he tries to climb up to him, even if he be killed in the attempt. Both types of men are practical, but the mistake lies in regarding this world as the whole of life. Yours is the vanishing point of enjoyment of the senses — there is nothing permanent in it, it only brings more and more misery — while mine brings eternal peace.
I do not say your view is wrong, you are welcome to it. Great good and blessing come out of it, but do not, therefore, condemn my view. Mine also is practical in its own way. Let us all work on our own plans. Would to God all of us were equally practical on both sides. I have seen some scientists who were equally practical, both as scientists and as spiritual men, and it is my great hope that in course of time the whole of humanity will be efficient in the same manner. When a kettle of water is coming to the boil, if you watch the phenomenon, you find first one bubble rising, and then another and so on, until at last they all join, and a tremendous commotion takes place. This world is very similar. Each individual is like a bubble, and the nations, resemble many bubbles. Gradually these nations are joining, and I am sure the day will come when separation will vanish and that Oneness to which we are all going will become manifest. A time must come when every man will be as intensely practical in the scientific world as in the spiritual, and then that Oneness, the harmony of Oneness, will pervade the whole world. The whole of mankind will become Jivanmuktas — free whilst living. We are all struggling towards that one end through our jealousies and hatreds, through our love and co-operation. A tremendous stream is flowing towards the ocean carrying us all along with it; and though like straws and scraps of paper we may at times float aimlessly about, in the long run we are sure to join the Ocean of Life and Bliss.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.