Arsip Vivekananda

Kosmos: Makrokosmos

Jilid2 lecture
3,273 kata · 13 menit baca · Jnana-Yoga

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

BAB XI

KOSMOS

Makrokosmos

(Disampaikan di New York, 19 Januari 1896)

Bunga-bunga yang kita lihat di sekeliling kita itu indah, indah pula terbitnya matahari pagi, indah pula corak-corak warna alam yang beraneka ragam. Seluruh alam semesta itu indah, dan manusia telah menikmatinya sejak kemunculannya di bumi. Pegunungan begitu agung dan menggetarkan jiwa; sungai-sungai raksasa yang menderu menuju lautan, padang pasir tanpa jejak, samudra tak terhingga, langit yang bertaburan bintang — semua ini sungguh menggetarkan jiwa, agung, dan indah. Seluruh kumpulan keberadaan yang kita sebut alam telah bekerja pada pikiran manusia sejak zaman purba. Ia telah bekerja pada pikiran manusia, dan sebagai reaksinya muncullah pertanyaan: Apakah semua ini, dari manakah asalnya? Sejauh masa karya manusia paling kuno itu disusun, yakni Veda, kita menemukan pertanyaan yang sama: "Dari manakah ini? Ketika tiada ada maupun tiada, dan kegelapan tersembunyi dalam kegelapan, siapakah yang memancarkan alam semesta ini? Bagaimana? Siapa yang mengetahui rahasianya?" Dan pertanyaan itu sampai kepada kita pada masa kini. Berjuta kali upaya telah dilakukan untuk menjawabnya, namun berjuta kali pula pertanyaan itu masih harus dijawab kembali. Tidaklah berarti bahwa setiap jawaban itu gagal; setiap jawaban atas pertanyaan ini mengandung sebagian kebenaran, dan kebenaran ini menjadi semakin kuat seiring berjalannya waktu. Saya akan mencoba menyajikan di hadapan Anda garis besar jawaban yang telah saya himpun dari para filsuf India kuno, yang selaras dengan pengetahuan modern.

Kita menemukan bahwa di dalam pertanyaan tertua ini, beberapa hal telah terpecahkan. Yang pertama adalah bahwa pernah ada masa ketika "tiada ada maupun tiada", ketika dunia ini belum ada; ibu pertiwi kita dengan lautan dan samudranya, sungai-sungai, pegunungan, kota-kota dan desa-desa, ras-ras manusia, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, burung-burung, planet-planet dan benda-benda penerang, seluruh keragaman ciptaan yang tak terhingga ini, semuanya belum ada. Apakah kita yakin akan hal itu? Kita akan mencoba menelusuri bagaimana kesimpulan ini dicapai. Apa yang dilihat manusia di sekelilingnya? Ambillah sebuah tanaman kecil. Ia meletakkan sebutir benih ke dalam tanah, dan kemudian, ia mendapati sebuah tanaman muncul, mengangkat dirinya perlahan-lahan di atas tanah, dan tumbuh dan tumbuh, hingga menjadi pohon yang besar. Kemudian ia mati, hanya meninggalkan benih. Ia menyempurnakan lingkaran itu — ia keluar dari benih, menjadi pohon, dan berakhir kembali menjadi benih. Lihatlah seekor burung, bagaimana ia muncul dari telur, menjalani hidupnya, dan kemudian mati, meninggalkan telur-telur lain, benih bagi burung-burung di masa depan. Demikian pula dengan hewan-hewan, demikian pula dengan manusia. Segala sesuatu di alam dimulai, seakan-akan, dari benih-benih tertentu, dari unsur-unsur dasar tertentu, dari bentuk-bentuk halus tertentu, dan menjadi semakin kasar dan semakin kasar, dan berkembang, terus berjalan demikian untuk waktu tertentu, dan kemudian kembali lagi ke bentuk halus itu, dan reda. Tetesan air hujan tempat sinar matahari yang indah bermain itu ditarik dalam bentuk uap dari samudra, terbang jauh ke udara, dan mencapai suatu wilayah tempat ia berubah menjadi air, dan jatuh dalam bentuknya sekarang — untuk diubah menjadi uap kembali. Demikian pula dengan segala sesuatu di alam yang mengelilingi kita. Kita tahu bahwa pegunungan yang besar sedang digarap oleh gletser dan sungai-sungai, yang perlahan-lahan namun pasti meremukkan dan menghaluskannya menjadi pasir, yang terbawa ke samudra tempat ia mengendap di dasarnya, lapis demi lapis, mengeras seperti batu, sekali lagi untuk ditimbun menjadi pegunungan generasi mendatang. Sekali lagi mereka akan diremukkan dan dihaluskan, dan demikianlah peredaran ini berlangsung. Dari pasir bangkitlah gunung-gunung ini; ke pasir pula mereka kembali.

Jika benar bahwa alam itu seragam di seluruh penjuru, jika benar, dan sejauh ini tidak ada pengalaman manusia yang menyangkalnya, bahwa metode yang sama yang menciptakan sebutir kecil pasir juga bekerja dalam menciptakan matahari-matahari dan bintang-bintang raksasa serta seluruh alam semesta ini, jika benar bahwa seluruh alam semesta ini dibangun atas rencana yang persis sama dengan atom, jika benar bahwa hukum yang sama berlaku di seluruh alam semesta, maka, sebagaimana dikatakan dalam Veda, "Dengan mengenal segumpal tanah liat, kita mengenal sifat dari semua tanah liat yang ada di alam semesta." Ambillah sebuah tanaman kecil dan pelajari kehidupannya, maka kita mengenal alam semesta sebagaimana adanya. Jika kita mengenal sebutir pasir, kita memahami rahasia seluruh alam semesta. Menerapkan jalan penalaran ini pada fenomena, kita menemukan, pada tempat pertama, bahwa segala sesuatu hampir serupa pada awal dan pada akhirnya. Gunung berasal dari pasir, dan kembali ke pasir; sungai berasal dari uap, dan kembali ke uap; kehidupan tumbuhan berasal dari benih, dan kembali ke benih; kehidupan manusia berasal dari benih manusia, dan kembali ke benih manusia. Alam semesta dengan bintang-bintang dan planet-planetnya berasal dari keadaan nebula dan harus kembali ke sana. Apa yang kita pelajari dari hal ini? Bahwa keadaan yang termanifestasi atau yang lebih kasar adalah akibat, dan keadaan yang lebih halus adalah sebab. Ribuan tahun yang lalu, Kapila, bapak agung dari segala filsafat, telah membuktikan bahwa kehancuran berarti kembali kepada sebab. Jika meja di sini ini dihancurkan, ia akan kembali kepada sebabnya, kepada bentuk-bentuk halus dan partikel-partikel yang, ketika digabung, membentuk bentuk yang kita sebut meja ini. Jika seseorang meninggal, ia akan kembali kepada unsur-unsur yang memberinya tubuh; jika bumi ini mati, ia akan kembali kepada unsur-unsur yang memberinya bentuk. Inilah yang disebut kehancuran, yakni kembali kepada sebab. Oleh karena itu kita belajar bahwa akibat itu sama dengan sebab, tidak berbeda. Ia hanya dalam bentuk lain. Gelas ini adalah akibat, dan ia memiliki sebabnya, dan sebab ini hadir dalam bentuk ini. Sejumlah tertentu bahan yang disebut kaca ditambah daya di tangan pembuatnya, itulah sebab-sebabnya, instrumental dan material, yang, jika digabungkan, menghasilkan bentuk yang disebut gelas ini. Daya yang ada di tangan pembuatnya hadir di dalam gelas sebagai daya rekat, yang tanpanya partikel-partikelnya akan berpisah; dan bahan kaca itu juga hadir. Gelas hanyalah manifestasi dari sebab-sebab halus ini dalam bentuk yang baru, dan jika ia pecah berkeping-keping, daya yang hadir dalam bentuk daya rekat akan kembali dan bergabung dengan unsurnya sendiri, dan partikel-partikel kaca akan tetap sama hingga mereka mengambil bentuk-bentuk yang baru.

Demikianlah kita menemukan bahwa akibat tidak pernah berbeda dari sebab. Hanya saja, akibat ini adalah reproduksi sebab dalam bentuk yang lebih kasar. Selanjutnya, kita belajar bahwa semua bentuk khusus ini yang kita sebut tumbuhan, hewan, atau manusia, sedang diulang-ulang tanpa batas, bangkit dan jatuh. Benih menghasilkan pohon. Pohon menghasilkan benih, yang kemudian muncul kembali sebagai pohon yang lain, dan demikian seterusnya; tidak ada akhirnya. Tetesan air bergulir turun dari pegunungan ke samudra, dan bangkit kembali sebagai uap, kembali ke pegunungan dan kembali lagi turun ke samudra. Demikianlah, bangkit dan jatuh, peredaran ini berlangsung. Demikian pula dengan semua kehidupan, demikian pula dengan segala keberadaan yang dapat kita lihat, rasakan, dengar, atau bayangkan. Segala sesuatu yang berada dalam batas pengetahuan kita berjalan dengan cara yang sama, seperti tarikan napas masuk dan napas keluar dalam tubuh manusia. Segala sesuatu dalam ciptaan berjalan dalam bentuk ini, satu gelombang bangkit, yang lain jatuh, bangkit kembali, jatuh kembali. Setiap gelombang memiliki lembahnya, setiap lembah memiliki gelombangnya. Hukum yang sama harus berlaku bagi alam semesta yang diambil sebagai satu kesatuan, karena keseragamannya. Alam semesta ini harus terurai kembali ke sebab-sebabnya; matahari, bulan, bintang, dan bumi, tubuh dan pikiran, dan segala sesuatu di alam semesta ini harus kembali kepada sebab-sebabnya yang lebih halus, lenyap, hancur seolah-olah. Namun mereka akan hidup dalam sebab-sebab itu sebagai bentuk-bentuk halus. Dari bentuk-bentuk halus itu mereka akan muncul kembali sebagai bumi-bumi baru, matahari-matahari, bulan-bulan, dan bintang-bintang.

Ada satu fakta lagi yang harus dipelajari mengenai bangkit dan jatuh ini. Benih keluar dari pohon; ia tidak segera menjadi pohon, melainkan memiliki masa tidak aktif, atau lebih tepatnya, masa aktivitas yang sangat halus dan tak termanifestasi. Benih harus bekerja untuk beberapa waktu di bawah tanah. Ia pecah berkeping-keping, mengurai seolah-olah, dan regenerasi muncul dari penguraian itu. Pada permulaannya, seluruh alam semesta ini harus bekerja serupa untuk suatu masa dalam bentuk yang sangat kecil itu, tak terlihat dan tak termanifestasi, yang disebut kekacauan, dan; dari sanalah muncul pemancaran yang baru. Seluruh masa dari satu manifestasi alam semesta ini — turunnya ia ke dalam bentuk yang lebih halus, tinggal di sana untuk beberapa waktu, dan keluar kembali — dalam bahasa Sanskerta disebut Kalpa atau satu Daur. Berikutnya muncul pertanyaan yang sangat penting, khususnya bagi zaman modern. Kita melihat bahwa bentuk-bentuk halus berkembang perlahan-lahan, dan secara bertahap menjadi semakin kasar dan semakin kasar. Kita telah melihat bahwa sebab itu sama dengan akibat, dan akibat hanyalah sebab dalam bentuk yang lain. Oleh karena itu seluruh alam semesta ini tidak dapat dihasilkan dari ketiadaan. Tiada sesuatu pun yang muncul tanpa sebab, dan sebab adalah akibat dalam bentuk yang lain.

Lalu dari apakah alam semesta ini dihasilkan? Dari alam semesta halus yang mendahuluinya. Dari apakah manusia dihasilkan? Dari bentuk halus yang mendahuluinya. Dari apakah pohon dihasilkan? Dari benih; seluruh pohon itu sudah ada di dalam benih. Ia keluar dan menjadi termanifestasi. Maka, seluruh alam semesta ini telah diciptakan dari alam semesta ini sendiri yang berada dalam bentuk yang sangat kecil. Ia telah termanifestasi sekarang. Ia akan kembali ke bentuk yang sangat kecil itu, dan akan kembali termanifestasi. Sekarang kita menemukan bahwa bentuk-bentuk halus perlahan-lahan keluar dan menjadi semakin kasar dan semakin kasar hingga mereka mencapai batasnya, dan ketika mereka mencapai batas itu, mereka kembali lebih jauh dan lebih jauh, menjadi semakin halus dan semakin halus lagi. Keluarnya yang halus dan menjadi kasar ini, hanya mengubah susunan bagian-bagiannya, seolah-olah, inilah yang dalam zaman modern disebut evolusi. Ini sungguh benar, sepenuhnya benar; kita melihatnya dalam kehidupan kita. Tidak ada orang rasional yang dapat berselisih dengan para evolusionis ini. Namun kita harus mempelajari satu hal lagi. Kita harus melangkah satu langkah lebih jauh, dan apakah itu? Bahwa setiap evolusi didahului oleh suatu involusi. Benih adalah bapak dari pohon, namun pohon lain itu sendiri adalah bapak dari benih. Benih adalah bentuk halus yang darinya keluar pohon besar, dan pohon besar yang lain adalah bentuk yang terlibat di dalam benih itu. Seluruh alam semesta ini hadir di dalam alam semesta halus kosmis. Sel kecil itu, yang kemudian menjadi manusia, semata-mata adalah manusia yang terlibat dan berevolusi sebagai manusia. Jika ini jelas, kita tidak berselisih dengan para evolusionis, sebab kita melihat bahwa jika mereka mengakui langkah ini, alih-alih menghancurkan agama, mereka justru akan menjadi pendukungnya yang paling besar.

Maka kita melihat bahwa tiada sesuatu pun yang dapat diciptakan dari ketiadaan. Segala sesuatu ada melalui keabadian, dan akan ada melalui keabadian. Hanya geraknya saja yang berupa gelombang dan lembah yang berurutan, kembali ke bentuk-bentuk halus, dan keluar dalam manifestasi-manifestasi kasar. Involusi dan evolusi ini berlangsung di seluruh alam. Seluruh rangkaian evolusi yang dimulai dari manifestasi kehidupan yang paling rendah dan mencapai yang paling tinggi, manusia yang paling sempurna, pasti merupakan involusi dari sesuatu yang lain. Pertanyaannya adalah: Involusi dari apa? Apa yang terlibat? Tuhan. Para evolusionis akan mengatakan kepada Anda bahwa gagasan Anda bahwa itu adalah Tuhan adalah salah. Mengapa? Karena Anda lihat Tuhan itu cerdas, namun kita menemukan bahwa kecerdasan berkembang jauh kemudian dalam perjalanan evolusi. Pada manusia dan hewan-hewan tingkat tinggi kita menemukan kecerdasan, namun jutaan tahun telah berlalu di dunia ini sebelum kecerdasan ini muncul. Keberatan para evolusionis ini tidak dapat dipertahankan, sebagaimana akan kita lihat dengan menerapkan teori kita. Pohon keluar dari benih, kembali ke benih; awal dan akhirnya sama. Bumi keluar dari sebabnya dan kembali kepadanya. Kita tahu bahwa jika kita dapat menemukan awalnya, kita dapat menemukan akhirnya. Sebaliknya, jika kita menemukan akhirnya, kita dapat menemukan awalnya. Jika demikian, ambillah seluruh rangkaian evolusi ini, dari protoplasma di satu ujung hingga manusia sempurna di ujung lainnya, dan seluruh rangkaian ini adalah satu kehidupan. Pada akhirnya kita menemukan manusia sempurna, maka pada awalnya pun haruslah demikian. Oleh karena itu, protoplasma adalah involusi dari kecerdasan yang tertinggi. Anda mungkin tidak melihatnya, tetapi kecerdasan yang terlibat itulah yang sedang mengurai dirinya sendiri hingga ia termanifestasi dalam manusia yang paling sempurna. Hal itu dapat dibuktikan secara matematis. Jika hukum kekekalan energi itu benar, Anda tidak dapat memperoleh apa pun dari sebuah mesin kecuali Anda memasukkannya terlebih dahulu ke dalamnya. Jumlah kerja yang Anda peroleh dari sebuah mesin persis sama dengan yang telah Anda masukkan ke dalamnya dalam bentuk air dan batu bara, tidak lebih dan tidak kurang. Kerja yang sedang saya lakukan sekarang adalah persis apa yang telah saya masukkan ke dalam diri saya, dalam bentuk udara, makanan, dan hal-hal lainnya. Itu hanyalah soal perubahan dan manifestasi. Dalam ekonomi alam semesta ini tidak dapat ditambahkan satu partikel materi pun atau satu foot-pound daya pun, demikian pula tidak dapat satu partikel materi pun atau satu foot-pound daya pun dikeluarkan. Jika demikian halnya, apakah kecerdasan ini? Jika ia tidak hadir di dalam protoplasma, ia pasti datang tiba-tiba, sesuatu yang muncul dari ketiadaan, yang merupakan hal yang mustahil. Oleh karena itu, secara mutlak berarti bahwa manusia sempurna, manusia bebas, manusia-Tuhan, yang telah melampaui hukum-hukum alam, dan melampaui segalanya, yang tidak perlu lagi menjalani proses evolusi ini, melalui kelahiran dan kematian, manusia yang oleh umat Kristen disebut "manusia-Kristus", oleh umat Buddha disebut "manusia-Buddha", dan oleh para Yogi disebut "Yang Bebas" — manusia sempurna itu yang berada di satu ujung rantai evolusi telah terlibat di dalam sel protoplasma, yang berada di ujung lain dari rantai yang sama.

Menerapkan alasan yang sama pada seluruh alam semesta, kita melihat bahwa kecerdasan haruslah Tuhan ciptaan, sebabnya. Apakah gagasan paling berkembang yang dimiliki manusia tentang alam semesta ini? Itu adalah kecerdasan, penyesuaian bagian terhadap bagian, perwujudan kecerdasan, yang teori desain kuno itu merupakan upaya pengungkapannya. Oleh karena itu, permulaannya adalah kecerdasan. Pada permulaan, kecerdasan itu menjadi terlibat, dan pada akhirnya kecerdasan itu berevolusi. Oleh karena itu, jumlah keseluruhan kecerdasan yang terwujud di alam semesta haruslah kecerdasan universal yang terlibat yang sedang menyingkapkan dirinya. Kecerdasan universal inilah yang kita sebut Tuhan. Sebutlah dengan nama lain apa pun, sungguh pasti bahwa pada permulaannya ada Kecerdasan kosmis yang Tak Terhingga itu. Kecerdasan kosmis ini menjadi terlibat, dan ia termanifestasi, mengevolusi dirinya, hingga ia menjadi manusia yang sempurna, "manusia-Kristus", "manusia-Buddha". Kemudian ia kembali ke sumbernya sendiri. Itulah sebabnya semua kitab suci berkata, "Di dalam Dia kita hidup dan bergerak dan ada." Itulah sebabnya semua kitab suci mengajarkan bahwa kita datang dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Janganlah takut akan istilah-istilah teologis; jika istilah-istilah membuat Anda takut, Anda tidak layak menjadi seorang filsuf. Kecerdasan kosmis inilah yang oleh para teolog disebut Tuhan.

Saya telah berkali-kali ditanya, "Mengapa Anda memakai kata kuno itu, Tuhan?" Karena itu adalah kata yang terbaik untuk maksud kita; Anda tidak dapat menemukan kata yang lebih baik daripada itu, karena segala harapan, cita-cita, dan kebahagiaan kemanusiaan telah dipusatkan dalam kata itu. Sekarang sudah mustahil untuk mengubah kata itu. Kata-kata seperti ini pertama kali dicetuskan oleh para orang suci agung yang menyadari maknanya dan memahami artinya. Namun sebagaimana mereka menjadi umum di masyarakat, orang-orang yang bodoh mengambil kata-kata ini, dan akibatnya mereka kehilangan ruh dan kemuliaannya. Kata Tuhan telah dipakai sejak zaman purba, dan gagasan tentang kecerdasan kosmis ini, serta segala sesuatu yang agung dan kudus, dikaitkan dengannya. Apakah Anda hendak mengatakan bahwa karena seorang yang tidak tahu apa-apa berkata bahwa itu tidak baik, kita harus membuangnya? Orang lain mungkin datang dan berkata, "Pakailah kata saya," dan yang lain lagi, "Pakailah kata saya." Maka tidak akan ada akhirnya bagi kata-kata yang konyol. Pakailah kata kuno itu, hanya saja pakailah dalam ruh yang sejati, bersihkanlah ia dari takhayul, dan sadarilah sepenuhnya apa yang dimaksudkan oleh kata kuno yang agung ini. Jika Anda memahami daya hukum asosiasi, Anda akan tahu bahwa kata-kata ini dikaitkan dengan gagasan-gagasan agung dan dahsyat yang tak terbilang banyaknya; mereka telah dipakai dan dipuja oleh jutaan jiwa manusia dan dikaitkan oleh mereka dengan segala sesuatu yang paling tinggi dan paling baik, segala sesuatu yang rasional, segala sesuatu yang patut dikasihi, dan segala sesuatu yang agung dan mulia dalam sifat manusia. Dan mereka muncul sebagai isyarat dari asosiasi-asosiasi ini, dan tidak dapat ditinggalkan. Jika saya mencoba mengungkapkan semua ini hanya dengan mengatakan kepada Anda bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, hal itu tidak akan menyampaikan makna apa pun kepada Anda. Namun, setelah semua perjuangan ini, kita telah kembali kepada-Nya, Yang Maha Purba dan Maha Tinggi.

Sekarang kita melihat bahwa segala bentuk energi kosmis, seperti materi, pikiran, daya, kecerdasan dan sebagainya, semata-mata adalah manifestasi dari kecerdasan kosmis itu, atau, sebagaimana selanjutnya akan kita sebut, Tuhan Yang Maha Tinggi. Segala sesuatu yang Anda lihat, rasakan, atau dengar, seluruh alam semesta, adalah ciptaan-Nya, atau sedikit lebih tepatnya, adalah pemancaran-Nya; atau lebih tepat lagi, adalah Tuhan Sendiri. Dialah yang bersinar sebagai matahari dan bintang-bintang, Dialah ibu pertiwi. Dia sendirilah samudra itu. Dia datang sebagai hujan rintik yang lembut, Dialah angin lembut yang kita hirup, dan Dialah yang bekerja sebagai daya di dalam tubuh. Dialah ucapan yang dilisankan, Dialah orang yang sedang berbicara. Dialah hadirin yang ada di sini. Dialah mimbar tempat saya berdiri, Dialah cahaya yang memampukan saya melihat wajah Anda. Semuanya adalah Dia. Dia sendirilah baik sebab material maupun sebab efisien dari alam semesta ini, dan Dialah yang terlibat di dalam sel yang sangat kecil, dan berevolusi di ujung lain dan menjadi Tuhan kembali. Dialah yang turun dan menjadi atom yang paling rendah, dan perlahan-lahan menyingkapkan sifat-Nya, bersatu kembali dengan diri-Nya. Inilah misteri alam semesta. "Engkaulah lelaki, Engkaulah perempuan, Engkaulah lelaki kuat yang berjalan dalam kebanggaan masa muda, Engkaulah lelaki tua yang sempoyongan dengan tongkat penyangga, Engkau ada di dalam segalanya. Engkau adalah segalanya, ya Tuhan." Inilah satu-satunya jawaban atas Kosmos yang memuaskan akal manusia. Dalam satu kata, kita lahir dari-Nya, kita hidup di dalam-Nya, dan kepada-Nya kita kembali.

English

CHAPTER XI

THE COSMOS

The Macrocosm

(Delivered in New York, 19th January 1896)

The flowers that we see all around us are beautiful, beautiful is the rising of the morning sun, beautiful are the variegated hues of nature. The whole universe is beautiful, and man has been enjoying it since his appearance on earth. Sublime and awe-inspiring are the mountains; the gigantic rushing rivers rolling towards the sea, the trackless deserts, the infinite ocean, the starry heavens — all these are awe-inspiring, sublime, and beautiful indeed. The whole mass of existence which we call nature has been acting on the human mind since time immemorial. It has been acting on the thought of man, and as its reaction has come out the question: What are these, whence are they? As far back as the time of the oldest portion of that most ancient human composition, the Vedas, we find the same question asked: "Whence is this? When there was neither aught nor naught, and darkness was hidden in darkness, who projected this universe? How? Who knows the secret?" And the question has come down to us at the present time. Millions of attempts have been made to answer it, yet millions of times it will have to be answered again. It is not that each answer was a failure; every answer to this question contained a part of truth, and this truth gathers strength as time rolls on. I will try to present before you the outline of the answer that I have gathered from the ancient philosophers of India; in harmony with modern knowledge.

We find that in this oldest of questions a few points had been already solved. The first is that there was a time when there was "neither aught nor naught", when this world did not exist; our mother earth with the seas and oceans, the rivers, and mountains, cities and villages human races, animals, plants, birds, and planets and luminaries, all this infinite variety of creation, had no existence. Are we sure of that? We will try to trace how this conclusion is arrived at. What does man see around him? Take a little plant. He puts a seed in the ground, and later, he finds a plant peep out, lift itself slowly above the ground, and grow and grow, till it becomes a gigantic tree. Then it dies, leaving only the seed. It completes the circle — it comes out of the seed, becomes the tree, and ends in the seed again. Look at a bird, how from the egg it springs, lives its life, and then dies, leaving other eggs, seeds of future birds. So with the animals, so with man. Everything in nature begins, as it were, from certain seeds, certain rudiments, certain fine forms, and becomes grosser and grosser, and develops, going on that way for a certain time, and then again goes back to that fine form, and subsides. The raindrop in which the beautiful sunbeam is playing was drawn in the form of vapour from the ocean, went far away into the air, and reached a region where it changed into water, and dropped down in its present form — to be converted into vapour again. So with everything in nature by which we are surrounded. We know that the huge mountains are being worked upon by glaciers and rivers, which are slowly but surely pounding them and pulverising them into sand, that drifts away into the ocean where it settles down on its bed, layer after layer, becoming hard as rocks, once more to be heaped up into mountains of a future generation. Again they will be pounded and pulverised, and thus the course goes on. From sand rise these mountains; unto sand they go.

If it be true that nature is uniform throughout, if it be true, and so far no human experience has contradicted it, that the same method under which a small grain of sand is created, works in creating the gigantic suns and stars and all this universe, if it be true that the whole of this universe is built on exactly the same plan as the atom, if it be true that the same law prevails throughout the universe, then, as it has been said in the Vedas, "Knowing one lump of clay we know the nature of all the clay that is in the universe." Take up a little plant and study its life, and we know the universe as it is. If we know one grain of sand, we understand the secret of the whole universe. Applying this course of reasoning to phenomena, we find, in the first place, that everything is almost similar at the beginning and the end. The mountain comes from the sand, and goes back to the sand; the river comes out of vapour, and goes back to vapour; plant life comes from the seed, and goes back to the seed; human life comes out of human germs, and goes back to human germs. The universe with its stars and planets has come out of a nebulous state and must go back to it. What do we learn from this? That the manifested or the grosser state is the effect, and the finer state the cause. Thousands of years ago, it was demonstrated by Kapila, the great father of all philosophy, that destruction means going back to the cause. If this table here is destroyed, it will go back to its cause, to those fine forms and particles which, combined, made this form which we call a table. If a man dies, he will go back to the elements which gave him his body; if this earth dies, it will go back to the elements which gave it form. This is what is called destruction, going back to the cause. Therefore we learn that the effect is the same as the cause, not different. It is only in another form. This glass is an effect, and it had its cause, and this cause is present in this form. A certain amount of the material called glass plus the force in the hands of the manufacturer, are the causes, the instrumental and the material, which, combined, produced this form called a glass. The force which was in the hands of the manufacturer is present in the glass as the power of adhesion, without which the particles would fall apart; and the glass material is also present. The glass is only a manifestation of these fine causes in a new shape, and if it be broken to pieces, the force which was present in the form of adhesion will go back and join its own element, and the particles of glass will remain the same until they take new forms.

Thus we find that the effect is never different from the cause. It is only that this effect is a reproduction of the cause in a grosser form. Next, we learn that all these particular forms which we call plants, animals, or men are being repeated ad infinitum, rising and falling. The seed produces the tree. The tree produces the seed, which again comes up as another tree, and so on and on; there is no end to it. Water-drops roll down the mountains into the ocean, and rise again as vapour, go back to the mountains and again come down to the ocean. So, rising and falling, the cycle goes on. So with all lives, so with all existence that we can see, feel, hear, or imagine. Everything that is within the bounds of our knowledge is proceeding in the same way, like breathing in and breathing out in the human body. Everything in creation goes on in this form, one wave rising, another falling, rising again, falling again. Each wave has its hollow, each hollow has its wave. The same law must apply to the universe taken as a whole, because of its uniformity. This universe must be resolved into its causes; the sun, moon, stars, and earth, the body and mind, and everything in this universe must return to their finer causes, disappear, be destroyed as it were. But they will live in the causes as fine forms. Out of these fine forms they will emerge again as new earths, suns, moons, and stars.

There is one fact more to learn about this rising and falling. The seed comes out of the tree; it does not immediately become a tree, but has a period of inactivity, or rather, a period of very fine unmanifested action. The seed has to work for some time beneath the soil. It breaks into pieces, degenerates as it were, and regeneration comes out of that degeneration. In the beginning, the whole of this universe has to work likewise for a period in that minute form, unseen and unmanifested, which is called chaos, and; out of that comes a new projection. The whole period of one manifestation of this universe — its going down into the finer form, remaining there for some time, and coming out again — is, in Sanskrit, called a Kalpa or a Cycle. Next comes a very important question especially for modern; times. We see that the finer forms develop slowly and slowly, and gradually becomes grosser and grosser. We have seen that the cause is the same as the effect, and the effect is only the cause in another form. Therefore this whole universe cannot be produced out of nothing. Nothing comes without a cause, and the cause is the effect in another form.

Out of what has this universe been produced then? From a preceding fine universe. Out of what has men been produced? The preceding fine form. Out of what has the tree been produced? Out of the seed; the whole of the tree was there in the seed. It comes out and becomes manifest. So, the whole of this universe has been created out of this very universe existing in a minute form. It has been made manifest now. It will go back to that minute form, and again will be made manifest. Now we find that the fine forms slowly come out and become grosser and grosser until they reach their limit, and when they reach their limit they go back further and further, becoming finer and finer again. This coming out of the fine and becoming gross, simply changing the arrangements of its parts, as it were, is what in modern times called evolution. This is very true, perfectly true; we see it in our lives. No rational man can possibly quarrel with these evolutionists. But we have to learn one thing more. We have to go one step further, and what is that? That every evolution is preceded by an involution. The seed is the father of the tree, but another tree was itself the father of the seed. The seed is the fine form out of which the big tree comes, and another big tree was the form which is involved in that seed. The whole of this universe was present in the cosmic fine universe. The little cell, which becomes afterwards the man, was simply the involved man and becomes evolved as a man. If this is clear, we have no quarrel with the evolutionists, for we see that if they admit this step, instead of their destroying religion, they will be the greatest supporters of it.

We see then, that nothing can be created out of nothing. Everything exists through eternity, and will exist through eternity. Only the movement is in succeeding waves and hollows, going back to fine forms, and coming out into gross manifestations. This involution and evolution is going on throughout the whole of nature. The whole series of evolution beginning with the lowest manifestation of life and reaching up to the highest, the most perfect man, must have been the involution of something else. The question is: The involution of what? What was involved? God. The evolutionist will tell you that your idea that it was God is wrong. Why? Because you see God is intelligent, but we find that intelligence develops much later on in the course of evolution. It is in man and the higher animals that we find intelligence, but millions of years have passed in this world before this intelligence came. This objection of the evolutionists does not hold water, as we shall see by applying our theory. The tree comes out of the seed, goes back to the seed; the beginning and the end are the same. The earth comes out of its cause and returns to it. We know that if we can find the beginning we can find the end. E converso, if we find the end we can find the beginning. If that is so, take this whole evolutionary series, from the protoplasm at one end to the perfect man at the other, and this whole series is one life. In the end we find the perfect man, so in the beginning it must have been the same. Therefore, the protoplasm was the involution of the highest intelligence. You may not see it but that involved intelligence is what is uncoiling itself until it becomes manifested in the most perfect man. That can be mathematically demonstrated. If the law of conservation of energy is true, you cannot get anything out of a machine unless you put it in there first. The amount of work that you get out of an engine is exactly the same as you have put into it in the form of water and coal, neither more nor less. The work I am doing now is just what I put into me, in the shape of air, food, and other things. It is only a question of change and manifestation. There cannot be added in the economy of this universe one particle of matter or one foot-pound of force, nor can one particle of matter or one foot-pound of force be taken out. If that be the case, what is this intelligence? If it was not present in the protoplasm, it must have come all of a sudden, something coming out of nothing, which is absurd. It, therefore, follows absolutely that the perfect man, the free man, the God-man, who has gone beyond the laws of nature, and transcended everything, who has no more to go through this process of evolution, through birth and death, that man called the "Christ-man" by the Christians, and the "Buddha-man" by the Buddhists, and the "Free" by the Yogis — that perfect man who is at one end of the chain of evolution was involved in the cell of the protoplasm, which is at the other end of the same chain.

Applying the same reason to the whole of the universe, we see that intelligence must be the Lord of creation, the cause. What is the most evolved notion that man has of this universe? It is intelligence, the adjustment of part to part, the display of intelligence, of which the ancient design theory was an attempt at expression. The beginning was, therefore, intelligence. At the beginning that intelligence becomes involved, and in the end that intelligence gets evolved. The sum total of the intelligence displayed in the universe must, therefore, be the involved universal intelligence unfolding itself. This universal intelligence is what we call God. Call it by any other name, it is absolutely certain that in the beginning there is that Infinite cosmic intelligence. This cosmic intelligence gets involved, and it manifests, evolves itself, until it becomes the perfect man, the "Christ-man," the "Buddha-man." Then it goes back to its own source. That is why all the scriptures say, "In Him we live and move and have our being." That is why all the scriptures preach that we come from God and go back to God. Do not be frightened by theological terms; if terms frighten you, you are not fit to be philosophers. This cosmic intelligence is what the theologians call God.

I have been asked many times, "Why do you use that old word, God? " Because it is the best word for our purpose; you cannot find a better word than that, because all the hopes, aspirations, and happiness of humanity have been centred in that word. It is impossible now to change the word. Words like these were first coined by great saints who realised their import and understood their meaning. But as they become current in society, ignorant people take these words, and the result is that they lose their spirit and glory. The word God has been used from time immemorial, and the idea of this cosmic intelligence, and all that is great and holy, is associated with it. Do you mean to say that because some fool says it is not all right, we should throw it away? Another man may come and say, "Take my word," and another again, "Take my word." So there will be no end to foolish words. Use the old word, only use it in the true spirit, cleanse it of superstition, and realise fully what this great ancient word means. If you understand the power of the laws of association, you will know that these words are associated with innumerable majestic and powerful ideas; they have been used and worshipped by millions of human souls and associated by them with all that is highest and best, all that is rational, all that is lovable, and all that is great and grand in human nature. And they come as suggestions of these associations, and cannot be given up. If I tried to express all these by only telling you that God created the universe, it would have conveyed no meaning to you. Yet, after all this struggle, we have come back to Him, the Ancient and Supreme One.

We now see that all the various forms of cosmic energy, such as matter, thought, force, intelligence and so forth, are simply the manifestations of that cosmic intelligence, or, as we shall call it henceforth, the Supreme Lord. Everything that you see, feel, or hear, the whole universe, is His creation, or to be a little more accurate, is His projection; or to be still more accurate, is the Lord Himself. It is He who is shining as the sun and the stars, He is the mother earth. He is the ocean Himself. He comes as gentle showers, He is the gentle air that we breathe in, and He it is who is working as force in the body. He is the speech that is uttered, He is the man who is talking. He is the audience that is here. He is the platform on which I stand, He is the light that enables me to see your faces. It is all He. He Himself is both the material and the efficient cause of this universe, and He it is that gets involved in the minute cell, and evolves at the other end and becomes God again. He it is that comes down and becomes the lowest atom, and slowly unfolding His nature, rejoins Himself. This is the mystery of the universe. "Thou art the man, Thou art the woman, Thou art the strong man walking in the pride of youth, Thou art the old man tottering on crutches, Thou art in everything. Thou art everything, O Lord." This is the only solution of the Cosmos that satisfies the human intellect. In one word, we are born of Him, we live in Him, and unto Him we return.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.