XV
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Swamiji kini dalam keadaan sehat walafiat. Sang murid datang ke Math pada suatu pagi Minggu. Setelah mengunjungi Swamiji, ia turun ke lantai bawah dan sedang mendiskusikan kitab suci Vedanta dengan Swami Nirmalananda. Pada saat itu Swamiji sendiri turun ke lantai bawah, lalu menyapa sang murid sambil berkata, "Apa yang sedang Anda diskusikan dengan Nirmalananda?"
Murid: Tuan, ia berkata, "Brahman dalam Vedanta hanya dikenal oleh Anda dan Swamiji Anda. Sebaliknya, kami mengetahui bahwa '(Sanskerta)— Sri Krishna adalah Sang Tuhan sendiri.'"
Swamiji: Apa yang Anda jawab?
Murid: Saya menjawab bahwa Atman (Diri sejati) adalah satu-satunya Kebenaran, dan bahwa Krishna hanyalah seorang pribadi yang telah merealisasikan Atman ini. Swami Nirmalananda dalam hatinya adalah seorang penganut Advaita Vedanta, namun secara lahiriah ia mengambil sisi dualistik. Gagasan pertamanya tampaknya adalah mengangkat aspek pribadi dari Ishvara, kemudian melalui proses penalaran yang bertahap memperkokoh landasan Vedanta.
Akan tetapi, begitu ia memanggil saya seorang "Vaishnava", saya melupakan maksud sebenarnya dan mulai berdebat sengit dengannya.
Swamiji: Ia menyayangi Anda, sehingga ia menikmati kesenangan menggoda Anda. Namun mengapa Anda harus terganggu oleh kata-katanya? Anda juga dapat menjawab, "Tuan, Anda adalah seorang ateis, seorang penganut Kehampaan."
Murid: Tuan, apakah ada pernyataan dalam Upanishad bahwa Ishvara adalah Pribadi yang mahakuasa? Akan tetapi, orang-orang pada umumnya percaya pada Ishvara semacam itu.
Swamiji: Asas tertinggi, yakni Tuhan dari segala sesuatu, tidak mungkin merupakan suatu Pribadi. Jiva adalah individu, dan jumlah keseluruhan dari semua Jiva adalah Ishvara. Di dalam Jiva, Avidya, atau kebodohan rohani, bersifat dominan; akan tetapi Ishvara mengendalikan Maya (ilusi kosmik) yang terdiri dari Avidya dan Vidya, dan secara mandiri memproyeksikan dunia yang berisi benda-benda yang bergerak dan tak bergerak ini dari dalam diri-Nya sendiri. Akan tetapi, Brahman mengatasi baik aspek individu maupun aspek kolektif, yakni Jiva maupun Ishvara. Di dalam Brahman tidak ada bagian-bagian. Hanya demi kemudahan pemahaman saja, bagian-bagian itu telah dibayangkan ada di dalam-Nya. Bagian dari Brahman yang di atasnya terdapat penumpangan akan penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta telah disebut sebagai Ishvara di dalam kitab-kitab suci, sedangkan bagian lain yang tidak berubah, yang sehubungan dengannya tidak terdapat pikiran tentang dualitas, ditunjukkan sebagai Brahman. Akan tetapi, jangan oleh karena itu mengira bahwa Brahman adalah suatu substansi yang berbeda dan terpisah dari Jiva-jiva dan alam semesta ini. Para Monis Berkualifikasi berpendapat bahwa Brahman-lah yang telah mentransformasikan diri-Nya menjadi Jiva-jiva dan alam semesta. Sebaliknya, para penganut Advaita berpendirian bahwa Jiva-jiva dan alam semesta hanyalah ditumpangkan secara semu di atas Brahman. Namun pada hakikatnya tidak terdapat modifikasi apa pun di dalam Brahman. Penganut Advaita mengatakan bahwa alam semesta ini hanya terdiri dari nama dan bentuk. Ia bertahan hanya selama masih ada nama dan bentuk. Ketika melalui meditasi dan praktik-praktik lainnya, nama dan bentuk dilarutkan, maka hanya Brahman yang transenden saja yang tetap tinggal. Pada saat itu, realitas terpisah dari Jiva-jiva dan alam semesta tidak lagi dirasakan. Pada saat itu disadari bahwa seseorang adalah Esensi Kecerdasan Murni yang Kekal, atau Brahman itu sendiri. Hakikat sejati dari Jiva adalah Brahman. Ketika tabir nama dan bentuk lenyap melalui meditasi dan sebagainya, maka gagasan itu pun sekadar terealisasi. Inilah inti dari Advaita yang murni. Veda, Vedanta, dan semua kitab suci lainnya hanya menjelaskan gagasan ini dengan cara-cara yang berbeda-beda.
Murid: Lantas, bagaimana mungkin benar bahwa Ishvara adalah Pribadi yang mahakuasa?
Swamiji: Manusia adalah manusia sejauh ia dibatasi oleh atribut pembatas berupa pikiran. Melalui pikiran ia harus memahami dan menangkap segala sesuatu, dan oleh karena itu apa pun yang ia pikirkan pasti dibatasi oleh pikiran itu sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi kecenderungan alamiah manusia untuk menyimpulkan, dari analogi kepribadiannya sendiri, kepribadian Ishvara (Tuhan). Manusia hanya dapat memikirkan idealnya sebagai seorang manusia. Ketika ia diombang-ambingkan oleh kesedihan di dunia yang penuh penyakit dan kematian ini, ia pun didorong kepada keputusasaan dan ketidakberdayaan; pada saat itulah ia mencari perlindungan kepada seseorang, sehingga dengan bersandar kepadanya ia dapat merasa aman. Akan tetapi, di manakah perlindungan itu dapat ditemukan? Atman yang mahahadir, yang tidak bergantung pada apa pun untuk menopang-Nya, adalah satu-satunya Perlindungan yang sesungguhnya. Pada mulanya manusia tidak menemukannya. Ketika daya pembedaan dan ketidakterikatan timbul dalam perjalanan meditasi dan praktik-praktik rohani, barulah ia mulai mengetahuinya. Akan tetapi, dengan cara apa pun ia maju di jalan kerohanian, setiap orang secara tidak sadar sedang membangkitkan Brahman di dalam dirinya sendiri. Hanya saja sarananya dapat berbeda-beda pada kasus yang berbeda-beda. Mereka yang memiliki keimanan kepada Tuhan Pribadi harus menjalani praktik-praktik rohani dengan berpegang teguh pada gagasan itu. Jika di sana ada ketulusan, maka melalui itu akan datang kebangkitan singa Brahman di dalam diri. Pengetahuan tentang Brahman adalah satu-satunya tujuan semua makhluk, akan tetapi berbagai gagasan merupakan berbagai jalan untuk menuju ke sana. Walaupun hakikat sejati dari Jiva adalah Brahman, namun karena ia memiliki pengidentifikasian dengan atribut pembatas berupa pikiran, ia pun menderita segala macam keraguan dan kesulitan, kesenangan dan kepedihan. Akan tetapi, setiap makhluk dari Brahma sampai sebatang rumput sedang bergerak maju menuju realisasi akan hakikat sejatinya. Dan tidak seorang pun dapat lolos dari putaran kelahiran dan kematian sampai ia merealisasikan kemanunggalannya dengan Brahman. Setelah memperoleh kelahiran sebagai manusia, ketika hasrat akan kebebasan menjadi sangat kuat, dan bersamanya datang pula rahmat dari seorang yang telah merealisasikan, maka hasrat manusia akan pengetahuan Diri pun menjadi semakin kuat. Sebaliknya, pikiran manusia yang dibelenggu oleh nafsu dan keserakahan tak pernah condong ke arah itu. Bagaimana mungkin hasrat untuk mengenal Brahman dapat bangkit di dalam diri seorang yang masih mendambakan kenikmatan-kenikmatan hidup berkeluarga, kekayaan, dan kemasyhuran? Hanya ia yang siap meninggalkan segalanya, yang di tengah arus deras dualitas baik dan buruk, kebahagiaan dan kepedihan, tetap tenang, mantap, seimbang, dan terjaga pada Idealnya, yang berikhtiar untuk mencapai pengetahuan Diri. Hanya dialah yang dengan kekuatan dirinya sendiri merobek jala dunia ini. "[(Sanskerta)]— dengan mendobrak segala penghalang Maya, ia muncul bagaikan seekor singa yang perkasa."
Murid: Kalau demikian, benarkah bahwa tanpa Sannyasa tidak mungkin ada pengetahuan tentang Brahman?
Swamiji: Itu benar, seribu kali benar. Seseorang harus memiliki Sannyasa baik secara batin maupun secara lahiriah— pelepasan di dalam roh sekaligus pelepasan secara formal. Shankaracharya, di dalam komentarnya atas teks Upanishad, "Bukan oleh Tapas (praktik rohani) yang kekurangan tanda-tanda lahiriah yang diperlukan", telah mengatakan bahwa dengan menjalankan Sadhana tanpa tanda lahiriah Sannyasa (jubah Gerua, tongkat, Kamandalu, dan sebagainya), Brahman, yang sukar dicapai itu, tidak akan terealisasi. Tanpa ketidakterikatan terhadap dunia, tanpa pelepasan, tanpa meninggalkan hasrat akan kenikmatan, sama sekali tidak akan tercapai apa pun di dalam kehidupan rohani. "Ini bukanlah seperti sepotong manisan di tangan seorang anak kecil yang dapat Anda rebut dengan suatu muslihat."
Murid: Akan tetapi, Tuan, dalam perjalanan praktik rohani, pelepasan itu mungkin akan datang.
Swamiji: Biarlah mereka yang akan menerimanya secara bertahap mengalaminya dengan cara itu. Akan tetapi, mengapa Anda harus duduk dan menunggu hal itu? Mulailah seketika juga menggali saluran yang akan membawa air kerohanian ke dalam kehidupan Anda. Sri Ramakrishna senantiasa mencela sikap suam-suam kuku di dalam pencapaian rohani, misalnya dengan mengatakan bahwa agama akan datang secara bertahap dan bahwa tidak perlu tergesa-gesa untuk itu. Ketika seseorang sedang kehausan, mungkinkah ia duduk berpangku tangan? Tidakkah ia berlari ke sana ke mari mencari air? Karena dahaga Anda akan kerohanian belum datang, maka Anda duduk berpangku tangan. Hasrat akan pengetahuan belum tumbuh kuat, maka Anda merasa puas dengan kenikmatan-kenikmatan kecil hidup berkeluarga.
Murid: Sungguh saya tidak mengerti mengapa saya tidak memperoleh gagasan untuk meninggalkan segala sesuatu itu. Mohon bukakanlah jalan untuk hal itu, Tuan.
Swamiji: Tujuan dan sarana, semuanya itu ada di tangan Anda sendiri. Saya hanya dapat memberi rangsangan kepadanya. Anda telah membaca begitu banyak kitab suci, serta melayani dan bergaul dengan para Sadhu yang telah mengenal Brahman; jika sekalipun semua ini tidak membangkitkan gagasan tentang pelepasan, maka kehidupan Anda menjadi sia-sia. Akan tetapi, ia tidak akan sepenuhnya sia-sia; pengaruh dari semua ini akan termanifestasi dalam suatu bentuk atau bentuk yang lain pada waktunya nanti.
Sang murid menjadi sangat kecewa, lalu kembali berkata kepada Swamiji: "Tuan, saya telah berlindung di bawah naungan Anda; sudilah membukakan jalan Mukti (pembebasan) bagi saya— agar saya dapat merealisasikan Kebenaran di dalam tubuh ini."
Swamiji: Apa lagi yang harus ditakuti? Senantiasa lakukanlah pembedaan— tubuh Anda, rumah Anda, Jiva-jiva ini, dan dunia ini semuanya sama sekali tidak nyata, ibarat sebuah mimpi belaka. Senantiasa renungkanlah bahwa tubuh ini hanyalah suatu alat yang lembam. Dan Purusha yang berdiri sendiri di dalamnya adalah hakikat sejati Anda. Atribut pembatas berupa pikiran adalah selubung-Nya yang pertama dan halus; kemudian ada tubuh ini yang merupakan selubung-Nya yang kasar dan lahiriah. Purusha yang tak terbagi, tak berubah, dan bercahaya sendiri ini tersembunyi di bawah selubung-selubung yang menipu tersebut, sehingga hakikat sejati Anda tidak Anda kenali. Arah pikiran yang selalu mengejar indra harus dibalikkan ke dalam. Pikiran itu harus dimatikan. Tubuh hanyalah materi kasar— ia mati dan hancur menjadi lima unsur. Akan tetapi, kumpulan dari kesan-kesan mental, yakni pikiran, tidak segera mati. Ia tinggal untuk sementara waktu dalam bentuk benih, kemudian bertunas dan tumbuh menjadi sebatang pohon— ia mengambil tubuh fisik lain dan menempuh putaran kelahiran dan kematian, sampai pengetahuan Diri muncul. Oleh karena itu saya katakan, dengan meditasi dan konsentrasi serta dengan kekuatan pembedaan filosofis, benamkanlah pikiran ini ke dalam Samudra Eksistensi-Pengetahuan-Kebahagiaan yang Mutlak. Ketika pikiran mati, semua atribut pembatas pun lenyap, dan Anda menjadi mantap di dalam Brahman.
Murid: Tuan, sungguh sulit mengarahkan pikiran yang tak terkendali ini ke arah Brahman.
Swamiji: Apakah ada suatu hal yang sulit bagi sang pahlawan? Hanya orang-orang yang berhati lemah saja yang berbicara demikian. "[(Sanskerta)]— mukti mudah dicapai hanya oleh sang pahlawan— tetapi tidak oleh seorang pengecut." Bhagavad Gita bersabda (VI.35), "[(Sanskerta)]— dengan pelepasan dan dengan praktik, pikiran dibawa ke dalam kendali, wahai Arjuna." Chitta atau materi pikiran adalah ibarat sebuah danau yang bening, dan gelombang-gelombang yang timbul di dalamnya akibat benturan kesan-kesan indra membentuk Manas, atau pikiran. Oleh karena itu, pikiran terdiri dari serangkaian gelombang pikiran. Dari gelombang-gelombang mental ini muncullah hasrat. Kemudian hasrat itu menjelma menjadi kehendak dan bekerja melalui instrumennya yang kasar, yakni tubuh. Selanjutnya, sebagaimana pekerjaan tidak ada habisnya, demikian pula buah-buahnya tidak terbatas. Oleh karena itu, pikiran senantiasa diombang-ambingkan oleh tak terhitung banyaknya gelombang— yakni buah-buah dari pekerjaan. Pikiran ini harus dikosongkan dari segala modifikasi (Vritti) dan dikembalikan menjadi danau yang bening, sehingga tidak tersisa satu pun gelombang modifikasi di dalamnya. Maka Brahman akan termanifestasi dengan sendirinya. Kitab suci memberikan sekilas pandang akan keadaan ini melalui ayat-ayat seperti: "Maka segala simpul hati pun dipotong putus", dan sebagainya. Apakah Anda memahaminya?
Murid: Ya, Tuan, namun meditasi mesti berlandaskan pada suatu objek?
Swamiji: Anda sendiri akan menjadi objek meditasi Anda. Pikirkanlah dan renungkanlah bahwa Anda adalah Atman yang mahahadir. "Saya bukanlah tubuh, bukan pula pikiran, bukan Buddhi (fakultas penentu), bukan tubuh kasar maupun tubuh halus"— dengan proses peniadaan semacam ini, benamkanlah pikiran Anda ke dalam pengetahuan transenden yang merupakan hakikat sejati Anda. Bunuhlah pikiran itu dengan demikian membenamkannya berulang-ulang ke dalam pengetahuan ini. Hanya dengan demikian Anda akan merealisasikan Esensi Kecerdasan, atau menjadi mantap di dalam hakikat sejati Anda. Yang mengetahui dan yang diketahui, sang pelaku meditasi dan objek yang dimeditasikan, akan menjadi satu, dan berhentinya semua penumpangan fenomenal pun akan menyusul. Hal ini di dalam Sastra disebut sebagai transendensi atas triad, atau pengetahuan relatif (Triputibheda). Tidak ada pengetahuan relatif atau terkondisi di dalam keadaan ini. Jika Atman adalah satu-satunya yang mengetahui, dengan sarana apa pula Anda mungkin dapat mengetahui-Nya? Atman adalah Pengetahuan, Atman adalah Kecerdasan, Atman adalah Sachchidananda. Melalui kekuatan Maya yang tak terselami, yang tidak dapat ditunjukkan sebagai ada maupun sebagai tidak ada, kesadaran relatif telah datang menimpa Jiva yang sesungguhnya bukan lain dari Brahman itu sendiri. Hal ini umumnya dikenal sebagai keadaan sadar. Sedangkan keadaan di mana dualitas eksistensi relatif ini menjadi satu di dalam Brahman murni disebut di dalam kitab suci sebagai keadaan adi-sadar, dan dilukiskan dalam kata-kata seperti, "[(Sanskerta)]— ia ibarat samudra yang sempurna tenang dan tanpa nama" (Vivekachudamani, 410).
Swamiji mengucapkan kata-kata itu seakan-akan dari kedalaman terdalam realisasinya akan Brahman.
Swamiji: Semua filsafat dan semua kitab suci telah datang dari bidang pengetahuan relatif antara subjek dan objek. Akan tetapi, tidak ada satu pun pikiran ataupun bahasa dari budi manusia yang dapat mengungkapkan secara penuh Realitas yang terletak melampaui bidang pengetahuan relatif itu! Ilmu pengetahuan, filsafat, dan sebagainya hanyalah kebenaran-kebenaran parsial. Oleh karena itu, mereka tidak akan pernah dapat menjadi saluran ungkapan yang memadai bagi Realitas yang transenden tersebut. Oleh karena itu pula, dipandang dari sudut transenden, segala sesuatu tampak tidak nyata— kepercayaan-kepercayaan dan amal-amal keagamaan, "aku" dan "engkau", serta alam semesta— segalanya tidak nyata! Maka barulah disadari: "Saya adalah satu-satunya realitas; saya adalah Atman yang meresapi segala sesuatu, dan saya adalah bukti bagi eksistensi saya sendiri." Di manakah ada ruang bagi suatu bukti terpisah untuk menetapkan realitas eksistensi saya? Saya, sebagaimana dikatakan oleh kitab suci, "[(Sanskerta)]— senantiasa dikenal oleh diri saya sendiri sebagai subjek yang abadi" (Vivekachudamani, 409). Saya telah melihat keadaan itu, dan telah merealisasikannya. Anda pun lihatlah dan realisasikanlah, lalu wartakan kebenaran tentang Brahman ini kepada semua orang. Hanya dengan demikianlah Anda akan mencapai kedamaian.
Sambil mengucapkan kata-kata ini, wajah Swamiji memancarkan suatu ekspresi yang serius, dan beliau larut di dalam pikiran. Setelah beberapa waktu, beliau pun melanjutkan: "Realisasikanlah di dalam kehidupan Anda sendiri pengetahuan tentang Brahman ini, yang mencakup semua teori dan yang merupakan dasar nalar dari segala kebenaran, lalu wartakanlah kepada dunia. Hal ini akan membawa kebaikan bagi diri Anda sendiri sekaligus bagi orang lain. Hari ini saya telah memberi tahu Anda inti dari segala kebenaran; tidak ada lagi yang lebih tinggi daripada ini."
Murid: Tuan, sekarang Anda sedang berbicara tentang Jnana; tetapi terkadang Anda mewartakan keunggulan Bhakti (pengabdian kasih), terkadang Karma, dan terkadang Yoga. Hal ini membingungkan pemahaman kami.
Swamiji: Baiklah, kebenaran dari hal ini adalah demikian. Pengetahuan tentang Brahman adalah tujuan akhir— takdir tertinggi dari manusia. Akan tetapi, manusia tidak dapat tenggelam di dalam Brahman sepanjang waktu. Ketika ia keluar dari padanya, ia harus memiliki sesuatu untuk menyibukkan dirinya. Pada saat itulah ia hendaknya melakukan pekerjaan yang akan menyumbang kepada kesejahteraan sejati dari orang lain. Oleh karena itulah saya mendesak Anda agar mengabdi kepada Jiva-jiva di dalam semangat kesatuan. Akan tetapi, anakku, demikianlah rumitnya pekerjaan, sehingga bahkan orang-orang suci yang besar sekalipun tertangkap di dalamnya dan menjadi terikat.
Oleh karena itu, pekerjaan harus dilakukan tanpa hasrat apa pun akan hasilnya. Inilah ajaran dari Bhagavad Gita. Akan tetapi, ketahuilah bahwa di dalam pengetahuan Brahman tidak ada sentuhan hubungan apa pun dengan pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan yang baik, paling-paling, hanyalah menyucikan pikiran saja. Oleh karena itu, sang komentator Shankara mengkritik dengan tajam doktrin perpaduan antara Jnana dan Karma. Sebagian orang mencapai pengetahuan Brahman melalui sarana pekerjaan tanpa pamrih. Ini pun adalah suatu sarana, akan tetapi tujuannya tetaplah realisasi Brahman. Ketahuilah hal ini dengan sepenuhnya, bahwa tujuan dari jalan pembedaan dan dari semua jalan praktik lainnya adalah realisasi Brahman.
Murid: Sekarang, Tuan, sudilah memberi tahu saya tentang kegunaan Raja-yoga dan Bhakti-yoga.
Swamiji: Dengan berusaha di jalan-jalan ini pun, sebagian orang juga mencapai realisasi Brahman. Jalan Bhakti atau jalan pengabdian kepada Tuhan adalah suatu proses yang lambat, akan tetapi mudah untuk dipraktikkan. Di jalan Yoga terdapat banyak halangan; barangkali pikiran mengejar daya-daya gaib dan dengan demikian menjauhkan Anda dari pencapaian hakikat sejati Anda. Hanya jalan Jnana yang cepat membuahkan hasil dan yang merupakan dasar nalar dari semua kepercayaan lainnya; karenanya ia dihargai secara setara di semua negara dan di segala zaman. Akan tetapi, bahkan di jalan pembedaan sekalipun ada kemungkinan pikiran tersangkut di dalam jaring perdebatan sia-sia yang tidak berkesudahan. Oleh karena itu, bersama-sama dengannya, meditasi hendaknya juga dipraktikkan. Dengan sarana pembedaan dan meditasi, tujuan atau Brahman itu harus dicapai. Seseorang pasti akan mencapai tujuan tersebut dengan berpraktik dengan cara ini. Inilah, menurut pendapat saya, jalan mudah yang menjamin keberhasilan dengan cepat.
Murid: Sekarang sudilah memberi tahu saya sesuatu tentang doktrin Inkarnasi Tuhan.
Swamiji: Tampaknya Anda ingin menguasai segala sesuatu dalam sehari!
Murid: Tuan, jika keraguan dan kesulitan pikiran dapat dipecahkan dalam sehari, maka saya tak perlu mengganggu Anda berkali-kali.
Swamiji: Mereka yang dengan rahmatnya pengetahuan tentang Atman, yang demikian dipuji-puji di dalam kitab suci, dicapai hanya dalam sekejap, merekalah Tirtha-tirtha yang berjalan (kedudukan-kedudukan kesucian)— para Inkarnasi. Sejak kelahiran mereka, mereka adalah para pengenal Brahman, dan antara Brahman dengan sang pengenal Brahman tidak ada perbedaan sedikit pun. "[(Sanskerta)]— ia yang mengenal Brahman menjadi Brahman" (Mundaka, III.ii.9). Atman tidak dapat dikenal oleh pikiran karena Ia sendirilah Yang Mengetahui— hal ini telah saya katakan sebelumnya. Oleh karena itu, pengetahuan relatif manusia mencapai sampai kepada para Avatara— yaitu mereka yang senantiasa mantap di dalam Atman. Ideal tertinggi tentang Ishvara yang dapat ditangkap oleh budi manusia adalah sosok Avatara. Di luar ini tidak ada lagi pengetahuan relatif. Para pengenal Brahman semacam itu jarang lahir di dunia ini. Dan hanya sedikit orang yang dapat memahami mereka. Hanya merekalah bukti dari kebenaran kitab suci— menara-menara cahaya di tengah samudra dunia. Dengan menyertai para Avatara semacam itu dan oleh rahmat mereka, kegelapan pikiran lenyap dalam sekejap saja, dan realisasi memancar segera di dalam hati. Mengapa atau melalui proses apa hal itu datang, tidak dapat dipastikan. Akan tetapi, ia memang datang. Saya sendiri telah melihatnya terjadi demikian. Sri Krishna menyabdakan Bhagavad Gita dengan memantapkan diri-Nya di dalam Atman. Bagian-bagian Gita di mana Ia berbicara dengan kata "Aku" senantiasa menunjuk pada Atman: "Berlindunglah hanya kepada-Ku" berarti, "Mantapkanlah diri Anda di dalam Atman." Pengetahuan tentang Atman ini adalah tujuan tertinggi Gita. Rujukan kepada Yoga dan lain sebagainya hanyalah sambil lalu bagi realisasi Atman ini. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan tentang Atman ini adalah para "pembunuh diri sendiri". "Mereka membunuh dirinya sendiri dengan melekat pada yang tidak nyata"; mereka kehilangan hidup mereka dalam jerat kenikmatan-kenikmatan indra. Anda pun adalah manusia, mungkinkah Anda tidak dapat mengabaikan sampah kenikmatan inderawi ini yang tidak akan bertahan dua hari pun? Apakah Anda juga akan menggembungkan barisan mereka yang lahir dan mati di dalam kebodohan total? Terimalah yang "berguna" dan tolaklah yang "menyenangkan". Bicarakanlah Atman ini kepada semua orang, bahkan kepada yang paling rendah sekalipun. Dengan terus-menerus berbicara, kecerdasan Anda sendiri pun akan menjadi tercerahkan. Dan senantiasa ulanglah Mantra-mantra agung— "[(Sanskerta)]— engkau adalah Itu", "[(Sanskerta)]— aku adalah Itu", "[(Sanskerta)]— sesungguhnya semua ini adalah Brahman"— dan milikilah keberanian seekor singa di dalam hati. Apa yang harus ditakuti? Ketakutan adalah kematian— ketakutan adalah dosa yang terbesar. Jiwa manusia, yang diwakili oleh Arjuna, tersentuh oleh ketakutan. Oleh karena itu, Bhagavan Sri Krishna, yang telah mantap di dalam Atman, mengucapkan kepadanya ajaran-ajaran Gita. Namun demikian, ketakutannya tetap tidak meninggalkan dirinya. Kemudian, ketika Arjuna melihat Wujud Semesta dari Sang Tuhan, dan menjadi mantap di dalam Atman, maka dengan segala belenggu Karma terbakar oleh api pengetahuan, ia pun bertempur dalam pertempuran itu.
Murid: Tuan, dapatkah seseorang melakukan pekerjaan bahkan setelah realisasi?
Swamiji: Setelah realisasi, apa yang lazimnya disebut sebagai pekerjaan tidak lagi berlangsung. Sifatnya menjadi berubah. Pekerjaan yang dilakukan oleh seorang Jnani hanyalah menyumbang kepada kesejahteraan dunia. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh seorang yang telah merealisasikan akan menyumbang kepada kesejahteraan semua makhluk. Kami telah menyaksikan Sri Ramakrishna; beliau ibarat "[(Sanskerta)]— berada di dalam tubuh, namun bukan dari tubuh!" Mengenai motif dari tindakan pribadi-pribadi semacam itu, hanya inilah yang dapat dikatakan: "[(Sanskerta)]— segala yang mereka kerjakan seperti manusia, hanyalah sekadar sebagai suatu permainan" (Brahma-Sutra, II.i.33).
## Referensi
English
Swamiji is now in very good health. The disciple has come to the Math on a Sunday morning. After visiting Swamiji he has come downstairs and is discussing the Vedantic scriptures with Swami Nirmalananda. At this moment Swamiji himself came downstairs and addressing the disciple, said, "What were you discussing with Nirmalananda?"
Disciple: Sir, he was saying, "The Brahman of the Vedanta is only known to you and your Swamiji. We on the contrary know that "(Sanskrit)-- shri Krishna is the Lord Himself."
Swamiji: What did you say?
Disciple: I said that the Atman is the one Truth, and that Krishna was merely a person who had realised this Atman. Swami Nirmalananda is at heart a believer in the Advaita Vedanta, but outwardly he takes up the dualistic side. His first idea seems to be to moot the personal aspect of the Ishvara and then by a gradual process of reasoning to strengthen the foundations of Vedanta.
But as soon as he calls me a "Vaishnava" I forget his real intention and begin a heated discussion with him.
Swamiji: He loves you and so enjoys the fun of teasing you. But why should you be upset by his words? You will also answer, "You, sir, are an atheist, a believer in Nihility."
Disciple: Sir, is there any such statement in the Upanishads that Ishvara is an all - powerful Person? But people generally believe in such an Ishvara.
Swamiji: The highest principle, the Lord of all, cannot be a Person. The Jiva is an individual and the sum total of all Jivas is the Ishvara. In the Jiva, Avidya, or nescience, is predominant, but Ishvara controls Maya composed of Avidya and Vidya and independently projects this world of moving and immovable things out of Himself. But Brahman transcends both the individual and collective aspects, the Jiva and Ishvara. In Brahman there is no part. It is for the sake of easy comprehension that parts have been imagined in It. That part of Brahman in which there is the superimposition of creation, maintenance and dissolution of the universe has been spoken of as Ishvara in the scriptures, while the other unchangeable portion, with reference to which there is no thought of duality, is indicated as Brahman. But do not on that account think that Brahman is a distinct and separate substance from the Jivas and the universe. The Qualified Monists hold that it is Brahman that has transformed Itself into Jivas and the universe. The Advaitins on the contrary maintain that Jivas and the universe have been merely superimposed on Brahman. But in reality there has been no modification in Brahman. The Advaitin says that the universe consists only of name and form. It endures only so long as there are name and form. When through meditation and other practices name and form are dissolved, then only the transcendent Brahman remains. Then the separate reality of Jivas and the universe is felt no longer. Then it is realised that one is the Eternal Pure Essence of Intelligence, or Brahman. The real nature of the Jiva is Brahman. When the veil of name and form vanishes through meditation etc., then that idea is simply realised. This is the substance of pure Advaita. The Vedas, the Vedanta and all other scriptures only explain this idea in different ways.
Disciple: How then is it true that Ishvara is an almighty Person?
Swamiji: Man is man in so far as he is qualified by the limiting adjunct of mind. Through the mind he has to understand and grasp everything, and therefore whatever he thinks must be limited by the mind. Hence it is the natural tendency of man to argue, from the analogy of his own personality, the personality of Ishvara (God). Man can only think of his ideal as a human being. When buffeted by sorrow in this world of disease and death he is driven to desperation and helplessness, then he seeks refuge with someone, relying on whom he may feel safe. But where is that refuge to be found? The omnipresent Atman which depends on nothing else to support It is the only Refuge. At first man does not find that. When discrimination and dispassion arise in the course of meditation and spiritual practices, he comes to know it. But in whatever way he may progress on the path of spirituality, everyone is unconsciously awakening Brahman within him. But the means may be different in different cases. Those who have faith in the Personal God have to undergo spiritual practices holding on to that idea. If there is sincerity, through that will come the awakening of the lion of Brahman within. The knowledge of Brahman is the one goal of all beings but the various ideas are the various paths to it. Although the real nature of the Jiva is Brahman, still as he has identification with the qualifying adjunct of the mind, he suffers from all sorts of doubts and difficulties, pleasure and pain. But everyone from Brahma down to a blade of grass is advancing towards the realisation of his real nature. And none can escape the round of births and deaths until he realises his identity with Brahman. Getting the human birth, when the desire for freedom becomes very strong, and along with it comes the grace of a person of realisation, then man's desire for Self - knowledge becomes intensified. Otherwise the mind of men given to lust and greed never inclines that way. How should the desire to know Brahman arise in one who has the hankering in his mind for the pleasures of family life, for wealth and for fame? He who is prepared to renounce all, who amid the strong current of the duality of good and evil, happiness and misery, is calm, steady, balanced, and awake to his Ideal, alone endeavours to attain to Self - knowledge. He alone by the might of his own power tears asunder the net of the world. "[(Sanskrit)]-- breaking the barriers of Maya, he emerges like a mighty lion."
Disciple: Well then, is it true that without Sannyasa, there can be no knowledge of Brahman?
Swamiji: That is true, a thousand times. One must have both internal and external Sannyasa -- renunciation in spirit as also formal renunciation. Shankaracharya, in commenting on the Upanishadic text, "Neither by Tapas (spiritual practice) devoid of the necessary insignia", has said that by practising Sadhana without the external badge of Sannyasa (the Gerua - robe, the staff, Kamandalu, etc.), Brahman, which is difficult to attain, is not realised. Without dispassion for the world, without renunciation, without giving up the desire for enjoyment, absolutely nothing can be accomplished in the spiritual life. "It is not like a sweetmeat in the hands of a child which you can snatch by a trick."
Disciple: But, sir, in the course of spiritual practices, that renunciation may come.
Swamiji: Let those to whom it will come gradually have it that way. But why should you sit and wait for that? At once begin to dig the channel which will bring the waters of spirituality to your life. Shri Ramakrishna used to deprecate lukewarmness in spiritual attainments as, for instance, saying that religion would come gradually, and that there was no hurry for it. When one is thirsty, can one sit idle? Does he not run about for water? Because your thirst for spirituality has not come, therefore you are sitting idly. The desire for knowledge has not grown strong, therefore you are satisfied with the little pleasures of family life.
Disciple: Really I do not understand why I don't get that idea of renouncing everything. Do make some way for that, please.
Swamiji: The end and the means are all in your hands. I can only stimulate them. You have read so many scriptures and are serving and associating with such Sadhus who have known Brahman; if even this does not bring the idea of renunciation, then your life is in vain. But it will not be altogether vain; the effects of this will manifest in some way or other in time.
The disciple was much dejected and again said to Swamiji: "Sir, I have come under your refuge, do open the path of Mukti for me -- that I may realise the Truth in this body."
Swamiji: What fear is there? Always discriminate -- your body, your house, these Jivas and the world are all absolutely unreal like a dream. Always think that this body is only an inert instrument. And the self - contained Purusha within is your real nature. The adjunct of mind is His first and subtle covering, then, there is this body which is His gross, outer covering. The indivisible changeless, self - effulgent Purusha is lying hidden under these delusive veils, therefore your real nature is unknown to you. The direction of the mind which always runs after the senses has to be turned within. The mind has to be killed. The body is but gross -- it dies and dissolves into the five elements. But the bundle of mental impressions, which is the mind, does not die soon. It remains for some time in seed - form and then sprouts and grows in the form of a tree -- it takes on another physical body and goes the round of birth and death, until Self - knowledge arises. Therefore I say, by meditation and concentration and by the power of philosophical discrimination plunge this mind in the Ocean of Existence - knowledge - bliss Absolute. When the mind dies, all limiting adjuncts vanish and you are established in Brahman.
Disciple: Sir, it is so difficult to direct this uncontrolled mind towards Brahman.
Swamiji: Is there anything difficult for the hero? Only men of faint hearts speak so. "[(Sanskrit)]-- mukti is easy of attainment only to the hero -- but not to cowards." Says the Gita (VI. 35), "[(Sanskrit)]-- by renunciation and by practice is the mind brought under control, O Arjuna." The Chitta or mind - stuff is like a transparent lake, and the waves which rise in it by the impact of sense - impressions constitute Manas or the mind. Therefore the mind consists of a succession of thought - waves. From these mental waves arises desire. Then that desire transforms itself into will and works through its gross instrument, the body. Again, as work is endless, so its fruits also are endless. Hence the mind is always being tossed by countless myriads of waves -- the fruits of work. This mind has to be divested of all modifications (Vrittis) and reconverted into the transparent lake, so that there remains not a single wave of modification in it. Then will Brahman manifest Itself. The scriptures give a glimpse of this state in such passages as: "Then all the knots of the heart are cut asunder", etc. Do you understand?
Disciple: Yes, sir, but meditation must base itself on some object?
Swamiji: You yourself will be the object of your meditation. Think and meditate that you are the omnipresent Atman. "I am neither the body, nor the mind, nor the Buddhi (determinative faculty), neither the gross nor the subtle body"-- by this process of elimination, immerse your mind in the transcendent knowledge which is your real nature. Kill the mind by thus plunging it repeatedly in this. Then only you will realise the Essence of Intelligence, or be established in your real nature. Knower and known, meditator and the object meditated upon will then become one, and the cessation of all phenomenal superimpositions will follow. This is styled in the Shastras as the transcendence of the triad or relative knowledge (Triputibheda). There is no relative or conditioned knowledge in this state. When the Atman is the only knower, by what means can you possibly know It? The Atman is Knowledge, the Atman is Intelligence, the Atman is Sachchidananda. It is through the inscrutable power of Maya, which cannot be indicated as either existent or non - existent, that the relative consciousness has come upon the Jiva who is none other than Brahman. This is generally known as the conscious state. And the state in which this duality of relative existence becomes one in the pure Brahman is called in the scriptures the superconscious state and described in such words as, "[(Sanskrit)]-- it is like an ocean perfectly at rest and without a name" (Vivekachudamani, 410).
Swamiji spoke these words as if from the profound depths of his realisation of Brahman.
Swamiji: All philosophy and scriptures have come from the plane of relative knowledge of subject and object. But no thought or language of the human mind can fully express the Reality which lies beyond the plane of relative Knowledge! Science, philosophy, etc. are only partial truths. So they can never be the adequate channels of expression for the transcendent Reality. Hence viewed from the transcendent standpoint, everything appears to be unreal -- religious creeds, and works, I and thou, and the universe -- everything is unreal! Then only it is perceived: "I am the only reality; I am the all - pervading Atman, and I am the proof of my own existence." Where is the room for a separate proof to establish the reality of my existence? I am, as the scriptures say, "[(Sanskrit)]-- always known to myself as the eternal subject" (Vivekachudamani, 409). I have seen that state, realised it. You also see and realise it and preach this truth of Brahman to all. Then only will you attain to peace.
While speaking these words, Swamiji's face wore a serious expression and he was lost in thought. After some time he continued: "Realise in your own life this knowledge of Brahman which comprehends all theories and is the rationale of all truths, and preach it to the world. This will conduce to your own good and the good of others as well. I have told you today the essence of all truths; there is nothing higher than this."
Disciple: Sir, now you are speaking of Jnana; but sometimes you proclaim the superiority of Bhakti, sometimes of Karma, and sometimes of Yoga. This confuses our understanding.
Swamiji: Well, the truth is this. The knowledge of Brahman is the ultimate goal -- the highest destiny of man. But man cannot remain absorbed in Brahman all the time. When he comes out of it, he must have something to engage himself. At that time he should do such work as will contribute to the real well - being of people. Therefore do I urge you in the service of Jivas in a spirit of oneness. But, my son, such are the intricacies of work, that even great saints are caught in them and become attached.
Therefore work has to be done without any desire for results. This is the teaching of the Gita. But know that in the knowledge of Brahman there is no touch of any relation to work. Good works, at the most, purify the mind. Therefore has the commentator Shankara so sharply criticised the doctrine of the combination of Jnana and Karma. Some attain to the knowledge of Brahman by the means of unselfish work. This is also a means, but the end is the realisation of Brahman. Know this thoroughly that the goal of the path of discrimination and of all other modes of practice is the realisation of Brahman.
Disciple: Now, sir, please tell me about the utility of Raja - yoga and Bhakti - yoga.
Swamiji: Striving in these paths also some attain to the realisation of Brahman. The path of Bhakti or devotion of God is a slow process, but is easy of practice. In the path of Yoga there are many obstacles; perhaps the mind runs after psychic powers and thus draws you away from attaining your real nature. Only the path of Jnana is of quick fruition and the rationale of all other creeds; hence it is equally esteemed in all countries and all ages. But even in the path of discrimination there is the chance of the mind getting stuck in the interminable net of vain argumentation. Therefore along with it, meditation should be practised. By means of discrimination and meditation, the goal or Brahman has to be reached. One is sure to reach the goal by practising in this way. This, in my opinion, is the easy path ensuring quick success.
Disciple: Now please tell me something about the doctrine of Incarnation of God.
Swamiji: You want to master everything in a day, it seems!
Disciple: Sir, if the doubts and difficulties of the mind be solved in one day, then I shall not have to trouble you time and again.
Swamiji: Those by whose grace the knowledge of Atman, which is extolled so much in the scriptures, is attained in a minute are the moving Tirthas (seats of holiness)-- the Incarnations. From their very birth they are knowers of Brahman, and between Brahman and the knower of Brahman there is not the least difference. "[(Sanskrit)]-- he who knows the Brahman becomes the Brahman" (Mundaka, III.ii.9). The Atman cannot be known by the mind for It is Itself the Knower -- this I have already said. Therefore man's relative knowledge reached up to the Avataras -- those who are always established in the Atman. The highest ideal of Ishvara which the human mind can grasp is the Avatara. Beyond this there is no relative knowledge. Such knowers of Brahman are rarely born in the world. And very few people can understand them. They alone are the proof of the truths of the scriptures -- the towers of light in the ocean of the world. By the company of such Avataras and by their grace, the darkness of the mind disappears in a trice and realisation flashes immediately in the heart. Why or by what process it comes cannot be ascertained. But it does come. I have seen it happen like that. Shri Krishna spoke the Gita, establishing Himself in the Atman. Those passages of the Gita where He speaks with the word "I", invariably indicate the Atman: "Take refuge in Me alone" means, "Be established in the Atman". This knowledge of the Atman is the highest aim of the Gita. The references to Yoga etc. are but incidental to this realisation of the Atman. Those who have not this knowledge of the Atman are "suicides". "They kill themselves by the clinging to the unreal"; they lose their life in the noose of sense - pleasures. You are also men, and can't you ignore this trash of sensual enjoyment that won't last for two days? Should you also swell the ranks of those who are born and die in utter ignorance? Accept the "beneficial" and discard the "pleasant". Speak of this Atman to all, even to the lowest. By continued speaking your own intelligence also will clear up. And always repeat the great Mantras --"[(Sanskrit)]-- thou art That", "[(Sanskrit)]-- I am That", "[(Sanskrit)]-- all this is verily Brahman"-- and have the courage of a lion in the heart. What is there to fear? Fear is death -- fear is the greatest sin. The human soul, represented by Arjuna, was touched with fear. Therefore Bhagavan Shri Krishna, established in the Atman, spoke to him the teachings of the Gita. Still his fear would not leave him. Later, when Arjuna saw the Universal Form of the Lord, and became established in the Atman, then with all bondages of Karma burnt by the fire of knowledge, he fought the battle.
Disciple: Sir, can a man do work even after realisation?
Swamiji: After realisation, what is ordinarily called work does not persist. It changes its character. The work which the Jnani does only conduces to the well - being of the world. Whatever a man of realisation says or does contributes to the welfare of all. We have observed Shri Ramakrishna; he was, as it were "[(Sanskrit)]-- in the body, but not of it!" About the motive of the actions of such personages only this can be said: "[(Sanskrit)]-- everything they do like men, simply by way of sport" (Brahma - Sutras , II.i.33).
## References
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.