Klaim-Klaim Agama
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
KLAIM-KLAIM AGAMA
(Minggu, 5 Januari)
Banyak di antara Anda mengenang debar sukacita yang Anda rasakan pada masa kanak-kanak ketika menyaksikan terbitnya matahari yang gemilang; setiap dari Anda, di suatu masa dalam hidup, pernah berdiri menatap matahari terbenam yang agung, dan setidaknya dalam imajinasi, mencoba menembus kawasan yang terbentang di luar sana. Sesungguhnya, inilah yang melandasi seluruh alam semesta — bangkitnya dari sesuatu yang berada di seberang dan tenggelamnya kembali ke sana, seluruh alam semesta yang muncul dari ketakdiketahuian dan kembali lagi ke ketakdiketahuian, merangkak masuk sebagai seorang anak dari kegelapan, lalu merangkak keluar lagi sebagai seorang tua menuju kegelapan.
Alam semesta kita ini — alam semesta indera, akal budi, dan intelek — di kedua sisinya dibatasi oleh yang tak terbatas, yang tak terselami, yang selamanya tidak diketahui. Di sanalah letak pencarian itu, di sanalah berlangsung penyelidikan, di sanalah terkandung fakta-faktanya; dari sanalah datang cahaya yang dikenal dunia sebagai agama. Namun pada hakikatnya agama termasuk dalam ranah adi-inderawi, bukan ranah indera. Agama berada di luar segala penalaran, dan tidak terletak pada bidang intelek. Ia adalah suatu penglihatan, suatu ilham, suatu lompatan ke dalam yang tidak diketahui dan tidak dapat diketahui, sehingga membuat yang tidak dapat diketahui itu menjadi lebih daripada sekadar diketahui — sebab ia tak pernah dapat sepenuhnya "diketahui". Pencarian ini, saya yakin, telah ada dalam pikiran manusia sejak permulaan kemanusiaan. Tidak mungkin pernah ada penalaran dan intelek manusia pada periode sejarah dunia mana pun tanpa pergulatan ini, tanpa pencarian akan yang melampaui ini. Dalam alam semesta kecil kita, yakni pikiran manusia, kita melihat suatu pemikiran muncul. Dari mana ia bangkit kita tidak tahu, dan ketika ia lenyap, ke mana ia pergi juga kita tidak tahu. Makrokosmos dan mikrokosmos, boleh dikatakan, bergerak pada alur yang sama, melewati tahap-tahap yang sama, bergetar pada nada yang sama.
Saya akan mencoba menghadirkan kepada Anda teori Hindu bahwa agama-agama tidak datang dari luar, melainkan dari dalam. Keyakinan saya adalah bahwa pemikiran keagamaan terdapat dalam susunan diri manusia itu sendiri, sedemikian dalamnya sehingga mustahil baginya untuk meninggalkan agama selama ia belum mampu meninggalkan pikiran dan tubuhnya, selama ia belum mampu menghentikan pemikiran dan kehidupan. Selama manusia berpikir, pergulatan ini harus berlangsung, dan selama itu pula manusia harus memiliki suatu bentuk agama. Demikianlah kita menyaksikan beragam bentuk agama di dunia. Ini adalah kajian yang membingungkan; tetapi tidaklah seperti yang banyak di antara kita pikirkan, suatu spekulasi yang sia-sia. Di tengah kekacauan ini terdapat keselarasan, di balik bunyi-bunyi yang sumbang ini terdapat satu nada yang harmonis; dan ia yang siap mendengarkannya akan menangkap nadanya.
Pertanyaan terbesar dari segala pertanyaan pada masa kini adalah ini: Dengan mengandaikan bahwa yang dapat diketahui dan yang telah diketahui dibatasi pada kedua sisinya oleh yang tak terselami dan yang tak terbatas tak diketahuinya, mengapa bergulat untuk mendapatkan yang tak diketahui itu? Mengapa kita tidak puas saja dengan yang sudah diketahui? Mengapa kita tidak merasa cukup dengan makan, minum, dan berbuat sedikit kebaikan kepada masyarakat? Gagasan ini sudah menjamur di udara. Dari profesor yang paling terpelajar hingga bayi yang baru belajar bicara, kita diberi tahu, "Berbuat baiklah kepada dunia, itulah seluruh agama, dan jangan susahkan kepalamu dengan pertanyaan tentang yang melampaui ini." Demikian merata pandangan itu sehingga ia telah menjadi sebuah aksioma.
Untungnya kita masih harus menyelidiki yang berada di seberang itu. Yang sekarang ini, yang terungkapkan ini, hanyalah satu bagian dari yang belum terungkap. Alam semesta indera, boleh dikatakan, hanyalah satu bagian, satu kepingan dari alam semesta spiritual yang tak terbatas, yang diproyeksikan ke dalam bidang kesadaran indera. Bagaimana mungkin sekeping proyeksi yang sekecil ini dapat dijelaskan dan dipahami tanpa mengetahui yang berada di seberangnya? Dikisahkan tentang Sokrates bahwa pada suatu hari ketika sedang berceramah di Athena, ia bertemu seorang Brahmana yang telah berkelana sampai ke Yunani, dan Sokrates berkata kepada Brahmana itu bahwa kajian terbesar bagi umat manusia adalah manusia itu sendiri. Brahmana itu menyahut dengan tajam, "Bagaimana mungkin Anda mengetahui manusia sebelum Anda mengetahui Tuhan?" Tuhan ini, yang abadi Tak Terselami, atau Yang Mutlak, atau Yang Tak Terbatas, atau Yang Tanpa Nama — sebut saja Dia dengan nama apa pun yang Anda kehendaki — adalah rasionalitas, satu-satunya penjelasan, raison d'être dari segala yang diketahui dan dapat diketahui, dari kehidupan kini ini. Ambillah apa saja yang ada di hadapan Anda, sesuatu yang paling material — ambillah salah satu ilmu yang paling materialistis, seperti kimia atau fisika, astronomi atau biologi — pelajari, dorong studinya ke depan dan ke depan, maka bentuk-bentuk kasar itu akan mulai mencair dan menjadi semakin halus, hingga sampai pada satu titik ketika Anda dipaksa untuk membuat suatu lompatan besar dari hal-hal material ini ke dalam yang nirmaterial. Yang kasar mencair menjadi yang halus, fisika menjadi metafisika dalam setiap cabang pengetahuan.
Demikianlah halnya dengan segala sesuatu yang kita miliki — masyarakat kita, hubungan kita satu sama lain, agama kita, dan apa yang Anda sebut etika. Ada upaya-upaya untuk menyusun suatu sistem etika hanya berdasarkan alasan kegunaan. Saya tantang siapa pun untuk menghasilkan sistem etika rasional semacam itu. Berbuat baik kepada orang lain. Mengapa? Karena itu adalah kegunaan yang tertinggi. Andaikan seseorang berkata, "Saya tidak peduli pada kegunaan; saya ingin menggorok leher orang lain dan membuat diri saya kaya." Apa jawaban Anda? Itu lebih kejam daripada Herodes! Tetapi di manakah letak kegunaan saya berbuat baik kepada dunia? Apakah saya bodoh sehingga harus menghabiskan hidup saya agar orang lain bahagia? Mengapa saya sendiri tidak boleh bahagia, jika tidak ada perasaan lain di luar masyarakat, tidak ada kekuatan lain di alam semesta di luar kelima indera? Apa yang menghalangi saya menggorok leher saudara-saudara saya selama saya dapat menyelamatkan diri dari polisi dan membuat diri saya bahagia? Apa jawaban Anda? Anda terpaksa menunjukkan suatu kegunaan. Ketika Anda terdesak dari posisi Anda, Anda menjawab, "Sahabatku, baiklah menjadi baik." Apakah kekuatan dalam pikiran manusia yang berkata, "Baiklah berbuat baik", yang membentangkan di hadapan kita dalam pandangan yang agung — keagungan jiwa, keindahan kebaikan, daya tarik menyeluruh dari kebaikan, kekuatan tak terbatas dari kebaikan? Itulah yang kita sebut Tuhan. Bukankah demikian?
Kedua, saya hendak melangkah ke wilayah yang sedikit lebih peka. Saya minta perhatian Anda, dan saya mohon Anda jangan mengambil kesimpulan yang tergesa-gesa dari apa yang saya katakan. Kita tidak dapat berbuat banyak kebaikan kepada dunia ini. Berbuat baik kepada dunia memang sangat baik. Tetapi mampukah kita berbuat banyak kebaikan kepada dunia? Apakah selama ratusan tahun kita bergulat ini kita telah berbuat banyak kebaikan — sudahkah kita menambah jumlah keseluruhan kebahagiaan di dunia? Ribuan sarana telah diciptakan setiap hari guna menunjang kebahagiaan dunia, dan ini telah berlangsung selama ratusan bahkan ribuan tahun. Saya tanyakan kepada Anda: Apakah jumlah keseluruhan kebahagiaan di dunia hari ini lebih besar daripada satu abad yang lalu? Tidak mungkin demikian. Setiap gelombang yang naik di samudra pasti dengan mengorbankan suatu cekungan di tempat lain. Jika satu bangsa menjadi kaya dan berkuasa, itu pasti dengan mengorbankan bangsa lain di suatu tempat. Setiap mesin yang ditemukan akan membuat dua puluh orang kaya dan dua puluh ribu orang miskin. Itulah hukum persaingan yang berlaku sepanjang waktu. Jumlah keseluruhan energi yang dipertunjukkan tetap sama sepanjang masa. Itu juga merupakan tugas yang nekat. Tidak masuk akal untuk menyatakan bahwa kita dapat memiliki kebahagiaan tanpa penderitaan. Dengan bertambahnya semua sarana ini, Anda menambah keinginan dunia, dan keinginan yang bertambah berarti dahaga yang tak terpuaskan, yang tak akan pernah dipadamkan. Apa yang dapat memenuhi keinginan ini, dahaga ini? Dan selama dahaga ini ada, penderitaan tak terhindarkan. Sudah menjadi hakikat kehidupan untuk bergantian antara bahagia dan menderita. Lalu lagi, apakah dunia ini ditinggalkan kepada Anda untuk berbuat baik kepadanya? Tidak adakah kekuatan lain yang bekerja di alam semesta ini? Apakah Tuhan telah mati dan pergi, meninggalkan alam semesta-Nya kepada Anda dan saya — Yang Abadi, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Yang Selalu Terjaga, satu-satunya yang tidak pernah tidur ketika alam semesta sedang tidur, yang matanya tak pernah berkedip? Langit yang tak terbatas ini, boleh dikatakan, adalah mata-Nya yang selalu terbuka. Apakah Dia telah mati dan pergi? Apakah Dia tidak bertindak di alam semesta ini? Roda terus berputar; Anda tidak perlu tergesa-gesa; Anda tidak perlu menyiksa diri.
[Swami di sini menceritakan kisah seorang lelaki yang menginginkan hantu untuk bekerja baginya, tetapi ketika hantu itu sudah diperolehnya, ia tidak dapat menjaga agar hantu itu tetap sibuk, hingga akhirnya ia memberinya ekor anjing yang melengkung untuk diluruskan.]
Demikianlah keadaan kita dalam hal berbuat baik kepada alam semesta. Maka, saudara-saudara saya, selama ratusan bahkan ribuan tahun ini kita sedang mencoba meluruskan ekor anjing. Itu seperti rematik. Anda usir ia dari kaki, ia pergi ke kepala; Anda usir ia dari kepala, ia pergi ke tempat lain.
Bagi banyak di antara Anda, ini akan tampak sebagai pandangan dunia yang mengerikan dan pesimistis, tetapi bukan demikian. Baik pesimisme maupun optimisme keduanya keliru. Keduanya mengambil yang ekstrem. Selama seseorang mempunyai banyak untuk dimakan dan diminum, serta pakaian yang baik untuk dikenakan, ia menjadi seorang optimis yang besar; tetapi orang itu juga, ketika ia kehilangan segalanya, menjadi seorang pesimis yang besar. Ketika seseorang kehilangan seluruh uangnya dan sangat miskin, barulah pada saat itu, dengan daya yang paling besar, datanglah kepadanya gagasan tentang persaudaraan kemanusiaan. Demikianlah dunia ini, dan semakin saya pergi ke berbagai negeri dan menyaksikan dunia ini, dan semakin tua usia saya, semakin saya berusaha menghindari kedua ekstrem optimisme dan pesimisme itu. Dunia ini tidak baik dan tidak jahat. Ia adalah dunia milik Tuhan. Ia melampaui yang baik dan yang jahat, sempurna dalam dirinya sendiri. Kehendak-Nya sedang berlangsung, menampilkan semua gambaran yang berbeda-beda ini; dan ia akan berjalan tanpa awal dan tanpa akhir. Ia adalah sebuah gimnasium besar tempat Anda, saya, dan jutaan jiwa harus datang berlatih, agar menjadi kuat dan sempurna. Untuk itulah ia diadakan. Bukan karena Tuhan tidak mampu menciptakan alam semesta yang sempurna; bukan karena Dia tidak dapat menolong penderitaan dunia. Anda ingat kisah perempuan muda dan seorang pendeta yang keduanya sedang memandang bulan melalui teleskop, dan menemukan bintik-bintik di permukaan bulan. Pendeta itu berkata, "Saya yakin itu adalah menara-menara beberapa gereja." "Omong kosong," kata si perempuan muda, "Saya yakin itu adalah para kekasih muda yang sedang berciuman." Demikianlah yang kita lakukan terhadap dunia ini. Ketika kita berada di dalam, kita mengira kita sedang melihat bagian dalamnya. Sesuai dengan bidang keberadaan tempat kita berada, kita melihat alam semesta itu. Api di dapur tidak baik dan tidak buruk. Ketika ia memasak makanan untuk Anda, Anda memberkati api itu dan berkata, "Alangkah baiknya api itu!" Dan ketika ia membakar jari Anda, Anda berkata, "Alangkah menjengkelkannya api itu!" Sama benar dan logisnya untuk mengatakan: Alam semesta ini tidak baik dan tidak jahat. Dunia adalah dunia, dan akan selalu demikian adanya. Jika kita membuka diri terhadapnya sedemikian rupa sehingga tindakan dunia itu bermanfaat bagi kita, kita menyebutnya baik. Jika kita menempatkan diri dalam posisi yang menyakitkan, kita menyebutnya jahat. Maka Anda akan selalu menemukan anak-anak, yang polos dan riang dan tidak hendak menyakiti siapa pun, sangatlah optimistis. Mereka sedang bermimpi mimpi-mimpi emas. Orang-orang tua yang menyimpan segala hasrat di hati mereka namun tidak memiliki sarana untuk memenuhinya, dan terutama mereka yang telah banyak dipukul dan dibentur oleh dunia, sangatlah pesimistis. Agama hendak mengetahui kebenaran. Dan hal pertama yang ia temukan adalah bahwa tanpa pengetahuan akan kebenaran ini tidak akan ada kehidupan yang layak dijalani.
Hidup akan menjadi gurun, hidup manusia akan menjadi sia-sia, jika kita tidak dapat mengetahui yang berada di seberang sana. Sangat baik dikatakan: Bersikaplah puas dengan hal-hal yang ada pada saat ini. Sapi dan anjing pun demikian, demikian pula semua binatang, dan itulah yang menjadikan mereka binatang. Jadi jika manusia merasa cukup dengan masa kini dan meninggalkan segala pencarian ke arah yang melampauinya, umat manusia akan harus kembali ke tingkat hewan lagi. Agamalah, penyelidikan akan yang melampaui ini, yang membedakan manusia dari hewan. Benarlah dikatakan bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang secara alamiah memandang ke atas; semua hewan lain secara alamiah memandang ke bawah. Memandang ke atas dan menuju ke atas serta mencari kesempurnaan itulah yang disebut keselamatan, dan semakin cepat seseorang mulai naik lebih tinggi, semakin cepat ia mengangkat dirinya menuju gagasan kebenaran sebagai keselamatan ini. Hal itu tidak terletak pada jumlah uang di saku Anda, atau pakaian yang Anda kenakan, atau rumah yang Anda tempati, melainkan pada kekayaan pemikiran spiritual di dalam otak Anda. Itulah yang membuat kemajuan manusia; itulah sumber dari segala kemajuan material dan intelektual, daya gerak di belakang, semangat yang mendorong umat manusia maju.
Lalu apakah tujuan umat manusia? Apakah kebahagiaan, kenikmatan indrawi? Pada zaman dulu mereka biasa mengatakan bahwa di surga mereka akan meniup terompet dan hidup di sekitar sebuah singgasana; pada zaman modern saya dapati mereka menganggap cita-cita itu sangat lemah, lalu mereka memperbaikinya dan mengatakan bahwa di sana akan ada pernikahan dan segala hal semacam itu. Jika ada perbaikan antara kedua hal ini, yang kedua justru merupakan perbaikan yang lebih buruk. Semua teori surga yang beraneka ragam yang sedang diajukan ini menunjukkan kelemahan dalam pikiran. Dan kelemahannya terletak di sini: Pertama, mereka mengira bahwa kebahagiaan indra adalah tujuan kehidupan. Kedua, mereka tidak dapat membayangkan apa pun yang berada di luar kelima indera. Mereka sama tidak rasionalnya dengan kaum Utilitarian. Walaupun demikian, setidaknya mereka jauh lebih baik daripada para Utilitarian Ateis modern. Akhirnya, posisi Utilitarian ini sekadar kekanak-kanakan. Hak apa yang Anda miliki untuk berkata, "Inilah ukuran saya, dan seluruh alam semesta harus diperintah oleh ukuran saya?" Hak apa yang Anda miliki untuk berkata bahwa setiap kebenaran harus dinilai dengan ukuran Anda ini — ukuran yang mengkhotbahkan hanya roti, uang, dan pakaian sebagai Tuhan?
{{Smaller block Agama tidak hidup dalam roti, tidak berdiam dalam rumah. Berulang kali Anda mendengar keberatan yang diajukan: "Kebaikan apa yang dapat dilakukan agama? Mampukah ia menyingkirkan kemiskinan orang miskin dan memberi mereka lebih banyak pakaian?" Andaikan ia tidak mampu, apakah itu membuktikan kepalsuan agama? Andaikan seorang bayi berdiri di tengah-tengah Anda, ketika Anda sedang berusaha menjelaskan suatu teori astronomi, dan berkata, "Apakah itu menghasilkan kue jahe?" "Tidak," Anda jawab. "Kalau begitu," kata si bayi, "tidak ada gunanya." Bayi menilai seluruh alam semesta dari sudut pandang mereka sendiri, yaitu menghasilkan kue jahe, dan demikian pula bayi-bayi dunia ini. }}
Menyedihkan dikatakan pada akhir abad kesembilan belas ini bahwa orang-orang inilah yang dianggap sebagai khalayak yang paling terpelajar, paling rasional, paling logis, paling cerdas yang pernah dilihat di muka bumi.
Kita tidak boleh menilai hal-hal yang lebih tinggi dari sudut pandang kita yang rendah ini. Segala sesuatu harus dinilai berdasarkan ukurannya sendiri, dan yang tak terbatas harus dinilai berdasarkan ukuran ketakterbatasan. Agama merembesi seluruh kehidupan manusia, bukan hanya saat sekarang, melainkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karena itulah ia adalah hubungan kekal antara Jiwa yang kekal dan Tuhan yang kekal. Apakah logis untuk mengukur nilainya berdasarkan tindakannya pada lima menit kehidupan manusia? Tentu saja tidak. Tetapi semua ini hanyalah argumen negatif.
Sekarang muncul pertanyaan: Mampukah agama benar-benar melakukan sesuatu? Ia mampu.
Mampukah agama benar-benar mendatangkan roti dan pakaian? Ia mendatangkannya. Ia senantiasa melakukannya, dan ia berbuat jauh lebih banyak daripada itu; ia membawa kepada manusia kehidupan abadi. Ia telah menjadikan manusia seperti yang ia sekarang ini, dan akan menjadikan manusia-hewan ini sebagai seorang Tuhan. Itulah yang dapat dilakukan agama. Hilangkan agama dari masyarakat manusia, apa yang akan tersisa? Tidak lain hanyalah hutan binatang buas. Sebagaimana baru saja saya coba tunjukkan kepada Anda bahwa adalah mustahil untuk menganggap kebahagiaan indra sebagai tujuan kemanusiaan, kita mendapati kesimpulan bahwa pengetahuan adalah tujuan dari segala kehidupan. Saya telah mencoba menunjukkan kepada Anda bahwa dalam ribuan tahun pergulatan untuk pencarian kebenaran dan manfaat umat manusia ini, kita hampir tidak membuat kemajuan yang sungguh berarti. Tetapi umat manusia telah membuat kemajuan raksasa dalam pengetahuan. Kegunaan tertinggi dari kemajuan ini bukan terletak pada kenyamanan jasmani yang dihasilkannya, melainkan pada pengubahan manusia-hewan ini menjadi seorang dewa. Lalu, seiring dengan pengetahuan, datang pula kebahagiaan secara alami. Bayi-bayi mengira bahwa kebahagiaan indra adalah hal yang tertinggi yang dapat mereka miliki. Sebagian besar dari Anda mengetahui bahwa ada kenikmatan yang lebih tajam dalam intelek manusia daripada dalam inderanya. Tak satu pun dari Anda dapat merasakan kenikmatan yang sama dalam makan seperti yang dirasakan seekor anjing. Anda dapat memperhatikannya. Dari manakah datang kenikmatan pada manusia? Bukan dari kenikmatan makan dengan seluruh jiwa seperti yang dimiliki babi atau anjing. Lihatlah bagaimana babi makan. Ia tidak menyadari alam semesta selagi sedang makan; seluruh jiwanya terikat pada makanan. Ia boleh saja dibunuh, tetapi ia tidak peduli ketika sedang makan. Bayangkan kenikmatan yang sehebat itu yang dimiliki babi! Tidak ada manusia yang memilikinya. Ke mana perginya? Manusia telah mengubahnya menjadi kenikmatan intelektual. Babi tidak dapat menikmati ceramah-ceramah keagamaan. Itu adalah satu langkah lebih tinggi dan lebih tajam daripada kenikmatan intelektual, yakni bidang spiritual, kenikmatan spiritual akan hal-hal ilahi, yang melambung jauh melampaui akal dan intelek. Untuk memperolehnya kita harus kehilangan semua kenikmatan inderawi ini. Inilah kegunaan yang tertinggi. Kegunaan adalah apa yang saya nikmati dan apa yang setiap orang nikmati, dan kita mengejarnya.
Kita dapati bahwa manusia menikmati inteleknya jauh lebih besar daripada hewan menikmati inderanya, dan kita melihat bahwa manusia menikmati hakikat spiritualnya bahkan lebih besar daripada hakikat rasionalnya. Maka kearifan tertinggi haruslah pengetahuan spiritual ini. Bersama dengan pengetahuan ini akan datang kebahagiaan. Semua hal di dunia ini hanyalah bayangan, manifestasi pada tingkat ketiga atau keempat dari Pengetahuan dan Kebahagiaan yang sejati.
Kebahagiaan inilah yang datang kepada Anda melalui kasih kepada sesama; bayangan dari Kebahagiaan spiritual inilah yang menjadi kasih manusiawi, tetapi jangan mencampuradukkannya dengan kebahagiaan manusiawi itu. Di situlah letak kekeliruan besar: Kita selalu salah mengira kasih yang kita miliki — kasih badani, kasih manusiawi, kelekatan pada partikel, tarikan elektris terhadap manusia-manusia di dalam masyarakat — sebagai Kebahagiaan spiritual ini. Kita cenderung salah mengira yang ini sebagai keadaan kekal yang sebenarnya itu, padahal ia bukanlah. Karena tiada kata lain dalam bahasa Inggris, saya akan menyebutnya Kebahagiaan, yang sama dengan pengetahuan kekal — dan itulah tujuan kita. Di seluruh dunia, di mana pun telah ada agama, dan di mana pun akan ada agama, semuanya telah bermula dan akan bermula dari satu sumber, yang diberi berbagai nama di berbagai negeri; dan itulah yang di negara-negara Barat Anda sebut "ilham" (inspiration). Apakah ilham ini? Ilham adalah satu-satunya sumber pengetahuan keagamaan. Kita telah melihat bahwa agama pada hakikatnya termasuk dalam bidang yang melampaui indera. Ia adalah "di mana mata tidak dapat pergi, atau telinga, di mana pikiran tidak dapat mencapai, atau yang kata-kata tidak dapat ungkapkan". Itulah ladang dan tujuan agama, dan dari sanalah datang apa yang kita sebut ilham. Maka secara alami berikut bahwa pasti ada suatu jalan untuk melampaui indera. Sepenuhnya benar bahwa akal kita tidak dapat melampaui indera; segala penalaran berada di dalam indera, dan akal didasarkan pada fakta-fakta yang dapat dicapai indera. Tetapi mampukah seorang manusia melampaui indera? Mampukah seorang manusia mengetahui yang tak dapat diketahui? Atas inilah seluruh pertanyaan agama harus dan telah diputuskan. Sejak zaman yang teramat jauh ada dinding seteguh batu intan itu, penghalang bagi indera; sejak zaman yang teramat jauh ratusan ribu pria dan wanita telah membenturkan diri mereka kepada dinding ini untuk menembus ke seberangnya. Jutaan telah gagal, dan jutaan telah berhasil. Inilah sejarah dunia. Jutaan lagi tidak percaya bahwa pernah ada yang berhasil; dan mereka inilah para skeptis di zaman sekarang. Manusia berhasil melampaui dinding ini jika ia hanya mau mencoba. Manusia bukan hanya memiliki akal, bukan hanya memiliki indera, tetapi ada banyak hal dalam dirinya yang berada di luar indera. Kita akan mencoba menjelaskannya sedikit. Saya berharap Anda akan merasakan bahwa hal itu juga ada dalam diri Anda.
Saya menggerakkan tangan saya, dan saya merasakan dan saya mengetahui bahwa saya sedang menggerakkan tangan saya. Saya menyebutnya kesadaran. Saya sadar bahwa saya sedang menggerakkan tangan saya. Tetapi jantung saya juga sedang bergerak. Saya tidak sadar akan hal itu; namun siapa yang menggerakkan jantung itu? Pastilah ia adalah keberadaan yang sama. Maka kita melihat bahwa keberadaan yang menggerakkan tangan dan berbicara ini — yang berarti bertindak secara sadar — juga bertindak secara tidak sadar. Maka kita dapati bahwa keberadaan ini dapat bertindak pada dua bidang — yang satu, bidang kesadaran, dan yang lain, bidang di bawahnya. Dorongan-dorongan dari bidang ketaksadaran itulah yang kita sebut naluri, dan ketika dorongan yang sama datang dari bidang kesadaran, kita menyebutnya akal. Tetapi masih ada bidang yang lebih tinggi lagi, yakni adi-kesadaran (superconsciousness) pada manusia. Bidang ini secara lahiriah tampak sama dengan ketaksadaran, sebab ia berada di luar bidang kesadaran, tetapi ia berada di atas kesadaran, bukan di bawahnya. Ia bukan naluri, melainkan ilham. Ada bukti untuk itu. Pikirkanlah semua nabi dan orang bijak besar yang pernah dihasilkan dunia, dan diketahui dengan baik bagaimana akan ada saat-saat dalam hidup mereka, momen-momen dalam keberadaan mereka, ketika mereka tampak tidak sadar akan dunia luar; dan semua pengetahuan yang kemudian keluar dari mereka, mereka katakan, diperoleh selama keadaan itu. Dikisahkan tentang Sokrates bahwa ketika sedang berbaris bersama pasukan, ada matahari terbit yang indah, dan itu menggerakkan dalam pikirannya rangkaian pemikiran; ia berdiri di sana selama dua hari di bawah matahari sama sekali tidak sadar. Momen-momen seperti itulah yang memberikan pengetahuan Sokratik kepada dunia. Demikian pula dengan semua pengkhotbah dan nabi besar, ada momen-momen dalam hidup mereka ketika mereka, boleh dikatakan, bangkit dari kesadaran dan pergi ke atasnya. Dan ketika mereka kembali ke bidang kesadaran, mereka kembali dengan memancarkan cahaya; mereka telah membawa berita dari yang di seberang sana, dan mereka adalah para pelihat dunia yang diilhami.
Tetapi ada bahaya yang besar. Siapa pun dapat berkata bahwa dirinya diilhami; berkali-kali orang mengatakannya. Di manakah ujinya? Selama tidur kita tidak sadar; seorang dungu pergi tidur; ia tidur lelap selama tiga jam; dan ketika ia kembali dari keadaan itu, ia adalah dungu yang sama bahkan mungkin lebih dungu. Yesus dari Nazaret memasuki transfigurasinya, dan ketika ia keluar darinya, ia telah menjadi Yesus sang Kristus. Itulah seluruh perbedaannya. Yang satu adalah ilham, dan yang lain adalah naluri. Yang satu adalah anak-anak, dan yang lain adalah orang tua yang berpengalaman. Ilham ini mungkin diperoleh setiap dari kita. Ia adalah sumber dari segala agama, dan akan selalu menjadi sumber dari segala pengetahuan yang lebih tinggi. Namun ada bahaya-bahaya besar di jalannya. Kadang-kadang orang-orang penipu mencoba memaksakan diri mereka kepada umat manusia. Pada masa ini hal itu menjadi terlalu lazim. Seorang sahabat saya memiliki sebuah lukisan yang sangat indah. Seorang tuan lain yang cenderung beragama dan kaya raya menaruh hati pada lukisan itu; tetapi sahabat saya tidak mau menjualnya. Tuan yang lain itu pada suatu hari datang dan berkata kepada sahabat saya, "Saya menerima sebuah ilham dan saya membawa pesan dari Tuhan." "Apa pesan Anda?" tanya sahabat saya. "Pesannya adalah bahwa Anda harus menyerahkan lukisan itu kepada saya." Sahabat saya cekatan; ia segera menambahkan, "Tepat sekali; betapa indahnya! Saya pun menerima ilham yang sama persis, bahwa saya harus menyerahkan lukisan itu kepada Anda. Sudahkah Anda membawa cek Anda?" "Cek? Cek apa?" "Kalau begitu," kata sahabat saya, "saya rasa ilham Anda tidak tepat. Ilham saya adalah bahwa saya harus memberikan lukisan itu kepada orang yang membawa cek senilai $100.000. Anda harus membawa ceknya lebih dahulu." Tuan yang lain itu mendapati dirinya tertangkap, dan ia meninggalkan teori ilham itu. Inilah bahayanya. Seorang lelaki datang kepada saya di Boston dan mengatakan bahwa ia mendapat penglihatan-penglihatan ketika ia diajak bicara dalam bahasa Hindu. Saya berkata, "Jika saya dapat melihat apa yang ia katakan, saya akan mempercayainya." Tetapi ia menuliskan banyak omong kosong. Saya berusaha sekuat tenaga untuk memahaminya, tetapi saya tidak dapat. Saya mengatakan kepadanya bahwa sejauh pengetahuan saya, bahasa seperti itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada di India. Bahasa seperti itu belum cukup berkembang peradabannya untuk dimiliki. Tentu saja ia mengira saya seorang bajingan dan skeptis, lalu ia pergi; dan saya tidak akan terkejut jika berikutnya saya mendengar ia berada di rumah sakit jiwa. Inilah dua bahaya yang selalu ada di dunia ini — bahaya dari para penipu, dan bahaya dari orang-orang dungu. Tetapi itu tidak perlu menahan kita, sebab segala hal besar di dunia ini sarat dengan bahaya. Pada saat yang sama kita harus mengambil sedikit kewaspadaan. Kadang-kadang saya mendapati orang-orang yang sama sekali tidak memiliki analisis logis tentang apa pun. Seorang datang dan berkata, "Saya menerima pesan dari dewa anu", lalu bertanya, "Dapatkah Anda menyangkalnya? Bukankah mungkin ada dewa anu, dan bahwa ia akan memberi pesan seperti itu?" Dan 90 persen dari orang dungu akan menelannya. Mereka mengira itu sudah alasan yang cukup. Tetapi satu hal yang harus Anda ketahui, bahwa segala sesuatu mungkin terjadi — sungguh mungkin bahwa bumi akan bersentuhan dengan bintang Anjing tahun depan dan hancur berkeping-keping. Tetapi jika saya mengajukan dalil ini, Anda berhak untuk berdiri dan meminta saya membuktikannya kepada Anda. Apa yang oleh para ahli hukum disebut onus probandi terletak pada orang yang mengajukan dalil itu. Bukan kewajiban Anda untuk membuktikan bahwa saya menerima ilham dari dewa tertentu, melainkan kewajiban saya, sebab sayalah yang mengajukan dalil itu kepada Anda. Jika saya tidak mampu membuktikannya, lebih baik saya menahan lidah saya. Hindari kedua bahaya ini, maka Anda dapat mencapai ke mana pun yang Anda kehendaki. Banyak di antara kita menerima banyak pesan dalam hidup kita, atau mengira kita menerimanya, dan selama pesan itu hanya berkenaan dengan diri kita sendiri, lakukanlah apa yang Anda kehendaki; tetapi ketika ia menyangkut hubungan dan perilaku kita terhadap orang lain, pikirkanlah seratus kali sebelum Anda bertindak menurutnya; barulah Anda akan selamat.
Kita dapati bahwa ilham ini adalah satu-satunya sumber agama; namun ia selalu sarat dengan banyak bahaya; dan yang terakhir serta yang terburuk dari segala bahaya adalah tuntutan-tuntutan yang berlebihan. Orang-orang tertentu berdiri dan mengatakan bahwa mereka memiliki komunikasi dari Tuhan, dan bahwa mereka adalah corong dari Tuhan Yang Mahakuasa, dan tidak ada orang lain yang berhak memperoleh komunikasi itu. Hal ini, pada wajahnya saja, sudah tidak masuk akal. Jika ada sesuatu di alam semesta, ia pastilah universal; tidak ada satu pun gerakan di sini yang tidak bersifat universal, karena seluruh alam semesta diperintah oleh hukum-hukum. Ia sistematis dan harmonis di seluruh bagiannya. Karena itu apa yang ada di mana pun, pastilah ada di mana-mana. Setiap atom di alam semesta dibangun atas rencana yang sama dengan matahari dan bintang-bintang yang terbesar. Jika seorang manusia pernah diilhami, maka mungkinlah setiap dan setiap orang dari kita untuk diilhami pula, dan itulah agama. Hindari semua bahaya ini, ilusi dan delusi, penipuan, dan tuntutan-tuntutan berlebihan, tetapi hadapilah secara langsung fakta-fakta keagamaan, dan jalinlah hubungan langsung dengan ilmu agama. Agama tidak terletak pada percaya sejumlah doktrin atau dogma, pada pergi ke gereja atau kuil, pada membaca buku-buku tertentu. Sudahkah Anda melihat Tuhan? Sudahkah Anda melihat jiwa? Jika belum, apakah Anda sedang bergulat untuknya? Ia ada di sini dan kini, dan Anda tidak perlu menunggu masa depan. Apakah masa depan kecuali masa kini yang tak terbatas? Apakah seluruh jumlah waktu kecuali satu detik yang diulang-ulang lagi dan lagi? Agama ada di sini dan kini, dalam kehidupan saat ini.
Satu pertanyaan lagi: Apakah tujuannya? Pada masa kini diutarakan bahwa manusia sedang maju tanpa batas, ke depan dan ke depan, dan tidak ada tujuan kesempurnaan untuk dicapai. Selalu mendekati, tidak pernah mencapai — apa pun arti pernyataan itu, dan betapapun menakjubkannya ia kedengaran, ia sungguh tidak masuk akal pada wajahnya. Adakah gerakan dalam garis lurus? Garis lurus yang diproyeksikan tanpa batas menjadi sebuah lingkaran, ia kembali ke titik awalnya. Anda harus berakhir di tempat Anda memulai; dan karena Anda mulai di dalam Tuhan, Anda harus kembali kepada Tuhan. Apa yang tersisa? Pekerjaan rinci. Sepanjang keabadian Anda harus melakukan pekerjaan rinci itu.
Satu pertanyaan lagi: Apakah kita harus menemukan kebenaran-kebenaran baru tentang agama seiring kita melangkah? Ya dan tidak. Pertama-tama, kita tidak dapat mengetahui apa pun yang lebih dari agama; segalanya sudah diketahui. Dalam semua agama dunia Anda akan mendapati pengakuan bahwa ada satu kesatuan di dalam diri kita. Karena menjadi satu dengan Yang Ilahi, tidak mungkin ada kemajuan lebih jauh dalam arti itu. Pengetahuan berarti menemukan kesatuan ini di dalam keragaman. Saya melihat Anda sebagai pria dan wanita, dan ini adalah keragaman. Ia menjadi pengetahuan ilmiah ketika saya mengelompokkan Anda bersama dan menyebut Anda sebagai manusia. Ambillah ilmu kimia, misalnya. Para kimiawan berusaha mereduksi semua zat yang dikenal ke dalam unsur-unsur asalnya, dan jika mungkin, menemukan satu unsur dari mana semua ini diturunkan. Mungkin akan datang saatnya mereka menemukan unsur yang satu itu. Itulah sumber dari semua unsur yang lain. Setelah mencapainya, mereka tidak dapat melangkah lebih jauh; ilmu kimia akan menjadi sempurna. Demikian halnya dengan ilmu agama. Jika kita dapat menemukan kesatuan yang sempurna ini, maka tidak mungkin ada kemajuan lebih jauh.
Ketika ditemukan bahwa "Aku dan Bapaku adalah satu", maka kata terakhir tentang agama telah diucapkan. Lalu yang tersisa hanyalah pekerjaan rinci. Dalam agama sejati tidak ada iman atau kepercayaan dalam arti kepercayaan buta. Tidak ada pengkhotbah besar yang pernah mengkhotbahkan itu. Yang demikian hanya datang bersama kemerosotan. Orang-orang dungu berpura-pura menjadi pengikut raksasa-raksasa spiritual ini atau itu, dan walaupun mungkin mereka tanpa daya, mereka berusaha mengajar umat manusia untuk percaya dengan buta. Percaya apa? Untuk percaya dengan buta berarti merosotkan jiwa manusia. Jadilah seorang ateis jika Anda mau, tetapi jangan percaya pada apa pun tanpa mempertanyakannya. Mengapa merendahkan jiwa ke tingkat hewan? Anda tidak hanya menyakiti diri sendiri dengan itu, tetapi Anda merusak masyarakat, dan menciptakan bahaya bagi mereka yang datang setelah Anda. Berdirilah dan bernalarlah, tanpa memiliki iman yang buta. Agama adalah persoalan tentang menjadi dan menjadi, bukan tentang percaya. Inilah agama, dan ketika Anda telah mencapainya, Anda memiliki agama. Sebelum itu Anda tidak lebih baik daripada hewan. "Janganlah percaya pada apa yang telah kalian dengar," kata Buddha yang agung, "janganlah percaya pada doktrin-doktrin karena ia telah diturunkan kepada kalian melalui generasi-generasi; janganlah percaya pada apa pun karena ia diikuti dengan buta oleh banyak orang; janganlah percaya karena seorang bijak tua membuat pernyataan; janganlah percaya pada kebenaran-kebenaran yang telah menjadi kelekatan kalian karena kebiasaan; janganlah percaya semata-mata atas otoritas para guru dan tua-tua kalian. Lakukanlah pertimbangan dan analisis, dan ketika hasilnya sesuai dengan akal serta menunjang kebaikan semua, terimalah ia dan hidupilah."
Catatan
English
THE CLAIMS OF RELIGION
(Sunday, 5th January)
Many of you remember the thrill of joy with which in your childhood you saw the glorious rising sun; all of you, sometimes in your life, stand and gaze upon the glorious setting sun, and at least in imagination, try to pierce through the beyond. This, in fact, is at the bottom of the whole universe — this rising from and this setting into the beyond, this whole universe coming up out of the unknown, and going back again into the unknown, crawling in as a child out of darkness, and crawling out again as an old man into darkness.
This universe of ours, the universe of the senses, the rational, the intellectual, is bounded on both sides by the illimitable, the unknowable, the ever unknown. Herein is the search, herein art the inquiries, here are the facts; from this comes the light which is known to the world as religion. Essentially, however, religion belongs to the supersensuous and not to the sense plane. It is beyond all reasoning, and not on the plane of intellect. It is a vision, an inspiration, a plunge into the unknown and unknowable making the unknowable more than known, for it can never be "known". This search has been in the human mind, as I believe from the very beginning of humanity. There cannot have been human reasoning and intellect in any period of the world's history without this struggle, this search beyond. In our little universe this human mind, we see a thought arise. Whence it rises we do not know, and when it disappears, where it goes, we know not either. The macrocosm and the microcosm are, as it were in the same groove, passing through the same stages, vibrating in the same key.
I shall try to bring before you the Hindu theory that religions do not come from without, but from within. It is my belief that religious thought is in man's very constitution, so much so that it is impossible for him to give up religion until he can give up his mind and body, until he can stop thought and life. As long as a man thinks, this struggle must go on, and so long man must have some form of religion. Thus we see various forms of religion in the world. It is a bewildering study; but it is not, as many of us think, a vain speculation. Amidst this chaos there is harmony, throughout these discordant sounds there is a note of concord; and he who is prepared to listen to it, will catch the tone.
The great question of all questions at the present time is this: Taking for granted that the knowable and the known are bounded on both sides by the unknowable and the infinitely unknown, why struggle for that unknown? Why shall we not be content with the known? Why shall we not rest satisfied with eating, drinking, and doing a little good to society? This idea is in the air. From the most learned professor to the prattling baby, we are told, "Do good to the world, that is all of religion, and don't bother your head about questions of the beyond." So much so is this the case that it has become a truism.
But fortunately we must inquire into the beyond. This present, this expressed, is only one part of that unexpressed. The sense universe is, as it were, only one portion, one bit of that infinite spiritual universe projected into the plane of sense consciousness. How can this little bit of projection be explained, be understood, without knowing that which is beyond? It is said of Socrates that one day while lecturing at Athens, he met a Brâhmana who had travelled into Greece, and Socrates told the Brahmana that the greatest study for mankind is man. And the Brahmana sharply retorted, "How can you know man until you know God?" This God, this eternally Unknowable, or Absolute, or Infinite, or without name — you may call Him by what name you like — is the rationale, the only explanation, the raison d'etre of that which is known and knowable, this present life. Take anything before you, the most material thing — take any one of these most materialistic sciences, such as chemistry or physics, astronomy or biology — study it, push the study forward and forward, and the gross forms will begin to melt and become finer and finer, until they come to a point where you are bound to make a tremendous leap from these material things into the immaterial. The gross melts into the fine, physics into metaphysics in every department of knowledge.
So with everything we have — our society, our relations With each other, our religion, and what you call ethics. There are attempts at producing a system of ethics from mere grounds of utility. I challenge any man to produce such a rational system of ethics. Do good to others. Why? Because it is the highest utility. Suppose a man says, "I do not care for utility; I want to cut the throats of others and make myself rich." What will you answer? It is out-Heroding Herod! But where is the utility of my doing good to the world? Am I a fool to work my life out that others may be happy? Why shall I myself not be happy, if there is no other sentiency beyond society, no other power in the universe beyond the five senses? What prevents me from cutting the throats of my brothers so long as I can make myself safe from the police, and make myself happy. What will you answer? You are bound to show some utility. When you are pushed from your ground you answer, "My friend, it is good to be good." What is the power in the human mind which says, "It is good to do good", which unfolds before us in glorious view the grandeur of the soul, the beauty of goodness, the all attractive power of goodness, the infinite power of goodness? That is what we call God. Is it not?
Secondly, I want to tread on a little more delicate ground. I want your attention, and ask you not to make any hasty conclusions from what I say. We cannot do much good to this world. Doing good to the world is very good. But can we do much good to the world? Have we done much good these hundreds of years that we have been struggling — have we increased the sum total of the happiness in the world? Thousands of means have been created every day to conduce to the happiness of the world, and this has been going on for hundreds and thousands of years. I ask you: Is the sum total of the happiness in the world today more than what it divas a century ago? It cannot be. Each wave that rises in the ocean must be at the expense of a hollow somewhere. If one nation becomes rich and powerful, it must be at the expense of another nation somewhere. Each piece of machinery that is invented will make twenty people rich and a twenty thousand people poor. It is the law of competition throughout. The sum total of the energy displayed remains the same throughout. It is, too, a foolhardy task. It is unreasonable to state that we can have happiness without misery. With the increase of all these means, you are increasing the want of the world, and increased wants mean insatiable thirst which will never be quenched. What can fill this want, this thirst? And so long as there is this thirst, misery is inevitable. It is the very nature of life to be happy and miserable by turns. Then again is this world left to you to do good to it? Is there no other power working in this universe? Is God dead and gone, leaving His universe to you and me — the Eternal, the Omnipotent the All-merciful, the Ever-awakened, the One who never sleeps when the universe is sleeping, whose eyes never blink? This infinite sky is, as it were, His ever-open eye. Is He dead and gone? Is He not acting in this universe? It is going on; you need not be in a hurry; you need not make yourself miserable.
[The Swami here told the story of the man who wanted a ghost to work for him, but who, when he had the ghost, could not keep him employed, until he gave him a curly dog's tail to straighten.]
Such is the case with us, with this doing good to the universe. So, my brothers, we are trying to straighten out the tail of the dog these hundreds and thousands of years. It is like rheumatism. You drive it out from the feet, and it goes to the head; you drive it from the head, and it goes somewhere else.
This will seem to many of you to be a terrible, pessimistic view of the world, but it is not. Both pessimism and optimism are wrong. Both are taking up the extremes. So long as a man has plenty to eat and drink, and good clothes to wear, he becomes a great optimist; but that very man, when he loses everything, becomes a great pessimist. When a man loses all his money and is very poor, then and then alone, with the greatest force come to him the ideas of brotherhood of humanity. This is the world, and the more I go to different countries and see of this world, and the older I get, the more I am trying to avoid both these extremes of optimism and pessimism. This world is neither good nor evil. It is the Lord's world. It is beyond both good and evil, perfect in itself. His will is going on, showing all these different pictures; and it will go on without beginning and without end. It is a great gymnasium in which you and I, and millions of souls must come and get exercises, and make ourselves strong and perfect. This is what it is for. Not that God could not make a perfect universe; not that He could not help the misery of the world. You remember the story of the young lady and the clergyman, who were both looking at the moon through the telescope, and found the moon spots. And the clergyman said, "I am sure they are the spires of some churches." "Nonsense," said the young lady, "I am sure they are the young lovers kissing each other." So we are doing with this world. When we are inside, we think we are seeing the inside. According to the plane of existence in which we are, we see the universe. Fire in the kitchen is neither good nor bad. When it cooks a meal for you, you bless the fire, and say, "How good it is!" And when it burns your finger, you say, "What a nuisance it is!" It would be equally correct and logical to say: This universe is neither good nor evil. The world is the world, and will be always so. If we open ourselves to it in such a manner that the action of the world is beneficial to us, we call it good. If we put ourselves in the position in which it is painful, we call it evil. So you will always find children, who are innocent and joyful and do not want to injure anyone, are very optimistic. They are dreaming golden dreams. Old men who have all the desires in their hearts and not the means to fulfil them, and especially those who have been thumped and bumped by the world a good deal, are very pessimistic. Religion wants to know the truth. And the first thing it has discovered is that without a knowledge of this truth there will be no life worth living.
Life will be a desert, human life will be vain, it we cannot know the beyond. It is very good to say: Be contented with the things of the present moment. The cows and the dogs are, and so are all animals, and that is what makes them animals. So if man rests content with the present and gives up all search into the beyond, mankind will all have to go back to the animal plane again. It is religion, this inquiry into the beyond, that makes the difference between man and an animal. Well has it been said that man is the only animal that naturally looks upwards; every other animal naturally looks down. That looking upward and going upward and seeking perfection are what is called salvation, and the sooner a man begins to go higher, the sooner he raises himself towards this idea of truth as salvation. It does not consist in the amount of money in your pocket, or the dress you wear, or the house You live in, but in the wealth of spiritual thought in your brain. That is what makes for human progress; that is the source of all material and intellectual progress, the motive power behind, the enthusiasm that pushes mankind forward.
What again is the goal of mankind? Is it happiness, sensuous pleasure? They used to say in the olden time that in heaven they will play on trumpets and live round a throne; in modern time I find that they think this ideal is very weak, and they have improved upon it and say that they will have marriages and all these things there. If there is any improvement in these two things, the second is an improvement for the worse. All these various theories of heaven that are being put forward show weakness in the mind. And that weakness is here: First, they think that sense happiness is the goal of life. Secondly they cannot conceive of anything that is beyond the five senses. They are as irrational as the Utilitarians. Still they are much better than the modern Atheistic Utilitarians, at any rate. Lastly, this Utilitarian position is simply childish. What right have you to say, "Here is my standard, and the whole universe must be governed by my standard?" What right have you to say that every truth shall be judged by this standard of yours — the standard that preaches mere bread, and money, and clothes as God?
{{Smaller block Religion does not live in bread, does not dwell in a house. Again and again you hear this objection advanced: "What good can religion do? Can it take away the poverty of the poor and give them more clothes?" Supposing it cannot, would that prove the untruth of religion? Suppose a baby stands up among you, when you are trying to demonstrate an astronomical theory, and says, "Does it bring gingerbread?" "No, it does not," you answer. "Then," says the baby, "it is useless." Babies judge the whole universe from their own standpoint, that of producing gingerbread, and so do the babies of the world. }}
Sad to say at the later end of this nineteenth century that these are passing for the learned, the most rational, the most logical, the most intelligent crowd ever seen on this earth.
We must not judge of higher things from this low standpoint of ours. Everything must be judged by its own standard, and the infinite must be judged by the standard of infinity. Religion permeates the whole of man's life, not only the present, but the past, present, and future. It is therefore the eternal relation between the eternal Soul, and the eternal God. Is it logical to measure its value by its action upon five minutes of human life? Certainly not. But these are all negative arguments.
Now comes the question: Can religion really do anything? It can.
Can religion really bring bread and clothes? It does. It is always doing so, and it does infinitely more than that; it brings to man eternal life. It has made man what he is, and will make of this human animal a God. That is what religion can do. Take off religion from human society, what will remain? Nothing but a forest of brutes. As I have just tried to show you that it is absurd to suppose that sense happiness is the goal of humanity, we find as a conclusion that knowledge is the goal of all life. I have tried to show to you that in these thousands of years of struggle for the search of truth and the benefit of mankind, we have scarcely made the least appreciable advance. But mankind has made gigantic advance in knowledge. The highest utility of this progress lies not in the creature comforts that it brings, but in manufacturing a god out of this animal man. Then, with knowledge, naturally comes bliss. Babies think that the happiness of the senses is the highest thing they can have. Most of you know that there is a keener enjoyment in man in the intellect than in the senses. No one of you can feel the same pleasure in eating as a dog does. You can mark that. Where does the pleasure come from in man? Not that whole-souled enjoyment of eating that the pig or the dog has. See how the pig eats. It is unconscious of the universe while it is eating; its whole soul is bound up in the food. It may be killed but it does not care when it has food. Think of the intense enjoyment that the pig has! No man has that. Where is it gone? Man has changed it into intellectual enjoyment. The pig cannot enjoy religious lectures. That is one step higher and keener yet than intellectual pleasures, and that is the spiritual plane, spiritual enjoyment of things divine, soaring beyond reason and intellect. To procure that we shall have to lose all these sense-enjoyments. This is the highest utility. Utility is what I enjoy, and what everyone enjoys, and we run for that.
We find that man enjoys his intellect much more than an animal enjoys his senses, and we see that man enjoys his spiritual nature even more than his rational nature. So the highest wisdom must be this spiritual knowledge. With this knowledge will come bliss. All these things of this world are but the shadows, the manifestations in the third or fourth degree of the real Knowledge and Bliss.
It is this Bliss that comes to you through the love of humanity; the shadow of this spiritual Bliss is this human love, but do not confound it with that human bliss. There is that great error: We are always mistaking the: love that we have — this carnal, human love, this attachment for particles, this electrical attraction for human beings in society — for this spiritual Bliss. We are apt to mistake this for that eternal state, which it is not. For want of any other name in English, I would call it Bliss, which is the same as eternal knowledge — and that is our goal. Throughout the world, wherever there has been a religion, and wherever there will be a religion, they have all sprung and will all spring out of one source, called by various names in various countries; and that is what in the Western countries you call "inspiration". What is this inspiration? Inspiration is the only source of religious knowledge. We have seen that religion essentially belongs to the plane beyond the senses. It is "where the eyes cannot go, or the ears, where the mind cannot reach, or what words cannot express". That is the field and goal of religion, and from this comes that which we call inspiration. It naturally follows, therefore, that there must be some way to go beyond the senses. It is perfectly true that our reason cannot go beyond the senses; all reasoning is within the senses, and reason is based upon the facts which the senses reach. But can a man go beyond the senses? Can a man know the unknowable? Upon this the whole question of religion is to be and has been decided. From time immemorial there was that adamantine wall, the barrier to the senses; from time immemorial hundreds and thousands of men and women haven't dashed themselves against this wall to penetrate beyond. Millions have failed, and millions have succeeded. This is the history of the world. Millions more do not believe that anyone ever succeeded; and these are the sceptics of the present day. Man succeeds in going beyond this wall if he only tries. Man has not only reason, he has not only senses, but there is much in him which is beyond the senses. We shall try to explain it a little. I hope you will feel that it is within you also.
I move my hand, and I feel and I know that I am moving my hand. I call it consciousness. I am conscious that I am moving my hand. But my heart is moving. I am not conscious of that; and yet who is moving the heart? It must be the same being. So we see that this being who moves the hands and speaks, that is to say, acts consciously, also acts unconsciously. We find, therefore, that this being can act upon two planes — one, the plane of consciousness, and the other, the plane below that. The impulsions from the plane of unconsciousness are what we call instinct, and when the same impulsions come from the plane of consciousness, we call it reason. But there is a still higher plane, superconsciousness in man. This is apparently the same as unconsciousness, because it is beyond the plane of consciousness, but it is above consciousness and not below it. It is not instinct, it is inspiration. There is proof of it. Think of all these great prophets and sages that the world has produced, and it is well known how there will be times in their lives, moments in their existence, when they will be apparently unconscious of the external world; and all the knowledge that subsequently comes out of them, they claim, was gained during this state of existence. It is said of Socrates that while marching with the army, there was a beautiful sunrise, and that set in motion in his mind a train of thought; he stood there for two days in the sun quite unconscious. It was such moments that gave the Socratic knowledge to the world. So with all the great preachers and prophets, there are moments in their lives when they, as it were, rise from the conscious and go above it. And when they come back to the plane of consciousness, they come radiant with light; they have brought news from the beyond, and they are the inspired seers of the world.
But there is a great danger. Any man may say he is inspired; many times they say that. Where is the test? During sleep we are unconscious; a fool goes to sleep; he sleeps soundly for three hours; and when he comes back from that state, he is the same fool if not worse. Jesus of Nazareth goes into his transfiguration, and when he comes out, he has become Jesus the Christ. That is all the difference. One is inspiration, and the other is instinct. The one is a child, and the other is the old experienced man. This inspiration is possible for everyone of us. It is the source of all religions, and will ever be the source of all higher knowledge. Yet there are great dangers in the way. Sometimes fraudulent people try to impose themselves upon mankind. In these days it is becoming all too prevalent. A friend of mine had a very fine picture. Another gentleman who was rather religiously inclined, and a rich man, had his eyes upon this picture; but my friend would not sell it. This other gentleman one day comes and says to my friend, I have an inspiration and I have a message from God. "What is your message?" my friend asked. "The message is that you must deliver that picture to me." My friend was up to his mark; he immediately added, "Exactly so; how beautiful! I had exactly the same inspiration, that I should have to deliver to you the picture. Have you brought your cheque?" "Cheque? What cheque?' "Then", said my friend, "I don't think your inspiration was right. My inspiration was that I must give the picture to the man who brought a cheque for $100,000. You must bring the cheque first." The other man found he was caught, and gave up the inspiration theory. These are the dangers. A man came to me in Boston and said he had visions in which he had been talked to in the Hindu language. I said, "If I can see what he says I will believe it." But he wrote down a lot of nonsense. I tried my best to understand it, but I could not. I told him that so far as my knowledge went, such language never was and never will be in India. They had not become civilised enough to have such a language as that. He thought of course that I was a rogue and sceptic, and went away; and I would not be surprised next to hear that he was in a lunatic asylum. These are the two dangers always in this world — the danger from frauds, and the danger from fools. But that need not deter us, for all great things in this world are fraught with danger. At the same time we must take a little precaution. Sometimes I find persons perfectly wanting in logical analysis of anything. A man comes and says, "I have a message from such and such a god", and asks, "Can you deny it? Is it not possible that there will be such and such a god, and that he will give such a message? And 90 per cent of fools will swallow it. They think that that is reason enough. But one thing you ought to know, that it is possible for anything to happen - quite possible that the earth may come into contact with the Dog star in the next year and go to pieces. But if I advance this proposition, you have the right to stand up and ask me to prove it to you. What the lawyers call the onus probandi is on the man who made the proposition. It is not your duty to prove that I got my inspiration from a certain god, but mine, because I produced the proposition to you. If I cannot prove it, I should better hold my tongue. Avoid both these dangers, and you can get anywhere you please. Many of us get many messages in our lives, or think we get them, and as long as the message is regarding our own selves, go on doing what you please; but when it is in regard to our contact with and behaviour to others, think a hundred times before you act upon it; and then you will be safe.
We find that this inspiration is the only source of religion; yet it has always been fraught with many dangers; and the last and worst of all dangers is excessive claims. Certain men stand up and say they have a communication from God, and they are the mouthpiece of God Almighty, and no one else has the right to have that communication. This, on the face of it, is unreasonable. If there is anything in the universe, it must be universal; there is not one movement here that is not universal, because the whole universe is governed by laws. It is systematic and harmonious all through. Therefore what is anywhere must be everywhere. Each atom in the universe is built on the same plan as the biggest sun and the stars. If one man was ever inspired, it is possible for each and every one of us to be inspired, and that is religion. Avoid all these dangers, illusions and delusions, and fraud and making excessive claims, but come face to face with religious facts, and come into direct contact with the science of religion. Religion does not consist in believing any number of doctrines or dogmas, in going to churches or temples, in reading certain books. Have you seen God? Have you seen the soul? If not, are you struggling for it? It is here and now, and you have not to wait for the future. What is the future but the present illimitable? What is the whole amount of time but one second repeated again and again? Religion is here and now, in this present life.
One question more: What is the goal? Nowadays it is asserted that man is progressing infinitely, forward and forward, and there is no goal of perfection to attain to. Ever approaching, never attaining, whatever that may mean, and however wonderful it may be, it is absurd on the face of it. Is there any motion in a straight line? A straight line infinitely projected becomes a circle, it returns back to the starting point. You must end where you begin; and as you began in God, you must go back to God. What remains? Detail work. Through eternity you have to do the detail work.
Yet another question: Are we to discover new truths of religion as we go on? Yea and nay. In the first place, we cannot know anything more of religion; it has been all known. In all the religions of the world you will find it claimed that there is a unity within us. Being one with the Divinity, there cannot be any further progress in that sense. Knowledge means Ending this unity in variety. I see you as men and women, and this is variety. It becomes scientific knowledge when I group you together and call you human beings. Take the science of chemistry, for instance. Chemists are seeking to resolve all known substances into their original elements, and if possible, to find the one element from which all these are derived. The time may come when they will find the one element. That is the source of all other elements. Reaching that, they can go no further; the science of chemistry will have become perfect. So it is with the science of religion. If we can discover this perfect unity, then there cannot be any further progress.
When it was discovered that "I and my Father are one", the last word was said of religion. Then there only remained detail work. In true religion there is no faith or belief in the sense of blind faith. No great preacher ever preached that. That only comes with degeneracy. Fools pretend to be followers of this or that spiritual giant, and although they may be without power, endeavour to teach humanity to believe blindly. Believe what? To believe blindly is to degenerate the human soul. Be an atheist if you want, but do not believe in anything unquestioningly. Why degrade the soul to the level of animals? You not only hurt yourselves thereby, but you injure society, and make danger for those that come after you. Stand up and reason out, having no blind faith. Religion is a question of being and becoming, not of believing. This is religion, and when you have attained to that you have religion. Before that you are no better than the animals. "Do not believe in what you have heard," says the great Buddha, "do not believe in doctrines because they have been handed down to you through generations; do not believe in anything because it is followed blindly by many; do not believe because some old sage makes a statement; do not believe in truths to which you have become attached by habit; do not believe merely on the authority of your teachers and elders. Have deliberation and analyse, and when the result agrees with reason and conduces to the good of one and all, accept it and live up to it."
Notes
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.