Arsip Vivekananda

Apakah Kewajiban itu?

Jilid1 lecture
3,213 kata · 13 menit baca · Karma-Yoga

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

BAB IV

APAKAH KEWAJIBAN ITU?

Dalam mempelajari Karma-Yoga (jalan tindakan), penting untuk mengetahui apa itu kewajiban. Jika saya harus melakukan sesuatu, saya harus terlebih dahulu mengetahui bahwa itu adalah kewajiban saya, dan barulah saya dapat melakukannya. Gagasan tentang kewajiban pun berbeda-beda di antara berbagai bangsa. Penganut Islam mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam kitabnya, Al-Qur'an, adalah kewajibannya; orang Hindu mengatakan bahwa apa yang ada dalam Veda (kitab wahyu tertua) adalah kewajibannya; dan orang Kristen mengatakan bahwa apa yang ada dalam Alkitab adalah kewajibannya. Kita mendapati bahwa terdapat beragam gagasan tentang kewajiban, yang berbeda menurut berbagai kondisi kehidupan, berbagai zaman historis, dan berbagai bangsa. Istilah "kewajiban", seperti setiap istilah universal abstrak lainnya, tidak mungkin didefinisikan secara jelas; kita hanya dapat memperoleh gambaran mengenainya dengan mengetahui cara kerjanya dan hasilnya yang praktis. Ketika hal-hal tertentu terjadi di hadapan kita, kita semua memiliki dorongan alami atau terlatih untuk bertindak dengan cara tertentu terhadap hal-hal itu; ketika dorongan ini muncul, pikiran mulai merenungkan situasinya. Kadang-kadang ia berpikir bahwa baik untuk bertindak dengan cara tertentu dalam keadaan tertentu; di lain waktu ia berpikir bahwa salah untuk bertindak dengan cara yang sama bahkan dalam keadaan yang persis sama. Gagasan umum tentang kewajiban di mana-mana adalah bahwa setiap orang yang baik mengikuti suara hati nuraninya. Tetapi apa yang membuat suatu tindakan menjadi kewajiban? Jika seorang Kristen menemukan sepotong daging sapi di hadapannya dan tidak memakannya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, atau tidak mau memberikannya untuk menyelamatkan nyawa orang lain, ia pasti akan merasa bahwa ia tidak melaksanakan kewajibannya. Tetapi jika seorang Hindu berani memakan sepotong daging sapi itu atau memberikannya kepada orang Hindu lain, ia pun pasti akan merasa bahwa ia juga tidak melaksanakan kewajibannya; didikan dan pendidikan orang Hindu itu membuatnya merasa demikian. Pada abad yang lalu terdapat gerombolan perampok yang termasyhur di India yang disebut thug; mereka menganggap merupakan kewajiban mereka untuk membunuh setiap orang yang dapat mereka bunuh dan merampas uangnya; semakin banyak orang yang mereka bunuh, semakin baik menurut anggapan mereka. Biasanya jika seseorang keluar ke jalan dan menembak mati orang lain, ia akan cenderung menyesalinya, dengan menganggap bahwa ia telah berbuat salah. Tetapi jika orang yang sama itu, sebagai prajurit dalam resimennya, membunuh bukan hanya satu melainkan dua puluh orang, ia pasti merasa senang dan menganggap bahwa ia telah melaksanakan kewajibannya dengan sangat baik. Oleh karena itu, kita melihat bahwa bukan tindakan itu sendiri yang mendefinisikan suatu kewajiban. Memberikan definisi objektif tentang kewajiban dengan demikian sepenuhnya mustahil. Namun ada kewajiban dari sisi subjektif. Tindakan apa pun yang membuat kita menuju ke arah Tuhan adalah tindakan yang baik, dan adalah kewajiban kita; tindakan apa pun yang membuat kita merosot adalah jahat, dan bukan kewajiban kita. Dari sudut pandang subjektif, kita dapat melihat bahwa tindakan tertentu memiliki kecenderungan untuk meninggikan dan memuliakan kita, sementara tindakan tertentu lainnya memiliki kecenderungan untuk merendahkan dan membuat kita brutal. Tetapi tidak mungkin memastikan dengan pasti tindakan mana yang memiliki kecenderungan macam apa terkait semua orang, dari segala jenis dan keadaan. Akan tetapi, hanya ada satu gagasan tentang kewajiban yang telah diterima secara universal oleh seluruh umat manusia, dari segala zaman, mazhab, dan negeri, dan itu telah dirangkum dalam sebuah aforisme Sanskerta sebagai berikut: "Jangan menyakiti makhluk apa pun; tidak menyakiti makhluk apa pun adalah kebajikan, menyakiti makhluk apa pun adalah dosa."

Bhagavad-Gita (Nyanyian Yang Mahamulia) sering kali menyinggung kewajiban-kewajiban yang bergantung pada kelahiran dan kedudukan dalam hidup. Kelahiran dan kedudukan dalam hidup serta dalam masyarakat sebagian besar menentukan sikap mental dan moral individu terhadap berbagai aktivitas kehidupan. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk melakukan pekerjaan yang akan meninggikan dan memuliakan kita sesuai dengan cita-cita dan aktivitas masyarakat tempat kita dilahirkan. Tetapi harus diingat secara khusus bahwa cita-cita dan aktivitas yang sama tidak berlaku di semua masyarakat dan negeri; ketidaktahuan kita akan hal ini merupakan penyebab utama dari banyaknya kebencian satu bangsa terhadap bangsa lain. Seorang Amerika berpikir bahwa apa pun yang dilakukan seorang Amerika sesuai dengan kebiasaan negerinya adalah hal terbaik yang dapat dilakukan, dan bahwa siapa pun yang tidak mengikuti kebiasaannya pastilah orang yang sangat jahat. Seorang Hindu berpikir bahwa kebiasaannya adalah satu-satunya yang benar dan terbaik di dunia, dan bahwa siapa pun yang tidak menaatinya pastilah orang yang paling jahat yang hidup. Ini adalah kekeliruan yang cukup alami yang cenderung kita semua lakukan. Namun hal ini sangat berbahaya; itulah penyebab separuh dari ketiadaan belas kasih yang terdapat di dunia. Ketika saya datang ke negeri ini dan sedang melewati Pameran Chicago, seorang pria dari belakang menarik sorban saya. Saya menoleh dan melihat bahwa ia adalah orang yang tampak sangat terhormat, berpakaian rapi. Saya berbicara kepadanya; dan ketika ia mendapati bahwa saya tahu bahasa Inggris, ia menjadi sangat malu. Pada kesempatan lain di Pameran yang sama seorang pria lain mendorong saya. Ketika saya menanyakan alasannya, ia juga merasa malu dan tergagap meminta maaf dengan berkata, "Mengapa Anda berpakaian seperti itu?" Simpati orang-orang ini terbatas dalam ruang lingkup bahasa mereka sendiri dan mode pakaian mereka sendiri. Banyak penindasan bangsa-bangsa yang kuat atas yang lemah disebabkan oleh prasangka ini. Hal itu mengeringkan rasa kebersamaan mereka terhadap sesama manusia. Pria yang menanyakan kepada saya mengapa saya tidak berpakaian seperti dirinya dan ingin memperlakukan saya dengan buruk karena pakaian saya mungkin saja adalah pria yang sangat baik, ayah yang baik, dan warga yang baik; tetapi kebaikan kodratnya mati seketika ia melihat seorang yang berpakaian berbeda. Orang asing dieksploitasi di semua negeri, karena mereka tidak tahu bagaimana membela diri; dengan demikian mereka membawa pulang kesan keliru tentang orang-orang yang telah mereka lihat. Para pelaut, prajurit, dan pedagang berperilaku di negeri-negeri asing dengan cara yang sangat aneh, padahal mereka tidak akan pernah membayangkan untuk berbuat demikian di negeri mereka sendiri; mungkin inilah sebabnya mengapa orang Tionghoa menyebut orang Eropa dan Amerika "iblis asing". Mereka tidak akan dapat melakukan ini seandainya mereka bertemu dengan sisi yang baik dan ramah dari kehidupan Barat.

Oleh karena itu, satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa kita harus selalu berusaha melihat kewajiban orang lain melalui mata mereka sendiri, dan tidak pernah menilai kebiasaan bangsa lain berdasarkan ukuran kita sendiri. Saya bukan ukuran alam semesta. Saya harus menyesuaikan diri dengan dunia, dan bukan dunia yang menyesuaikan diri dengan saya. Maka kita melihat bahwa lingkungan mengubah sifat kewajiban kita, dan melaksanakan kewajiban yang menjadi milik kita pada saat tertentu adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan di dunia ini. Marilah kita melaksanakan kewajiban yang menjadi milik kita karena kelahiran; dan setelah kita melakukan itu, marilah kita melaksanakan kewajiban yang menjadi milik kita karena kedudukan kita dalam hidup dan dalam masyarakat. Akan tetapi, ada satu bahaya besar dalam kodrat manusia, yakni bahwa manusia tidak pernah memeriksa dirinya sendiri. Ia mengira bahwa dirinya sama layaknya untuk duduk di atas takhta sebagaimana raja. Bahkan jika memang demikian, ia harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa ia telah melaksanakan kewajiban dari kedudukannya sendiri; barulah kemudian kewajiban yang lebih tinggi akan datang kepadanya. Ketika kita mulai bekerja dengan sungguh-sungguh di dunia, alam memberikan pukulan kepada kita dari kiri dan kanan dan segera memungkinkan kita menemukan kedudukan kita. Tidak ada orang yang dapat lama menduduki secara memuaskan suatu kedudukan yang ia tidak layak untuknya. Tidak ada gunanya menggerutu terhadap penyesuaian yang dilakukan alam. Orang yang melakukan pekerjaan yang lebih rendah bukan karena itu menjadi orang yang lebih rendah. Tidak ada orang yang boleh dinilai semata-mata berdasarkan sifat kewajibannya, tetapi semua orang harus dinilai berdasarkan cara dan semangat dengan mana mereka melaksanakannya.

Belakangan kita akan mendapati bahwa bahkan gagasan tentang kewajiban ini pun mengalami perubahan, dan bahwa pekerjaan terbesar dilakukan hanya ketika tidak ada motif egois yang mendorongnya. Namun, justru pekerjaan melalui rasa kewajiban itulah yang menuntun kita untuk bekerja tanpa gagasan apa pun tentang kewajiban; ketika pekerjaan akan menjadi ibadat — bukan, sesuatu yang lebih tinggi — barulah pekerjaan akan dilakukan demi pekerjaan itu sendiri. Kita akan mendapati bahwa filsafat kewajiban, baik dalam bentuk etika maupun cinta, adalah sama seperti dalam setiap yoga (disiplin penyatuan spiritual) lainnya — tujuannya ialah pelemahan diri yang lebih rendah, sehingga Diri yang lebih tinggi yang sejati dapat memancarkan sinarnya — pengurangan pemborosan energi pada bidang keberadaan yang lebih rendah, sehingga jiwa dapat menyatakan dirinya pada bidang yang lebih tinggi. Hal ini dicapai melalui penolakan terus-menerus terhadap hasrat-hasrat rendah, yang dengan ketat dituntut oleh kewajiban. Dengan demikian, seluruh tatanan masyarakat telah dikembangkan, secara sadar atau tidak sadar, di ranah tindakan dan pengalaman, di mana, dengan membatasi keegoisan, kita membuka jalan menuju pengembangan tanpa batas dari kodrat manusia yang sejati.

Kewajiban jarang terasa manis. Hanya ketika cinta meminyaki roda-rodanya, ia berjalan dengan mulus; sebaliknya ia merupakan gesekan terus-menerus. Bagaimana lagi orang tua dapat melaksanakan kewajibannya kepada anak-anaknya, suami kepada istrinya, dan sebaliknya? Tidakkah setiap hari kita menjumpai kasus-kasus gesekan dalam hidup kita? Kewajiban hanya menjadi manis melalui cinta, dan cinta hanya bersinar dalam kebebasan. Namun apakah merupakan kebebasan untuk menjadi budak indra, kemarahan, kecemburuan, dan seratus hal sepele lainnya yang pasti terjadi setiap hari dalam kehidupan manusia? Dalam semua kekasaran kecil yang kita jumpai dalam hidup, ungkapan tertinggi dari kebebasan adalah menahan diri. Para istri, yang menjadi budak watak mudah tersinggung dan cemburu mereka sendiri, cenderung menyalahkan suami mereka, dan menegaskan "kebebasan" mereka sendiri, sebagaimana mereka mengiranya, tanpa mengetahui bahwa dengan itu mereka justru membuktikan bahwa mereka adalah budak. Demikian pula halnya dengan suami yang terus-menerus mencari-cari kesalahan istri mereka.

Kesucian adalah kebajikan pertama pada pria maupun wanita, dan pria yang, betapa pun ia telah tersesat, tidak dapat dituntun kembali ke jalan yang benar oleh istri yang lembut, penuh kasih, dan suci, sungguh sangatlah langka. Dunia belum seburuk itu. Kita banyak mendengar tentang suami yang brutal di seluruh dunia dan tentang ketidakmurnian pria, tetapi bukankah benar bahwa ada juga sama banyaknya wanita yang brutal dan tidak murni seperti halnya pria? Jika semua wanita sebaik dan semurni seperti yang akan dipercayai orang berdasarkan pernyataan mereka sendiri yang terus-menerus, saya benar-benar yakin bahwa tidak akan ada seorang pun pria yang tidak murni di dunia. Kebrutalan apa yang tidak dapat ditaklukkan oleh kemurnian dan kesucian? Seorang istri yang baik dan suci, yang menganggap setiap pria selain suaminya sendiri sebagai anaknya dan memiliki sikap ibu terhadap semua pria, akan tumbuh demikian besar dalam kuasa kemurniannya sehingga tidak ada seorang pria pun, betapa pun brutalnya, yang tidak akan menghirup atmosfer kekudusan di hadirannya. Demikian pula, setiap suami harus memandang semua wanita, selain istrinya sendiri, dalam terang ibu atau anak perempuan atau saudara perempuannya sendiri. Sekali lagi, pria yang ingin menjadi guru agama harus memandang setiap wanita sebagai ibunya, dan selalu berperilaku terhadapnya sebagai demikian.

Kedudukan ibu adalah yang tertinggi di dunia, karena itulah satu-satunya tempat untuk mempelajari dan menjalankan ketidak-egoisan yang terbesar. Cinta Tuhan adalah satu-satunya cinta yang lebih tinggi daripada cinta seorang ibu; semua yang lain lebih rendah. Sudah menjadi kewajiban seorang ibu untuk memikirkan anak-anaknya terlebih dahulu dan baru kemudian dirinya sendiri. Tetapi, sebagai gantinya, jika orang tua selalu memikirkan diri mereka sendiri terlebih dahulu, hasilnya adalah hubungan antara orang tua dan anak menjadi sama seperti hubungan antara burung dan keturunannya yang, segera setelah berbulu lengkap, tidak mengenali orang tua mana pun lagi. Sungguh berbahagialah orang yang mampu memandang wanita sebagai perwakilan dari kebundaan Tuhan. Sungguh berbahagialah wanita yang bagi dirinya pria mewakili kebapakan Tuhan. Berbahagialah anak-anak yang memandang orang tua mereka sebagai Keilahian yang termanifestasi di bumi.

Satu-satunya jalan untuk naik adalah dengan melaksanakan kewajiban yang ada di sebelah kita, dan dengan demikian mengumpulkan kekuatan terus maju sampai kita mencapai keadaan tertinggi. Seorang sannyasin (pertapa pelepas dunia) muda pergi ke hutan; di sana ia bermeditasi, beribadat, dan mempraktikkan yoga untuk waktu yang lama. Setelah bertahun-tahun bekerja dan berlatih keras, suatu hari ia sedang duduk di bawah sebuah pohon, ketika beberapa daun kering jatuh menimpa kepalanya. Ia mendongak dan melihat seekor gagak dan seekor bangau sedang bertengkar di puncak pohon, yang membuatnya sangat marah. Ia berkata, "Apa! Beraninya kalian menjatuhkan daun-daun kering ini ke kepalaku!" Sementara dengan kata-kata itu ia menatap mereka dengan marah, secercah api keluar dari kepalanya — demikianlah kuasa sang yogi — dan membakar burung-burung itu menjadi abu. Ia sangat senang, hampir-hampir bersukacita atas perkembangan kuasa ini — ia dapat membakar gagak dan bangau hanya dengan sebuah tatapan. Setelah beberapa waktu ia harus pergi ke kota untuk memohon makanan. Ia pergi, berdiri di depan sebuah pintu, dan berkata, "Ibu, berilah saya makanan." Sebuah suara datang dari dalam rumah, "Tunggu sebentar, anakku." Pemuda itu berpikir, "Wahai perempuan celaka, beraninya engkau membuatku menunggu! Engkau belum tahu kuasaku." Sementara ia berpikir demikian, suara itu datang lagi: "Anak muda, jangan terlalu menganggap besar dirimu. Di sini tidak ada gagak maupun bangau." Ia tercengang; tetap saja ia harus menunggu. Akhirnya wanita itu keluar, dan ia tersungkur di kakinya dan berkata, "Ibu, bagaimana Anda mengetahui hal itu?" Wanita itu berkata, "Anakku, aku tidak mengetahui yoga atau praktik-praktikmu. Aku adalah seorang wanita biasa sehari-hari. Aku membuatmu menunggu karena suamiku sakit, dan aku sedang merawatnya. Sepanjang hidupku aku telah berjuang untuk melaksanakan kewajibanku. Ketika aku belum menikah, aku melaksanakan kewajibanku kepada orang tuaku; sekarang setelah aku menikah, aku melaksanakan kewajibanku kepada suamiku; itulah seluruh yoga yang aku praktikkan. Tetapi dengan melaksanakan kewajibanku, aku telah menjadi tercerahkan; dengan demikian aku dapat membaca pikiranmu dan mengetahui apa yang telah engkau lakukan di hutan. Jika engkau ingin mengetahui sesuatu yang lebih tinggi daripada ini, pergilah ke pasar di kota anu di mana engkau akan menemukan seorang Vyadha (Golongan rakyat paling rendah di India yang dahulu hidup sebagai pemburu dan tukang potong daging.) yang akan memberitahukanmu sesuatu yang akan sangat menggembirakanmu untuk dipelajari." Sannyasin itu berpikir, "Mengapa saya harus pergi ke kota itu dan kepada seorang Vyadha?" Tetapi setelah apa yang telah ia lihat, pikirannya sedikit terbuka, maka ia pun pergi. Ketika ia tiba di dekat kota, ia menemukan pasar dan di sana, dari kejauhan, ia melihat seorang Vyadha yang besar dan gemuk sedang memotong daging dengan pisau-pisau besar, berbicara dan tawar-menawar dengan orang-orang yang berbeda. Pemuda itu berkata, "Tuhan tolonglah saya! Apakah inilah orang yang darinya saya akan belajar? Ia adalah penjelmaan iblis, kalau memang ia sesuatu." Sementara itu, orang ini mendongak dan berkata, "Wahai Swami, apakah wanita itu mengirim Anda ke sini? Silakan duduk sampai saya menyelesaikan urusan saya." Sannyasin itu berpikir, "Apa yang menimpa saya di sini?" Ia duduk; orang itu meneruskan pekerjaannya, dan setelah selesai ia mengambil uangnya dan berkata kepada sannyasin itu, "Mari Tuan, mari ke rumah saya." Setibanya di rumah, Vyadha itu memberinya tempat duduk, sambil berkata, "Tunggu di sini," dan masuk ke dalam rumah. Ia kemudian memandikan ayah dan ibunya yang sudah tua, memberi mereka makan, dan melakukan segala yang dapat ia lakukan untuk menyenangkan mereka, setelah itu ia datang kepada sannyasin tersebut dan berkata, "Sekarang, Tuan, Anda telah datang kemari untuk menemui saya; apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?" Sannyasin itu mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya tentang jiwa dan tentang Tuhan, dan Vyadha itu memberinya sebuah ceramah yang menjadi bagian dari Mahabharata, yang disebut Vyadha-Gita. Ceramah itu berisi salah satu ketinggian terbang yang paling tinggi dari Vedanta (tradisi filsafat Vedanta). Ketika Vyadha itu menyelesaikan pengajarannya, sannyasin itu merasa tercengang. Ia berkata, "Mengapa Anda berada dalam tubuh itu? Dengan pengetahuan seperti yang Anda miliki, mengapa Anda berada dalam tubuh seorang Vyadha, dan melakukan pekerjaan yang kotor dan buruk seperti itu?" "Anakku," jawab Vyadha, "tidak ada kewajiban yang buruk, tidak ada kewajiban yang tidak murni. Kelahiran saya menempatkan saya dalam keadaan dan lingkungan ini. Pada masa kecil saya, saya mempelajari pekerjaan ini; saya tidak terikat, dan saya mencoba melaksanakan kewajiban saya dengan baik. Saya mencoba melaksanakan kewajiban saya sebagai kepala keluarga, dan saya mencoba melakukan segala yang dapat saya lakukan untuk membahagiakan ayah dan ibu saya. Saya tidak mengetahui yoga Anda, saya juga tidak menjadi seorang sannyasin, dan saya juga tidak meninggalkan dunia menuju hutan; namun demikian, semua yang telah Anda dengar dan lihat telah datang kepada saya melalui pelaksanaan kewajiban yang merupakan milik kedudukan saya tanpa keterikatan."

Ada seorang bijak di India, seorang yogi yang agung, salah seorang yang paling menakjubkan yang pernah saya jumpai dalam hidup saya. Ia adalah orang yang khas, ia tidak akan mengajari siapa pun; jika Anda mengajukan pertanyaan kepadanya, ia tidak akan menjawab. Terlalu berat baginya untuk mengambil kedudukan sebagai seorang guru, ia tidak akan melakukannya. Jika Anda mengajukan pertanyaan, dan menunggu beberapa hari, dalam pembicaraan ia akan mengangkat topik itu, dan cahaya yang menakjubkan akan ia pancarkan atasnya. Ia pernah memberitahukan kepada saya rahasia pekerjaan, "Biarlah tujuan dan sarana menyatu menjadi satu." Ketika Anda sedang melakukan pekerjaan apa pun, janganlah memikirkan apa pun yang berada di luarnya. Lakukanlah sebagai ibadat, sebagai ibadat tertinggi, dan abdikan seluruh hidup Anda untuknya pada saat itu. Demikianlah, dalam cerita itu, Vyadha dan wanita itu melaksanakan kewajiban mereka dengan keceriaan dan dengan sepenuh hati; dan hasilnya adalah bahwa mereka menjadi tercerahkan, yang dengan jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan yang benar atas kewajiban-kewajiban dari setiap kedudukan dalam hidup, tanpa keterikatan pada hasil, menuntun kita kepada pencapaian tertinggi dari kesempurnaan jiwa.

Pekerja yang terikat pada hasillah yang menggerutu tentang sifat kewajiban yang menjadi bagiannya; bagi pekerja yang tidak terikat, semua kewajiban sama baiknya, dan menjadi sarana yang ampuh dengan mana keegoisan dan kebirahian dapat dibunuh, dan kebebasan jiwa diraih. Kita semua cenderung menganggap diri kita terlalu tinggi. Kewajiban kita ditentukan oleh kelayakan kita dalam ukuran yang jauh lebih besar daripada yang bersedia kita akui. Persaingan membangkitkan iri hati, dan ia membunuh keramahan hati. Bagi penggerutu, semua kewajiban terasa tidak menyenangkan; tidak ada yang akan pernah memuaskannya, dan seluruh hidupnya tertakdir untuk membuktikan diri sebagai kegagalan. Marilah kita terus bekerja, melakukan apa pun yang menjadi kewajiban kita sambil berjalan, dan selalu siap menempelkan bahu kita ke roda. Maka pastilah kita akan melihat Cahaya itu!

English

CHAPTER IV

WHAT IS DUTY?

It is necessary in the study of Karma-Yoga to know what duty is. If I have to do something I must first know that it is my duty, and then I can do it. The idea of duty again is different in different nations. The Mohammedan says what is written in his book, the Koran, is his duty; the Hindu says what is in the Vedas is his duty; and the Christian says what is in the Bible is his duty. We find that there are varied ideas of duty, differing according to different states in life, different historical periods and different nations. The term "duty", like every other universal abstract term, is impossible clearly to define; we can only get an idea of it by knowing its practical operations and results. When certain things occur before us, we have all a natural or trained impulse to act in a certain manner towards them; when this impulse comes, the mind begins to think about the situation. Sometimes it thinks that it is good to act in a particular manner under the given conditions; at other times it thinks that it is wrong to act in the same manner even in the very same circumstances. The ordinary idea of duty everywhere is that every good man follows the dictates of his conscience. But what is it that makes an act a duty? If a Christian finds a piece of beef before him and does not eat it to save his own life, or will not give it to save the life of another man, he is sure to feel that he has not done his duty. But if a Hindu dares to eat that piece of beef or to give it to another Hindu, he is equally sure to feel that he too has not done his duty; the Hindu's training and education make him feel that way. In the last century there were notorious bands of robbers in India called thugs; they thought it their duty to kill any man they could and take away his money; the larger the number of men they killed, the better they thought they were. Ordinarily if a man goes out into the street and shoots down another man, he is apt to feel sorry for it, thinking that he has done wrong. But if the very same man, as a soldier in his regiment, kills not one but twenty, he is certain to feel glad and think that he has done his duty remarkably well. Therefore we see that it is not the thing done that defines a duty. To give an objective definition of duty is thus entirely impossible. Yet there is duty from the subjective side. Any action that makes us go Godward is a good action, and is our duty; any action that makes us go downward is evil, and is not our duty. From the subjective standpoint we may see that certain acts have a tendency to exalt and ennoble us, while certain other acts have a tendency to degrade and to brutalise us. But it is not possible to make out with certainty which acts have which kind of tendency in relation to all persons, of all sorts and conditions. There is, however, only one idea of duty which has been universally accepted by all mankind, of all ages and sects and countries, and that has been summed up in a Sanskrit aphorism thus: “Do not injure any being; not injuring any being is virtue, injuring any being is sin.”

The Bhagavad-Gita frequently alludes to duties dependent upon birth and position in life. Birth and position in life and in society largely determine the mental and moral attitude of individuals towards the various activities of life. It is therefore our duty to do that work which will exalt and ennoble us in accordance with the ideals and activities of the society in which we are born. But it must be particularly remembered that the same ideals and activities do not prevail in all societies and countries; our ignorance of this is the main cause of much of the hatred of one nation towards another. An American thinks that whatever an American does in accordance with the custom of his country is the best thing to do, and that whoever does not follow his custom must be a very wicked man. A Hindu thinks that his customs are the only right ones and are the best in the world, and that whosoever does not obey them must be the most wicked man living. This is quite a natural mistake which all of us are apt to make. But it is very harmful; it is the cause of half the uncharitableness found in the world. When I came to this country and was going through the Chicago Fair, a man from behind pulled at my turban. I looked back and saw that he was a very gentlemanly-looking man, neatly dressed. I spoke to him; and when he found that I knew English, he became very much abashed. On another occasion in the same Fair another man gave me a push. When I asked him the reason, he also was ashamed and stammered out an apology saying, "Why do you dress that way?" The sympathies of these men were limited within the range of their own language and their own fashion of dress. Much of the oppression of powerful nations on weaker ones is caused by this prejudice. It dries up their fellow feeling for fellow men. That very man who asked me why I did not dress as he did and wanted to ill-treat me because of my dress may have been a very good man, a good father, and a good citizen; but the kindliness of his nature died out as soon as he saw a man in a different dress. Strangers are exploited in all countries, because they do not know how to defend themselves; thus they carry home false impressions of the peoples they have seen. Sailors, soldiers, and traders behave in foreign lands in very queer ways, although they would not dream of doing so in their own country; perhaps this is why the Chinese call Europeans and Americans "foreign devils". They could not have done this if they had met the good, the kindly sides of Western life.

Therefore the one point we ought to remember is that we should always try to see the duty of others through their own eyes, and never judge the customs of other peoples by our own standard. I am not the standard of the universe. I have to accommodate myself to the world, and not the world to me. So we see that environments change the nature of our duties, and doing the duty which is ours at any particular time is the best thing we can do in this world. Let us do that duty which is ours by birth; and when we have done that, let us do the duty which is ours by our position in life and in society. There is, however, one great danger in human nature, viz that man never examines himself. He thinks he is quite as fit to be on the throne as the king. Even if he is, he must first show that he has done the duty of his own position; and then higher duties will come to him. When we begin to work earnestly in the world, nature gives us blows right and left and soon enables us to find out our position. No man can long occupy satisfactorily a position for which he is not fit. There is no use in grumbling against nature's adjustment. He who does the lower work is not therefore a lower man. No man is to be judged by the mere nature of his duties, but all should be judged by the manner and the spirit in which they perform them.

Later on we shall find that even this idea of duty undergoes change, and that the greatest work is done only when there is no selfish motive to prompt it. Yet it is work through the sense of duty that leads us to work without any idea of duty; when work will become worship — nay, something higher — then will work be done for its own sake. We shall find that the philosophy of duty, whether it be in the form of ethics or of love, is the same as in every other Yoga — the object being the attenuating of the lower self, so that the real higher Self may shine forth — the lessening of the frittering away of energies on the lower plane of existence, so that the soul may manifest itself on the higher ones. This is accomplished by the continuous denial of low desires, which duty rigorously requires. The whole organisation of society has thus been developed, consciously or unconsciously, in the realms of action and experience, where, by limiting selfishness, we open the way to an unlimited expansion of the real nature of man.

Duty is seldom sweet. It is only when love greases its wheels that it runs smoothly; it is a continuous friction otherwise. How else could parents do their duties to their children, husbands to their wives, and vice versa? Do we not meet with cases of friction every day in our lives? Duty is sweet only through love, and love shines in freedom alone. Yet is it freedom to be a slave to the senses, to anger, to jealousies and a hundred other petty things that must occur every day in human life? In all these little roughnesses that we meet with in life, the highest expression of freedom is to forbear. Women, slaves to their own irritable, jealous tempers, are apt to blame their husbands, and assert their own "freedom", as they think, not knowing that thereby they only prove that they are slaves. So it is with husbands who eternally find fault with their wives.

Chastity is the first virtue in man or woman, and the man who, however he may have strayed away, cannot be brought to the right path by a gentle and loving and chaste wife is indeed very rare. The world is not yet as bad as that. We hear much about brutal husbands all over the world and about the impurity of men, but is it not true that there are quite as many brutal and impure women as men? If all women were as good and pure as their own constant assertions would lead one to believe, I am perfectly satisfied that there would not be one impure man in the world. What brutality is there which purity and chastity cannot conquer? A good, chaste wife, who thinks of every other man except her own husband as her child and has the attitude of a mother towards all men, will grow so great in the power of her purity that there cannot be a single man, however brutal, who will not breathe an atmosphere of holiness in her presence. Similarly, every husband must look upon all women, except his own wife, in the light of his own mother or daughter or sister. That man, again, who wants to be a teacher of religion must look upon every woman as his mother, and always behave towards her as such.

The position of the mother is the highest in the world, as it is the one place in which to learn and exercise the greatest unselfishness. The love of God is the only love that is higher than a mother's love; all others are lower. It is the duty of the mother to think of her children first and then of herself. But, instead of that, if the parents are always thinking of themselves first, the result is that the relation between parents and children becomes the same as that between birds and their offspring which, as soon as they are fledged, do not recognise any parents. Blessed, indeed, is the man who is able to look upon woman as the representative of the motherhood of God. Blessed, indeed, is the woman to whom man represents the fatherhood of God. Blessed are the children who look upon their parents as Divinity manifested on earth.

The only way to rise is by doing the duty next to us, and thus gathering strength go on until we reach the highest state. A young Sannyâsin went to a forest; there he meditated, worshipped, and practiced Yoga for a long time. After years of hard work and practice, he was one day sitting under a tree, when some dry leaves fell upon his head. He looked up and saw a crow and a crane fighting on the top of the tree, which made him very angry. He said, "What! Dare you throw these dry leaves upon my head!" As with these words he angrily glanced at them, a flash of fire went out of his head — such was the Yogi's power — and burnt the birds to ashes. He was very glad, almost overjoyed at this development of power — he could burn the crow and the crane by a look. After a time he had to go to the town to beg his bread. He went, stood at a door, and said, "Mother, give me food." A voice came from inside the house, "Wait a little, my son." The young man thought, "You wretched woman, how dare you make me wait! You do not know my power yet." While he was thinking thus the voice came again: "Boy, don't be thinking too much of yourself. Here is neither crow nor crane." He was astonished; still he had to wait. At last the woman came, and he fell at her feet and said, "Mother, how did you know that?" She said, "My boy, I do not know your Yoga or your practices. I am a common everyday woman. I made you wait because my husband is ill, and I was nursing him. All my life I have struggled to do my duty. When I was unmarried, I did my duty to my parents; now that I am married, I do my duty to my husband; that is all the Yoga I practice. But by doing my duty I have become illumined; thus I could read your thoughts and know what you had done in the forest. If you want to know something higher than this, go to the market of such and such a town where you will find a Vyâdha (The lowest class of people in India who used to live as hunters and butchers.) who will tell you something that you will be very glad to learn." The Sannyasin thought, "Why should I go to that town and to a Vyadha?" But after what he had seen, his mind opened a little, so he went. When he came near the town, he found the market and there saw, at a distance, a big fat Vyadha cutting meat with big knives, talking and bargaining with different people. The young man said, "Lord help me! Is this the man from whom I am going to learn? He is the incarnation of a demon, if he is anything." In the meantime this man looked up and said, "O Swami, did that lady send you here? Take a seat until I have done my business." The Sannyasin thought, "What comes to me here?" He took his seat; the man went on with his work, and after he had finished he took his money and said to the Sannyasin, "Come sir, come to my home." On reaching home the Vyadha gave him a seat, saying, "Wait here," and went into the house. He then washed his old father and mother, fed them, and did all he could to please them, after which he came to the Sannyasin and said, "Now, sir, you have come here to see me; what can I do for you?" The Sannyasin asked him a few questions about soul and about God, and the Vyadha gave him a lecture which forms a part of the Mahâbhârata, called the Vyâdha-Gitâ. It contains one of the highest flights of the Vedanta. When the Vyadha finished his teaching, the Sannyasin felt astonished. He said, "Why are you in that body? With such knowledge as yours why are you in a Vyadha's body, and doing such filthy, ugly work?" "My son," replied the Vyadha, "no duty is ugly, no duty is impure. My birth placed me in these circumstances and environments. In my boyhood I learnt the trade; I am unattached, and I try to do my duty well. I try to do my duty as a householder, and I try to do all I can to make my father and mother happy. I neither know your Yoga, nor have I become a Sannyasin, nor did I go out of the world into a forest; nevertheless, all that you have heard and seen has come to me through the unattached doing of the duty which belongs to my position."

There is a sage in India, a great Yogi, one of the most wonderful men I have ever seen in my life. He is a peculiar man, he will not teach any one; if you ask him a question he will not answer. It is too much for him to take up the position of a teacher, he will not do it. If you ask a question, and wait for some days, in the course of conversation he will bring up the subject, and wonderful light will he throw on it. He told me once the secret of work, "Let the end and the means be joined into one." When you are doing any work, do not think of anything beyond. Do it as worship, as the highest worship, and devote your whole life to it for the time being. Thus, in the story, the Vyadha and the woman did their duty with cheerfulness and whole-heartedness; and the result was that they became illuminated, clearly showing that the right performance of the duties of any station in life, without attachment to results, leads us to the highest realisation of the perfection of the soul.

It is the worker who is attached to results that grumbles about the nature of the duty which has fallen to his lot; to the unattached worker all duties are equally good, and form efficient instruments with which selfishness and sensuality may be killed, and the freedom of the soul secured. We are all apt to think too highly of ourselves. Our duties are determined by our deserts to a much larger extent than we are willing to grant. Competition rouses envy, and it kills the kindliness of the heart. To the grumbler all duties are distasteful; nothing will ever satisfy him, and his whole life is doomed to prove a failure. Let us work on, doing as we go whatever happens to be our duty, and being ever ready to put our shoulders to the wheel. Then surely shall we see the Light!


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.