Cita-cita Religius Veda
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Cita-Cita Religius Veda
Yang paling penting bagi kita adalah pemikiran religius — tentang jiwa dan Tuhan serta segala hal yang berkaitan dengan agama. Mari kita ambil Samhita. Ini adalah kumpulan nyanyian pujian yang membentuk, boleh dikatakan, kesusastraan Arya tertua, atau secara tepatnya, kesusastraan tertua di dunia. Mungkin ada serpihan-serpihan tulisan yang bertanggal lebih tua di sana-sini, bahkan lebih tua daripada itu, namun bukan kitab, atau kesusastraan dalam pengertian sebenarnya. Sebagai kitab yang terhimpun, inilah yang tertua yang dimiliki dunia, dan di dalamnya tergambar perasaan paling awal bangsa Arya, cita-cita mereka, pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang tata krama dan cara-cara mereka, dan sebagainya. Pada permulaannya, kita menjumpai sebuah gagasan yang sangat menarik. Nyanyian-nyanyian pujian ini didendangkan untuk memuji berbagai dewa, atau Deva sebagaimana mereka disebut, yang bercahaya. Jumlahnya cukup banyak. Yang satu disebut Indra, yang lain Varuna, yang lain Mitra, Parjanya, dan seterusnya. Berbagai sosok mitologis dan alegoris muncul di hadapan kita silih berganti — misalnya, Indra sang petir, yang menyerang ular yang menahan hujan dari umat manusia. Lalu ia melepaskan kilat petirnya, ular itu terbunuh, dan hujan pun turun lebat. Orang-orang gembira, dan mereka memuja Indra dengan persembahan. Mereka membuat tumpukan pengorbanan, menyembelih beberapa hewan, memanggang dagingnya di atas tusukan, dan mempersembahkan daging itu kepada Indra. Mereka juga memiliki tanaman populer yang disebut Soma. Tanaman apa itu, kini tak seorang pun tahu; ia telah lenyap sama sekali, namun dari kitab-kitab kita dapat menyimpulkan bahwa apabila ditumbuk, ia mengeluarkan semacam sari putih seperti susu, lalu sari itu difermentasikan; dan dapat pula disimpulkan bahwa sari Soma yang difermentasikan ini bersifat memabukkan. Ini juga mereka persembahkan kepada Indra dan para dewa lain, dan mereka sendiri pun meminumnya. Kadang-kadang mereka minum sedikit terlalu banyak, demikian pula para dewa. Indra pada beberapa kesempatan menjadi mabuk. Ada bait-bait yang menunjukkan bahwa pada suatu waktu Indra minum begitu banyak sari Soma ini sehingga ia berkata-kata tidak keruan. Demikian pula dengan Varuna. Ia adalah dewa lain, sangat berkuasa, dan dengan cara yang sama melindungi para pemujanya, dan mereka memujinya dengan persembahan curahan Soma. Demikian juga dewa perang, dan seterusnya. Namun gagasan populer yang membuat mitologi Samhita sungguh-sungguh berbeda dari mitologi lain ialah bahwa, bersama setiap dewa ini, terdapat gagasan tentang ketakberhinggaan. Yang takberhingga ini diabstrakkan, dan kadang-kadang digambarkan sebagai Aditya. Pada saat lain, ia, boleh dikatakan, dilekatkan pada semua dewa yang lain. Ambil contoh Indra. Dalam beberapa kitab Anda akan menjumpai bahwa Indra memiliki tubuh, sangat kuat, kadang-kadang mengenakan baju zirah emas, dan turun, hidup serta makan bersama para pemujanya, bertarung melawan para iblis, bertarung melawan ular-ular, dan sebagainya. Lagi, dalam salah satu nyanyian kita menjumpai bahwa Indra diberi kedudukan yang sangat tinggi; ia mahahadir dan mahakuasa, dan Indra melihat hati setiap makhluk. Demikian pula dengan Varuna. Varuna ini adalah dewa udara dan berkuasa atas air, sebagaimana sebelumnya Indra; lalu, secara tiba-tiba, kita menjumpai ia diangkat dan dikatakan sebagai mahahadir, mahakuasa, dan sebagainya. Saya akan membacakan satu bait tentang Varuna dalam wujudnya yang tertinggi, dan Anda akan memahami maksud saya. Bait itu telah diterjemahkan ke dalam syair Inggris, jadi lebih baik saya bacakan dalam bentuk itu.
Tuhan Yang Mahaagung di atas menatap perbuatan kita, seakan dekat di tangan;
Para dewa tahu segala yang dilakukan manusia, meski manusia berusaha menyembunyikan tindakannya;
Siapa pun yang berdiri, siapa pun yang bergerak, atau berpindah dari tempat ke tempat,
Atau bersembunyi di bilik rahasianya — para dewa melacak gerakannya.
Di mana pun dua orang bersekongkol, dan mengira mereka sendirian,
Raja Varuna ada di sana sebagai yang ketiga, dan semua siasat mereka diketahui.
Bumi ini adalah miliknya, kepadanya kepunyaan langit yang luas tanpa batas;
Kedua samudra bersemayam di dalamnya, namun di kolam kecil itu pun ia berbaring,
Siapa pun yang jauh melampaui langit hendak terbang menempuh jalannya.
Ia tak akan dapat lolos di sana dari genggaman Varuna sang Raja.
Mata-matanya, turun dari langit, meluncur mengitari seluruh dunia ini;
Seribu matanya yang mengawasi segala menyapu sampai ke batas terjauh bumi.
Tuhan Yang Mahaagung di atas menatap perbuatan kita, seakan dekat di tangan;
Para dewa tahu segala yang dilakukan manusia, meski manusia berusaha menyembunyikan tindakannya;
Siapa pun yang berdiri, siapa pun yang bergerak, atau berpindah dari tempat ke tempat,
Atau bersembunyi di bilik rahasianya — para dewa melacak gerakannya.
Di mana pun dua orang bersekongkol, dan mengira mereka sendirian,
Raja Varuna ada di sana sebagai yang ketiga, dan semua siasat mereka diketahui.
Bumi ini adalah miliknya, kepadanya kepunyaan langit yang luas tanpa batas;
Kedua samudra bersemayam di dalamnya, namun di kolam kecil itu pun ia berbaring,
Siapa pun yang jauh melampaui langit hendak terbang menempuh jalannya.
Ia tak akan dapat lolos di sana dari genggaman Varuna sang Raja.
Mata-matanya, turun dari langit, meluncur mengitari seluruh dunia ini;
Seribu matanya yang mengawasi segala menyapu sampai ke batas terjauh bumi.
Demikianlah kita dapat memperbanyak contoh tentang dewa-dewa lain; mereka semua, silih berganti, mengalami nasib yang sama — mereka mula-mula tampil sebagai dewa, kemudian diangkat kepada konsepsi sebagai Wujud yang di dalamnya seluruh alam semesta ada, yang melihat setiap hati, yang menjadi penguasa alam semesta. Dan dalam kasus Varuna, ada satu gagasan lain, yaitu benih dari sebuah gagasan yang muncul, namun segera ditekan oleh pikiran Arya, yakni gagasan tentang ketakutan. Di tempat lain kita membaca bahwa mereka takut telah berbuat dosa dan memohon ampun kepada Varuna. Gagasan-gagasan ini tidak pernah diizinkan, karena alasan-alasan yang akan Anda pahami nanti, untuk tumbuh di tanah India, namun benih-benihnya ada di sana, sedang bertunas, yaitu gagasan tentang ketakutan dan gagasan tentang dosa. Inilah gagasan yang, sebagaimana Anda semua ketahui, disebut monoteisme. Monoteisme ini, kita lihat, datang ke India pada periode yang sangat awal. Di sepanjang Samhita, dalam bagian pertama dan tertua, gagasan monoteistik ini mendominasi, tetapi kita akan mendapati bahwa ia ternyata tidak memadai bagi bangsa Arya; mereka membuangnya, boleh dikatakan, sebagai sejenis gagasan yang sangat primitif dan melangkah lebih jauh, sebagaimana kami orang Hindu memikirkannya. Tentu saja, ketika membaca buku-buku dan kritik-kritik tentang Veda yang ditulis oleh orang Eropa, orang Hindu tak dapat menahan senyum ketika membaca bahwa tulisan-tulisan para penulis kami dijenuhi semata oleh pendidikan terdahulu mereka. Orang-orang yang telah mengisap, sebagai air susu ibunya, gagasan bahwa cita-cita tertinggi tentang Tuhan adalah gagasan tentang Tuhan Personal, secara wajar tidak berani berpikir mengikuti jalur para pemikir kuno India ini, ketika mereka mendapati bahwa segera setelah Samhita, gagasan monoteistik yang memenuhi bagian Samhita itu dianggap oleh bangsa Arya sebagai tidak berguna dan tidak layak bagi para filsuf dan pemikir, dan bahwa mereka berjuang keras untuk gagasan yang lebih filosofis dan transendental. Gagasan monoteistik itu terlalu manusiawi bagi mereka, meskipun mereka memberikannya gambaran-gambaran seperti "Seluruh alam semesta bersemayam di dalam-Nya," dan "Engkaulah penjaga semua hati." Orang-orang Hindu adalah pemberani — dan ini layak menjadi pujian besar bagi mereka — pemikir-pemikir berani dalam segala gagasan mereka, begitu beraninya sehingga satu percikan pikiran mereka menakutkan para pemikir Barat yang konon berani itu. Dengan tepat Prof. Max Müller mengatakan tentang para pemikir ini bahwa mereka mendaki ke ketinggian-ketinggian yang hanya paru-paru mereka yang dapat bernapas, dan di sana paru-paru makhluk lain akan meledak. Orang-orang pemberani ini mengikuti akal ke mana pun akal itu menuntun mereka, tak peduli apa pun harganya, tak pernah peduli jika semua takhayul terbaik mereka hancur berkeping-keping, tak pernah peduli apa yang akan dipikirkan atau dibicarakan masyarakat tentang mereka; tetapi apa yang mereka pikir benar dan sejati, mereka khotbahkan dan mereka bicarakan.
Sebelum masuk ke dalam segala spekulasi para resi Veda kuno ini, kita akan terlebih dahulu merujuk satu atau dua contoh yang sangat menarik dalam Veda. Fakta yang unik — bahwa dewa-dewa ini diangkat, boleh dikatakan, satu demi satu, ditinggikan dan disublimasikan, hingga masing-masing memperoleh dimensi Tuhan Personal Yang Takberhingga dari Alam Semesta — menuntut penjelasan. Prof. Max Müller menciptakan untuknya sebuah nama baru, karena ia menganggapnya khas Hindu: ia menyebutnya "Henoteisme". Kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk penjelasannya. Penjelasan itu ada di dalam kitab itu sendiri. Beberapa langkah dari tempat yang sama di mana kita menjumpai dewa-dewa itu diangkat dan disublimasikan, kita juga menjumpai penjelasannya. Pertanyaan muncul mengapa mitologi Hindu begitu unik, begitu berbeda dari semua yang lain. Dalam mitologi Babilonia atau Yunani, kita menjumpai satu dewa berjuang ke atas, dan ia mengambil sebuah kedudukan dan bertahan di sana, sementara dewa-dewa lain padam. Dari semua Molokh, Yehova menjadi yang tertinggi, dan Molokh-Molokh lain dilupakan, hilang selamanya; ia adalah Tuhan segala tuhan. Demikian juga, dari semua dewa Yunani, Zeus tampil ke depan dan memperoleh dimensi yang besar, menjadi Tuhan Alam Semesta, dan semua dewa lain diturunkan menjadi malaikat-malaikat kecil. Fakta ini terulang di masa belakangan. Para penganut Buddha dan Jaina mengangkat salah seorang nabi mereka ke kedudukan ketuhanan, dan semua dewa lain mereka jadikan tunduk kepada Buddha, atau kepada Jina. Inilah proses yang berlaku di seluruh dunia, namun di sini kita menjumpai sebuah pengecualian, boleh dikatakan. Satu dewa dipuji, dan untuk sementara dikatakan bahwa semua dewa lain mematuhi perintahnya, dan justru yang dikatakan diangkat oleh Varuna, dalam kitab berikutnya, ia sendiri yang diangkat ke kedudukan tertinggi. Mereka menempati kedudukan Tuhan Personal secara bergantian. Namun penjelasannya ada di dalam kitab itu, dan itu adalah penjelasan yang agung, satu yang telah memberi tema bagi seluruh pemikiran berikutnya di India, dan yang akan menjadi tema bagi seluruh dunia agama-agama: "Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti — Yang Ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama." Dalam semua kasus di mana nyanyian pujian ditulis tentang semua dewa ini, Wujud yang dipersepsikan adalah satu dan sama; yang mempersepsikanlah yang membuat perbedaan. Adalah penyair nyanyian, sang resi, sang pujangga, yang melantunkan dalam bahasa-bahasa dan kata-kata yang berbeda pujian bagi Wujud yang satu dan sama itu. "Yang Ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama." Akibat-akibat yang luar biasa telah lahir dari satu bait itu. Sebagian dari Anda barangkali heran ketika memikirkan bahwa India adalah satu-satunya negeri di mana tidak pernah ada penindasan keagamaan, di mana tidak pernah seorang pun diganggu karena iman keagamaannya. Para teis maupun ateis, monis, dualis, monoteis ada di sana dan selalu hidup tanpa diusik. Para materialis diizinkan berkhotbah dari tangga kuil-kuil para brahmana, menentang para dewa, dan menentang Tuhan sendiri; mereka berkhotbah ke seluruh negeri bahwa gagasan tentang Tuhan hanyalah takhayul belaka, dan bahwa para dewa, Veda, dan agama hanyalah takhayul yang diciptakan oleh para pendeta demi keuntungan mereka sendiri, dan mereka diizinkan melakukannya tanpa diganggu. Maka, ke mana pun Buddha pergi, ia berusaha menjatuhkan ke debu segala hal lama yang dianggap suci oleh orang Hindu, dan Buddha wafat dalam usia tua yang matang. Demikian pula para penganut Jaina, yang menertawakan gagasan tentang Tuhan. "Bagaimana mungkin ada Tuhan?" tanya mereka; "itu pasti hanya takhayul." Begitu seterusnya, contohnya tak terhingga. Sebelum gelombang Muslim memasuki India, tidak pernah dikenal apa itu penindasan keagamaan; orang Hindu hanya mengalaminya ketika dilakukan oleh orang asing terhadap diri mereka sendiri. Bahkan kini pun, sudah menjadi fakta yang nyata betapa banyaknya orang Hindu telah membantu membangun gereja-gereja Kristen, dan betapa besarnya kesediaan untuk membantu mereka. Tidak pernah ada pertumpahan darah. Bahkan agama-agama heterodoks yang muncul dari India pun terpengaruh secara serupa; misalnya, Buddhisme. Buddhisme adalah agama yang besar dalam beberapa hal, namun mencampuradukkan Buddhisme dengan Vedanta (tradisi filsafat Vedanta) adalah tanpa makna; siapa pun dapat menandai perbedaan yang ada antara Kekristenan dan Salvation Army. Ada hal-hal besar dan baik dalam Buddhisme, tetapi hal-hal besar itu jatuh ke tangan yang tidak mampu menjaganya tetap aman. Permata-permata yang datang dari para filsuf jatuh ke tangan kerumunan orang banyak, dan kerumunan itu mengambil gagasan-gagasan mereka. Mereka memiliki antusiasme yang besar, beberapa gagasan yang menakjubkan, gagasan-gagasan agung dan kemanusiaan, namun, lagi pula, ada sesuatu yang lain yang diperlukan — pemikiran dan kecerdasan — untuk menjaga segala sesuatu tetap aman. Di mana pun Anda melihat gagasan-gagasan yang paling kemanusiaan jatuh ke tangan orang banyak, akibat pertama yang dapat Anda perhatikan adalah kemerosotan. Pembelajaran dan kecerdasanlah yang membuat segala sesuatu tetap pasti. Nah, Buddhisme ini pergi sebagai agama misionaris pertama ke dunia, menembus seluruh dunia beradab seperti yang ada pada saat itu, dan tidak pernah setetes darah pun ditumpahkan demi agama itu. Kita membaca bagaimana di Tiongkok para misionaris Buddhis ditindas, dan ribuan orang dibantai oleh dua atau tiga kaisar berturut-turut, namun setelah itu, peruntungan berpihak pada para Buddhis, dan salah seorang kaisar menawarkan untuk membalas dendam kepada para penindas, namun para misionaris menolaknya. Semua itu kita peroleh berkat satu bait ini. Itulah sebabnya saya ingin Anda mengingatnya: "Yang mereka sebut Indra, Mitra, Varuna — Yang Ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama."
Bait itu ditulis, tak seorang pun tahu pada tanggal berapa, mungkin 8.000 tahun yang lalu, sekalipun apa yang dikatakan para sarjana modern, mungkin 9.000 tahun yang lalu. Tidak satu pun dari spekulasi-spekulasi religius ini bertanggal modern, namun mereka tetap sesegar hari ini sebagaimana ketika ditulis, atau lebih tepatnya, lebih segar, karena pada masa yang jauh itu manusia belum seberadab sebagaimana kita mengenalnya kini. Ia belum belajar menggorok leher saudaranya hanya karena saudara itu sedikit berbeda pemikirannya darinya; ia belum membanjiri dunia dengan darah, ia belum menjadi iblis bagi saudaranya sendiri. Atas nama kemanusiaan ia belum membantai banyak kelompok umat manusia pada saat itu. Oleh karena itu, kata-kata ini sampai kepada kita hari ini dengan sangat segar, sebagai kata-kata yang menggugah, memberi hidup, jauh lebih segar daripada ketika ditulis: "Yang Ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama." Kita masih harus belajar bahwa semua agama, di bawah nama apa pun mereka mungkin disebut, baik Hindu, Buddha, Muslim, maupun Kristen, memiliki Tuhan yang sama, dan barangsiapa mencemooh salah satu dari mereka mencemooh Tuhannya sendiri.
Itulah pemecahan yang mereka capai. Tetapi, sebagaimana telah saya katakan, gagasan monoteistik kuno ini tidak memuaskan pikiran Hindu. Ia belum cukup jauh, ia tidak menjelaskan dunia yang kasatmata: seorang penguasa dunia tidak menjelaskan dunia — sama sekali tidak. Seorang penguasa alam semesta tidak menjelaskan alam semesta, apalagi seorang penguasa eksternal, yang berada di luarnya. Ia mungkin menjadi pembimbing moral, kuasa terbesar di alam semesta, namun itu bukan penjelasan tentang alam semesta; dan pertanyaan pertama yang kini kita dapati muncul, mengambil dimensi besar, adalah pertanyaan tentang alam semesta itu sendiri: "Dari mana ia berasal?" "Bagaimana ia muncul?" "Bagaimana ia ada?" Berbagai nyanyian pujian dapat dijumpai mengenai pertanyaan ini, berjuang ke depan untuk mengambil bentuk, dan tak ada yang menyajikannya begitu puitis, begitu menakjubkan seperti dalam nyanyian pujian berikut:
"Pada waktu itu tak ada apa pun maupun tak ada sesuatu, tiada udara, tiada langit, tiada apa pun. Apa yang menutupi segalanya? Di mana segalanya bersemayam? Pada waktu itu maut tidak ada, demikian pula ketakmatian, dan tidak pula pergantian antara malam dan siang." Terjemahan itu banyak kehilangan keindahan puitisnya. "Pada waktu itu maut tidak ada, demikian pula ketakmatian, dan tidak pula pergantian antara malam dan siang;" bunyi bahasa Sanskertanya sendiri sangat musikal. "Itu ada, napas itu, menyelubungi, seakan-akan, keberadaan Tuhan itu; tetapi ia belum mulai bergerak." Baik untuk mengingat satu gagasan ini bahwa ia ada tanpa gerak, karena kita akan mendapati bagaimana gagasan ini bertunas kemudian dalam kosmologi, bagaimana menurut metafisika dan filsafat Hindu, seluruh alam semesta ini adalah massa getaran, boleh dikatakan, gerakan-gerakan; dan ada masa-masa ketika seluruh massa gerakan ini reda dan menjadi semakin halus, tinggal dalam keadaan itu untuk beberapa lamanya. Itulah keadaan yang digambarkan dalam nyanyian pujian ini. Ia ada tanpa bergerak, tanpa getaran, dan ketika penciptaan ini bermula, ia mulai bergetar, dan dari sanalah seluruh penciptaan ini keluar — satu napas itu, tenang, menopang diri sendiri, tak ada apa pun lagi di luarnya.
"Kegelapan ada lebih dulu." Mereka di antara Anda yang pernah berada di India atau negeri tropis mana pun, dan telah menyaksikan letusan musim hujan, akan memahami keagungan kata-kata ini. Saya teringat tiga upaya penyair untuk melukiskan hal ini. Milton berkata, "Bukan cahaya, melainkan kegelapan yang kasatmata." Kalidasa berkata, "Kegelapan yang dapat ditembus dengan jarum," tetapi tak satu pun mendekati gambaran Veda ini, "Kegelapan yang tersembunyi di dalam kegelapan." Segala sesuatu mengering dan mendesis, seluruh ciptaan tampak terbakar habis, dan selama berhari-hari demikian, ketika pada suatu sore di salah satu sudut cakrawala muncul setitik awan, dan dalam kurang dari setengah jam ia merentang menutupi seluruh bumi, sampai, boleh dikatakan, ia tertutup oleh awan, awan di atas awan, lalu ia pecah menjadi banjir hujan yang dahsyat. Sebab penciptaan digambarkan sebagai kehendak. Yang ada pada mulanya berubah menjadi kehendak, dan kehendak ini mulai menyatakan dirinya sebagai keinginan. Ini juga harus kita ingat, karena kita akan mendapati bahwa gagasan tentang keinginan ini dikatakan sebagai sebab dari segala yang kita miliki. Gagasan tentang kehendak ini telah menjadi batu penjuru baik bagi sistem Buddhis maupun Vedanta, dan kemudian, menembus ke dalam filsafat Jerman dan membentuk dasar sistem filsafat Schopenhauer. Di sinilah kita pertama kali mendengarnya.
"Kini pertama-tama timbul keinginan, benih primal pikiran.
Para resi, mencari di hati mereka dengan kearifan, menemukan ikatan,
Antara keberadaan dan ketakberadaan."
"Kini pertama-tama timbul keinginan, benih primal pikiran.
Para resi, mencari di hati mereka dengan kearifan, menemukan ikatan,
Antara keberadaan dan ketakberadaan."
Ungkapan itu sangat aneh; sang penyair mengakhirinya dengan berkata bahwa "barangkali bahkan Ia sendiri pun tidak tahu." Dalam nyanyian pujian ini kita dapati, terlepas dari nilai puitisnya, bahwa pertanyaan tentang alam semesta ini telah mengambil dimensi yang cukup jelas, dan bahwa pikiran para resi ini pasti telah maju sampai ke tingkat di mana segala macam jawaban yang lazim tidak akan memuaskan mereka. Kita dapati bahwa mereka bahkan tidak puas dengan Penguasa di atas itu. Ada berbagai nyanyian pujian lain di mana gagasan yang sama muncul, mengenai bagaimana semua ini terjadi, dan sebagaimana telah kita lihat, ketika mereka mencoba menemukan seorang Penguasa alam semesta, Tuhan Personal, mereka mengambil satu Deva demi satu, mengangkatnya ke kedudukan itu, demikian pula kini kita akan mendapati bahwa dalam berbagai nyanyian pujian satu atau lain gagasan diambil, dan diperluas tanpa batas serta dijadikan bertanggung jawab atas segala yang ada di alam semesta. Satu gagasan tertentu diambil sebagai penopang, di dalamnya segala sesuatu bersemayam dan ada, dan penopang itu telah menjadi segala ini. Demikian pula dengan berbagai gagasan. Mereka mencoba metode ini dengan Prana (napas/daya hidup), prinsip kehidupan. Mereka memperluas gagasan tentang prinsip kehidupan ini sampai ia menjadi semesta dan takberhingga. Prinsip kehidupanlah yang menopang segala sesuatu; bukan hanya tubuh manusia, melainkan ia juga adalah cahaya matahari dan bulan, ia adalah kuasa yang menggerakkan segala sesuatu, energi penggerak semesta. Beberapa dari upaya ini sangat indah, sangat puitis. Sebagian di antaranya seperti, "Ia menyambut pagi yang indah," sangat liris dalam cara mereka melukiskan segala sesuatu. Kemudian keinginan itu sendiri, yang, sebagaimana baru saja kita baca, muncul sebagai benih primal pertama penciptaan, mulai direntangkan, sampai ia menjadi Tuhan semesta. Tetapi tak satu pun dari gagasan-gagasan ini yang memuaskan.
Di sini gagasan itu disublimasikan dan akhirnya diabstrakkan menjadi suatu kepribadian. "Ia sendiri ada pada mulanya; Ia adalah satu-satunya Tuhan dari semua yang ada; Ia menopang alam semesta ini; Ia adalah pencipta jiwa-jiwa, Ia adalah pencipta kekuatan, yang dipuja oleh semua dewa, yang bayangannya adalah kehidupan, yang bayangannya adalah maut; siapa lagi yang akan kita puja? Yang kemuliaannya dideklarasikan oleh puncak-puncak salju Himalaya, yang kemuliaannya diumumkan oleh samudra dengan segala perairannya." Demikian seterusnya, namun, sebagaimana baru saja saya katakan, gagasan ini tidak memuaskan mereka.
Akhirnya kita menjumpai kedudukan yang sangat unik. Pikiran Arya sekian lama telah mencari jawaban atas pertanyaan itu dari luar. Mereka mempertanyakan segala yang dapat mereka temukan, matahari, bulan, dan bintang-bintang, dan mereka menemukan semua yang mereka dapat dengan cara ini. Seluruh alam paling banyak hanya dapat mengajari mereka tentang Wujud personal yang adalah Penguasa alam semesta; ia tidak dapat mengajarkan apa-apa lagi. Singkatnya, dari dunia eksternal kita hanya dapat memperoleh gagasan tentang seorang arsitek, yang disebut Teori Desain. Itu bukan argumen yang sangat logis, sebagaimana kita semua tahu; ada sesuatu yang kekanak-kanakan tentangnya, namun itulah satu-satunya sedikit hal yang dapat kita ketahui tentang Tuhan dari dunia eksternal, bahwa dunia ini memerlukan seorang pembangun. Tetapi ini bukan penjelasan tentang alam semesta. Bahan-bahan dunia ini telah ada di hadapan-Nya, dan Tuhan ini memerlukan semua bahan itu, dan keberatan yang terburuk adalah bahwa Ia harus dibatasi oleh bahan-bahan itu. Sang pembangun tidak dapat membuat rumah tanpa bahan-bahan yang menyusunnya. Oleh karena itu, ia dibatasi oleh bahan-bahan itu; ia hanya dapat berbuat apa yang dimungkinkan oleh bahan-bahan tersebut. Oleh karena itu, Tuhan yang diberikan oleh Teori Desain paling banyak hanyalah seorang arsitek, dan arsitek yang terbatas dari alam semesta; Ia terikat dan dibatasi oleh bahan-bahan; Ia sama sekali tidak independen. Sebanyak itulah yang sudah mereka temukan, dan banyak pikiran lain akan berhenti di situ. Di negeri-negeri lain hal yang sama terjadi; pikiran manusia tidak dapat berhenti di sana; pikiran-pikiran yang berpikir dan menggenggam ingin melangkah lebih jauh, namun mereka yang terbelakang menjegal mereka dan tidak membiarkan mereka tumbuh. Tetapi untunglah, para resi Hindu ini bukanlah orang-orang yang dapat dipukul di kepala; mereka ingin memperoleh sebuah pemecahan, dan kini kita dapati bahwa mereka meninggalkan yang eksternal demi yang internal. Hal pertama yang mengejutkan mereka adalah bahwa bukan dengan mata dan indra kita mempersepsikan dunia eksternal itu, dan mengetahui apa pun tentang agama; oleh karena itu, gagasan pertamanya adalah menemukan kekurangan itu, dan kekurangan itu bersifat fisik sekaligus moral, sebagaimana akan kita lihat. Anda tidak tahu, kata salah seorang dari para resi ini, sebab alam semesta ini; telah timbul perbedaan yang dahsyat antara Anda dan saya — mengapa? Karena Anda telah membicarakan hal-hal indrawi dan puas dengan objek-objek indrawi serta hanya dengan upacara-upacara agama, sedangkan saya telah mengenal Purusha (prinsip kesadaran / Roh) di balik itu.
Bersama kemajuan gagasan-gagasan spiritual yang sedang saya coba telusuri untuk Anda ini, saya hanya dapat menyinggung sedikit faktor lain dalam pertumbuhan itu, sebab hal itu tidak ada kaitannya dengan subjek kita, oleh karena itu saya tidak perlu memperpanjangnya — yaitu pertumbuhan ritual. Sebagaimana gagasan-gagasan spiritual itu maju dalam progresi aritmetika, demikian pula gagasan-gagasan ritualistik maju dalam progresi geometrika. Takhayul-takhayul lama pada waktu itu telah berkembang menjadi massa ritual yang luar biasa, yang tumbuh dan terus tumbuh sampai hampir membunuh kehidupan Hindu. Dan ia masih ada, ia telah menguasai dan meresapi setiap bagian kehidupan kami dan menjadikan kami budak sejak lahir. Namun pada saat yang sama, kita mendapati adanya perlawanan terhadap kemajuan ritual ini sejak hari-hari yang paling awal. Satu keberatan yang diajukan di sana adalah, bahwa kecintaan terhadap upacara, berpakaian pada waktu tertentu, makan dengan cara tertentu, dan pertunjukan serta sandiwara keagamaan semacam itu hanyalah agama eksternal, karena Anda puas dengan indra dan tidak mau melampauinya. Inilah kesulitan luar biasa bagi kita, bagi setiap manusia. Paling-paling, ketika kita ingin mendengar tentang hal-hal spiritual, ukuran kita adalah indra; atau seseorang mendengar hal-hal tentang filsafat, dan Tuhan, dan hal-hal transendental, dan setelah mendengarnya selama berhari-hari, ia bertanya: Lagi pula, berapa banyak uang yang akan dihasilkannya, berapa banyak kenikmatan indrawi yang akan diperolehnya? Sebab kenikmatannya hanya pada indra, secara wajar. Tetapi kepuasan pada indra itu, kata resi kita, adalah salah satu sebab yang telah membentangkan tabir antara kebenaran dan diri kita. Pengabdian kepada upacara, kepuasan pada indra, dan pembentukan berbagai teori, telah menarik sebuah tabir antara diri kita dan kebenaran. Inilah tonggak besar lainnya, dan kita harus menelusuri cita-cita ini sampai akhir, dan melihat bagaimana ia berkembang kemudian menjadi teori maya (ilusi kosmik) yang menakjubkan dari Vedanta, bagaimana tabir ini akan menjadi penjelasan sejati dari Vedanta, bagaimana kebenaran sudah ada di sana sepanjang waktu, hanya tabir inilah yang telah menutupinya.
Demikianlah kita mendapati bahwa pikiran para pemikir Arya kuno ini telah memulai tema baru. Mereka menemukan bahwa di dunia eksternal tidak ada pencarian yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Mereka mungkin mencari di dunia eksternal selama berabad-abad, tetapi tidak akan ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Maka mereka beralih kepada metode lain ini; dan menurut metode ini, mereka diajari bahwa hasrat-hasrat indra ini, hasrat akan upacara dan hal-hal lahiriah telah menyebabkan tabir membentang antara diri mereka sendiri dan kebenaran, dan bahwa hal ini tidak dapat disingkirkan oleh upacara apa pun. Mereka harus beralih kepada pikiran mereka sendiri, dan menganalisis pikiran untuk menemukan kebenaran di dalam diri mereka sendiri. Dunia luar gagal dan mereka berbalik ke dunia dalam, dan kemudian itu menjadi filsafat Vedanta yang sejati; dari sinilah filsafat Vedanta bermula. Itulah batu fondasi filsafat Vedanta. Sembari kita melangkah maju, kita mendapati bahwa semua penyelidikannya bersifat batin. Sejak awal mereka tampak menyatakan — janganlah mencari kebenaran dalam agama apa pun; ia ada di sini di dalam jiwa manusia, mukjizat dari segala mukjizat di dalam jiwa manusia, gudang segala pengetahuan, tambang segala keberadaan — carilah di sini. Apa yang tidak ada di sini tidak dapat ada di sana. Dan mereka menemukan langkah demi langkah bahwa apa yang eksternal hanyalah, paling banyak, suatu pantulan suram dari apa yang ada di dalam. Kita akan melihat bagaimana mereka mengambil, boleh dikatakan, gagasan lama tentang Tuhan, Penguasa alam semesta, yang eksternal terhadap alam semesta, dan mula-mula menempatkan-Nya di dalam alam semesta. Ia bukan Tuhan di luar, melainkan Ia di dalam; lalu mereka membawa-Nya dari sana ke dalam hati mereka sendiri. Di sini Ia berada di dalam hati manusia, Jiwa dari jiwa kita, Realitas di dalam diri kita.
Beberapa gagasan besar harus dipahami untuk dapat menggenggam dengan tepat cara kerja filsafat Vedanta. Pertama-tama, ia bukanlah filsafat dalam pengertian yang kita gunakan ketika berbicara tentang filsafat Kant dan Hegel. Ia bukan satu kitab, atau karya satu orang. Vedanta adalah nama untuk serangkaian kitab yang ditulis pada masa-masa yang berbeda. Kadang-kadang dalam salah satu dari karya-karya ini akan ada lima puluh hal yang berbeda. Juga mereka tidak tersusun rapi; pemikiran-pemikiran, boleh dikatakan, dicatatkan begitu saja. Kadang-kadang di tengah hal-hal asing lainnya, kita menjumpai gagasan yang luar biasa. Tetapi satu fakta yang menakjubkan adalah, bahwa gagasan-gagasan dalam Upanishad (risalah filsafat penutup Veda) ini selalu mengalami kemajuan. Dalam bahasa kuno yang kasar itu, cara kerja pikiran setiap resi telah dilukiskan, boleh dikatakan, persis sebagaimana adanya; bagaimana gagasan-gagasan itu pada mulanya sangat kasar, dan menjadi semakin halus sampai mencapai tujuan Vedanta, dan tujuan ini memperoleh nama filosofis. Pada mulanya ia adalah pencarian akan Deva, yang bercahaya, kemudian asal usul alam semesta, dan pencarian yang sama itu kini memperoleh nama lain, lebih filosofis, lebih jelas — kesatuan segala sesuatu — "Yang dengan mengetahuinya, segala sesuatu yang lain menjadi diketahui."
English
Vedic Religious Ideals
What concerns us most is the religious thought — on soul and God and all that appertains to religion. We will take the Samhitâs. These are collections of hymns forming, as it were, the oldest Aryan literature, properly speaking, the oldest literature in the world. There may have been some scraps of literature of older date here and there, older than that even, but not books, or literature properly so called. As a collected book, this is the oldest the world has, and herein is portrayed the earliest feeling of the Aryans, their aspirations, the questions that arose about their manners and methods, and so on. At the very outset we find a very curious idea. These hymns are sung in praise of different gods, Devas as they are called, the bright ones. There is quite a number of them. One is called Indra, another Varuna, another Mitra, Parjanya, and so on. Various mythological and allegorical figures come before us one after the other — for instance, Indra the thunderer, striking the serpent who has withheld the rains from mankind. Then he lets fly his thunderbolt, the serpent is killed, and rain comes down in showers. The people are pleased, and they worship Indra with oblations. They make a sacrificial pyre, kill some animals, roast their flesh upon spits, and offer that meat to Indra. And they had a popular plant called Soma. What plant it was nobody knows now; it has entirely disappeared, but from the books we gather that, when crushed, it produced a sort of milky juice, and that was fermented; and it can also be gathered that this fermented Soma juice was intoxicating. This also they offered to Indra and the other gods, and they also drank it themselves. Sometimes they drank a little too much, and so did the gods. Indra on occasions got drunk. There are passages to show that Indra at one time drank so much of this Soma juice that he talked irrelevant words. So with Varuna. He is another god, very powerful, and is in the same way protecting his votaries, and they are praising him with their libations of Soma. So is the god of war, and so on. But the popular idea that strikes one as making the mythologies of the Samhitas entirely different from the other mythologies is, that along with every one of these gods is the idea of an infinity. This infinite is abstracted, and sometimes described as Âditya. At other times it is affixed, as it were, to all the other gods. Take, for example, Indra. In some of the books you will find that Indra has a body, is very strong, sometimes is wearing golden armour, and comes down, lives and eats with his votaries, fights the demons, fights the snakes, and so on. Again, in one hymn we find that Indra has been given a very high position; he is omnipresent and omnipotent, and Indra sees the heart of every being. So with Varuna. This Varuna is god of the air and is in charge of the water, just as Indra was previously; and then, all of a sudden, we find him raised up and said to be omnipresent, omnipotent, and so on. I will read one passage about this Varuna in his highest form, and you will understand what I mean. It has been translated into English poetry, so it is better that I read it in that form.
The mighty Lord on high our deeds, as if at hand, espies;
The gods know all men do, though men would fain their acts disguise;
Whoever stands, whoever moves, or steals from place to place,
Or hides him in his secret cell — the gods his movements trace.
Wherever two together plot, and deem they are alone,
King Varuna is there, a third, and all their schemes are known.
This earth is his, to him belong those vast and boundless skies;
Both seas within him rest, and yet in that small pool he lies,
Whoever far beyond the sky should think his way to wing.
He could not there elude the grasp of Varuna the King.
His spies, descending from the skies, glide all this world around;
Their thousand eyes all-scanning sweep to earth's remotest bound.
The mighty Lord on high our deeds, as if at hand, espies;
The gods know all men do, though men would fain their acts disguise;
Whoever stands, whoever moves, or steals from place to place,
Or hides him in his secret cell — the gods his movements trace.
Wherever two together plot, and deem they are alone,
King Varuna is there, a third, and all their schemes are known.
This earth is his, to him belong those vast and boundless skies;
Both seas within him rest, and yet in that small pool he lies,
Whoever far beyond the sky should think his way to wing.
He could not there elude the grasp of Varuna the King.
His spies, descending from the skies, glide all this world around;
Their thousand eyes all-scanning sweep to earth's remotest bound.
So we can multiply examples about the other gods; they all come, one after the other, to share the same fate — they first begin as gods, and then they are raised to this conception as the Being in whom the whole universe exists, who sees every heart, who is the ruler of the universe. And in the case of Varuna, there is another idea, just the germ of one idea which came, but was immediately suppressed by the Aryan mind, and that was the idea of fear. In another place we read they are afraid they have sinned and ask Varuna for pardon. These ideas were never allowed, for reasons you will come to understand later on, to grow on Indian soil, but the germs were there sprouting, the idea of fear, and the idea of sin. This is the idea, as you all know, of what is called monotheism. This monotheism, we see, came to India at a very early period. Throughout the Samhitas, in the first and oldest part, this monotheistic idea prevails, but we shall find that it did not prove sufficient for the Aryans; they threw it aside, as it were, as a very primitive sort of idea and went further on, as we Hindus think. Of course in reading books and criticisms on the Vedas written by Europeans, the Hindu cannot help smiling when he reads, that the writings of our authors are saturated with this previous education alone. Persons who have sucked in as their mother's milk the idea that the highest ideal of God is the idea of a Personal God, naturally dare not think on the lines of these ancient thinkers of India, when they find that just after the Samhitas, the monotheistic idea with which the Samhita portion is replete was thought by the Aryans to be useless and not worthy of philosophers and thinkers, and that they struggled hard for a more philosophical and transcendental idea. The monotheistic idea was much too human for them, although they gave it such descriptions as "The whole universe rests in Him," and "Thou art the keeper of all hearts." The Hindus were bold, to their great credit be it said, bold thinkers in all their ideas, so bold that one spark of their thought frightens the so-called bold thinkers of the West. Well has it been said by Prof. Max Müller about these thinkers that they climbed up to heights where their lungs only could breathe, and where those of other beings would have burst. These brave people followed reason wherever it led them, no matter at what cost, never caring if all their best superstitions were smashed to pieces, never caring what society would think about them, or talk about them; but what they thought was right and true, they preached and they talked.
Before going into all these speculations of the ancient Vedic sages, we will first refer to one or two very curious instances in the Vedas. The peculiar fact — that these gods are taken up, as it were, one after the other, raised and sublimated, till each has assumed the proportions of the infinite Personal God of the Universe — calls for an explanation. Prof. Max Müller creates for it a new name, as he thinks it peculiar to the Hindus: he calls it "Henotheism". We need not go far for the explanation. It is within the book. A few steps from the very place where we find those gods being raised and sublimated, we find the explanation also. The question arises how the Hindu mythologies should be so unique, so different from all others. In Babylonian or Greek mythologies we find one god struggling upwards, and he assumes a position and remains there, while the other gods die out. Of all the Molochs, Jehovah becomes supreme, and the other Molochs are forgotten, lost for ever; he is the God of gods. So, too, of all the Greek gods, Zeus comes to the front and assumes big proportions, becomes the God of the Universe, and all the other gods become degraded into minor angels. This fact was repeated in later times. The Buddhists and the Jains raised one of their prophets to the Godhead, and all the other gods they made subservient to Buddha, or to Jina. This is the world-wide process, but there we find an exception, as it were. One god is praised, and for the time being it is said that all the other gods obey his commands, and the very one who is said to be raised up by Varuna, is himself raised up, in the next book, to the highest position. They occupy the position of the Personal God in turns. But the explanation is there in the book, and it is a grand explanation, one that has given the theme to all subsequent thought in India, and one that will be the theme of the whole world of religions: "Ekam Sat Viprâ Bahudhâ Vadanti — That which exists is One; sages call It by various names." In all these cases where hymns were written about all these gods, the Being perceived was one and the same; it was the perceiver who made the difference. It was the hymnist, the sage, the poet, who sang in different languages and different words, the praise of one and the same Being. "That which exists is One; sages call It by various names." Tremendous results have followed from that one verse. Some of you, perhaps, are surprised to think that India is the only country where there never has been a religious persecution, where never was any man disturbed for his religious faith. Theists or atheists, monists, dualists, monotheists are there and always live unmolested. Materialists were allowed to preach from the steps of Brahminical temples, against the gods, and against God Himself; they went preaching all over the land that the idea of God was a mere superstition, and that gods, and Vedas, and religion were simply superstitions invented by the priests for their own benefit, and they were allowed to do this unmolested. And so, wherever he went, Buddha tried to pull down every old thing sacred to the Hindus to the dust, and Buddha died of ripe old age. So did the Jains, who laughed at the idea of God. "How can it be that there is a God?" they asked; "it must be a mere superstition." So on, endless examples there are. Before the Mohammedan wave came into India, it was never known what religious persecution was; the Hindus had only experienced it as made by foreigners on themselves. And even now it is a patent fact how much Hindus have helped to build Christian churches, and how much readiness there is to help them. There never has been bloodshed. Even heterodox religions that have come out of India have been likewise affected; for instance, Buddhism. Buddhism is a great religion in some respects, but to confuse Buddhism with Vedanta is without meaning; anyone may mark just the difference that exists between Christianity and the Salvation Army. There are great and good points in Buddhism, but these great points fell into hands which were not able to keep them safe. The jewels which came from philosophers fell into the hands of mobs, and the mobs took up their ideas. They had a great deal of enthusiasm, some marvellous ideas, great and humanitarian ideas, but, after all, there is something else that is necessary — thought and intellect — to keep everything safe. Wherever you see the most humanitarian ideas fall into the hands of the multitude, the first result, you may notice, is degradation. It is learning and intellect that keep things sure. Now this Buddhism went as the first missionary religion to the world, penetrated the whole of the civilised world as it existed at that time, and never was a drop of blood shed for that religion. We read how in China the Buddhist missionaries were persecuted, and thousands were massacred by two or three successive emperors, but after that, fortune favoured the Buddhists, and one of the emperors offered to take vengeance on the persecutors, but the missionaries refused. All that we owe to this one verse. That is why I want you to remember it: "Whom they call Indra, Mitra, Varuna — That which exists is One; sages call It by various names."
It was written, nobody knows at what date, it may be 8,000 years ago, in spite of all modern scholars may say, it may be 9,000 years ago. Not one of these religious speculations is of modern date, but they are as fresh today as they were when they were written, or rather, fresher, for at that distant date man was not so civilised as we know him now. He had not learnt to cut his brother's throat because he differed a little in thought from himself; he had not deluged the world in blood, he did not become demon to his own brother. In the name of humanity he did not massacre whole lots of mankind then. Therefore these words come to us today very fresh, as great stimulating, life-giving words, much fresher than they were when they were written: "That which exists is One; sages call It by various names." We have to learn yet that all religions, under whatever name they may be called, either Hindu, Buddhist, Mohammedan, or Christian, have the same God, and he who derides any one of these derides his own God.
That was the solution they arrived at. But, as I have said, this ancient monotheistic idea did not satisfy the Hindu mind. It did not go far enough, it did not explain the visible world: a ruler of the world does not explain the world — certainly not. A ruler of the universe does not explain the universe, and much less an external ruler, one outside of it. He may be a moral guide, the greatest power in the universe, but that is no explanation of the universe; and the first question that we find now arising, assuming proportions, is the question about the universe: "Whence did it come?" "How did it come?" "How does it exist?" Various hymns are to be found on this question struggling forward to assume form, and nowhere do we find it so poetically, so wonderfully expressed as in the following hymn:
"Then there was neither aught nor naught, nor air, nor sky, nor anything. What covered all? Where rested all? Then death was not, nor deathlessness, nor change to night and day." The translation loses a good deal of the poetical beauty. "Then death was not, nor deathlessness, nor change to night and day;" the very sound of the Sanskrit is musical. "That existed, that breath, covering as it were, that God's existence; but it did not begin to move." It is good to remember this one idea that it existed motionless, because we shall find how this idea sprouts up afterwards in the cosmology, how according to the Hindu metaphysics and philosophy, this whole universe is a mass of vibrations, as it were, motions; and there are periods when this whole mass of motions subsides and becomes finer and finer, remaining in that state for some time. That is the state described in this hymn. It existed unmoved, without vibration, and when this creation began, this began to vibrate and all this creation came out of it, that one breath, calm, self-sustained, naught else beyond it.
"Gloom existed first." Those of you who have ever been in India or any tropical country, and have seen the bursting of the monsoon, will understand the majesty of these words. I remember three poets' attempts to picture this. Milton says, "No light, but rather darkness visible." Kalidasa says, "Darkness which can be penetrated with a needle," but none comes near this Vedic description, "Gloom hidden in gloom." Everything is parching and sizzling, the whole creation seems to be burning away, and for days it has been so, when one afternoon there is in one corner of the horizon a speck of cloud, and in less than half an hour it has extended unto the whole earth, until, as it were, it is covered with cloud, cloud over cloud, and then it bursts into a tremendous deluge of rain. The cause of creation was described as will. That which existed at first became changed into will, and this will began to manifest itself as desire. This also we ought to remember, because we find that this idea of desire is said to be the cause of all we have. This idea of will has been the corner-stone of both the Buddhist and the Vedantic system, and later on, has penetrated into German philosophy and forms the basis of Schopenhauer's system of philosophy. It is here we first hear of it.
"Now first arose desire, the primal seed of mind.
Sages, searching in their hearts by wisdom, found the bond,
Between existence and non-existence."
"Now first arose desire, the primal seed of mind.
Sages, searching in their hearts by wisdom, found the bond,
Between existence and non-existence."
It is a very peculiar expression; the poet ends by saying that "perhaps He even does not know." We find in this hymn, apart from its poetical merits, that this questioning about the universe has assumed quite definite proportions, and that the minds of these sages must have advanced to such a state, when all sorts of common answers would not satisfy them. We find that they were not even satisfied with this Governor above. There are various other hymns where the same idea, comes in, about how this all came, and just as we have seen, when they were trying to find a Governor of the universe, a Personal God, they were taking up one Deva after another, raising him up to that position, so now we shall find that in various hymns one or other idea is taken up, and expanded infinitely and made responsible for everything in the universe. One particular idea is taken as the support, in which everything rests and exists, and that support has become all this. So on with various ideas. They tried this method with Prâna, the life principle. They expanded the idea of the life principle until it became universal and infinite. It is the life principle that is supporting everything; not only the human body, but it is the light of the sun and the moon, it is the power moving everything, the universal motive energy. Some of these attempts are very beautiful, very poetical. Some of them as, "He ushers the beautiful morning," are marvellously lyrical in the way they picture things. Then this very desire, which, as we have just read, arose as the first primal germ of creation, began to be stretched out, until it became the universal God. But none of these ideas satisfied.
Here the idea is sublimated and finally abstracted into a personality. "He alone existed in the beginning; He is the one Lord of all that exists; He supports this universe; He who is the author of souls, He who is the author of strength, whom all the gods worship, whose shadow is life, whose shadow is death; whom else shall we worship? Whose glory the snow-tops of the Himalayas declare, whose glory the oceans with all their waters proclaim." So on it goes, but, as I told you just now, this idea did not satisfy them.
At last we find a very peculiar position. The Aryan mind had so long been seeking an answer to the question from outside. They questioned everything they could find, the sun, the moon, and stars, and they found all they could in this way. The whole of nature at best could teach them only of a personal Being who is the Ruler of the universe; it could teach nothing further. In short, out of the external world we can only get the idea of an architect, that which is called the Design Theory. It is not a very logical argument, as we all know; there is something childish about it, yet it is the only little bit of anything we can know about God from the external world, that this world required a builder. But this is no explanation of the universe. The materials of this world were before Him, and this God wanted all these materials, and the worst objection is that He must be limited by the materials. The builder could not have made a house without the materials of which it is composed. Therefore he was limited by the materials; he could only do what the materials enabled him to. Therefore the God that the Design Theory gives is at best only an architect, and a limited architect of the universe; He is bound and restricted by the materials; He is not independent at all. That much they had found out already, and many other minds would have rested at that. In other countries the same thing happened; the human mind could not rest there; the thinking, grasping minds wanted to go further, but those that were backward got hold of them and did not allow them to grow. But fortunately these Hindu sages were not the people to be knocked on the head; they wanted to get a solution, and now we find that they were leaving the external for the internal. The first thing that struck them was, that it is not with the eyes and the senses that we perceive that external world, and know anything about religion; the first idea, therefore, was to find the deficiency, and that deficiency was both physical and moral, as we shall see. You do not know, says one of these sages, the cause of this universe; there has arisen a tremendous difference between you and me — why? Because you have been talking sense things and are satisfied with sense-objects and with the mere ceremonials of religion, while I have known the Purusha beyond.
Along with this progress of spiritual ideas that I am trying to trace for you, I can only hint to you a little about the other factor in the growth, for that has nothing to do with our subject, therefore I need not enlarge upon it — the growth of rituals. As those spiritual ideas progressed in arithmetical progression, so the ritualistic ideas progressed in geometrical progression. The old superstitions had by this time developed into a tremendous mass of rituals, which grew and grew till it almost killed the Hindu life And it is still there, it has got hold of and permeated every portion of our life and made us born slaves. Yet, at the same time, we find a fight against this advance of ritual from the very earliest days. The one objection raised there is this, that love for ceremonials, dressing at certain times, eating in a certain way, and shows and mummeries of religion like these are only external religion, because you are satisfied with the senses and do not want to go beyond them. This is a tremendous difficulty with us, with every human being. At best when we want to hear of spiritual things our standard is the senses; or a man hears things about philosophy, and God, and transcendental things, and after hearing about them for days, he asks: After all, how much money will they bring, how much sense-enjoyment will they bring? For his enjoyment is only in the senses, quite naturally. But that satisfaction in the senses, says our sage, is one of the causes which have spread the veil between truth and ourselves. Devotion to ceremonials, satisfaction in the senses, and forming various theories, have drawn a veil between ourselves and truth. This is another great landmark, and we shall have to trace this ideal to the end, and see how it developed later on into that wonderful theory of Mâyâ of the Vedanta, how this veil will be the real explanation of the Vedanta, how the truth was there all the time, it was only this veil that had covered it.
Thus we find that the minds of these ancient Aryan thinkers had begun a new theme. They found out that in the external world no search would give an answer to their question. They might seek in the external world for ages, but there would be no answer to their questions. So they fell back upon this other method; and according to this, they were taught that these desires of the senses, desires for ceremonials and externalities have caused a veil to come between themselves and the truth, and that this cannot be removed by any ceremonial. They had to fall back on their own minds, and analyse the mind to find the truth in themselves. The outside world failed and they turned back upon the inside world, and then it became the real philosophy of the Vedanta; from here the Vedanta philosophy begins. It is the foundation-stone of Vedanta philosophy. As we go on, we find that all its inquiries are inside. From the very outset they seemed to declare — look not for the truth in any religion; it is here in the human soul, the miracle of all miracles in the human soul, the emporium of all knowledge, the mine of all existence — seek here. What is not here cannot be there. And they found out step by step that that which is external is but a dull reflection at best of that which is inside. We shall see how they took, as it were, this old idea of God, the Governor of the universe, who is external to the universe, and first put Him inside the universe. He is not a God outside, but He is inside; and they took Him from there into their own hearts. Here He is in the heart of man, the Soul of our souls, the Reality in us.
Several great ideas have to be understood, in order to grasp properly the workings of the Vedanta philosophy. In the first place it is not philosophy in the sense we speak of the philosophy of Kant and Hegel. It is not one book, or the work of one man. Vedanta is the name of a series of books written at different times. Sometimes in one of these productions there will be fifty different things. Neither are they properly arranged; the thoughts, as it were, have been jotted down. Sometimes in the midst of other extraneous things, we find some wonderful idea. But one fact is remarkable, that these ideas in the Upanishads would be always progressing. In that crude old language, the working of the mind of every one of the sages has been, as it were, painted just as it went; how the ideas are at first very crude, and they become finer and finer till they reach the goal of the Vedanta, and this goal assumes a philosophical name. Just at first it was a search after the Devas, the bright ones, and then it was the origin of the universe, and the very same search is getting another name, more philosophical, clearer — the unity of all things — "Knowing which everything else becomes known."
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.