Vedanta dan Hak Istimewa
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Vedanta dan Hak Istimewa
(Disampaikan di London)
Kita hampir selesai dengan bagian metafisis dari Advaita (non-dualitas). Satu pokok, dan barangkali yang paling sulit dipahami, masih tersisa. Sejauh ini kita telah melihat bahwa, menurut teori Advaita, segala yang kita lihat di sekitar kita, dan sesungguhnya seluruh alam semesta, adalah evolusi dari Yang Mutlak itu. Dalam bahasa Sanskerta, Ia disebut Brahman (Realitas mutlak). Yang Mutlak telah berubah menjadi seluruh alam. Namun di sini muncul sebuah kesulitan. Bagaimana mungkin Yang Mutlak berubah? Apakah yang membuat Yang Mutlak berubah? Berdasarkan definisinya sendiri, Yang Mutlak tidak dapat berubah. Perubahan dari yang tak terubahkan akan menjadi suatu pertentangan. Kesulitan yang sama berlaku bagi mereka yang percaya pada Tuhan personal. Sebagai contoh, bagaimana ciptaan ini muncul? Ia tidak mungkin muncul dari ketiadaan; itu akan menjadi pertentangan — sesuatu yang muncul dari ketiadaan tidak pernah ada. Akibat adalah sebab dalam bentuk lain. Dari benih tumbuhlah pohon besar; pohon itu adalah benih, ditambah udara dan air yang diserap. Dan seandainya ada cara untuk menguji jumlah udara dan air yang dipakai untuk membentuk tubuh pohon itu, kita akan mendapati bahwa ia persis sama dengan akibatnya, yaitu pohon itu sendiri. Sains modern telah membuktikan tanpa keraguan bahwa hal itu memang demikian, yakni bahwa sebab adalah akibat dalam bentuk lain. Penataan bagian-bagian dari sebab berubah lalu menjadi akibat. Jadi, kita harus menghindari kesulitan adanya alam semesta tanpa sebab, dan kita terpaksa mengakui bahwa Tuhan telah menjadi alam semesta.
Namun kita telah menghindari satu kesulitan, dan terjerumus ke dalam yang lain. Dalam setiap teori, gagasan tentang Tuhan datang melalui gagasan ketakberubahan. Secara historis kita telah menelusuri bagaimana satu gagasan yang selalu ada dalam pikiran kita ketika mencari Tuhan, bahkan dalam bentuknya yang paling kasar, adalah gagasan kebebasan; dan gagasan kebebasan serta gagasan ketakberubahan adalah satu dan sama. Hanya yang bebaslah yang tidak pernah berubah, dan hanya yang tak terubahkanlah yang bebas; sebab perubahan dihasilkan oleh sesuatu yang berada di luar suatu hal, atau di dalamnya sendiri, yang lebih kuat daripada keadaan sekelilingnya. Segala yang dapat diubah niscaya terikat oleh sebab atau sebab-sebab tertentu, yang tidak mungkin tak terubahkan. Andaikan Tuhan telah menjadi alam semesta ini, maka Tuhan berada di sini dan telah berubah. Dan andaikan Yang Tak Terhingga telah menjadi alam semesta yang terbatas ini, maka sebanyak itu dari Yang Tak Terhingga telah hilang, dan, oleh karena itu, Tuhan adalah Yang Tak Terhingga dikurangi alam semesta. Tuhan yang berubah bukanlah Tuhan. Untuk menghindari doktrin panteisme ini, ada satu teori Vedanta yang sangat berani. Yaitu bahwa alam semesta ini, sebagaimana kita mengenal dan memikirkannya, tidak ada; bahwa yang tak terubahkan tidak berubah; bahwa keseluruhan alam semesta ini hanyalah penampakan dan bukan kenyataan; bahwa gagasan tentang bagian-bagian, dan wujud-wujud kecil, dan perbedaan-perbedaan hanyalah tampak saja, bukan sifat dari hal itu sendiri. Tuhan sama sekali tidak berubah, dan sama sekali tidak menjadi alam semesta. Kita melihat Tuhan sebagai alam semesta, karena kita harus melihat melalui ruang, waktu, dan sebab-akibat. Adalah ruang, waktu, dan sebab-akibat yang membuat pembedaan ini tampak demikian, namun tidak sungguh-sungguh demikian. Ini sungguh suatu teori yang amat berani. Kini teori ini harus dijelaskan sedikit lebih jernih. Ia tidak berarti idealisme dalam pengertian yang umumnya dipahami. Ia tidak mengatakan bahwa alam semesta ini tidak ada; ia ada, namun pada saat yang sama ia bukan seperti yang kita kira. Untuk menggambarkan ini, contoh yang diberikan oleh filsafat Advaita sudah dikenal luas. Dalam kegelapan malam, sebuah tunggul pohon dipandang sebagai hantu oleh sebagian orang yang takhayul, sebagai polisi oleh seorang perampok, sebagai sahabat oleh seseorang yang menunggu temannya. Dalam semua kasus ini, tunggul pohon itu tidak berubah, namun ada perubahan-perubahan yang tampak, dan perubahan-perubahan itu berada di dalam pikiran mereka yang melihatnya. Dari sisi subjektif, kita dapat memahaminya dengan lebih baik melalui psikologi. Ada sesuatu di luar diri kita, yang kodrat sejatinya tidak kita ketahui dan tidak dapat kita ketahui; mari kita sebut ia x. Dan ada sesuatu di dalam, yang juga tidak kita ketahui dan tidak dapat kita ketahui; mari kita sebut ia y. Yang dapat diketahui adalah gabungan dari x ditambah y, dan dengan demikian segala yang kita ketahui pasti memiliki dua bagian, yaitu x di luar dan y di dalam; dan x ditambah y adalah hal yang kita ketahui. Jadi, setiap bentuk di alam semesta sebagian adalah ciptaan kita dan sebagian lagi adalah sesuatu yang di luar. Kini yang dipegang oleh Vedanta ialah bahwa x dan y ini adalah satu dan sama.
Kesimpulan yang sangat serupa telah dicapai oleh sebagian filsuf Barat, terutama oleh Herbert Spencer, dan beberapa filsuf modern lainnya. Ketika dikatakan bahwa kekuatan yang sama yang menyatakan dirinya di dalam bunga juga memancar di dalam kesadaran saya sendiri, itulah persis gagasan yang ingin diajarkan oleh penganut Vedanta, yakni bahwa kenyataan dunia luar dan kenyataan dunia dalam adalah satu dan sama. Bahkan gagasan tentang luar dan dalam ada karena pembedaan, dan tidak ada di dalam hal-hal itu sendiri. Sebagai contoh, jika kita mengembangkan satu indra lagi, seluruh dunia akan berubah bagi kita, yang menunjukkan bahwa subjeklah yang akan mengubah objek. Jika saya berubah, dunia luar berubah. Karena itu, teori Vedanta sampai pada kesimpulan ini, bahwa Anda dan saya dan segala sesuatu di alam semesta adalah Yang Mutlak itu, bukan sebagai bagian, melainkan sebagai keseluruhan. Anda adalah keseluruhan dari Yang Mutlak itu, demikian pula semua yang lain, karena gagasan tentang bagian tidak dapat masuk ke dalamnya. Pembagian-pembagian ini, batasan-batasan ini, hanyalah tampak saja, bukan ada di dalam hal itu sendiri. Saya utuh dan sempurna, dan saya tidak pernah terikat — demikianlah Vedanta dengan berani mengajarkan. Jika Anda mengira bahwa Anda terikat, Anda akan tetap terikat; jika Anda mengetahui bahwa Anda bebas, Anda memang bebas. Maka, tujuan dan akhir dari filsafat ini ialah membuat kita mengetahui bahwa kita telah selalu bebas, dan akan tetap bebas selama-lamanya. Kita tidak pernah berubah, kita tidak pernah mati, dan kita tidak pernah dilahirkan. Lalu apakah semua perubahan ini? Apa jadinya dengan dunia fenomenal ini? Dunia ini diakui sebagai dunia yang tampak, terikat oleh ruang, waktu, dan sebab-akibat, dan ia sampai pada apa yang disebut Vivarta-vada dalam bahasa Sanskerta, yaitu evolusi alam, dan manifestasi dari Yang Mutlak. Yang Mutlak tidak berubah, juga tidak berevolusi kembali. Di dalam amuba yang kecil itu tersembunyi kesempurnaan tak terhingga. Ia disebut amuba karena selubung amuba-nya, dan dari amuba sampai pada manusia yang sempurna, perubahan itu tidak terjadi pada apa yang ada di dalam — yang itu tetap sama, tak terubahkan — melainkan perubahan terjadi pada selubungnya.
Di sini ada sebuah tabir, dan di luarnya ada pemandangan yang indah. Pada tabir itu ada satu lubang kecil yang melaluinya kita hanya dapat menangkap sekilas pemandangan tersebut. Andaikan lubang ini mulai membesar; ketika ia tumbuh semakin besar, semakin banyak pemandangan yang terlihat, dan ketika tabir itu lenyap, kita berhadapan langsung dengan seluruh pemandangan. Pemandangan di luar ini adalah jiwa, dan tabir antara kita dan pemandangan itu adalah maya (ilusi kosmik) — ruang, waktu, dan sebab-akibat. Ada satu lubang kecil di suatu tempat, yang melaluinya saya hanya dapat menangkap sekilas tentang jiwa. Ketika lubang itu membesar, saya melihat semakin banyak, dan ketika tabir itu lenyap, saya mengetahui bahwa saya adalah jiwa itu sendiri. Jadi, perubahan-perubahan di alam semesta tidak berada di dalam Yang Mutlak; perubahan-perubahan itu berada di dalam alam. Alam berkembang semakin lama semakin banyak, hingga Yang Mutlak menyatakan Diri-Nya. Di dalam setiap orang Ia ada; di dalam sebagian orang Ia lebih banyak dinyatakan daripada di dalam yang lain. Seluruh alam semesta sesungguhnya adalah satu. Dalam berbicara tentang jiwa, mengatakan bahwa yang satu lebih tinggi dari yang lain tidak ada maknanya. Dalam berbicara tentang jiwa, mengatakan bahwa manusia lebih tinggi daripada hewan atau tumbuhan tidak ada maknanya; seluruh alam semesta adalah satu. Pada tumbuhan, penghalang bagi penyataan jiwa sangat besar; pada hewan sedikit lebih kecil; pada manusia lebih kecil lagi; pada manusia yang terdidik dan spiritual masih lebih kecil; dan pada manusia yang sempurna, penghalang itu telah lenyap sama sekali. Segala perjuangan, latihan, derita, kesenangan, air mata, dan senyum kita, segala yang kita lakukan dan kita pikirkan, mengarah pada tujuan itu, yaitu merobek tabir, memperbesar lubang, menipiskan lapisan-lapisan yang tersisa antara manifestasi dan realitas di baliknya. Karena itu, tugas kita bukanlah membebaskan jiwa, melainkan melepaskan diri dari ikatan-ikatan. Matahari tertutup oleh lapisan-lapisan awan, namun tetap tidak terpengaruh olehnya. Tugas angin adalah mengusir awan-awan itu, dan semakin banyak awan yang lenyap, semakin tampaklah cahaya matahari. Tidak ada perubahan sama sekali pada jiwa — Tak Terhingga, Mutlak, Kekal, Pengetahuan, Kebahagiaan, dan Keberadaan. Tidak pula dapat ada kelahiran atau kematian bagi jiwa. Mati dan dilahirkan, reinkarnasi, dan pergi ke surga, tidak dapat berlaku bagi jiwa. Itu semua adalah penampakan-penampakan yang berbeda, fatamorgana-fatamorgana yang berbeda, mimpi-mimpi yang berbeda. Jika seseorang yang sedang memimpikan dunia ini kemudian memimpikan pikiran-pikiran jahat dan perbuatan-perbuatan jahat, setelah suatu waktu, pikiran dari mimpi itu sendiri akan menghasilkan mimpi berikutnya. Ia akan bermimpi bahwa dirinya berada di suatu tempat yang mengerikan, sedang disiksa. Orang yang memimpikan pikiran-pikiran baik dan perbuatan-perbuatan baik, setelah masa mimpi itu berakhir, akan bermimpi bahwa dirinya berada di tempat yang lebih baik; dan seterusnya dari mimpi ke mimpi. Namun akan tiba waktunya ketika seluruh mimpi ini akan lenyap. Bagi setiap orang di antara kita, pasti akan tiba waktunya ketika seluruh alam semesta akan terbukti hanyalah sebuah mimpi belaka, ketika kita akan mendapati bahwa jiwa jauh lebih baik daripada keadaan sekelilingnya. Dalam perjuangan melalui apa yang kita sebut lingkungan kita, akan tiba waktunya ketika kita akan mendapati bahwa lingkungan-lingkungan itu nyaris nol dibandingkan dengan kekuatan jiwa. Itu hanyalah soal waktu, dan waktu bukanlah apa-apa di dalam Yang Tak Terhingga. Ia hanya setetes di dalam samudra. Kita sanggup untuk menunggu dan tetap tenang.
Secara sadar atau tidak sadar, karena itu, seluruh alam semesta sedang menuju tujuan tersebut. Bulan sedang berjuang untuk keluar dari lingkup tarikan benda-benda lain, dan pada akhirnya ia akan keluar darinya. Namun mereka yang secara sadar berusaha untuk menjadi bebas akan mempercepat waktunya. Satu manfaat dari teori ini yang secara praktis kita lihat ialah bahwa gagasan tentang kasih semesta yang sejati hanya mungkin dari sudut pandang ini. Semua adalah sesama penumpang kita, sesama pengembara kita — segala kehidupan, tumbuhan, hewan; bukan saja saudara sesama manusia, melainkan saudara hewan saya, saudara tumbuhan saya; bukan saja saudara yang baik, melainkan saudara yang jahat, saudara yang spiritual dan saudara yang jahat. Mereka semua sedang menuju tujuan yang sama. Semua berada di dalam arus yang sama, masing-masing bergegas menuju kebebasan tak terhingga itu. Kita tidak dapat menghentikan jalannya, tidak seorang pun dapat menghentikannya, tidak seorang pun dapat berbalik, betapapun ia berusaha; ia akan didorong maju, dan pada akhirnya ia akan mencapai kebebasan. Penciptaan berarti perjuangan untuk kembali kepada kebebasan, pusat keberadaan kita, dari mana kita seolah-olah terlontar. Kenyataan bahwa kita berada di sini sudah menunjukkan bahwa kita sedang menuju pusat itu, dan manifestasi dari ketertarikan menuju pusat inilah yang kita sebut kasih.
Pertanyaan diajukan: Dari manakah alam semesta ini berasal, di dalam apakah ia bertahan, ke manakah ia kembali? Dan jawabannya: Dari kasih ia berasal, di dalam kasih ia bertahan, ke dalam kasih ia kembali. Maka kita berada dalam posisi untuk memahami bahwa, suka atau tidak suka, tidak ada jalan kembali bagi siapa pun. Setiap orang harus sampai ke pusat itu, betapapun ia berjuang untuk kembali. Namun, jika kita berjuang dengan sadar, dengan pengetahuan, hal itu akan memuluskan jalannya, akan mengurangi guncangan, dan mempercepat waktunya. Kesimpulan lain yang secara alami kita peroleh dari ini ialah bahwa semua pengetahuan dan semua daya berada di dalam dan bukan di luar. Apa yang kita sebut alam adalah cermin pemantul — itulah seluruh kegunaan alam — dan semua pengetahuan adalah pantulan dari apa yang di dalam pada cermin alam ini. Apa yang kita sebut daya, rahasia alam, dan kekuatan, semuanya berada di dalam. Di dunia luar hanya ada serangkaian perubahan. Tidak ada pengetahuan di dalam alam; semua pengetahuan datang dari jiwa manusia. Manusia menyatakan pengetahuan, menemukannya di dalam dirinya sendiri, yang sudah ada sejak kekekalan. Setiap orang adalah perwujudan Pengetahuan, setiap orang adalah perwujudan Kebahagiaan yang kekal, dan Keberadaan yang kekal. Akibat etisnya persis sama, sebagaimana telah kita lihat di tempat lain, sehubungan dengan kesetaraan.
Namun gagasan tentang hak istimewa adalah racun bagi kehidupan manusia. Dua kekuatan, seolah-olah, terus bekerja, yang satu membentuk kasta, dan yang lain meruntuhkan kasta; dengan kata lain, yang satu bekerja demi hak istimewa, yang lain meruntuhkan hak istimewa. Dan setiap kali hak istimewa diruntuhkan, semakin banyak cahaya dan kemajuan datang kepada suatu bangsa. Perjuangan ini kita saksikan di sekitar kita. Tentu saja yang pertama adalah gagasan hak istimewa yang kasar, yaitu hak yang kuat atas yang lemah. Ada hak istimewa kekayaan. Jika seseorang memiliki lebih banyak uang daripada yang lain, ia menginginkan sedikit hak istimewa atas mereka yang memiliki lebih sedikit. Ada lagi hak istimewa yang lebih halus dan lebih kuat, yaitu hak istimewa intelek; karena seseorang mengetahui lebih banyak daripada yang lain, ia menuntut lebih banyak hak istimewa. Dan yang terakhir, dan yang terburuk, karena yang paling tirani, adalah hak istimewa spiritualitas. Jika sebagian orang merasa bahwa mereka lebih mengetahui tentang spiritualitas, tentang Tuhan, mereka menuntut hak istimewa yang lebih tinggi atas semua orang. Mereka berkata, "Turunlah dan sembahlah kami, hai khalayak ramai; kami adalah utusan-utusan Tuhan, dan kalian harus menyembah kami." Tidak seorang pun dapat menjadi pengikut Vedanta sekaligus mengakui hak istimewa bagi siapa pun, baik secara mental, fisik, maupun spiritual; sama sekali tidak ada hak istimewa bagi siapa pun. Daya yang sama ada di dalam setiap orang, yang satu menyatakannya lebih banyak, yang lain lebih sedikit; potensi yang sama ada di dalam setiap orang. Di mana letak hak menuntut keistimewaan? Semua pengetahuan ada di dalam setiap jiwa, bahkan di dalam diri orang yang paling bodoh sekalipun; ia belum menyatakannya, namun, barangkali, ia belum memperoleh kesempatan, dan keadaan sekelilingnya, barangkali, tidak cocok baginya. Apabila ia memperoleh kesempatan, ia akan menyatakannya. Gagasan bahwa seseorang dilahirkan lebih unggul daripada yang lain tidak memiliki makna dalam Vedanta; bahwa antara dua bangsa yang satu unggul dan yang lain rendah tidak memiliki makna apa pun. Tempatkan mereka dalam keadaan yang sama, dan lihatlah apakah kecerdasan yang sama akan keluar atau tidak. Sebelum itu, Anda tidak berhak mengatakan bahwa satu bangsa lebih unggul daripada bangsa lain. Dan mengenai spiritualitas, tidak boleh ada hak istimewa yang dituntut di sana. Adalah suatu kehormatan untuk melayani umat manusia, sebab inilah ibadat kepada Tuhan. Tuhan ada di sini, di dalam semua jiwa manusia ini. Ia adalah jiwa manusia. Hak istimewa apa yang dapat dituntut oleh manusia? Tidak ada utusan khusus dari Tuhan, tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada. Semua wujud, besar atau kecil, sama-sama manifestasi dari Tuhan; perbedaan hanya ada pada manifestasinya. Pesan kekal yang sama, yang telah diberikan secara kekal, datang kepada mereka sedikit demi sedikit. Pesan kekal itu telah ditulis di dalam hati setiap wujud; ia sudah ada di sana, dan semua sedang berjuang untuk menyatakannya. Sebagian, dalam keadaan yang cocok, menyatakannya sedikit lebih baik daripada yang lain, namun sebagai pembawa pesan, mereka semua adalah satu. Hak menuntut keunggulan apa yang ada di situ? Orang yang paling bodoh, anak yang paling bodoh, adalah utusan Tuhan sebesar siapa pun yang pernah ada, dan sebesar siapa pun yang akan datang. Sebab pesan tak terhingga itu tercetak di sana untuk selama-lamanya di dalam hati setiap wujud. Di mana pun ada satu wujud, wujud itu mengandung pesan tak terhingga dari Yang Mahatinggi. Pesan itu ada di sana. Karena itu, tugas Advaita ialah meruntuhkan semua hak istimewa ini. Ini adalah tugas yang paling berat dari semuanya, dan anehnya, justru di tanah kelahirannya tugas ini kurang aktif dibandingkan di tempat lain mana pun. Jika ada tanah hak istimewa, ia adalah tanah yang melahirkan filsafat ini — hak istimewa bagi manusia spiritual maupun bagi manusia karena kelahirannya. Di sana memang tidak begitu banyak hak istimewa karena uang (itulah salah satu kebaikannya, saya kira), namun hak istimewa karena kelahiran dan spiritualitas ada di mana-mana.
Pernah dilakukan suatu upaya raksasa untuk mengajarkan etika Vedanta, yang berhasil hingga taraf tertentu selama beberapa ratus tahun, dan secara historis kita tahu bahwa tahun-tahun itu adalah masa terbaik dari bangsa tersebut. Yang saya maksud adalah upaya Buddhis untuk meruntuhkan hak istimewa. Beberapa julukan terindah yang ditujukan kepada Buddha yang masih saya ingat ialah, "Engkau sang peruntuh kasta, penghancur hak istimewa, pengajar kesetaraan bagi segala wujud." Maka, ia mengajarkan satu gagasan kesetaraan ini. Kekuatannya kemudian disalahpahami hingga taraf tertentu di dalam persaudaraan kaum Shramana, di mana kita mendapati bahwa ratusan upaya telah dilakukan untuk menjadikan mereka sebuah gereja, dengan atasan dan bawahan. Anda tidak dapat membangun banyak hal dari sebuah gereja apabila Anda mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka semua adalah dewa. Salah satu pengaruh baik dari Vedanta ialah kebebasan berpikir keagamaan, yang dinikmati India sepanjang seluruh masa sejarahnya. Sungguh sesuatu yang patut dibanggakan bahwa itulah tanah yang tidak pernah mengalami penganiayaan agama, di mana rakyatnya diberi kebebasan sempurna dalam beragama.
Sisi praktis dari moralitas Vedanta ini diperlukan hari ini sebagaimana ia diperlukan sepanjang masa, barangkali lebih diperlukan daripada sebelumnya, sebab segala tuntutan hak istimewa ini telah menjadi sangat dahsyat seiring dengan meluasnya pengetahuan. Gagasan tentang Tuhan dan iblis, atau Ahura Mazda dan Ahriman, mengandung banyak unsur puitis. Perbedaan antara Tuhan dan iblis tidak terletak pada apa pun kecuali pada tidak mementingkan diri dan mementingkan diri. Iblis mengetahui sebanyak yang diketahui Tuhan, sekuat Tuhan; hanya saja ia tidak memiliki kesucian — itulah yang menjadikannya iblis. Terapkan gagasan yang sama pada dunia modern: kelebihan pengetahuan dan kekuasaan, tanpa kesucian, menjadikan manusia iblis. Kekuasaan yang dahsyat sedang diperoleh melalui pembuatan mesin dan peralatan-peralatan lain, dan hak istimewa dituntut hari ini seperti tidak pernah dituntut sebelumnya dalam sejarah dunia. Itulah sebabnya Vedanta ingin mengajarkan sikap melawannya, untuk meruntuhkan tirani atas jiwa-jiwa manusia ini.
Mereka di antara Anda yang telah mempelajari Gita akan mengingat ayat-ayat yang tak terlupakan: "Dia yang memandang brahmana yang terpelajar, sapi, gajah, anjing, atau orang buangan dengan mata yang sama, dialah sesungguhnya yang bijak, dan orang yang arif"; "Bahkan dalam kehidupan ini ia telah menaklukkan keberadaan relatif, yang pikirannya teguh tertambat pada kesamaan ini, sebab Sang Junjungan adalah satu dan sama bagi semua, dan Sang Junjungan adalah suci; karena itu mereka yang memiliki kesamaan ini bagi semuanya, dan suci, dikatakan sedang hidup di dalam Tuhan." Inilah inti dari moralitas Vedanta — kesamaan ini bagi semua. Kita telah melihat bahwa dunia subjektiflah yang menguasai dunia objektif. Ubahlah subjek, dan objek pasti akan berubah; sucikanlah diri Anda, dan dunia pasti akan suci. Satu hal ini perlu diajarkan sekarang lebih daripada sebelumnya. Kita semakin sibuk dengan tetangga-tetangga kita, dan semakin sedikit sibuk dengan diri kita sendiri. Dunia akan berubah jika kita berubah; jika kita suci, dunia akan menjadi suci. Pertanyaannya ialah mengapa saya harus melihat keburukan pada orang lain. Saya tidak dapat melihat keburukan kecuali saya buruk. Saya tidak dapat sengsara kecuali saya lemah. Hal-hal yang dahulu membuat saya sengsara ketika saya masih kanak-kanak, kini tidak lagi melakukannya. Subjek telah berubah, maka objek pun pasti berubah; demikianlah kata Vedanta. Semua hal yang kita sebut sebab kesengsaraan dan kejahatan, akan kita tertawakan ketika kita sampai pada keadaan menakjubkan kesetaraan itu, kesamaan itu. Inilah yang disebut dalam Vedanta sebagai mencapai kebebasan. Tanda mendekati kebebasan itu ialah semakin banyaknya kesamaan dan kesetaraan ini. Dalam kesengsaraan dan kebahagiaan tetap sama, dalam keberhasilan dan kekalahan tetap sama — pikiran semacam itulah yang sedang mendekati keadaan kebebasan tersebut.
Pikiran tidak mudah ditaklukkan. Pikiran yang bergelombang setiap kali ada gangguan kecil pada provokasi atau bahaya yang sekecil apa pun, dalam keadaan apakah ia berada! Apa gunanya berbicara tentang keagungan atau spiritualitas, ketika perubahan-perubahan ini melanda pikiran? Keadaan pikiran yang labil ini harus diubah. Kita harus bertanya kepada diri sendiri sejauh mana kita dapat dipengaruhi oleh dunia luar, dan sejauh mana kita dapat berdiri di atas kaki kita sendiri, terlepas dari segala kekuatan di luar kita. Apabila kita telah berhasil mencegah segala kekuatan di dunia ini menjatuhkan keseimbangan kita, maka barulah kita telah mencapai kebebasan, dan tidak sebelum itu. Itulah keselamatan. Ia ada di sini dan tidak di tempat lain; ia ada pada saat ini. Dari gagasan ini, dari mata air ini, semua aliran pemikiran yang indah telah mengalir ke dalam dunia, yang umumnya disalahpahami dalam ungkapannya, yang seakan-akan saling bertentangan. Kita mendapati banyak jiwa yang berani dan luar biasa spiritualnya di setiap bangsa, yang masuk ke goa atau hutan untuk bermeditasi, memutuskan hubungan mereka dengan dunia luar. Inilah satu gagasan. Dan, di sisi lain, kita mendapati wujud-wujud yang cemerlang dan terkemuka yang masuk ke dalam masyarakat, berusaha mengangkat sesama manusia mereka, yaitu yang miskin, yang sengsara. Sepintas, kedua metode ini saling bertentangan. Orang yang tinggal di goa, jauh dari sesamanya, tersenyum penuh penghinaan pada mereka yang bekerja demi pembaruan sesama manusia. "Alangkah bodohnya!" katanya; "kerja apa yang ada? Dunia maya akan selalu tetap menjadi dunia maya; ia tidak dapat diubah." Jika saya bertanya kepada salah seorang pendeta kita di India, "Apakah Anda percaya pada Vedanta?" — ia menjawab, "Itu adalah agama saya; tentu saja saya percaya; itu adalah hidup saya." "Baiklah, apakah Anda mengakui kesetaraan segala kehidupan, kesamaan segala sesuatu?" "Tentu saja, saya mengakuinya." Pada saat berikutnya, ketika seorang dari kasta rendah mendekati pendeta ini, ia melompat ke salah satu sisi jalan untuk menghindari orang itu. "Mengapa Anda melompat?" "Karena sentuhannya saja akan mencemari saya." "Tetapi Anda baru saja mengatakan bahwa kita semua sama, dan Anda mengakui bahwa tidak ada perbedaan di antara jiwa-jiwa." Ia berkata, "Oh, itu hanya teori bagi para kepala keluarga; apabila saya masuk ke hutan, barulah saya akan memandang setiap orang sebagai sama." Anda bertanya kepada salah seorang dari orang-orang besar Anda di Inggris, dari kelahiran dan kekayaan yang tinggi, apakah ia percaya sebagai seorang Kristen pada persaudaraan umat manusia, karena semua datang dari Tuhan. Ia menjawab ya, namun dalam lima menit ia berteriak sesuatu yang tidak menyenangkan tentang khalayak biasa. Demikianlah, ia telah menjadi teori belaka selama beberapa ribu tahun dan tidak pernah dipraktikkan. Semua memahaminya, menyatakannya sebagai kebenaran, namun apabila Anda meminta mereka untuk mempraktikkannya, mereka berkata, hal itu akan memerlukan jutaan tahun.
Ada seorang raja yang memiliki sejumlah besar punggawa, dan masing-masing punggawa ini menyatakan bahwa ia siap mengorbankan nyawanya demi tuannya, dan bahwa ia adalah wujud paling tulus yang pernah dilahirkan. Seiring waktu, seorang sannyasin (pertapa pelepas dunia) datang menghadap raja. Raja berkata kepadanya bahwa belum pernah ada raja yang memiliki begitu banyak punggawa setia seperti yang ia miliki. Sannyasin itu tersenyum dan berkata ia tidak percaya akan hal itu. Raja berkata bahwa sannyasin itu boleh mengujinya jika ia mau. Maka sannyasin itu menyatakan bahwa ia akan melakukan suatu pengorbanan besar yang dengannya pemerintahan raja akan diperpanjang sangat lama, dengan syarat bahwa harus dibuat sebuah kolam kecil ke dalamnya setiap punggawanya menuangkan sebuah kendi susu, di kegelapan malam. Raja tersenyum dan berkata, "Hanya inikah ujiannya?" Lalu ia menyuruh para punggawanya datang menghadap, dan memberitahu mereka apa yang harus dilakukan. Mereka semua dengan sukacita menyatakan persetujuan terhadap usul itu dan pulang. Di tengah malam yang sepi, mereka datang dan mengosongkan kendi-kendi mereka ke dalam kolam. Namun pada pagi harinya, kolam itu didapati hanya berisi air saja. Para punggawa dikumpulkan dan ditanyai tentang perkara itu. Masing-masing dari mereka telah mengira bahwa akan ada begitu banyak kendi susu sehingga airnya tidak akan ketahuan. Sayangnya, sebagian besar dari kita memiliki gagasan yang sama dan kita melakukan bagian kita dari pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh para punggawa dalam cerita itu.
Begitu banyak gagasan tentang kesetaraan, kata sang pendeta, sehingga sedikit hak istimewa saya tidak akan ketahuan. Demikian pula yang dikatakan oleh orang-orang kaya kita, demikian pula yang dikatakan oleh para tiran di setiap negeri. Ada lebih banyak harapan bagi yang ditindas daripada bagi yang menindas. Para tiran membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai pada kebebasan, namun lebih sedikit waktu bagi yang lain. Kekejaman rubah jauh lebih dahsyat daripada kekejaman singa. Singa menyerang sekali lalu diam beberapa waktu setelahnya, tetapi rubah, yang gigih mengikuti mangsanya, tidak pernah melewatkan kesempatan. Sifat kependetaan yang berlaku sewenang-wenang pada dasarnya kejam dan tanpa hati nurani. Itulah sebabnya agama merosot di tempat kependetaan demikian bangkit. Kata Vedanta, kita harus melepaskan gagasan tentang hak istimewa, barulah agama akan datang. Sebelum itu, sama sekali tidak ada agama.
Apakah Anda percaya pada apa yang dikatakan oleh Kristus, "Juallah segala yang engkau punya, dan berikanlah kepada orang miskin?" Di situ ada kesetaraan praktis; tidak ada upaya menyiksa nas, melainkan menerima kebenaran apa adanya. Janganlah berusaha menyiksa nas. Saya pernah mendengar dikatakan bahwa hal itu hanya diajarkan kepada segelintir orang Yahudi yang mendengarkan Yesus. Argumen yang sama akan berlaku pula bagi hal-hal lain. Janganlah menyiksa nas; beranilah menghadapi kebenaran apa adanya. Sekalipun kita tidak dapat mencapainya, marilah kita mengakui kelemahan kita, namun janganlah kita menghancurkan cita-citanya. Marilah kita berharap bahwa kita akan mencapainya pada suatu saat, dan berjuang untuknya. Begini bunyinya — "Juallah segala yang engkau punya, dan berikanlah kepada orang miskin, dan ikutilah Aku." Maka, dengan menginjak setiap hak istimewa dan segala sesuatu di dalam diri kita yang bekerja demi hak istimewa, marilah kita bekerja demi pengetahuan yang akan membawa perasaan kesamaan terhadap seluruh umat manusia. Anda mengira bahwa karena Anda berbicara dengan bahasa yang sedikit lebih halus, Anda lebih unggul daripada orang di jalanan. Ingatlah bahwa ketika Anda memikirkan hal ini, Anda tidak sedang menuju kebebasan, melainkan sedang menempa rantai baru bagi kaki Anda. Dan, di atas segalanya, jika kesombongan spiritual masuk ke dalam diri Anda, celakalah Anda. Inilah ikatan yang paling mengerikan yang pernah ada. Baik kekayaan maupun ikatan lain mana pun dari hati manusia tidak dapat mengikat jiwa sehebat ini. "Saya lebih suci daripada yang lain" adalah gagasan paling mengerikan yang dapat masuk ke dalam hati manusia. Dalam arti apa Anda suci? Tuhan di dalam diri Anda adalah Tuhan di dalam semuanya. Jika Anda belum mengetahui ini, Anda belum mengetahui apa-apa. Bagaimana mungkin ada perbedaan? Semuanya adalah satu. Setiap wujud adalah kuil Yang Mahatinggi; jika Anda dapat melihatnya, baik, jika tidak, spiritualitas masih harus datang kepada Anda.
English
Vedanta And Privilege
(Delivered in London)
We have nearly finished the metaphysical portion of the Advaita. One point, and perhaps the most difficult to understand, remains. We have seen so far that, according to the Advaita theory, all we see around us, and the whole universe in fact, is the evolution of that one Absolute. This is called, in Sanskrit, Brahman. The Absolute has become changed into the whole of nature. But here comes a difficulty. How is it possible for the Absolute to change? What made the Absolute to change? By its very definition, the Absolute is unchangeable. Change of the unchangeable would be a contradiction. The same difficulty applies to those who believe in a Personal God. For instance, how did this creation arise? It could not have arisen out of nothing; that would be a contradiction — something coming out of nothing can never be. The effect is the cause in another form. Out of the seed, the big tree grows; the tree is the seed, plus air and water taken in. And if there were any method of testing the amount of the air, and water taken to make the body of the tree, we should find that it is exactly the same as the effect, the tree. Modern science has proved beyond doubt that it is so, that the cause is the effect in another form. The adjustment of the parts of the cause changes and becomes the effect. So, we have to avoid this difficulty of having a universe without a cause, and we are bound to admit that God has become the universe.
But we have avoided one difficulty, and landed in another. In every theory, the idea of God comes through the idea of unchangeability. We have traced historically how the one idea which we have always in mind in the search for God, even in its crudest form, is the idea of freedom; and the idea of freedom and of unchangeability is one and the same. It is the free alone which never changes, and the unchangeable alone which is free; for change is produced by something exterior to a thing, or within itself, which is more powerful than the surroundings. Everything which can be changed is necessarily bound by certain cause or causes, which cannot be unchangeable. Supposing God has become this universe, then God is here and has changed. And suppose the Infinite has become this finite universe, so much of the Infinite has gone, and, therefore, God is Infinite minus the universe. A changeable God would be no God. To avoid this doctrine of pantheism, there is a very bold theory of the Vedanta. It is that this universe, as we know and think it, does not exist, that the unchangeable has not changed, that the whole of this universe is mere appearance and not reality, that this idea of parts, and little beings, and differentiations is only apparent, not the nature of the thing itself. God has not changed at all, and has not become the universe at all. We see God as the universe, because we have to look through time, space, and causation. It is time, space, and causation that make this differentiation apparently, but not really. This is a very bold theory indeed. Now this theory ought to be explained a little more clearly. It does not mean idealism in the sense in which it is generally understood. It does not say that this universe does not exist; it exists, but at the same time it is not what we take it for. To illustrate this, the example given by the Advaita philosophy is well known. In the darkness of night, a stump of a tree is looked upon as a ghost by some superstitious person, as a policeman by a robber, as a friend by some one waiting for his companion. In all these cases, the stump of the tree did not change, but there are apparent changes, and these changes were in the minds of those who saw it. From the subjective side we can understand it better through psychology. There is something outside of ourselves, the true nature of which is unknown and unknowable to us; let us call it x. And there is something inside, which is also unknown and unknowable to us; let us call it y. The knowable is a combination of x plus y, and everything that we know, therefore, must have two parts, the x outside, and the y inside; and the x plus y is the thing we know. So, every form in the universe is partly our creation and partly something outside. Now what the Vedanta holds is that this x and this y are one and the same.
A very similar conclusion has been arrived at by some western philosophers, especially by Herbert Spencer, and some other modern philosophers. When it is said that the same power which is manifesting itself in the flower is welling up in my own consciousness, it is the very same idea which the Vedantist wants to preach, that the reality of the external world and the reality of the internal world are one and the same. Even the ideas of the internal and external exist by differentiation and do not exist in the things themselves. For instance, if we develop another sense, the whole world will change for us, showing that it is the subject which will change the object. If I change, the external world changes. The theory of the Vedanta, therefore, comes to this, that you and I and everything in the universe are that Absolute, not parts, but the whole. You are the whole of that Absolute, and so are all others, because the idea of part cannot come into it. These divisions, these limitations, are only apparent, not in the thing itself. I am complete and perfect, and I was never bound, boldly preaches the Vedanta. If you think you are bound, bound you will remain; if you know that you are free, free you are. Thus the end and aim of this philosophy is to let us know that we have been free always, and shall remain free for ever. We never change, we never die, and we are never born. What are all these changes then? What becomes of this phenomenal world? This world is admitted as an apparent world, bound by time, space, and causation, and it comes to what is called the Vivarta-vâda in Sanskrit, evolution of nature, and manifestation of the Absolute. The Absolute does not change, or re-evolve. In the little amoeba is that infinite perfection latent. It is called amoeba from its amoeba covering, and from the amoeba to the perfect man the change is not in what is inside — that remains the same, unchangeable — but the change occurs in the covering.
There is a screen here, and some beautiful scenery outside. There is a small hole in the screen through which we can only catch a glimpse of it. Suppose this hole begins to increase; as it grows larger and larger, more and more of the scenery comes into view, and when the screen has vanished, we come face to face with the whole of the scenery. This scene outside is the soul, and the screen between us and the scenery is Mâyâ — time, space, and causation. There is a little hole somewhere, through which I can catch only a glimpse of the soul. When the hole is bigger, I see more and more, and when the screen has vanished, I know that I am the soul. So changes in the universe are not in the Absolute; they are in nature. Nature evolves more and more, until the Absolute manifests Itself. In everyone It exists; in some It is manifested more than in others. The whole universe is really one. In speaking of the soul, to say that one is superior to another has no meaning. In speaking of the soul, to say that man is superior to the animal or the plant, has no meaning; the whole universe is one. In plants the obstacle to soul-manifestation is very great; in animals a little less; and in man still less; in cultured, spiritual men still less; and in perfect men, it has vanished altogether. All our struggles, exercises, pains, pleasures, tears, and smiles, all that we do and think tend towards that goal, the tearing up of the screen, making the hole bigger, thinning the layers that remain between the manifestation and the reality behind. Our work, therefore, is not to make the soul free, but to get rid of the bondages. The sun is covered by layers of clouds, but remains unaffected by them. The work of the wind is to drive the clouds away, and the more the clouds disappear, the more the light of the sun appears. There is no change whatsoever in the soul — Infinite, Absolute, Eternal, Knowledge, Bliss, and Existence. Neither can there be birth or death for the soul. Dying, and being born, reincarnation, and going to heaven, cannot be for the soul. These are different appearances, different mirages, different dreams. If a man who is dreaming of this world now dreams of wicked thoughts and wicked deeds, after a certain time the thought of that very dream will produce the next dream. He will dream that he is in a horrible place, being tortured. The man who is dreaming good thoughts and good deeds, after that period of dream is over, will dream he is in a better place; and so on from dream to dream. But the time will come when the whole of this dream will vanish. To everyone of us there must come a time when the whole universe will be found to have been a mere dream, when we shall find that the soul is infinitely better than its surroundings. In this struggle through what we call our environments, there will come a time when we shall find that these environments were almost zero in comparison with the power of the soul. It is only a question of time, and time is nothing in the Infinite. It is a drop in the ocean. We can afford to wait and be calm.
Consciously or unconsciously, therefore, the whole universe is going towards that goal. The moon is struggling to get out of the sphere of attraction of other bodies, and will come out of it, in the long run. But those who consciously strive to get free hasten the time. One benefit from this theory we practically see is that the idea of a real universal love is only possible from this point of view. All are our fellow passengers, our fellow travellers — all life, plants, animals; not only my brother man, but my brother brute, my brother plant; not only my brother the good, but my brother the evil, my brother the spiritual and my brother the wicked. They are all going to the same goal. All are in the same stream, each is hurrying towards that infinite freedom. We cannot stay the course, none can stay it, none can go back, however he may try; he will be driven forward, and in the end he will attain to freedom. Creation means the struggle to get back to freedom, the centre of our being, whence we have been thrown off, as it were. The very fact that we are here, shows that we are going towards the centre, and the manifestation of this attraction towards the centre is what we call love.
The question is asked: From what does this universe come, in what does it remain, to what does it go back? And the answer is: From love it comes, in love it remains, back it goes unto love. Thus we are in a position to understand that, whether one likes it or not, there is no going back for anyone. Everyone has to get to the centre, however he may struggle to go back. Yet if we struggle consciously, knowingly, it will smooth the passage, it will lessen the jar, and quicken the time. Another conclusion we naturally arrive at from this is that all knowledge and all power are within and not without. What we call nature is a reflecting glass — that is all the use of nature — and all knowledge is this reflection of the within on this glass of nature. What we call powers, secrets of nature, and force, are all within. In the external world are only a series of changes. There is no knowledge in nature; all knowledge comes from the human soul. Man manifests knowledge, discovers it within himself, which is pre-existing through eternity. Everyone is the embodiment of Knowledge, everyone is the embodiment of eternal Bliss, and eternal Existence. The ethical effect is just the same, as we have seen elsewhere, with regard to equality.
But the idea of privilege is the bane of human life. Two forces, as it were, are constantly at work, one making caste, and the other breaking caste; in other words, the one making for privilege, the other breaking down privilege. And whenever privilege is broken down, more and more light and progress come to a race. This struggle we see all around us. Of course there is first the brutal idea of privilege, that of the strong over the weak. There is the privilege of wealth. If a man has more money than another, he wants a little privilege over those who have less. There is the still subtler and more powerful privilege of intellect; because one man knows more than others, he claims more privilege. And the last of all, and the worst, because the most tyrannical, is the privilege of spirituality. If some persons think they know more of spirituality, of God, they claim a superior privilege over everyone else. They say, "Come down and worships us, ye common herds; we are the messengers of God, and you have to worship us." None can be Vedantists, and at the same time admit of privilege to anyone, either mental, physical, or spiritual; absolutely no privilege for anyone. The same power is in every man, the one manifesting more, the other less; the same potentiality is in everyone. Where is the claim to privilege? All knowledge is in every soul, even in the most ignorant; he has not manifested it, but, perhaps, he has not had the opportunity, the environments were not, perhaps, suitable to him. When he gets the opportunity, he will manifest it. The idea that one man is born superior to another has no meaning in the Vedanta; that between two nations one is superior and the other inferior has no meaning whatsoever. Put them in the same circumstances, and see whether the same intelligence comes out or not. Before that you have no right to say that one nation is superior to another. And as to spirituality, no privilege should be claimed there. It is a privilege to serve mankind, for this is the worship of God. God is here, in all these human souls. He is the soul of man. What privilege can men ask? There are no special messengers of God, never were, and never can be. All beings, great or small, are equally manifestations of God; the difference is only in the manifestation. The same eternal message, which has been eternally given, comes to them little by little. The eternal message has been written in the heart of every being; it is there already, and all are struggling to express it. Some, in suitable circumstances, express it a little better than others, but as bearers of the message they are all one. What claim to superiority is there? The most ignorant man, the most ignorant child, is as great a messenger of God as any that ever existed, and as great as any that are yet to come. For the infinite message is there imprinted once for all in the heart of every being. Wherever there is a being, that being contains the infinite message of the Most High. It is there. The work of the Advaita, therefore, is to break down all these privileges. It is the hardest work of all, and curious to say, it has been less active than anywhere else in the land of its birth. If there is any land of privilege, it is the land which gave birth to this philosophy — privilege for the spiritual man as well as for the man of birth. There they have not so much privilege for money (that is one of the benefits, I think), but privilege for birth and spirituality is everywhere.
Once a gigantic attempt was made to preach Vedantic ethics, which succeeded to a certain extent for several hundred years, and we know historically that those years were the best times of that nation. I mean the Buddhistic attempt to break down privilege. Some of the most beautiful epithets addressed to Buddha that I remember are, "Thou the breaker of castes, destroyer of privileges, preacher of equality to all beings." So, he preached this one idea of equality. Its power has been misunderstood to a certain extent in the brotherhood of Shramanas, where we find that hundreds of attempts have been made to make them into a church, with superiors and inferiors. Your cannot make much of a church when you tell people they are all gods. One of the good effects of Vedanta has been freedom of religious thought, which India enjoyed throughout all times of its history. It is something to glory in, that it is the land where there was never a religious persecution, where people are allowed perfect freedom in religion.
This practical side of Vedanta morality is necessary as much today as it ever was, more necessary, perhaps, than it ever was, for all this privilege-claiming has become tremendously intensified with the extension of knowledge. The idea of God and the devil, or Ahura Mazda and Ahriman, has a good deal of poetry in it. The difference between God and the devil is in nothing except in unselfishness and selfishness. The devil knows as much as God, is as powerful as God; only he has no holiness — that makes him a devil. Apply the same idea to the modern world: excess of knowledge and power, without holiness, makes human beings devils. Tremendous power is being acquired by the manufacture of machines and other appliances, and privilege is claimed today as it never has been claimed in the history of the world. That is why the Vedanta wants to preach against it, to break down this tyrannising over the souls of men.
Those of you who have studied the Gita will remember the memorable passages: "He who looks upon the learned Brahmin, upon the cow, the elephant, the dog, or the outcast with the same eye, he indeed is the sage, and the wise man"; "Even in this life he has conquered relative existence whose mind is firmly fixed on this sameness, for the Lord is one and the same to all, and the Lord is pure; therefore those who have this sameness for all, and are pure, are said to be living in God." This is the gist of Vedantic morality — this sameness for all. We have seen that it is the subjective world that rules the objective. Change the subject, and the object is bound to change; purify yourself, and the world is bound to be purified. This one thing requires to be taught now more than ever before. We are becoming more and more busy about our neighbours, and less and less about ourselves. The world will change if we change; if we are pure, the world will become pure. The question is why I should see evil in others. I cannot see evil unless I be evil. I cannot be miserable unless I am weak. Things that used to make me miserable when I was a child, do not do so now. The subject changed, so the object was bound to change; so says the Vedanta. All these things which we call causes of misery and evil, we shall laugh at when we arrive at that wonderful state of equality, that sameness. This is what is called in Vedanta attaining to freedom. The sign of approaching that freedom is more and more of this sameness and equality. In misery and happiness the same, in success and defeat the same — such a mind is nearing that state of freedom.
The mind cannot be easily conquered. Minds that rise into waves at the approach of every little thing at the slightest provocation or danger, in what a state they must be! What to talk of greatness or spirituality, when these changes come over the mind? This unstable condition of the mind must be changed. We must ask ourselves how far we can be acted upon by the external world, and how far we can stand on our own feet, in spite of all the forces outside us. When we have succeeded in preventing all the forces in the world from throwing us off our balance, then alone we have attained to freedom, and not before. That is salvation. It is here and nowhere else; it is this moment. Out of this idea, out of this fountain-head, all beautiful streams of thought have flowed upon the world, generally misunderstood in their expression, apparently contradicting each other. We find hosts of brave and wonderfully spiritual souls, in every nation, taking to caves or forests for meditation, severing their connection with the external world. This is the one idea. And, on the other hand, we find bright, illustrious beings coming into society, trying to raise their fellow men, the poor, the miserable. Apparently these two methods are contradictory. The man who lives in a cave, apart from his fellow-beings, smiles contemptuously upon those who are working for the regeneration of their fellow men. "How foolish!" he says; "what work is there? The world of Maya will always remain the world of Maya; it cannot be changed." If I ask one of our priests in India, "Do you believe in Vedanta?" — he says, "That is my religion; I certainly do; that is my life." "Very well, do you admit the equality of all life, the sameness of everything?" "Certainly, I do." The next moment, when a low-caste man approaches this priest, he jumps to one side of the street to avoid that man. "Why do you jump?" "Because his very touch would have polluted me." "But you were just saying we are all the same, and you admit there is no difference in souls." He says, "Oh, that is in theory only for householders; when I go into a forest, then I will look upon everyone as the same." You ask one of your great men in England, of great birth and wealth, if he believes as a Christian in the brotherhood of mankind, since all came from God. He answers in the affirmative, but in five minutes he shouts something uncomplimentary about the common herd. Thus, it has been a theory only for several thousand years and never came into practice. All understand it, declare it as the truth, but when you ask them to practice it, they say, it will take millions of years.
There was a certain king who had a huge number of courtiers, and each one of these courtiers declared he was ready to sacrifice his life for his master, and that he was the most sincere being ever born. In course of time, a Sannyâsin came to the king. The king said to him that there never was a king who had so many sincere courtiers as he had. The Sannyasin smiled and said he did not believe that. The king said the Sannyasin could test it if he liked. So the Sannyasin declared that he would make a great sacrifice by which the king's reign would be extended very long, with the condition that there should be made a small tank into which each one of his courtiers should pour a pitcher of milk, in the dark of night. The king smiled and said, "Is this the test?" And he asked his courtiers to come to him, and told them what was to be done. They all expressed their joyful assent to the proposal and returned. In the dead of night, they came and emptied their pitchers into the tank. But in the morning, it was found full of water only. The courtiers were assembled and questioned about the matter. Each one of them had thought there would be so many pitchers of milk that his water would not be detected. Unfortunately most of us have the same idea and we do our share of work as did the courtiers in the story.
There is so much idea of equality, says the priest, that my little privilege will not be detected. So say our rich men, so say the tyrants of every country. There is more hope for the tyrannised over, than for the tyrants. It will take a very long time for tyrants to arrive at freedom, but less time for the others. The cruelty of the fox is much more terrible than the cruelty of the lion. The lion strikes a blow and is quiet for some time afterwards, but the fox trying persistently to follow his prey never misses an opportunity. Priestcraft is in its nature cruel and heartless. That is why religion goes down where priestcraft arises. Says the Vedanta, we must give up the idea of privilege, then will religion come. Before that there is no religion at all.
Do you believe what Christ says, "Sell all that thou hast, and give to the poor?" Practical equality there; no trying to torture the texts, but taking the truth as it is. Do not try to torture texts. I have heard it said that that was preached only to the handful of Jews who listened to Jesus. The same argument will apply to other things also. Do not torture texts; dare to face truth as it is. Even if we cannot reach to it, let us confess our weakness, but let us not destroy the ideal. Let us hope that we shall attain to it sometime, and strive for it. There it is — "Sell all that thou hast, and give to the poor, and follow me." Thus, trampling on every privilege and everything in us that works for privilege, let us work for that knowledge which will bring the feeling of sameness towards all mankind. You think that because you talk a little more polished language you are superior to the man in the street. Remember that when you are thinking this, you are not going towards freedom, but are forging a fresh chain for your feet. And, above all, if the pride of spirituality enters into you, woe unto you. It is the most awful bondage that ever existed. Neither can wealth nor any other bondage of the human heart bind the soul so much as this. "I am purer than others", is the most awful idea that can enter into the human heart. In what sense are you pure? The God in you is the God in all. If you have not known this, you have known nothing. How can there be difference? It is all one. Every being is the temple of the Most High; if you can see that, good, if not, spirituality has yet to come to you.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.