Tahap-tahap menuju Realisasi
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Langkah-Langkah Menuju Realisasi
(Sebuah ceramah kelas yang disampaikan di Amerika)
Yang pertama di antara syarat-syarat yang dituntut dari seorang pencari jnana (pengetahuan spiritual), atau kearifan, adalah Shama dan Dama, yang dapat dibahas bersama-sama. Keduanya bermakna menjaga organ-organ tetap berada di pusatnya masing-masing tanpa membiarkannya mengembara keluar. Saya akan jelaskan kepada Anda terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kata "organ". Inilah mata; mata bukanlah organ penglihatan, melainkan hanya instrumen. Tanpa hadirnya organ-organ tersebut, saya tidak dapat melihat, sekalipun saya memiliki mata. Akan tetapi, dengan adanya kedua-duanya, baik organ maupun instrumen, jika pikiran tidak menyatukan dirinya pada keduanya, tidak akan terjadi penglihatan. Maka, dalam setiap tindakan persepsi, tiga hal diperlukan — pertama, instrumen-instrumen eksternal; kemudian, organ-organ internal; dan terakhir, pikiran. Apabila salah satu dari ketiganya tidak ada, maka tidak akan ada persepsi. Dengan demikian, pikiran bekerja melalui dua sarana — yang satu eksternal, yang lain internal. Ketika saya melihat berbagai hal, pikiran saya keluar dan menjadi tereksternalisasi; tetapi andaikan saya menutup mata dan mulai berpikir, pikiran tidak keluar, ia aktif di dalam. Namun, dalam kedua hal itu, terdapat aktivitas organ-organ. Ketika saya memandang Anda dan berbicara kepada Anda, baik organ maupun instrumen sama-sama aktif. Ketika saya menutup mata dan mulai berpikir, organ-organ aktif, tetapi instrumen tidak. Tanpa aktivitas organ-organ ini, tidak akan ada pemikiran. Anda akan mendapati bahwa tidak seorang pun di antara Anda dapat berpikir tanpa suatu simbol. Pada kasus orang buta sekalipun, ia juga harus berpikir melalui suatu citra. Organ penglihatan dan pendengaran umumnya sangat aktif. Anda harus mengingat bahwa yang dimaksud dengan kata "organ" adalah pusat saraf di dalam otak. Mata dan telinga hanyalah instrumen untuk melihat dan mendengar, sedangkan organ-organnya berada di dalam. Jika organ-organnya dirusak dengan cara apa pun, sekalipun mata atau telinga masih ada, kita tidak akan melihat atau mendengar. Maka, untuk dapat mengendalikan pikiran, kita harus terlebih dahulu mampu mengendalikan organ-organ ini. Menahan pikiran agar tidak mengembara keluar maupun ke dalam, dan menjaga organ-organ pada pusatnya masing-masing — itulah yang dimaksud dengan kata Shama dan Dama. Shama adalah tidak membiarkan pikiran tereksternalisasi, sedangkan Dama adalah mengekang instrumen-instrumen eksternal.
Selanjutnya datanglah Uparati, yang terdiri atas tidak memikirkan hal-hal indrawi. Sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk memikirkan objek-objek indra — hal-hal yang pernah kita lihat atau dengar, yang akan kita lihat atau dengar, hal-hal yang pernah kita makan, sedang kita makan, atau akan kita makan, tempat-tempat tempat kita pernah tinggal, dan seterusnya. Kita memikirkannya atau membicarakannya sebagian besar waktu kita. Seseorang yang berhasrat menjadi Vedantin (penganut Vedanta) harus melepaskan kebiasaan ini.
Kemudian datanglah persiapan berikutnya (sungguh berat menjadi seorang filsuf!), yaitu Titiksha, yang paling sulit dari semuanya. Itu tidak kurang dari kesabaran ideal — "Jangan melawan kejahatan." Hal ini memerlukan sedikit penjelasan. Kita mungkin tidak melawan suatu kejahatan, tetapi pada saat yang sama merasa sangat sengsara. Seseorang mungkin mengatakan hal-hal yang sangat kasar kepada saya, dan secara lahiriah saya mungkin tidak membencinya karena itu, tidak membalas perkataannya, dan dapat menahan diri agar tampaknya tidak marah, tetapi kemarahan dan kebencian mungkin ada di dalam pikiran saya, dan saya mungkin sangat membenci orang itu. Itu bukan tanpa perlawanan; saya seharusnya tanpa perasaan benci atau marah, tanpa pikiran melawan apa pun; pikiran saya kemudian harus setenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dan hanya bila saya telah mencapai keadaan itu, saya telah mencapai sikap tanpa perlawanan, dan tidak sebelumnya. Kesabaran atas seluruh kesengsaraan, tanpa setitik pun pemikiran untuk melawan atau menghalaunya, tanpa setitik pun perasaan menyakitkan di dalam pikiran, ataupun penyesalan — inilah Titiksha. Andaikan saya tidak melawan, dan akibatnya datanglah kejahatan besar; jika saya memiliki Titiksha, saya tidak akan merasakan penyesalan apa pun karena tidak melawan. Ketika pikiran telah mencapai keadaan itu, ia menjadi mantap dalam Titiksha. Orang-orang di India melakukan hal-hal luar biasa demi melatih Titiksha ini. Mereka menahan panas dan dingin yang dahsyat tanpa peduli, mereka bahkan tidak menghiraukan salju, sebab mereka tidak mempedulikan tubuh; tubuh dibiarkan begitu saja, seolah-olah ia adalah benda asing.
Syarat berikutnya yang diperlukan adalah Shraddha, yakni keimanan. Seseorang harus memiliki keimanan yang luar biasa kepada agama dan kepada Tuhan. Hingga seseorang memilikinya, ia tidak dapat bercita-cita menjadi seorang jnani. Seorang resi agung pernah berkata kepada saya bahwa tidak satu pun dari dua puluh juta orang di dunia ini sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Saya bertanya kepadanya mengapa, dan ia menjawab, "Andaikan ada seorang pencuri di ruangan ini, dan ia mengetahui bahwa ada timbunan emas di ruangan sebelah, dan hanya sebuah sekat yang sangat tipis di antara kedua ruangan itu; bagaimanakah keadaan pencuri itu?" Saya menjawab, "Ia tidak akan dapat tidur sama sekali; otaknya akan secara aktif memikirkan suatu cara untuk mencapai emas itu, dan ia tidak akan memikirkan apa pun yang lain." Kemudian ia menjawab, "Apakah Anda percaya bahwa seseorang dapat percaya kepada Tuhan dan tidak menjadi gila untuk mendapatkan-Nya? Jika seseorang sungguh-sungguh percaya bahwa ada tambang Kebahagiaan yang mahabesar dan tak terbatas, dan bahwa Ia dapat dicapai, tidakkah orang itu akan menjadi gila dalam perjuangannya untuk mencapai-Nya?" Keimanan yang kuat kepada Tuhan dan kerinduan yang menyertainya untuk mencapai-Nya itulah yang menyusun Shraddha.
Kemudian datanglah Samadhana, atau latihan yang terus-menerus, untuk memantapkan pikiran pada Tuhan. Tidak ada yang dapat dicapai dalam sehari. Agama tidak dapat ditelan dalam bentuk pil. Ia menuntut latihan yang keras dan terus-menerus. Pikiran hanya dapat ditaklukkan dengan latihan yang perlahan dan mantap.
Berikutnya adalah Mumukshutva, keinginan yang menggebu untuk merdeka. Mereka di antara Anda yang telah membaca Light of Asia karya Edwin Arnold akan mengingat terjemahannya tentang khotbah pertama Buddha, di mana Buddha bersabda,
Kamu menderita karena dirimu sendiri. Tiada lain yang memaksamu.
Tiada lain yang menahanmu sehingga engkau hidup dan mati,
Dan berputar di atas roda, memeluk dan mencium
Jeruji-jeruji deritanya,
Lingkar air matanya, poros kehampaannya.
Kamu menderita karena dirimu sendiri. Tiada lain yang memaksamu.
Tiada lain yang menahanmu sehingga engkau hidup dan mati,
Dan berputar di atas roda, memeluk dan mencium
Jeruji-jeruji deritanya,
Lingkar air matanya, poros kehampaannya.
Seluruh kesengsaraan yang kita miliki adalah pilihan kita sendiri; demikianlah tabiat kita. Orang Tionghoa tua, yang setelah dikurung di penjara selama enam puluh tahun lalu dibebaskan pada penobatan seorang kaisar baru, berseru ketika ia keluar, bahwa ia tidak dapat hidup; ia harus kembali ke selnya yang mengerikan di antara tikus-tikus dan mencit; ia tidak tahan akan cahaya. Maka ia memohon kepada mereka untuk membunuhnya atau mengembalikannya ke penjara, dan ia pun dikembalikan. Persis demikianlah keadaan semua manusia. Kita berlari sekencang-kencangnya mengejar segala macam kesengsaraan, dan tidak rela dibebaskan darinya. Setiap hari kita berlari mengejar kesenangan, dan sebelum kita mencapainya, kita mendapati ia telah hilang, telah lepas melalui jari-jari kita. Namun kita tidak berhenti dari pengejaran gila kita, melainkan terus dan terus berjalan, kita yang adalah orang-orang bodoh yang terbutakan.
Di sebagian pabrik minyak di India, sapi-sapi jantan digunakan untuk berjalan berputar-putar guna menggiling biji minyak. Ada gandar pada leher sapi itu. Mereka memasang sepotong kayu yang menjulur dari gandar, dan pada kayu itu diikatkan seberkas jerami. Sapi itu ditutup matanya sedemikian rupa sehingga ia hanya dapat memandang ke depan, dan maka ia menjulurkan lehernya untuk meraih jerami itu; dan dengan berbuat demikian, ia mendorong potongan kayu itu sedikit lebih jauh ke depan; lalu ia mencoba lagi dengan hasil yang sama, dan mencoba lagi, dan seterusnya. Ia tak pernah menangkap jerami itu, melainkan terus berputar-putar dengan harapan mendapatkannya, dan dengan berbuat demikian, ia menggiling minyak. Demikian pula Anda dan saya yang terlahir sebagai budak kepada alam, uang dan kekayaan, istri dan anak-anak, selalu mengejar seberkas jerami, sekadar khayalan kosong, dan menjalani siklus kehidupan yang tak terhitung tanpa memperoleh apa yang kita cari. Impian besarnya adalah cinta; kita semua akan mencintai dan dicintai, kita semua akan berbahagia dan tidak akan pernah berjumpa dengan kesengsaraan, tetapi semakin kita menuju kebahagiaan, semakin ia menjauh dari kita. Demikianlah dunia berjalan, masyarakat berjalan, dan kita, budak-budak yang terbutakan, harus membayar untuk itu tanpa kita sadari. Pelajarilah kehidupan Anda sendiri, dan temukan betapa sedikit kebahagiaan yang ada di dalamnya, dan betapa sedikit kebenaran yang telah Anda peroleh dalam pengejaran sia-sia di dunia ini.
Apakah Anda mengingat kisah Solon dan Croesus? Sang raja berkata kepada resi agung itu bahwa Asia Kecil adalah tempat yang sangat berbahagia. Dan resi itu bertanya kepadanya, "Siapakah orang yang paling berbahagia? Saya belum pernah melihat siapa pun yang benar-benar berbahagia." "Omong kosong," kata Croesus, "Sayalah orang yang paling berbahagia di dunia." "Tunggulah, Tuan, hingga akhir hidup Anda; jangan tergesa-gesa," jawab resi itu lalu pergi. Pada akhirnya raja itu ditaklukkan oleh bangsa Persia, dan mereka memerintahkan agar ia dibakar hidup-hidup. Tumpukan kayu pembakaran disiapkan, dan ketika Croesus yang malang melihatnya, ia berseru keras, "Solon! Solon!" Ketika ditanya kepada siapa ia merujuk, ia menceritakan kisahnya, dan kaisar Persia tersentuh, lalu menyelamatkan nyawanya.
Demikianlah kisah hidup masing-masing dari kita; demikianlah dahsyatnya kekuasaan alam atas kita. Alam berulang kali menendang kita menjauh, namun tetap saja kita mengejarnya dengan kegairahan yang demam. Kita selalu berharap melawan harapan; harapan ini, khayalan ini, menggilakan kita; kita selalu mengharapkan kebahagiaan.
Pernah ada seorang raja agung di India kuno yang suatu kali ditanyai empat pertanyaan, salah satunya adalah: "Apakah hal yang paling menakjubkan di dunia?" "Harapan," demikian jawabannya. Inilah hal yang paling menakjubkan. Siang dan malam kita melihat orang-orang mati di sekitar kita, namun kita berpikir bahwa kita tidak akan mati; kita tidak pernah berpikir bahwa kita akan mati, atau bahwa kita akan menderita. Setiap orang berpikir bahwa keberhasilan akan menjadi miliknya, dengan berharap melawan harapan, melawan segala kemungkinan, melawan segala penalaran matematis. Tidak ada seorang pun yang benar-benar berbahagia di sini. Jika seseorang kaya dan memiliki banyak makanan, pencernaannya rusak, dan ia tidak dapat makan. Jika pencernaan seseorang baik, dan ia memiliki daya cerna seperti burung kormoran, ia tidak memiliki apa-apa untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Jika ia kaya, ia tidak memiliki anak. Jika ia lapar dan miskin, ia memiliki sepasukan anak, dan tidak tahu harus berbuat apa terhadap mereka. Mengapa demikian? Sebab kebahagiaan dan kesengsaraan adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama; ia yang mengambil kebahagiaan, harus juga mengambil kesengsaraan. Kita semua memiliki gagasan bodoh ini bahwa kita dapat memiliki kebahagiaan tanpa kesengsaraan, dan gagasan itu telah begitu menguasai kita sehingga kita tidak memiliki kendali atas indra-indra kita.
Ketika saya berada di Boston, seorang pemuda mendatangi saya, dan memberi saya secarik kertas yang di atasnya ia telah menuliskan sebuah nama dan alamat, diikuti kata-kata berikut: "Segala kekayaan dan segala kebahagiaan di dunia ini adalah milik Anda, jika saja Anda tahu cara memperolehnya. Jika Anda datang kepada saya, saya akan mengajarkan Anda cara memperolehnya. Biaya, $5." Ia memberikan ini kepada saya dan berkata, "Apa pendapat Anda tentang ini?" Saya menjawab, "Anak muda, mengapa Anda tidak mencari uang untuk mencetak ini? Anda bahkan tidak punya cukup uang untuk mencetak yang ini!" Ia tidak memahaminya. Ia tergila-gila dengan gagasan bahwa ia dapat memperoleh kekayaan dan kebahagiaan yang luar biasa tanpa kesusahan apa pun. Ada dua ekstrem yang dikejar manusia; yang satu adalah optimisme ekstrem, ketika semuanya tampak cerah, indah, dan baik; yang lain, pesimisme ekstrem, ketika segalanya tampak melawan dirinya. Mayoritas manusia memiliki otak yang kurang lebih belum berkembang. Satu di antara satu juta orang kita lihat memiliki otak yang berkembang dengan baik; sisanya entah memiliki keanehan-keanehan khusus, atau adalah para monomania.
Secara alami kita berlari ke ekstrem-ekstrem. Ketika kita sehat dan muda, kita berpikir bahwa segala kekayaan dunia akan menjadi milik kita, dan ketika belakangan kita ditendang ke sana ke mari oleh masyarakat seperti bola sepak dan menjadi lebih tua, kita duduk di pojok dan menggerutu serta menyiramkan air dingin pada antusiasme orang lain. Sedikit manusia yang tahu bahwa bersama dengan kesenangan ada penderitaan, dan bersama dengan penderitaan ada kesenangan; dan sebagaimana penderitaan menjijikkan, demikian pula kesenangan, sebab ia adalah saudara kembar penderitaan. Sungguh merendahkan kemuliaan manusia jika ia mengejar penderitaan, dan sama-sama merendahkan jika ia mengejar kesenangan. Keduanya harus dikesampingkan oleh orang-orang yang akalnya seimbang. Mengapa manusia tidak mau mencari kebebasan dari kondisi dipermainkan ini? Saat ini kita dicambuk, dan ketika kita mulai menangis, alam memberi kita uang sedolar; sekali lagi kita dicambuk, dan ketika kita menangis, alam memberi kita sepotong roti jahe, dan kita pun mulai tertawa lagi.
Sang resi menginginkan kemerdekaan; ia mendapati bahwa objek-objek indra semuanya sia-sia dan bahwa tidak ada akhir bagi kesenangan dan penderitaan. Betapa banyak orang kaya di dunia ini yang ingin menemukan kesenangan-kesenangan baru! Semua kesenangan telah lama, dan mereka menginginkan yang baru. Tidakkah Anda lihat betapa banyak hal-hal bodoh yang mereka ciptakan setiap hari, hanya untuk menggelitik saraf sejenak, dan setelah itu, betapa muncul suatu reaksi? Mayoritas manusia hanyalah seperti sekawanan domba. Jika domba pemimpin jatuh ke dalam parit, semua yang lain mengikutinya dan mematahkan leher mereka. Demikian pula, apa yang dilakukan oleh seorang anggota pemuka suatu masyarakat, semua yang lain melakukannya, tanpa memikirkan apa yang sedang mereka lakukan. Ketika seseorang mulai melihat kesia-siaan hal-hal duniawi, ia akan merasa bahwa ia tidak seharusnya dipermainkan atau diseret-seret oleh alam seperti itu. Itulah perbudakan. Jika kepada seseorang dikatakan beberapa kata-kata yang baik, ia mulai tersenyum, dan ketika ia mendengar beberapa kata-kata yang kasar, ia mulai menangis. Ia adalah budak kepada sepotong roti, kepada sehela napas udara; budak kepada pakaian, budak kepada patriotisme, kepada negeri, kepada nama, dan kepada ketenaran. Maka, ia berada di tengah-tengah perbudakan, dan manusia sejati telah terkubur di dalamnya, melalui belenggunya. Apa yang Anda sebut manusia adalah seorang budak. Ketika seseorang menyadari seluruh perbudakan ini, datanglah keinginan untuk merdeka; suatu keinginan yang menggebu pun timbul. Jika sebongkah arang yang membara diletakkan di atas kepala seseorang, lihatlah bagaimana ia berjuang melemparkannya. Demikian pula perjuangan untuk kebebasan dari orang yang sungguh-sungguh memahami bahwa dirinya adalah budak alam.
Kita kini telah melihat apa itu Mumukshutva, atau keinginan untuk merdeka. Latihan berikutnya juga merupakan latihan yang sangat sulit. Nityanitya-Viveka — membedakan antara yang sejati dan yang tidak sejati, antara yang kekal dan yang fana. Hanya Tuhan yang kekal, segala yang lain fana. Segala sesuatu mati; para malaikat mati, manusia mati, hewan-hewan mati, bumi-bumi mati, matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya mati; segala sesuatu mengalami perubahan yang terus-menerus. Pegunungan hari ini dahulu adalah samudra kemarin dan akan menjadi samudra esok. Segala sesuatu berada dalam keadaan mengalir. Seluruh alam semesta adalah suatu kumpulan perubahan. Namun ada Yang Satu yang tidak pernah berubah, dan itulah Tuhan; dan semakin dekat kita kepada-Nya, semakin sedikit perubahan bagi kita, semakin sedikit alam dapat mempengaruhi kita; dan ketika kita mencapai-Nya, dan berdiri bersama-Nya, kita akan menaklukkan alam, kita akan menjadi tuan atas fenomena alam, dan semuanya tidak akan berdampak apa pun atas kita.
Anda lihat, jika kita benar-benar telah menjalani disiplin di atas, kita sebenarnya tidak memerlukan apa pun lagi di dunia ini. Seluruh pengetahuan ada di dalam diri kita. Seluruh kesempurnaan sudah ada di dalam jiwa. Akan tetapi, kesempurnaan ini telah ditutupi oleh alam; lapis demi lapis alam menyelubungi kemurnian jiwa ini. Apa yang harus kita lakukan? Sesungguhnya kita tidak mengembangkan jiwa kita sama sekali. Apa yang dapat mengembangkan yang sudah sempurna? Kita hanya menyingkirkan kejahatannya; lalu jiwa memanifestasikan dirinya dalam kemurniannya yang asali, dalam kemerdekaannya yang alami dan bawaan.
Sekarang dimulailah penyelidikan: Mengapa disiplin ini begitu perlu? Sebab agama tidak dicapai melalui telinga, juga tidak melalui mata, juga belum melalui otak. Tidak ada kitab suci yang dapat membuat kita beragama. Kita boleh saja mempelajari seluruh buku yang ada di dunia, namun mungkin tidak memahami sepatah kata pun tentang agama atau Tuhan. Kita boleh saja berbicara sepanjang hidup kita namun tidak menjadi lebih baik karenanya; kita boleh saja menjadi orang yang paling intelektual yang pernah dilihat dunia, namun mungkin tidak akan datang kepada Tuhan sama sekali. Di sisi lain, tidakkah Anda lihat orang-orang tidak beragama yang dihasilkan dari pelatihan paling intelektual sekalipun? Inilah salah satu kejahatan dari peradaban Barat Anda, bahwa Anda hanya mengejar pendidikan intelektual saja, dan tidak memperhatikan hati. Hal itu hanya membuat manusia menjadi sepuluh kali lebih egois, dan itu akan menjadi kehancuran Anda. Ketika ada pertentangan antara hati dan otak, biarlah hati yang diikuti, sebab intelek hanya memiliki satu keadaan, yakni penalaran, dan dalam batas itu intelek bekerja, dan tidak dapat melampauinya. Hatilah yang membawa seseorang ke tataran tertinggi, yang tidak pernah dapat dicapai oleh intelek; hati melampaui intelek, dan mencapai apa yang disebut inspirasi. Intelek tidak akan pernah dapat menjadi terilhami; hanya hati yang ketika diterangi, menjadi terilhami. Seorang yang intelektual tetapi tidak berhati tidak akan pernah menjadi orang yang terilhami. Hatilah yang selalu berbicara dalam diri orang yang penuh cinta; ia menemukan instrumen yang lebih besar daripada yang dapat diberikan intelek kepada Anda, yaitu instrumen inspirasi. Sebagaimana intelek adalah instrumen pengetahuan, demikian pula hati adalah instrumen inspirasi. Dalam keadaan yang lebih rendah, ia adalah instrumen yang jauh lebih lemah daripada intelek. Seorang yang bodoh tidak tahu apa-apa, tetapi ia agak emosional secara kodrati. Bandingkanlah dia dengan seorang profesor besar — alangkah dahsyat kuasa yang dimiliki profesor itu! Akan tetapi, profesor itu terikat oleh inteleknya, dan ia dapat menjadi iblis sekaligus orang yang intelektual; namun orang yang berhati tidak akan pernah dapat menjadi iblis; tidak pernah ada orang yang berperasaan menjadi iblis. Jika dibina dengan benar, hati dapat diubah, dan akan melampaui intelek; ia akan diubah menjadi inspirasi. Pada akhirnya, manusia harus melampaui intelek. Pengetahuan manusia, daya persepsinya, daya penalaran, intelek, dan hatinya, semuanya sibuk mengaduk susu dunia ini. Dari pengadukan yang panjang muncullah mentega, dan mentega ini adalah Tuhan. Orang-orang yang berhati memperoleh "mentega", sedangkan "susu mentega" disisakan bagi para intelektual.
Semua ini adalah persiapan-persiapan bagi hati, bagi cinta itu, bagi simpati yang intens yang berkenaan dengan hati. Sama sekali tidak perlu menjadi terpelajar atau berilmu untuk sampai kepada Tuhan. Seorang resi pernah berkata kepada saya, "Untuk membunuh orang lain, seseorang harus dilengkapi dengan pedang dan perisai, tetapi untuk bunuh diri sebuah jarum sudah cukup; demikian pula untuk mengajar orang lain, dibutuhkan banyak intelek dan ilmu, tetapi tidak demikian untuk pencerahan diri Anda sendiri." Apakah Anda murni? Jika Anda murni, Anda akan mencapai Tuhan. "Berbahagialah mereka yang murni hatinya, sebab mereka akan melihat Tuhan." Jika Anda tidak murni, dan Anda mengenal seluruh ilmu yang ada di dunia, itu tidak akan menolong Anda sama sekali; Anda boleh saja terkubur di dalam seluruh buku yang Anda baca, tetapi itu tidak akan banyak gunanya. Hatilah yang mencapai tujuan. Ikutilah hati. Hati yang murni melihat melampaui intelek; ia menjadi terilhami; ia mengetahui hal-hal yang penalaran tidak akan pernah dapat ketahui, dan setiap kali terjadi pertentangan antara hati yang murni dan intelek, selalulah berpihak pada hati yang murni, sekalipun Anda berpikir bahwa apa yang sedang dilakukan hati Anda tidak masuk akal. Ketika ia menghendaki berbuat baik kepada sesama, otak Anda mungkin mengatakan bahwa hal itu tidak bijaksana untuk dilakukan, namun ikutilah hati Anda, dan Anda akan mendapati bahwa Anda membuat lebih sedikit kekeliruan daripada dengan mengikuti intelek Anda. Hati yang murni adalah cermin terbaik untuk pemantulan kebenaran, maka semua disiplin ini adalah untuk pemurnian hati. Dan begitu ia murni, segala kebenaran akan berkilas dalam sekejap; segala kebenaran di alam semesta akan termanifestasi dalam hati Anda, asalkan Anda cukup murni.
Kebenaran-kebenaran agung tentang atom, dan unsur-unsur yang lebih halus, serta persepsi-persepsi halus manusia, ditemukan berabad-abad yang lampau oleh orang-orang yang tidak pernah melihat sebuah teleskop, sebuah mikroskop, ataupun sebuah laboratorium. Bagaimana mereka mengetahui semua hal itu? Itu melalui hati; mereka memurnikan hati. Terbuka bagi kita untuk melakukan hal yang sama pada hari ini; sesungguhnya kebudayaan hati, dan bukan kebudayaan intelek, yang akan mengurangi kesengsaraan dunia.
Intelek telah dibudidayakan dengan hasil bahwa ratusan ilmu telah ditemukan, dan dampaknya adalah segelintir orang telah menjadikan banyak orang sebagai budak — itulah seluruh kebaikan yang telah dilakukan. Kebutuhan-kebutuhan buatan telah diciptakan; dan setiap orang miskin, baik ia memiliki uang ataupun tidak, ingin agar kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi, dan ketika ia tidak dapat memenuhinya, ia berjuang, dan mati dalam perjuangan itu. Inilah hasilnya. Melalui intelek bukanlah jalan untuk memecahkan persoalan kesengsaraan, melainkan melalui hati. Jika seluruh upaya yang sebesar itu dicurahkan untuk membuat manusia lebih murni, lebih lembut, dan lebih sabar, dunia ini akan memiliki kebahagiaan seribu kali lipat daripada yang dimilikinya hari ini. Selalulah membina hati; melalui hati, Tuhan berbicara, dan melalui intelek, Anda sendirilah yang berbicara.
Anda mengingat dalam Perjanjian Lama ketika kepada Musa dikatakan, "Lepaskanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri ini adalah tanah yang kudus." Kita harus senantiasa mendekati studi agama dengan sikap yang penuh khidmat itu. Ia yang datang dengan hati yang murni dan sikap yang khidmat, hatinya akan terbuka; pintu-pintu akan terbuka baginya, dan ia akan melihat kebenaran.
Jika Anda datang hanya dengan intelek, Anda dapat memperoleh sedikit gimnastik intelektual, teori-teori intelektual, namun bukan kebenaran. Kebenaran memiliki wajah yang sedemikian rupa sehingga siapa pun yang melihat wajah itu menjadi yakin. Matahari tidak memerlukan obor mana pun untuk menampakkan dirinya; matahari bersinar dengan sendirinya. Jika kebenaran memerlukan bukti, apa yang akan membuktikan bukti itu? Jika sesuatu diperlukan sebagai saksi bagi kebenaran, di manakah saksi bagi saksi itu? Kita harus mendekati agama dengan khidmat dan dengan cinta, dan hati kita akan bangkit serta berkata, ini adalah kebenaran, dan ini adalah ketidakbenaran.
Ranah agama berada di luar indra kita, bahkan di luar kesadaran kita. Kita tidak dapat menginderakan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Tuhan dengan matanya, atau akan pernah melihat-Nya; tidak ada seorang pun yang memiliki Tuhan dalam kesadarannya. Saya tidak menyadari Tuhan, demikian pula Anda, demikian pula siapa pun. Di manakah Tuhan? Di manakah ranah agama? Ia berada di luar indra, di luar kesadaran. Kesadaran hanyalah salah satu dari banyak tataran tempat kita bekerja; Anda harus melampaui ranah kesadaran, melampaui indra, mendekat dan semakin mendekat kepada pusat Anda sendiri, dan saat Anda berbuat demikian, Anda akan semakin mendekat kepada Tuhan. Apakah pembuktian akan Tuhan? Persepsi langsung, yaitu Pratyaksha. Pembuktian akan dinding ini adalah bahwa saya mempersepsikannya. Tuhan telah dipersepsikan dengan cara itu oleh ribuan orang sebelumnya, dan akan dipersepsikan oleh semua orang yang ingin mempersepsikan-Nya. Akan tetapi, persepsi ini sama sekali bukan persepsi indra; ia adalah suprasensual, suprasadar, dan seluruh pelatihan ini diperlukan untuk membawa kita melampaui indra. Melalui beraneka rupa kerja masa lalu dan ikatan-ikatan, kita sedang diseret ke bawah; persiapan-persiapan ini akan membuat kita murni dan ringan. Ikatan-ikatan akan terlepas dengan sendirinya, dan kita akan terangkat melampaui tataran persepsi indra yang membelenggu kita ini, dan kemudian kita akan melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang oleh manusia dalam tiga keadaan biasa (yaitu jaga, mimpi, dan tidur) tidak dirasakan, tidak dilihat, dan tidak didengar. Kemudian kita akan berbicara seolah-olah dalam bahasa yang asing, dan dunia tidak akan memahami kita, sebab dunia tidak mengenal apa pun selain indra. Agama yang sejati sepenuhnya bersifat transendental. Setiap makhluk yang ada di alam semesta memiliki potensi untuk melampaui indra; bahkan ulat kecil pun pada suatu hari akan melampaui indra dan mencapai Tuhan. Tidak ada kehidupan yang akan menjadi suatu kegagalan; tidak ada yang bernama kegagalan di alam semesta. Seratus kali manusia akan melukai dirinya sendiri, seribu kali ia akan tersandung, tetapi pada akhirnya ia akan menyadari bahwa ia adalah Tuhan. Kita tahu tidak ada kemajuan yang bergerak dalam garis lurus. Setiap jiwa bergerak, seolah-olah, dalam suatu lingkaran, dan harus menyelesaikan lingkaran itu, dan tidak ada jiwa yang dapat turun begitu rendah tanpa akan tiba suatu waktu ketika ia harus naik kembali. Tidak ada seorang pun yang akan tersesat. Kita semua diproyeksikan dari satu pusat bersama, yang adalah Tuhan. Kehidupan yang tertinggi maupun yang terendah yang pernah Tuhan proyeksikan akan kembali kepada Bapa dari seluruh kehidupan. "Dari Dia segala makhluk diproyeksikan, di dalam Dia semua hidup, dan kepada Dia semua kembali; itulah Tuhan."
English
Steps To Realisation
(A class-lecture delivered in America)
First among the qualifications required of the aspirant for Jnâna, or wisdom, come Shama and Dama, which may be taken together. They mean the keeping of the organs in their own centres without allowing them to stray out. I shall explain to you first what the word "organ" means. Here are the eyes; the eyes are not the organs of vision but only the instruments. Unless the organs also are present, I cannot see, even if I have eyes. But, given both the organs and the instruments, unless the mind attaches itself to these two, no vision takes place. So, in each act of perception, three things are necessary — first, the external instruments, then, the internal organs, and lastly, the mind. If any one of them be absent, then there will be no perception. Thus the mind acts through two agencies —one external, and the other internal. When I see things, my mind goes out, becomes externalised; but suppose I close my eyes and begin to think, the mind does not go out, it is internally active. But, in either case, there is activity of the organs. When I look at you and speak to you, both the organs and the instruments are active. When I close my eyes and begin to think, the organs are active, but not the instruments. Without the activity of these organs, there will be no thought. You will find that none of you can think without some symbol. In the case of the blind man, he has also to think through some figure. The organs of sight and hearing are generally very active. You must bear in mind that by the word "organ" is meant the nerve centre in the brain. The eyes and ears are only the instruments of seeing and hearing, and the organs are inside. If the organs are destroyed by any means, even if the eyes or the ears be there, we shall not see or hear. So in order to control the mind, we must first be able to control these organs. To restrain the mind from wandering outward or inward, and keep the organs in their respective centres, is what is meant by the words Shama and Dama. Shama consists in not allowing the mind to externalise, and Dama, in checking the external instruments.
Now comes Uparati which consists in not thinking of things of the senses. Most of our time is spent in thinking about sense-objects, things which we have seen, or we have heard, which we shall see or shall hear, things which we have eaten, or are eating, or shall eat, places where we have lived, and so on. We think of them or talk of them most of our time. One who wishes to be a Vedantin must give up this habit.
Then comes the next preparation (it is a hard task to be a philosopher!), Titikshâ, the most difficult of all. It is nothing less than the ideal forbearance — "Resist not evil." This requires a little explanation. We may not resist an evil, but at the same time we may feel very miserable. A man may say very harsh things to me, and I may not outwardly hate him for it, may not answer him back, and may restrain myself from apparently getting angry, but anger and hatred may be in my mind, and I may feel very badly towards that man. That is not non-resistance; I should be without any feeling of hatred or anger, without any thought of resistance; my mind must then be as calm as if nothing had happened. And only when I have got to that state, have I attained to non-resistance, and not before. Forbearance of all misery, without even a thought of resisting or driving it out, without even any painful feeling in the mind, or any remorse — this is Titiksha. Suppose I do not resist, and some great evil comes thereby; if I have Titiksha, I should no feel any remorse for not having resisted. When the mind has attained to that state, it has become established in Titiksha. People in India do extraordinary things in order to practice this Titiksha. They bear tremendous heat and cold without caring, they do not even care for snow, because they take no thought for the body; it is left to itself, as if it were a foreign thing.
The next qualification required is Shraddhâ, faith. One must have tremendous faith in religion and God. Until one has it, one cannot aspire to be a Jnâni. A great sage once told me that not one in twenty millions in this world believed in God. I asked him why, and he told me, "Suppose there is a thief in this room, and he gets to know that there is a mass of gold in the next room, and only a very thin partition between the two rooms; what will be the condition of that thief?" I answered, "He will not be able to sleep at all; his brain will be actively thinking of some means of getting at the gold, and he will think of nothing else." Then he replied, "Do you believe that a man could believe in God and not go mad to get him? If a man sincerely believes that there is that immense, infinite mine of Bliss, and that It can be reached, would not that man go mad in his struggle to reach it ?" Strong faith in God and the consequent eagerness to reach Him constitute Shraddha.
Then comes Samâdhâna, or constant practice, to hold the mind in God. Nothing is done in a day. Religion cannot be swallowed in the form of a pill. It requires hard and constant practice. The mind can be conquered only by slow and steady practice.
Next is Mumukshutva, the intense desire to be free. Those of you who have read Edwin Arnold's Light of Asia remember his translation of the first sermon of Buddha, where Buddha says,
Ye suffer from yourselves. None else compels.
None other holds you that ye live and die,
And whirl upon the wheel, and hug and kiss
Its spokes of agony,
Its tire of tears, its nave of nothingness.
Ye suffer from yourselves. None else compels.
None other holds you that ye live and die,
And whirl upon the wheel, and hug and kiss
Its spokes of agony,
Its tire of tears, its nave of nothingness.
All the misery we have is of our own choosing; such is our nature. The old Chinaman, who having been kept in prison for sixty years was released on the coronation of a new emperor, exclaimed, when he came out, that he could not live; he must go back to his horrible dungeon among the rats and mice; he could not bear the light. So he asked them to kill him or send him back to the prison, and he was sent back. Exactly similar is the condition of all men. We run headlong after all sorts of misery, and are unwilling to be freed from them. Every day we run after pleasure, and before we reach it, we find it is gone, it has slipped through our fingers. Still we do not cease from our mad pursuit, but on and on we go, blinded fools that we are.
In some oil mills in India, bullocks are used that go round and round to grind the oil-seed. There is a yoke on the bullock's neck. They have a piece of wood protruding from the yoke, and on that is fastened a wisp of straw. The bullock is blindfolded in such a way that it can only look forward, and so it stretches its neck to get at the straw; and in doing so, it pushes the piece of wood out a little further; and it makes another attempt with the same result, and yet another, and so on. It never catches the straw, but goes round and round in the hope of getting it, and in so doing, grinds out the oil. In the same way you and I who are born slaves to nature, money and wealth, wives and children, are always chasing a wisp of straw, a mere chimera, and are going through an innumerable round of lives without obtaining what we seek. The great dream is love; we are all going to love and be loved, we are all going to be happy and never meet with misery, but the more we go towards happiness, the more it goes away from us. Thus the world is going on, society goes on, and we, blinded slaves, have to pay for it without knowing. Study your own lives, and find how little of happiness there is in them, and how little in truth you have gained in the course of this wild-goose chase of the world.
Do you remember the story of Solon and Croesus? The king said to the great sage that Asia Minor was a very happy place. And the sage asked him, "Who is the happiest man? I have not seen anyone very happy." "Nonsense," said Croesus, "I am the happiest man in the world." "Wait, sir, till the end of your life; don't be in a hurry," replied the sage and went away. In course of time that king was conquered by the Persians, and they ordered him to be burnt alive. The funeral pyre was prepared and when poor Croesus saw it, he cried aloud "Solon! Solon!" On being asked to whom he referred, he told his story, and the Persian emperor was touched, and saved his life.
Such is the life-story of each one of us; such is the tremendous power of nature over us. It repeatedly kicks us away, but still we pursue it with feverish excitement. We are always hoping against hope; this hope, this chimera maddens us; we are always hoping for happiness.
There was a great king in ancient India who was once asked four questions, of which one was: "What is the most wonderful thing in the world?" "Hope," was the answer. This is the most wonderful thing. Day and nights we see people dying around us, and yet we think we shall not die; we never think that we shall die, or that we shall suffer. Each man thinks that success will be his, hoping against hope, against all odds, against all mathematical reasoning. Nobody is ever really happy here. If a man be wealthy and have plenty to eat, his digestion is: out of order, and he cannot eat. If a man's digestion be good, and he have the digestive power of a cormorant, he has nothing to put into his mouth. If he be rich, he has no children. If he be hungry and poor, he has a whole regiment of children, and does not know what to do with them. Why is it so? Because happiness and misery are the obverse and reverse of the same coin; he who takes happiness, must take misery also. We all have this foolish idea that we can have happiness without misery, and it has taken such possession of us that we have no control over the senses.
When I was in Boston, a young man came up to me, and gave me a scrap of paper on which he had written a name and address, followed by these words: "All the wealth and all the happiness of the world are yours, if you only know how to get them. If you come to me, I will teach you how to get them. Charge, $ 5." He gave me this and said, "What do you think of this?" I said, "Young man, why don't you get the money to print this? You have not even enough money to get this printed !" He did not understand this. He was infatuated with the idea that he could get immense wealth and happiness without any trouble. There are two extremes into which men are running; one is extreme optimism, when everything is rosy and nice and good; the other, extreme pessimism, when everything seems to be against them. The majority of men have more or less undeveloped brains. One in a million we see with a well-developed brain; the rest either have peculiar idiosyncrasies, or are monomaniacs.
Naturally we run into extremes. When we are healthy and young, we think that all the wealth of the world will be ours, and when later we get kicked about by society like footballs and get older, we sit in a corner and croak and throw cold water on the enthusiasm of others. Few men know that with pleasure there is pain, and with pain, pleasure; and as pain is disgusting, so is pleasure, as it is the twin brother of pain. It is derogatory to the glory of man that he should be going after pain, and equally derogatory, that he should be going after pleasure. Both should be turned aside by men whose reason is balanced. Why will not men seek freedom from being played upon? This moment we are whipped, and when we begin to weep, nature gives us a dollar; again we are whipped, and when we weep, nature gives us a piece of ginger-bread, and we begin to laugh again.
The sage wants liberty; he finds that sense-objects are all vain and that there is no end to pleasures and pains. How many rich people in the world want to find fresh pleasures! All pleasures are old, and they want new ones. Do you not see how many foolish things they are inventing every day, just to titillate the nerves for a moment, and that done, how there comes a reaction? The majority of people are just like a flock of sheep. If the leading sheep falls into a ditch, all the rest follow and break their necks. In the same way, what one leading member of a society does, all the others do, without thinking what they are doing. When a man begins to see the vanity of worldly things, he will feel he ought not to be thus played upon or borne along by nature. That is slavery. If a man has a few kind words said to him, he begins to smile, and when he hears a few harsh words, he begins to weep. He is a slave to a bit of bread, to a breath of air; a slave to dress, a slave to patriotism, to country, to name, and to fame. He is thus in the midst of slavery and the real man has become buried within, through his bondage. What you call man is a slave. When one realises all this slavery, then comes the desire to be free; an intense desire comes. If a piece of burning charcoal be placed on a man's head, see how he struggles to throw it off. Similar will be the struggles for freedom of a man who really understands that he is a slave of nature.
We have now seen what Mumukshutva, or the desire to be free, is. The next training is also a very difficult one. Nityânitya-Viveka — discriminating between that which is true and that which is untrue, between the eternal and the transitory. God alone is eternal, everything else is transitory. Everything dies; the angels die, men die, animals die, earths die, sun, moon, and stars, all die; everything undergoes constant change. The mountains of today were the oceans of yesterday and will be oceans tomorrow. Everything is in a state of flux. The whole universe is a mass of change. But there is One who never changes, and that is God; and the nearer we get to Him, the less will be the change for us, the less will nature be able to work on us; and when we reach Him, and stand with Him, we shall conquer nature, we shall be masters of phenomena of nature, and they will have no effect on us.
You see, if we really have undergone the above discipline, we really do not require anything else in this world. All knowledge is within us. All perfection is there already in the soul. But this perfection has been covered up by nature; layer after layer of nature is covering this purity of the soul. What have we to do? Really we do not develop our souls at all. What can develop the perfect? We simply take the evil off; and the soul manifests itself in its pristine purity, its natural, innate freedom.
Now begins the inquiry: Why is this discipline so necessary? Because religion is not attained through the ears, nor through the eyes, nor yet through the brain. No scriptures can make us religious. We may study all the books that are in the world, yet we may not understand a word of religion or of God. We may talk all our lives and yet may not be the better for it; we may be the most intellectual people the world ever saw, and yet we may not come to God at all. On the other hand, have you not seen what irreligious men have been produced from the most intellectual training? It is one of the evils of your Western civilisation that you are after intellectual education alone, and take no care of the heart. It only makes men ten times more selfish, and that will be your destruction. When there is conflict between the heart and the brain, let the heart be followed, because intellect has only one state, reason, and within that, intellect works, and cannot get beyond. It is the heart which takes one to the highest plane, which intellect can never reach; it goes beyond intellect, and reaches to what is called inspiration. Intellect can never become inspired; only the heart when it is enlightened, becomes inspired. An intellectual, heartless man never becomes an inspired man. It is always the heart that speaks in the man of love; it discovers a greater instrument than intellect can give you, the instrument of inspiration. Just as the intellect is the instrument of knowledge, so is the heart the instrument of inspiration. In a lower state it is a much weaker instrument than intellect. An ignorant man knows nothing, but he is a little emotional by nature. Compare him with a great professor — what wonderful power the latter possesses! But the professor is bound by his intellect, and he can be a devil and an intellectual man at the same time; but the man of heart can never be a devil; no man with emotion was ever a devil. Properly cultivated, the heart can be changed, and will go beyond intellect; it will be changed into inspiration. Man will have to go beyond intellect in the end. The knowledge of man, his powers of perception, of reasoning and intellect and heart, all are busy churning this milk of the world. Out of long churning comes butter, and this butter is God. Men of heart get the "butter", and the "buttermilk" is left for the intellectual.
These are all preparations for the heart, for that love, for that intense sympathy appertaining to the heart. It is not at all necessary to be educated or learned to get to God. A sage once told me, "To kill others one must be equipped with swords and shields, but to commit suicide a needle is sufficient; so to teach others, much intellect and learning are necessary, but not so for your own self-illumination." Are on pure? If you are pure, you will reach God. "Blessed are the pure in heart, for they shall see God." If you are not pure, and you know all the sciences in the world, that will not help you at all; you may be buried in all the books you read, but that will not be of much use. It is the heart that reaches the goal. Follow the heart. A pure heart sees beyond the intellect; it gets inspired; it knows things that reason can never know, and whenever there is conflict between the pure heart and the intellect, always side with the pure heart, even if you think what your heart is doing is unreasonable. When it is desirous of doing good to others, your brain may tell you that it is not politic to do so, but follow your heart, and you will find that you make less mistakes than by following your intellect. The pure heart is the best mirror for the reflection of truth, so all these disciplines are for the purification of the heart. And as soon as it is pure, all truths flash upon it in a minute; all truth in the universe will manifest in your heart, if you are sufficiently pure.
The great truths about atoms, and the finer elements, and the fine perceptions of men, were discovered ages ago by men who never saw a telescope, or a microscope, or a laboratory. How did they know all these things? It was through the heart; they purified the heart. It is open to us to do the same today; it is the culture of the heart, really, and not that of the intellect that will lessen the misery of the world.
Intellect has been cultured with the result that hundreds of sciences have been discovered, and their effect has been that the few have made slaves of the many — that is all the good that has been done. Artificial wants have been created; and every poor man, whether he has money or not, desires to have those wants satisfied, and when he cannot, he struggles, and dies in the struggle. This is the result. Through the intellect is not the way to solve the problem of misery, but through the heart. If all this vast amount of effort had been spent in making men purer, gentler, more forbearing, this world would have a thousandfold more happiness than it has today. Always cultivate the heart; through the heart the Lord speaks, and through the intellect you yourself speak.
You remember in the Old Testament where Moses was told, "Take off thy shoes from off thy feet, for the place whereon thou standest is holy ground." We must always approach the study of religion with that reverent attitude. He who comes with a pure heart and a reverent attitude, his heart will be opened; the doors will open for him, and he will see the truth.
If you come with intellect only, you can have a little intellectual gymnastics, intellectual theories, but not truth. Truth has such a face that any one who sees that face becomes convinced. The sun does not require any torch to show it; the sun is self-effulgent. If truth requires evidence, what will evidence that evidence? If something is necessary as witness for truth, where is the witness for that witness? We must approach religion with reverence and with love, and our heart will stand up and say, this is truth, and this is untruth.
The field of religion is beyond our senses, beyond even our consciousness. We cannot sense God. Nobody has seen God with his eyes or ever will see; nobody has God in his consciousness. I am not conscious of God, nor you, nor anybody. Where is God? Where is the field of religion? It is beyond the senses, beyond consciousness. Consciousness is only one of the many planes in which we work; you will have to transcend the field of consciousness, to go beyond the senses, approach nearer and nearer to your own centre, and as you do that, you will approach nearer and nearer to God. What is the proof of God? Direct perception, Pratyaksha. The proof of this wall is that I perceive it. God has been perceived that way by thousands before, and will be perceived by all who want to perceive Him. But this perception is no sense-perception at all; it is supersensuous, superconscious, and all this training is needed to take us beyond the senses. By means of all sorts of past work and bondages we are being dragged downwards; these preparations will make us pure and light. Bondages will fall off by themselves, and we shall be buoyed up beyond this plane of sense-perception to which we are tied down, and then we shall see, and hear, and feel things which men in the three ordinary states (viz waking, dream, and sleep) neither feel, nor see, nor hear. Then we shall speak a strange language, as it were, and the world will not understand us, because it does not know anything but the senses. True religion is entirely transcendental. Every being that is in the universe has the potentiality of transcending the senses; even the little worm will one day transcend the senses and reach God. No life will be a failure; there is no such thing as failure in the universe. A hundred times man will hurt himself, a thousand times he will tumble, but in the end he will realise that he is God. We know there is no progress in a straight line. Every soul moves, as it were, in a circle, and will have to complete it, and no soul can go so low but there will come a time when it will have to go upwards. No one will be lost. We are all projected from one common centre, which is God. The highest as well as the lowest life God ever projected, will come back to the Father of all lives. "From whom all beings are projected, in whom all live, and unto whom they all return; that is God."
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.