Arsip Vivekananda

Tahap-tahap Pemikiran Filsafat Hindu

Jilid1 lecture
4,370 kata · 17 menit baca · Lectures and Discourses

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

Tahapan-Tahapan Pemikiran Filsafat Hindu

Kelompok pertama gagasan keagamaan yang kita lihat muncul — maksud saya gagasan keagamaan yang diakui, dan bukan gagasan-gagasan yang sangat rendah, yang tidak layak disebut agama — semuanya mencakup gagasan tentang ilham dan kitab-kitab wahyu serta sebagainya. Kelompok pertama gagasan keagamaan dimulai dengan gagasan tentang Tuhan. Inilah alam semesta, dan alam semesta ini diciptakan oleh suatu Wujud tertentu. Segala yang ada di dalam alam semesta ini telah diciptakan oleh-Nya. Bersamaan dengan itu, pada tahap selanjutnya, datanglah gagasan tentang jiwa — bahwa ada tubuh ini, dan ada sesuatu di dalam tubuh ini yang bukan tubuh. Inilah gagasan agama paling primitif yang kita kenal. Kita dapat menemukan beberapa pengikutnya di India, tetapi gagasan itu telah ditinggalkan sejak sangat awal. Agama-agama India memiliki titik tolak yang khas. Hanya dengan analisis yang ketat, serta banyak perhitungan dan dugaan, kita dapat berpikir bahwa tahap itu pernah ada dalam agama-agama India. Keadaan nyata yang kita dapati pada agama-agama itu adalah tahap berikutnya, bukan tahap pertama. Pada tahap paling awal, gagasan tentang penciptaan sangatlah khas, yakni bahwa seluruh alam semesta diciptakan dari nol, atas kehendak Tuhan; bahwa semua alam semesta ini dahulunya tidak ada, dan dari ketiadaan inilah semuanya muncul. Pada tahap berikutnya kita mendapati bahwa kesimpulan ini dipertanyakan. Bagaimana keberadaan dapat dihasilkan dari ketiadaan? Pada langkah pertama dalam Vedanta (tradisi filsafat Vedanta) pertanyaan ini diajukan. Jika alam semesta ini ada, ia pasti berasal dari sesuatu, sebab sangatlah mudah untuk melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang muncul dari ketiadaan, di mana pun. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh tangan manusia memerlukan bahan. Jika sebuah rumah dibangun, bahannya sudah ada sebelumnya; jika sebuah perahu dibuat, bahannya sudah ada sebelumnya; jika sebuah alat dibuat, bahannya sudah ada sebelumnya. Demikianlah akibat itu dihasilkan. Oleh karena itu, secara alami, gagasan pertama bahwa dunia ini diciptakan dari ketiadaan ditolak, dan diperlukan suatu bahan yang darinya dunia ini diciptakan. Seluruh sejarah agama, sesungguhnya, adalah pencarian akan bahan itu.

Dari apakah semua ini dihasilkan? Lepas dari pertanyaan tentang sebab yang berdaya, atau Tuhan, lepas dari pertanyaan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, pertanyaan terbesar di antara semua pertanyaan adalah: Dari apakah Dia menciptakannya? Semua filsafat, seakan-akan, berputar pada pertanyaan ini. Salah satu pemecahannya adalah bahwa alam, Tuhan, dan jiwa adalah keberadaan-keberadaan yang kekal, seakan-akan tiga garis berjalan sejajar untuk selama-lamanya, yang mana alam dan jiwa membentuk apa yang mereka sebut yang bergantung, dan Tuhan adalah Realitas yang mandiri. Setiap jiwa, seperti setiap partikel materi, sepenuhnya bergantung pada kehendak Tuhan. Sebelum beranjak ke tahap-tahap berikutnya, kita akan membahas gagasan tentang jiwa, dan kemudian akan kita dapati bahwa pada semua filsuf Vedanta, terdapat satu penyimpangan besar dari seluruh filsafat Barat. Mereka semua memiliki psikologi yang sama. Apa pun filsafat mereka, psikologi mereka sama di India, yaitu psikologi Samkhya kuno. Menurut psikologi ini, persepsi terjadi melalui transmisi getaran yang pertama-tama datang ke organ indra luar, dari organ luar ke organ dalam, dari organ dalam ke pikiran (manas), dari pikiran ke Buddhi (intelek pembeda), dari Buddhi atau intelek ke sesuatu yang merupakan suatu kesatuan, yang mereka sebut Atman (Diri sejati). Beralih ke fisiologi modern, kita tahu bahwa ia telah menemukan pusat-pusat untuk segala macam sensasi. Pertama-tama ia menemukan pusat-pusat yang lebih rendah, kemudian tingkatan pusat-pusat yang lebih tinggi, dan kedua pusat ini persis berpadanan dengan organ-organ dalam dan pikiran, tetapi tidak satu pun pusat ditemukan yang mengendalikan semua pusat lain. Maka fisiologi tidak dapat menjelaskan apa yang menyatukan semua pusat ini. Di manakah pusat-pusat itu disatukan? Pusat-pusat di otak semuanya berbeda, dan tidak ada satu pusat pun yang mengendalikan semua pusat lain; oleh karena itu, sejauh ini, psikologi India berdiri tak tertandingi pada titik ini. Kita harus memiliki penyatuan ini, sesuatu yang padanya sensasi-sensasi akan dipantulkan, untuk membentuk suatu keseluruhan yang utuh. Sampai ada sesuatu itu, saya tidak dapat memiliki gambaran apa pun tentang Anda, atau sebuah lukisan, atau hal lainnya. Seandainya kita tidak memiliki sesuatu yang menyatukan itu, kita hanya akan melihat, lalu setelah beberapa saat bernapas, lalu mendengar, dan seterusnya, dan ketika saya mendengar seseorang berbicara, saya sama sekali tidak akan melihatnya, sebab semua pusat itu berbeda.

Tubuh ini terbuat dari partikel-partikel yang kita sebut materi, dan ia tumpul serta tak berkesadaran. Demikian pula yang oleh para penganut Vedanta disebut tubuh halus. Tubuh halus, menurut mereka, adalah tubuh yang material tetapi tembus pandang, terbuat dari partikel-partikel yang sangat halus, sedemikian halusnya sehingga tak ada mikroskop yang dapat melihatnya. Apakah kegunaannya? Ia adalah penampung daya-daya yang halus. Sebagaimana tubuh kasar ini adalah penampung daya-daya yang kasar, demikian pula tubuh halus adalah penampung daya-daya halus, yang kita sebut pikiran, dalam berbagai modifikasinya. Pertama adalah tubuh, yang merupakan materi kasar, dengan daya kasar. Daya tidak dapat ada tanpa materi. Ia memerlukan suatu materi untuk ada, sehingga daya-daya yang lebih kasar bekerja dalam tubuh; dan daya-daya yang sama itu menjadi lebih halus; daya yang bekerja dalam bentuk kasar, bekerja dalam bentuk halus, dan menjadi pikiran. Tidak ada perbedaan antara keduanya, hanya saja yang satu adalah manifestasi kasar dan yang lain manifestasi halus dari hal yang sama. Juga tidak ada perbedaan antara tubuh halus ini dan tubuh kasar. Tubuh halus juga material, hanya saja materi yang sangat halus; dan sebagaimana tubuh kasar ini adalah alat yang menjalankan daya-daya kasar, demikian pula tubuh halus adalah alat yang menjalankan daya-daya halus. Dari mana datangnya semua daya ini? Menurut filsafat Vedanta, ada dua hal di alam, yang satu mereka sebut Akasha, yaitu substansi, yang luar biasa halus, dan yang lainnya mereka sebut prana (napas/daya hidup), yaitu daya. Apa pun yang Anda lihat, atau rasakan, atau dengar, sebagai udara, bumi, atau apa pun, adalah material — hasil dari Akasha. Ia terus berlanjut dan menjadi semakin halus atau semakin kasar, berubah di bawah tindakan Prana. Seperti Akasha, Prana ada di mana-mana, dan menembus segala sesuatu. Akasha bagaikan air, dan segala yang lain di alam semesta bagaikan bongkahan-bongkahan es, yang dibuat dari air itu, dan terapung di atas air, sedangkan Prana adalah kekuatan yang mengubah Akasha ini menjadi semua bentuk yang beraneka ragam. Tubuh kasar adalah alat yang terbuat dari Akasha, untuk perwujudan Prana dalam bentuk-bentuk kasar, seperti gerakan otot, atau berjalan, duduk, berbicara, dan sebagainya. Tubuh halus juga terbuat dari Akasha, suatu bentuk Akasha yang sangat halus, untuk perwujudan Prana yang sama dalam bentuk pikiran yang lebih halus. Maka, pertama-tama ada tubuh kasar ini. Di luar itu ada tubuh halus, dan di luar itu ada jiva (jiwa individu), manusia yang sesungguhnya. Sebagaimana kuku dapat dipotong berkali-kali namun tetap merupakan bagian dari tubuh kita, bukan sesuatu yang berbeda, demikian pula hubungan tubuh kasar kita dengan tubuh halus. Bukan berarti seorang manusia memiliki tubuh halus dan juga tubuh kasar; hanya ada satu tubuh saja, bagian yang lebih lama bertahan adalah tubuh halus, dan yang lebih cepat lebur adalah tubuh kasar. Sebagaimana saya dapat memotong kuku ini berkali-kali, demikian pula, jutaan kali saya dapat menanggalkan tubuh kasar ini, tetapi tubuh halus akan tetap ada. Menurut para penganut dualisme, jiva atau manusia sejati ini sangat halus, sangat kecil.

Sejauh ini kita melihat bahwa manusia adalah suatu wujud, yang pertama-tama memiliki tubuh kasar yang sangat cepat lebur, kemudian tubuh halus yang bertahan selama berzaman-zaman, dan kemudian jiva. Jiva ini, menurut filsafat Vedanta, adalah kekal, sebagaimana Tuhan adalah kekal. Alam pun kekal, tetapi kekal dengan perubahan. Bahan alam — Prana dan Akasha — adalah kekal, tetapi ia selalu berubah menjadi bentuk-bentuk yang berbeda untuk selama-lamanya. Akan tetapi jiva tidak terbuat dari Akasha maupun Prana; ia bersifat tak material dan, oleh karena itu, akan tetap ada selama-lamanya. Ia bukan hasil dari penggabungan Prana dan Akasha mana pun, dan apa pun yang bukan hasil penggabungan tidak akan pernah dihancurkan, sebab penghancuran berarti kembali ke sebab-sebabnya. Tubuh kasar adalah gabungan Akasha dan Prana, dan oleh karena itu, akan terurai. Tubuh halus pun akan terurai, setelah waktu yang sangat lama, tetapi jiva itu tunggal dan tidak akan pernah dihancurkan. Ia juga tidak pernah dilahirkan, dengan alasan yang sama. Tidak ada yang tunggal dapat dilahirkan. Argumen yang sama berlaku. Hanya yang merupakan gabungan saja yang dapat dilahirkan. Seluruh alam yang mencakup berjuta-juta jiwa berada di bawah kehendak Tuhan. Tuhan meliputi segalanya, mahatahu, tanpa bentuk, dan Dia bekerja melalui alam siang dan malam. Semuanya berada di bawah kendali-Nya. Dia adalah Penguasa kekal. Demikianlah kata para penganut dualisme. Lalu muncul pertanyaan: Jika Tuhan adalah penguasa alam semesta ini, mengapa Dia menciptakan alam semesta yang demikian jahat, mengapa kita harus menderita begitu banyak? Mereka mengatakan, itu bukan kesalahan Tuhan. Itu adalah kesalahan kita sendiri bahwa kita menderita. Apa pun yang kita tabur, itu yang kita tuai. Dia tidak melakukan apa pun untuk menghukum kita. Manusia dilahirkan miskin, atau buta, atau dalam keadaan lain. Apa sebabnya? Ia telah berbuat sesuatu sebelumnya, ia dilahirkan demikian. Jiva telah ada sepanjang masa, tidak pernah diciptakan. Ia telah melakukan segala macam hal sepanjang waktu. Apa pun yang kita lakukan akan kembali bereaksi terhadap kita. Jika kita berbuat baik, kita akan memperoleh kebahagiaan, dan jika berbuat jahat, kesengsaraan. Demikianlah jiva terus menikmati dan menderita, serta melakukan segala macam hal.

Apa yang terjadi setelah kematian? Semua filsuf Vedanta ini mengakui bahwa jiva ini pada kodratnya adalah suci. Namun ketidaktahuan menyelubungi kodrat sejatinya, kata mereka. Sebagaimana melalui perbuatan jahat ia telah menyelubungi dirinya dengan ketidaktahuan, demikian pula melalui perbuatan baik ia kembali menyadari kodratnya sendiri. Sebagaimana ia kekal, demikian pula kodratnya suci. Kodrat setiap makhluk adalah suci.

Apabila melalui perbuatan-perbuatan baik segala dosa dan kesalahannya telah dibersihkan, maka jiva menjadi suci kembali, dan apabila ia menjadi suci, ia pergi ke apa yang disebut Devayana. Organ wicaranya masuk ke dalam pikiran. Anda tidak dapat berpikir tanpa kata-kata. Di mana pun ada pikiran, di situ pasti ada kata-kata. Sebagaimana kata-kata masuk ke dalam pikiran, demikian pula pikiran melebur ke dalam Prana, dan Prana ke dalam jiva. Kemudian jiva dengan cepat keluar dari tubuh, dan pergi ke kawasan matahari. Alam semesta ini memiliki lapisan demi lapisan. Bumi ini adalah lapisan dunia, yang di dalamnya ada bulan, matahari, dan bintang-bintang. Di luar itu ada lapisan matahari, dan di luar itu ada lapisan lain yang mereka sebut lapisan bulan. Di luar itu ada lapisan yang mereka sebut lapisan kilat, lapisan elektrik, dan apabila jiva pergi ke sana, datanglah jiva lain, yang sudah sempurna, untuk menyambutnya, lalu membawanya ke dunia lain, surga tertinggi, yang disebut Brahmaloka, tempat jiva itu hidup kekal, tidak lagi dilahirkan atau mati. Ia menikmati sepanjang kekekalan, dan memperoleh segala macam kuasa, kecuali kuasa untuk mencipta. Hanya ada satu penguasa alam semesta, yaitu Tuhan. Tidak seorang pun dapat menjadi Tuhan; para penganut dualisme menegaskan bahwa jika Anda berkata Anda adalah Tuhan, itu adalah penghujatan. Semua kuasa kecuali kuasa mencipta datang kepada jiva, dan jika ia ingin memiliki tubuh, serta bekerja di berbagai bagian dunia, ia dapat melakukannya. Jika ia memerintahkan semua dewa untuk datang kepadanya, jika ia menginginkan para leluhurnya datang, mereka semua muncul atas perintahnya. Demikianlah kuasanya sehingga ia tidak pernah lagi merasakan sakit apa pun, dan jika ia mau, ia dapat hidup di Brahmaloka sepanjang kekekalan. Inilah manusia tertinggi, yang telah memperoleh kasih kepada Tuhan, yang telah menjadi sepenuhnya tidak mementingkan diri sendiri, sepenuhnya disucikan, yang telah melepaskan semua keinginan, dan yang tidak menginginkan apa pun selain memuja dan mencintai Tuhan.

Ada yang lain yang tidak setinggi itu, yang melakukan perbuatan baik, tetapi menginginkan suatu imbalan. Mereka berkata mereka akan memberi sekian banyak kepada orang miskin, tetapi sebagai gantinya ingin pergi ke surga. Ketika mereka mati, apa jadinya mereka? Wicara masuk ke dalam pikiran, pikiran masuk ke dalam Prana, Prana masuk ke dalam jiva, dan jiva keluar, lalu pergi ke lapisan bulan, tempat ia bersenang-senang untuk waktu yang sangat lama. Di sana ia menikmati kebahagiaan, selama efek dari perbuatan baiknya bertahan. Apabila yang demikian telah habis, ia turun, dan sekali lagi memasuki kehidupan di bumi sesuai dengan keinginannya. Di lapisan bulan, jiva menjadi apa yang kita sebut dewa, atau apa yang orang Kristen atau Muslim sebut malaikat. Para dewa ini adalah nama-nama untuk kedudukan tertentu; misalnya, Indra, raja para dewa, adalah nama suatu kedudukan; ribuan manusia mencapai kedudukan itu. Apabila seorang manusia berbudi yang telah melakukan ritus Veda tertinggi meninggal, ia menjadi raja para dewa; pada saat itu raja yang lama telah turun lagi, dan menjadi manusia. Sebagaimana raja-raja berganti di sini, demikian pula para dewa, para Deva, juga harus mati. Di surga mereka semua akan mati. Satu-satunya tempat yang bebas dari kematian adalah Brahmaloka, yang di sana saja tidak ada kelahiran dan kematian.

Maka para jiva pergi ke surga, dan bersenang-senang dengan sangat baik, kecuali sesekali ketika para iblis mengejar mereka. Dalam mitologi kita dikatakan ada iblis-iblis yang kadang-kadang mengganggu para dewa. Dalam semua mitologi, Anda membaca bagaimana para iblis dan para dewa berperang, dan para iblis kadang-kadang mengalahkan para dewa, meskipun seringkali, tampaknya, para iblis tidak melakukan begitu banyak kejahatan seperti yang dilakukan para dewa. Dalam semua mitologi, misalnya, Anda mendapati para Deva gemar akan perempuan. Maka setelah imbalan mereka habis, mereka jatuh kembali, datang melalui awan, melalui hujan, dan dengan demikian masuk ke dalam suatu butir biji atau tumbuhan, lalu menemukan jalan masuk ke dalam tubuh manusia, ketika biji atau tumbuhan itu dimakan oleh manusia. Sang ayah memberi mereka bahan yang darinya mereka memperoleh tubuh yang sesuai. Apabila bahan itu tidak lagi cocok bagi mereka, mereka harus membuat tubuh-tubuh lain. Kemudian ada para pelaku yang sangat jahat, yang melakukan segala macam hal yang keji; mereka dilahirkan kembali sebagai binatang, dan jika mereka sangat jahat, mereka dilahirkan sebagai binatang yang sangat rendah, atau menjadi tumbuhan, atau batu.

Dalam wujud Deva, mereka sama sekali tidak menghasilkan karma; hanya manusia yang menghasilkan karma. Karma berarti pekerjaan yang akan menghasilkan efek. Apabila seorang manusia mati dan menjadi Deva, ia hanya memiliki masa kenikmatan, dan selama waktu itu ia tidak menghasilkan karma baru; itu hanyalah imbalan atas karma baiknya yang lampau. Apabila karma baiknya telah selesai dijalani, maka karma sisanya mulai memberikan efek, dan ia turun ke bumi. Ia menjadi manusia lagi, dan jika ia melakukan perbuatan yang sangat baik, dan menyucikan dirinya, ia pergi ke Brahmaloka dan tidak kembali lagi.

Bentuk binatang adalah keadaan persinggahan bagi jiva yang berevolusi dari bentuk-bentuk yang lebih rendah. Seiring berjalannya waktu, binatang menjadi manusia. Adalah suatu fakta yang penting bahwa seiring populasi manusia bertambah, populasi binatang berkurang. Jiwa-jiwa binatang semua sedang menjadi manusia. Begitu banyak spesies binatang telah menjadi manusia. Ke mana lagi mereka pergi?

Dalam Veda, tidak ada penyebutan tentang neraka. Akan tetapi Purana kita, kitab-kitab kemudian dari kitab suci kita, beranggapan bahwa tidak ada agama yang dapat lengkap kecuali neraka dilekatkan padanya, sehingga mereka mengarang segala macam neraka. Di dalam beberapa neraka itu, manusia digergaji menjadi dua, dan terus-menerus disiksa, tetapi tidak mati. Mereka terus-menerus merasakan rasa sakit yang luar biasa, tetapi kitab-kitab itu cukup berbelas kasih untuk mengatakan bahwa itu hanya untuk suatu periode. Karma buruk dijalani habis dalam keadaan itu, lalu mereka kembali ke bumi, dan memperoleh kesempatan lain. Maka wujud manusia ini adalah kesempatan besar. Ia disebut tubuh-karma, yang di dalamnya kita memutuskan nasib kita. Kita sedang berlari di dalam suatu lingkaran besar, dan inilah titik di dalam lingkaran yang menentukan masa depan. Maka inilah yang dianggap sebagai wujud terpenting yang ada. Manusia lebih agung daripada para dewa.

Sekian tentang dualisme, yang murni dan sederhana. Selanjutnya datanglah filsafat Vedanta yang lebih tinggi, yang mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin demikian. Tuhan adalah sebab material sekaligus sebab yang berdaya dari alam semesta ini. Jika Anda mengatakan ada Tuhan yang merupakan Wujud tak terbatas, dan jiwa yang juga tak terbatas, dan alam yang juga tak terbatas, Anda dapat terus mengalikan ketidakterbatasan tanpa batas, yang sungguh tidak masuk akal; Anda menghancurkan seluruh logika. Maka Tuhan adalah sebab material sekaligus sebab yang berdaya dari alam semesta; Dia memproyeksikan alam semesta ini dari diri-Nya sendiri. Lalu bagaimana mungkin Tuhan telah menjadi dinding-dinding ini dan meja ini, bagaimana Tuhan telah menjadi babi, dan pembunuh, dan segala hal jahat di dunia? Kita mengatakan bahwa Tuhan itu suci. Bagaimana mungkin Dia menjadi semua hal yang merosot ini? Jawaban kita adalah: sebagaimana saya adalah jiwa dan memiliki tubuh, dan dalam suatu pengertian, tubuh ini tidak berbeda dari saya, namun saya, "saya" yang sesungguhnya, sebenarnya bukanlah tubuh. Misalnya, saya berkata, saya adalah seorang anak, seorang muda, atau seorang tua, tetapi jiwa saya tidak berubah. Ia tetap jiwa yang sama. Demikian pula, seluruh alam semesta, yang mencakup seluruh alam dan jumlah jiwa yang tak terbatas, adalah, seakan-akan, tubuh Tuhan yang tak terbatas. Dia menembus keseluruhannya. Hanya Dia yang tak berubah, tetapi alam berubah, dan jiwa berubah. Dia tidak terpengaruh oleh perubahan dalam alam dan jiwa. Dengan cara apa alam berubah? Dalam bentuk-bentuknya; ia mengambil bentuk-bentuk baru. Tetapi jiwa tidak dapat berubah dengan cara itu. Jiwa menyusut dan mengembang dalam pengetahuan. Ia menyusut karena perbuatan jahat. Perbuatan-perbuatan yang menyusutkan pengetahuan dan kesucian alami sejati dari jiwa disebut perbuatan jahat. Perbuatan-perbuatan, sekali lagi, yang menampakkan kemuliaan alami jiwa, disebut perbuatan baik. Semua jiwa ini dahulunya suci, tetapi mereka telah menyusut; melalui rahmat Tuhan, dan dengan melakukan perbuatan baik, mereka akan mengembang dan memulihkan kesucian alami mereka. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama, dan pada akhirnya, pasti keluar. Akan tetapi alam semesta ini tidak akan berhenti, sebab ia kekal. Inilah teori kedua. Yang pertama disebut dualisme. Yang kedua menyatakan bahwa ada Tuhan, jiwa, dan alam, dan jiwa serta alam membentuk tubuh Tuhan, sehingga ketiganya membentuk satu kesatuan. Ia mewakili tahap perkembangan keagamaan yang lebih tinggi dan dikenal dengan nama monisme berkualifikasi. Dalam dualisme, alam semesta dipahami sebagai mesin besar yang dijalankan oleh Tuhan, sedangkan dalam monisme berkualifikasi, ia dipahami sebagai suatu organisme, yang ditembus oleh Diri Ilahi.

Yang terakhir adalah para penganut non-dualisme. Mereka juga mengangkat pertanyaan, bahwa Tuhan haruslah sebab material sekaligus sebab yang berdaya dari alam semesta ini. Sebagai demikian, Tuhan telah menjadi keseluruhan alam semesta ini dan tidak ada yang dapat menentangnya. Dan ketika orang-orang lain itu mengatakan bahwa Tuhan adalah jiwa, dan alam semesta adalah tubuh, dan tubuh berubah, tetapi Tuhan tak berubah, para penganut non-dualisme berkata, semua itu tidak masuk akal. Dalam hal demikian, apa gunanya menyebut Tuhan sebagai sebab material dari alam semesta ini? Sebab material adalah sebab yang telah menjadi akibat; akibat tidak lain dari sebab dalam bentuk yang lain. Di mana pun Anda melihat suatu akibat, itu adalah sebab yang direproduksi. Jika alam semesta adalah akibatnya, dan Tuhan adalah sebabnya, ia haruslah reproduksi dari Tuhan. Jika Anda mengatakan bahwa alam semesta adalah tubuh Tuhan, dan tubuh itu menyusut dan menjadi halus dan menjadi sebab, dan dari situ alam semesta berevolusi, para penganut non-dualisme berkata bahwa Tuhan sendirilah yang telah menjadi alam semesta ini. Sekarang muncullah pertanyaan yang sangat halus. Jika Tuhan ini telah menjadi alam semesta ini, Anda dan semua hal ini adalah Tuhan. Tentu saja. Buku ini adalah Tuhan, segala sesuatu adalah Tuhan. Tubuh saya adalah Tuhan, dan pikiran saya adalah Tuhan, dan jiwa saya adalah Tuhan. Lalu mengapa ada begitu banyak jiva? Apakah Tuhan telah terbagi menjadi berjuta-juta jiva? Apakah satu Tuhan itu berubah menjadi berjuta-juta jiva? Lalu bagaimana ia menjadi demikian? Bagaimana kuasa dan substansi yang tak terbatas itu, satu Wujud alam semesta, dapat terbagi? Adalah mustahil untuk membagi ketidakterbatasan. Bagaimana mungkin Wujud yang suci itu menjadi alam semesta ini? Jika Dia telah menjadi alam semesta, Dia berubah, dan jika Dia berubah, Dia adalah bagian dari alam, dan apa pun yang merupakan alam dan berubah, lahir dan mati. Jika Tuhan kita berubah, Dia suatu hari pasti mati. Perhatikanlah hal itu. Lagi pula, seberapa banyak Tuhan telah menjadi alam semesta ini? Jika Anda mengatakan X (besaran aljabar yang tidak diketahui), maka Tuhan sekarang adalah Tuhan dikurangi X, dan oleh karena itu, bukan lagi Tuhan yang sama seperti sebelum penciptaan ini, sebab sebanyak itu telah menjadi alam semesta ini.

Maka para penganut non-dualisme berkata, "Alam semesta ini sama sekali tidak ada; semuanya adalah ilusi. Seluruh alam semesta ini, para Deva ini, para dewa, malaikat, dan semua wujud lain yang lahir dan mati, semua jumlah jiwa yang tak terbatas ini yang naik dan turun, semuanya adalah mimpi." Sama sekali tidak ada jiva. Bagaimana mungkin ada banyak? Yang ada hanyalah satu Ketidakterbatasan. Sebagaimana satu matahari, yang dipantulkan pada berbagai keping air, tampak seakan banyak, dan berjuta-juta tetes air memantulkan begitu banyak juta matahari, dan dalam setiap tetes akan ada gambar matahari yang sempurna, namun yang ada hanyalah satu matahari, demikian pula semua jiva ini hanyalah pantulan dalam pikiran-pikiran yang berbeda. Pikiran-pikiran yang berbeda ini bagaikan sekian banyak tetes yang berbeda, yang memantulkan satu Wujud ini. Tuhan sedang dipantulkan dalam semua jiva yang berbeda ini. Tetapi mimpi tidak mungkin ada tanpa suatu kenyataan, dan kenyataan itu adalah satu Keberadaan Tak Terbatas itu. Anda, sebagai tubuh, pikiran, atau jiwa, adalah mimpi, tetapi apa Anda yang sesungguhnya, adalah Keberadaan, Pengetahuan, Kebahagiaan. Anda adalah Tuhan dari alam semesta ini. Anda sedang menciptakan seluruh alam semesta dan menariknya masuk. Demikian kata penganut Advaita (non-dualitas). Maka semua kelahiran dan kelahiran kembali, datang dan pergi ini adalah khayalan dari maya (ilusi kosmik). Anda tak terbatas. Ke mana Anda dapat pergi? Matahari, bulan, dan seluruh alam semesta hanyalah titik-titik dalam kodrat Anda yang melampaui segala. Bagaimana mungkin Anda dilahirkan atau mati? Saya tidak pernah dilahirkan, tidak akan pernah dilahirkan. Saya tidak pernah memiliki ayah atau ibu, sahabat atau musuh, sebab saya adalah Keberadaan, Pengetahuan, Kebahagiaan Mutlak. Akulah Dia, Akulah Dia. Lalu, apakah tujuan, menurut filsafat ini? Bahwa mereka yang menerima pengetahuan ini adalah satu dengan alam semesta. Bagi mereka, semua surga dan bahkan Brahmaloka pun dihancurkan, seluruh mimpi lenyap, dan mereka mendapati diri mereka sendiri sebagai Tuhan kekal dari alam semesta. Mereka mencapai individualitas sejati mereka, dengan pengetahuan dan kebahagiaan yang tak terbatas, dan menjadi bebas. Kenikmatan dalam hal-hal kecil pun berhenti. Kita menemukan kenikmatan dalam tubuh kecil ini, dalam individualitas kecil ini. Betapa jauh lebih besar kenikmatan apabila seluruh alam semesta ini adalah tubuh saya! Jika ada kenikmatan dalam satu tubuh, betapa jauh lebih besar apabila semua tubuh adalah milik saya! Maka kebebasan tercapai. Dan inilah yang disebut Advaita, filsafat Vedanta non-dualisme.

Inilah tiga langkah yang telah ditempuh oleh filsafat Vedanta, dan kita tidak dapat melangkah lebih jauh lagi, sebab kita tidak dapat melampaui kesatuan. Apabila suatu ilmu mencapai suatu kesatuan, ia tidak dapat dengan cara apa pun melangkah lebih jauh. Anda tidak dapat melampaui gagasan tentang Yang Mutlak ini.

Tidak semua orang dapat menerima filsafat Advaita ini; ia sukar. Pertama-tama, sangat sukar memahaminya secara intelektual. Ia memerlukan intelek yang paling tajam, pemahaman yang berani. Kedua, ia tidak cocok bagi sebagian besar orang. Maka ada tiga langkah ini. Mulailah dengan yang pertama. Kemudian dengan merenungkannya dan memahaminya, yang kedua akan terbuka dengan sendirinya. Sebagaimana suatu ras berkembang, demikian pula individu-individu harus berkembang. Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh ras manusia untuk mencapai puncak tertinggi pemikiran keagamaan, setiap individu harus menempuhnya. Hanya saja, sementara ras manusia memerlukan berjuta-juta tahun untuk mencapai dari satu langkah ke langkah berikutnya, individu-individu dapat menjalani seluruh hidup ras manusia dalam durasi yang jauh lebih singkat. Akan tetapi masing-masing dari kita harus menempuh langkah-langkah ini. Mereka di antara Anda yang merupakan penganut non-dualisme menengoklah kembali ke masa hidup Anda ketika Anda merupakan penganut dualisme yang teguh. Begitu Anda berpikir bahwa Anda adalah tubuh dan pikiran, Anda harus menerima seluruh mimpi ini. Jika Anda menerima satu bagian, Anda harus menerima keseluruhannya. Orang yang berkata, di sini ada dunia ini, dan tidak ada Tuhan (Personal), adalah orang dungu; sebab jika ada dunia, harus ada sebab, dan itulah yang disebut Tuhan. Anda tidak dapat memiliki akibat tanpa mengetahui bahwa ada sebab. Tuhan baru akan lenyap apabila dunia ini lenyap; maka Anda akan menjadi Tuhan (Mutlak), dan dunia ini tidak akan ada lagi bagi Anda. Selama mimpi bahwa Anda adalah tubuh masih ada, Anda pasti melihat diri Anda sebagai dilahirkan dan mati; tetapi begitu mimpi itu lenyap, lenyap pula mimpi bahwa Anda sedang dilahirkan dan mati, dan lenyap pula mimpi lain bahwa ada alam semesta. Hal yang sangat sama yang sekarang kita lihat sebagai alam semesta akan tampak bagi kita sebagai Tuhan (Mutlak), dan Tuhan yang selama ini bersifat eksternal itu akan tampak bersifat internal, sebagai Diri kita sendiri.

English

Steps Of Hindu Philosophic Thought

The first group of religious ideas that we see coming up — I mean recognised religious ideas, and not the very low ideas, which do not deserve the name of religion — all include the idea of inspiration and revealed books and so forth. The first group of religious ideas starts with the idea of God. Here is the universe, and this universe is created by a certain Being. Everything that is in this universe has been created by Him. Along with that, at a later stage, comes the idea of soul — that there is this body, and something inside this body which is not the body. This is the most primitive idea of religion that we know. We can find a few followers of that in India, but it was given up very early. The Indian religions take a peculiar start. It is only by strict analysis, and much calculation and conjecture, that we can ever think that that stage existed in Indian religions. The tangible state in which we find them is the next step, not the first one. At the earliest step the idea of creation is very peculiar, and it is that the whole universe is created out of zero, at the will of God; that all this universe did not exist, and out of this nothingness all this has come. In the next stage we find this conclusion is questioned. How can existence be produced out of nonexistence? At the first step in the Vedanta this question is asked. If this universe is existent it must have come out of something, because it was very easy to see that nothing comes out of nothing, anywhere. All work that is done by human hands requires materials. If a house is built, the material was existing before; if a boat is made the material existed before; if any implements are made, the materials were existing before. So the effect is produced. Naturally, therefore, the first idea that this world was created out of nothing was rejected, and some material out of which this world was created was wanted. The whole history of religion, in fact, is this search after that material.

Out of what has all this been produced? Apart from the question of the efficient cause, or God, apart from the question that God created the universe, the great question of all questions is: Out of what did He create it? All the philosophies are turning, as it were, on this question. One solution is that nature, God, and soul are eternal existences, as if three lines are running parallel eternally, of which nature and soul comprise what they call the dependent, and God the independent Reality. Every soul, like every particle of matter, is perfectly dependent on the will of God. Before going to the other steps we will take up the idea of soul, and then find that with all the Vedantic philosophers, there is one tremendous departure from all Western philosophy. All of them have a common psychology. Whatever their philosophy may have been, their psychology is the same in India, the old Sânkhya psychology. According to this, perception occurs by the transmission of the vibrations which first come to the external sense-organs, from the external to the internal organs, from the internal organs to the mind, from the mind to the Buddhi, from the Buddhi or intellect, to something which is a unit, which they call the Âtman. Coming to modern physiology, we know that it has found centres for all the different sensations. First it finds the lower centres, and then a higher grade of centres, and these two centres exactly correspond with the internal organs and the mind, but not one centre has been found which controls all the other centres. So physiology cannot tell what unifies all these centres. Where do the centres get united? The centres in the brain are all different. and there is not one centre which controls all the other centres; therefore, so far as it goes, the Indian psychology stands unchallenged upon this point. We must have this unification, some thing upon which the sensations will be reflected, to form a complete whole. Until there is that something, I cannot have any idea of you, or a picture, or anything else. If we had not that unifying something, we would only see, then after a while breathe, then hear, and so on, and while I heard a man talking I would not see him at all, because all the centres are different.

This body is made of particles which we call matter, and it is dull and insentient. So is what the Vedantists call the fine body. The fine body, according to them, is a material but transparent body, made of very fine particles, so fine that no microscope can see them. What is the use of that? It is the receptacle of the fine forces. Just as this gross body is the receptacle of the gross forces, so the fine body is the receptacle of the fine forces, which we call thought, in its various modifications. First is the body, which is gross matter, with gross force. Force cannot exist without matter. It must require some matter to exist, so the grosser forces work in the body; and those very forces become finer; the very force which is working in a gross form, works in a fine form, and becomes thought. There is no distinction between them, simply one is the gross and the other the fine manifestation of the same thing. Neither is there any distinction between this fine body and the gross body. The fine body is also material, only very fine matter; and just as this gross body is the instrument that works the gross forces, so the fine body is the instrument that works the fine forces. From where do all these forces come? According to Vedanta philosophy, there are two things in nature, one of which they call Âkâsha, which is the substance, infinitely fine, and the other they call Prâna, which is the force. Whatever you see, or feel, or hear, as air, earth, or anything, is material — the product of Akasha. It goes on and becomes finer and finer, or grosser and grosser, changing under the action of Prana. Like Akasha, Prana is omnipresent, and interpenetrating everything. Akasha is like the water, and everything else in the universe is like blocks of ice, made out of that water, and floating in the water, and Prana is the power that changes this Akasha into all these various forms. The gross body is the instrument made out of Akasha, for the manifestation of Prana in gross forms, as muscular motion, or walking, sitting, talking, and so forth. That fine body is also made of Akasha, a very fine form of Akasha, for the manifestation of the same Prana in the finer form of thought. So, first there is this gross body. Beyond that is this fine body, and beyond that is the Jiva, the real man. Just as the nails can be pared off many times and yet are still part of our bodies, not different, so is our gross body related to the fine. It is not that a man has a fine and also a gross body; it is the one body only, the part which endures longer is the fine body, and that which dissolves sooner is the gross. Just as I can cut this nail any number of times, so, millions of times I can shed this gross body, but the fine body will remain. According to the dualists, this Jiva or the real man is very fine, minute.

So far we see that man is a being, who has first a gross body which dissolves very quickly, then a fine body which remains through aeons, and then a Jiva. This Jiva, according to the Vedanta philosophy, is eternal, just as God is eternal. Nature is also eternal, but changefully eternal. The material of nature — Prana and Akasha — is eternal, but it is changing into different forms eternally. But the Jiva is not manufactured either of Akasha or Prana; it is immaterial and, therefore, will remain for ever. It is not the result of any combination of Prana and Akasha, and whatever is not the result of combination, will never be destroyed, because destruction is going back to causes. The gross body is a compound of Akasha and Prana and, therefore, will be decomposed. The fine body will also be decomposed, after a long time, but the Jiva is simple, and will never be destroyed. It was never born for the same reason. Nothing simple can be born. The same argument applies. That which is a compound only can be born. The whole of nature comprising millions and millions of souls is under the will of God. God is all-pervading, omniscient, formless, and He is working through nature day and night. The whole of it is under His control. He is the eternal Ruler. So say the dualists. Then the question comes: If God is the ruler of this universe, why did He create such a wicked universe, why must we suffer so much? They say, it is not God's fault. It is our fault that we suffer. Whatever we sow we reap. He did not do anything to punish us. Man is born poor, or blind, or some other way. What is the reason? He had done something before, he was born that way. The Jiva has been existing for all time, was never created. It has been doing all sorts of things all the time. Whatever we do reacts upon us. If we do good, we shall have happiness, and if evil, unhappiness. So the Jiva goes on enjoying and suffering, and doing all sorts of things.

What comes after death? All these Vedanta philosophers admit that this Jiva is by its own nature pure. But ignorance covers its real nature, they say. As by evil deeds it has covered itself with ignorance, so by good deeds it becomes conscious of its own nature again. Just as it is eternal, so its nature is pure. The nature of every being is pure.

When through good deeds all its sins and misdeeds have been washed away, then the Jiva becomes pure again, and when it becomes pure, it goes to what is called Devayâna. Its organ of speech enters the mind. You cannot think without words. Wherever there is thought, there must be words. As words enter the mind, so the mind is resolved into the Prana, and the Prana into the Jiva. Then the Jiva gets quickly out of the body, and goes to the solar regions. This universe has sphere after sphere. This earth is the world sphere, in which are moons, suns, and stars. Beyond that here is the solar sphere, and beyond that another which they call the lunar sphere. Beyond that there is the sphere which they call the sphere of lightning, the electric sphere, and when the Jiva goes there, there comes another Jiva, already perfect, to receive it, and takes it to another world, the highest heaven, called the Brahmaloka, where the Jiva lives eternally, no more to be born or to die. It enjoys through eternity, and gets all sorts of powers, except the power of creation. There is only one ruler of the universe, and that is God. No one can become God; the dualists maintain that if you say you are God, it is a blasphemy. All powers except the creative come to the Jiva, and if it likes to have bodies, and work in different parts of the world, it can do so. If it orders all the gods to come before it, if it wants its forefathers to come, they all appear at its command. Such are its powers that it never feels any more pain, and if it wants, it can live in the Brahmaloka through all eternity. This is the highest man, who has attained the love of God, who has become perfectly unselfish, perfectly purified, who has given up all desires, and who does not want to do anything except worship and love God.

There are others that are not so high, who do good works, but want some reward. They say they will give so much to the poor, but want to go to heaven in return. When they die, what becomes of them? The speech enters the mind, the mind enters the Prana, the Prana enters the Jiva, and the Jiva gets out, and goes to the lunar sphere, where it has a very good time for a long period. There it enjoys happiness, so long as the effect of its good deeds endures. When the same is exhausted, it descends, and once again enters life on earth according to its desires. In the lunar sphere the Jiva becomes what we call a god, or what the Christians or Mohammedans call an angel. These gods are the names of certain positions; for instance, Indra, the king of the gods, is the name of a position; thousands of men get to that position. When a virtuous man who has performed the highest of Vedic rites dies, he becomes a king of the gods; by that time the old king has gone down again, and become man. Just as kings change here, so the gods, the Devas, also have to die. In heaven they will all die. The only deathless place is Brahmaloka, where alone there is no birth and death.

So the Jivas go to heaven, and have a very good time, except now and then when the demons give them chase. In our mythology it is said there are demons, who sometimes trouble the gods. In all mythologies, you read how these demons and the gods fought, and the demons sometimes conquered the gods, although many times, it seems, the demons did not do so many wicked things as the gods. In all mythologies, for instance, you find the Devas fond of women. So after their reward is finished, they fall down again, come through the clouds, through the rains, and thus get into some grain or plant and find their way into the human body, when the grain or plant is eaten by men. The father gives them the material out of which to get a fitting body. When the material suits them no longer, they have to manufacture other bodies. Now there are the very wicked fellows, who do, all sorts of diabolical things; they are born again as animals, and if they are very bad, they are born as very low animals, or become plants, or stones.

In the Deva form they make no Karma at all; only man makes Karma. Karma means work which will produce effect. When a man dies and becomes a Deva, he has only a period of pleasure, and during that time makes no fresh Karma; it is simply a reward for his past good Karma. When the good Karma is worked out, then the remaining Karma begins to take effect, and he comes down to earth. He becomes man again, and if he does very good works, and purifies himself, he goes to Brahmaloka and comes back no more.

The animal is a state of sojourn for the Jiva evolving from lower forms. In course of time the animal becomes man. It is a significant fact that as the human population is increasing, the animal population is decreasing. The animal souls are all becoming men. So many species of animals have become men already. Where else have they gone?

In the Vedas, there is no mention of hell. But our Purânas, the later books of our scriptures, thought that no religion could be complete, unless hells were attached to it, and so they invented all sorts of hells. In some of these, men are sawed in half, and continually tortured, but do not die. They are continually feeling intense pain, but the books are merciful enough to say it is only for a period. Bad Karma is worked out in that state and then they come back on earth, and get another chance. So this human form is the great chance. It is called the Karma-body, in which we decide our fate. We are running in a huge circle, and this is the point in the circle which determines the future. So this is considered the most important form that there is. Man is greater than the gods.

So far with dualism, pure and simple. Next comes the higher Vedantic philosophy which says, that this cannot be. God is both the material and the efficient cause of this universe. If you say there is a God who is an infinite Being, and a soul which is also infinite, and a nature which is also infinite, you can go on multiplying infinites without limit which is simply absurd; you smash all logic. So God is both the material and the efficient cause of the universe; He projects this universe out of Himself. Then how is it that God has become these walls and this table, that God has become the pig, and the murderer, and all the evil things in the world? We say that God is pure. How can He become all these degenerate things? Our answer is: just as I am a soul and have a body, and in a sense, this body is not different from me, yet I, the real I, in fact, am not the body. For instance, I say, I am a child, a young man, or an old man, but my soul has not changed. It remains the same soul. Similarly, the whole universe, comprising all nature and an infinite number of souls, is, as it were, the infinite body of God. He is inter penetrating the whole of it. He alone is unchangeable, but nature changes, and soul changes. He is unaffected by changes in nature and soul. In what way does nature change? In its forms; it takes fresh forms. But the soul cannot change that way. The soul contracts and expands in knowledge. It contracts by evil deeds. Those deeds which contract the real natural knowledge and purity of the soul are called evil deeds. Those deeds, again, which bring out the natural glory of the soul, are called good deeds. All these souls were pure, but they have become contracted; through the mercy of God, and by doing good deeds, they will expand and recover their natural purity. Everyone has the same chance, and in the long run, must get out. But this universe will not cease, because it is eternal. This is the second theory. The first is called dualism. The second holds that there are God, soul, and nature, and soul and nature form the body of God, and, therefore, these three form one unit. It represents a higher stage of religious development and goes by the name of qualified monism. In dualism, the universe is conceived as a large machine set going by God while in qualified monism, it is conceived as an organism, inter penetrated by the Divine Self.

The last are the non-dualists. They raise the question also, that God must be both the material and the efficient cause of this universe. As such, God has become the whole of this universe and there is no going against it. And when these other people say that God is the soul, and the universe is the body, and the body is changing, but God is changeless, the non-dualists say, all this is nonsense. In that case what is the use of calling God the material cause of this universe? The material cause is the cause become effect; the effect is nothing but the cause in another form. Wherever you see an effect, it is the cause reproduced. If the universe is the effect, and God the cause, it must be the reproduction of God. If you say that the universe is the body of God, and that the body becomes contracted and fine and becomes the cause, and out of that the universe is evolved, the non-dualists say that it is God Himself who has become this universe. Now comes a very fine question. If this God has become this universe, you and all these things are God. Certainly. This book is God, everything is God. My body is God, and my mind is God, and my soul is God. Then why are there so many Jivas? Has God become divided into millions of Jivas? Does that one God turn into millions of Jivas? Then how did it become so? How can that infinite power and substance, the one Being of the universe, become divided? It is impossible to divide infinity. How can that pure Being become this universe? If He has become the universe, He is changeful, and if He is changeful, He is part of nature, and whatever is nature and changeful is born and dies. If our God is changeful, He must die some day. Take note of that. Again, how much of God has become this universe ? If you say X (the unknown algebraical quantity), then God is God minus X now, and, therefore, not the same God as before this creation, because so much has become this universe.

So the non-dualists say, "This universe does not exist at all; it is all illusion. The whole of this universe, these Devas, gods, angels, and all the other beings born and dying, all this infinite number of souls coming up and going down, are all dreams." There is no Jiva at all. How can there be many? It is the one Infinity. As the one sun, reflected on various pieces of water, appears to be many, and millions of globules of water reflect so many millions of suns, and in each globule will be a perfect image of the sun, yet there is only one sun, so are all these Jivas but reflections in different minds. These different minds are like so many different globules, reflecting this one Being. God is being reflected in all these different Jivas. But a dream cannot be without a reality, and that reality is that one Infinite Existence. You, as body, mind, or soul, are a dream, but what you really are, is Existence, Knowledge, Bliss. You are the God of this universe. You are creating the whole universe and drawing it in. Thus says the Advaitist. So all these births and rebirths, coming and going are the figments of Mâyâ. You are infinite. Where can you go? The sun, the moon, and the whole universe are but drops in your transcendent nature. How can you be born or die? I never was born, never will be born. I never had father or mother, friends or foes, for I am Existence, Knowledge, Bliss Absolute. I am He, I am He. So, what is the goal, according to this philosophy? That those who receive this knowledge are one with the universe. For them, all heavens and even Brahmaloka are destroyed, the whole dream vanishes, and they find themselves the eternal God of the universe. They attain their real individuality, with its infinite knowledge and bliss, and become free. Pleasures in little things cease. We are finding pleasure in this little body, in this little individuality. How much greater the pleasure when this whole universe is my body! If there is pleasure in one body, how much more when all bodies are mine! Then is freedom attained. And this is called Advaita, the non-dualistic Vedanta philosophy.

These are the three steps which Vedanta philosophy has taken, and we cannot go any further, because we cannot go beyond unity. When a science reaches a unity, it cannot by any manner of means go any further. You cannot go beyond this idea of the Absolute.

All people cannot take up this Advaita philosophy; it is hard. First of all, it is very hard to understand it intellectually. It requires the sharpest of intellects, a bold understanding. Secondly, it does not suit the vast majority of people. So there are these three steps. Begin with the first one. Then by thinking of that and understanding it, the second will open itself. Just as a race advances, so individuals have to advance. The steps which the human race has taken to reach to the highest pinnacles of religious thought, every individual will have to take. Only, while the human race took millions of years to reach from one step to another, individuals may live the whole life of the human race in a much shorter duration. But each one of us will have to go through these steps. Those of you who are non-dualists look back to the period of your lives when you were strong dualists. As soon as you think you are a body and a mind, you will have to take the whole of this dream. If you take one portion, you must take the whole. The man who says, here is this world, and there is no (Personal) God, is a fool; because if there is a world, there will have to be a cause, and that is what is called God. You cannot have an effect without knowing that there is a cause. God will only vanish when this world vanishes; then you will become God (Absolute), and this world will be no longer for you. So long as the dream that you are a body exists, you are bound to see yourself as being born and dying; but as soon as that dream vanishes, so will the dream vanish that you are being born and dying, and so will the other dream that there is a universe vanish. That very thing which we now see as the universe will appear to us as God (Absolute), and that very God who has so long been external will appear to be internal, as our own Self.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.