Arsip Vivekananda

Tanggapan atas Sambutan

Jilid1 lecture Pidato Parlemen
472 kata · 2 menit baca · Addresses at The Parliament of Religions

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

Saudari dan Saudara di Amerika,

Hati saya dipenuhi sukacita yang tak terucapkan ketika bangkit menanggapi sambutan hangat dan penuh keramahan yang telah Anda berikan kepada kami. Saya berterima kasih atas nama tarekat biarawan tertua di dunia; saya berterima kasih atas nama induk dari segala agama; dan saya berterima kasih atas nama jutaan demi jutaan umat Hindu dari segala lapisan dan aliran.

Terima kasih saya pula kepada beberapa pembicara di mimbar ini yang, dengan menyebut para utusan dari Timur, telah mengatakan kepada Anda bahwa orang-orang dari bangsa-bangsa yang jauh ini patut mengklaim kehormatan untuk membawa gagasan toleransi ke berbagai negeri. Saya bangga menjadi penganut suatu agama yang telah mengajarkan kepada dunia baik toleransi maupun penerimaan universal. Kami percaya bukan hanya pada toleransi universal, tetapi kami menerima semua agama sebagai kebenaran. Saya bangga menjadi warga suatu bangsa yang telah memberi perlindungan kepada mereka yang dianiaya dan kepada para pengungsi dari segala agama dan segala bangsa di muka bumi. Saya bangga menyampaikan kepada Anda bahwa kami telah mengumpulkan ke dalam pelukan kami sisa-sisa termurni dari umat Israel, yang datang ke India Selatan dan berlindung pada kami tepat pada tahun ketika bait suci mereka diluluhlantakkan oleh tirani Romawi. Saya bangga menjadi penganut agama yang telah memberi perlindungan dan masih memelihara sisa-sisa bangsa agung Zoroaster. Saya akan mengutip untuk Anda, saudara-saudara, beberapa baris dari sebuah madah yang saya ingat telah saya ulang sejak masa kanak-kanak saya yang paling dini, dan yang setiap hari diulang oleh jutaan manusia: “Sebagaimana berbagai aliran sungai yang bersumber di tempat-tempat yang berbeda semuanya menyatukan airnya di lautan, demikian pula, ya Tuhan, berbagai jalan yang ditempuh manusia melalui kecenderungan yang berbeda-beda, betapapun tampak beragam, berkelok atau lurus, semuanya menuju kepada-Mu.”

Kongres yang sedang berlangsung ini, yang merupakan salah satu pertemuan paling agung yang pernah diadakan, dengan sendirinya adalah pembenaran, sebuah pemakluman kepada dunia akan doktrin luar biasa yang dikhotbahkan dalam Bhagavad-Gita (Nyanyian Yang Mahamulia): “Siapa pun yang datang kepada-Ku, melalui bentuk apa pun, Aku menjangkaunya; semua manusia tengah berjuang melalui jalan-jalan yang pada akhirnya menuju kepada-Ku.” Sektarianisme, sikap fanatik picik, dan keturunannya yang mengerikan, fanatisme, telah lama menguasai bumi yang indah ini. Mereka telah memenuhi bumi dengan kekerasan, berulang kali membasahinya dengan darah manusia, menghancurkan peradaban, dan menjerumuskan bangsa-bangsa utuh ke dalam keputusasaan. Sekiranya iblis-iblis mengerikan ini tidak ada, masyarakat manusia akan jauh lebih maju daripada keadaannya sekarang. Akan tetapi masa mereka telah tiba; dan saya dengan sangat berharap bahwa lonceng yang berdentang pagi ini untuk menghormati kongres ini kiranya menjadi lonceng kematian bagi segala fanatisme, bagi segala penganiayaan dengan pedang maupun dengan pena, dan bagi segala perasaan tidak berbelas kasih di antara orang-orang yang menempuh jalannya menuju tujuan yang sama.

English

Sisters and Brothers of America,

It fills my heart with joy unspeakable to rise in response to the warm and cordial welcome which you have given us. I thank you in the name of the most ancient order of monks in the world; I thank you in the name of the mother of religions; and I thank you in the name of millions and millions of Hindu people of all classes and sects.

My thanks, also, to some of the speakers on this platform who, referring to the delegates from the Orient, have told you that these men from far-off nations may well claim the honour of bearing to different lands the idea of toleration. I am proud to belong to a religion which has taught the world both tolerance and universal acceptance. We believe not only in universal toleration, but we accept all religions as true. I am proud to belong to a nation which has sheltered the persecuted and the refugees of all religions and all nations of the earth. I am proud to tell you that we have gathered in our bosom the purest remnant of the Israelites, who came to Southern India and took refuge with us in the very year in which their holy temple was shattered to pieces by Roman tyranny. I am proud to belong to the religion which has sheltered and is still fostering the remnant of the grand Zoroastrian nation. I will quote to you, brethren, a few lines from a hymn which I remember to have repeated from my earliest boyhood, which is every day repeated by millions of human beings: “As the different streams having their sources in different places all mingle their water in the sea, so, O Lord, the different paths which men take through different tendencies, various though they appear, crooked or straight, all lead to Thee.”

The present convention, which is one of the most august assemblies ever held, is in itself a vindication, a declaration to the world of the wonderful doctrine preached in the Gita: “Whosoever comes to Me, through whatsoever form, I reach him; all men are struggling through paths which in the end lead to me.” Sectarianism, bigotry, and its horrible descendant, fanaticism, have long possessed this beautiful earth. They have filled the earth with violence, drenched it often and often with human blood, destroyed civilisation and sent whole nations to despair. Had it not been for these horrible demons, human society would be far more advanced than it is now. But their time is come; and I fervently hope that the bell that tolled this morning in honour of this convention may be the death-knell of all fanaticism, of all persecutions with the sword or with the pen, and of all uncharitable feelings between persons wending their way to the same goal.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.