Akal dan Agama
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Akal dan Agama
( Disampaikan di Inggris )
Seorang resi bernama Narada pergi menemui resi lain bernama Sanatkumara untuk belajar tentang kebenaran, dan Sanatkumara bertanya apa saja yang telah ia pelajari sebelumnya. Narada menjawab bahwa ia telah mempelajari Veda (kitab wahyu tertua), Ilmu Falak, dan berbagai hal lain, namun ia belum memperoleh kepuasan. Lalu terjadilah percakapan antara keduanya, dalam perjalanannya Sanatkumara berkata bahwa semua pengetahuan tentang Veda, tentang Ilmu Falak, dan tentang Filsafat itu hanyalah sekunder; ilmu-ilmu sekuler hanyalah sekunder. Yang membuat kita menyadari Brahman (Realitas mutlak) itulah pengetahuan tertinggi, pengetahuan yang paling utama. Gagasan ini kita temukan dalam setiap agama, dan itulah sebabnya agama senantiasa mengklaim dirinya sebagai pengetahuan tertinggi. Pengetahuan ilmu-ilmu sekuler hanya mencakup, dapat dikatakan, sebagian dari kehidupan kita, tetapi pengetahuan yang dibawa oleh agama kepada kita bersifat kekal, tak terbatas seperti kebenaran yang diberitakannya. Dengan mengklaim keunggulan ini, agama-agama, sayangnya, telah berkali-kali memandang rendah seluruh pengetahuan sekuler, dan bukan hanya itu, tetapi juga seringkali menolak untuk dibenarkan dengan bantuan pengetahuan sekuler. Akibatnya, di seluruh dunia terjadi pertentangan antara pengetahuan sekuler dan pengetahuan agama, yang satu mengklaim otoritas yang tak dapat keliru sebagai pemandunya, menolak mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh pengetahuan sekuler tentang persoalan itu, sedangkan yang lain, dengan alat akalnya yang berkilau, ingin mencincang berkeping-keping segala sesuatu yang dapat dikemukakan oleh agama. Pertentangan ini telah dan masih berkecamuk di setiap negeri. Agama-agama berkali-kali dikalahkan, dan nyaris dibinasakan. Pemujaan terhadap dewi Akal pada masa Revolusi Prancis bukanlah manifestasi pertama dari fenomena itu dalam sejarah umat manusia, ia merupakan pengulangan dari apa yang telah terjadi pada zaman dahulu, tetapi pada masa modern ia menjelma dalam proporsi yang lebih besar. Ilmu-ilmu fisik kini diperlengkapi lebih baik daripada sebelumnya, dan agama-agama menjadi semakin kurang diperlengkapi. Seluruh dasarnya telah dirongrong, dan manusia modern, apa pun yang ia katakan di muka umum, mengetahui dalam keheningan hatinya bahwa ia tak lagi dapat "percaya". Mempercayai hal-hal tertentu hanya karena suatu badan pendeta terorganisasi menyuruhnya percaya, percaya karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab tertentu, percaya karena masyarakatnya menghendaki ia percaya — manusia modern tahu bahwa hal-hal seperti itu mustahil baginya. Tentu saja ada sejumlah orang yang tampaknya menerima begitu saja apa yang disebut iman populer, tetapi kita juga tahu pasti bahwa mereka tidak benar-benar berpikir. Gagasan mereka tentang keyakinan barangkali lebih tepat diterjemahkan sebagai "ketidakpedulian-tanpa-berpikir". Pertentangan ini tidak akan bertahan lebih lama lagi tanpa meruntuhkan seluruh bangunan agama berkeping-keping.
Pertanyaannya: Adakah jalan keluar? Untuk mengajukannya dalam bentuk yang lebih konkret: Haruskah agama membenarkan dirinya melalui penemuan-penemuan akal, sebagaimana setiap ilmu lain membenarkan dirinya? Haruskah metode-metode penyelidikan yang sama, yang kita terapkan pada ilmu-ilmu dan pengetahuan lahiriah, juga diterapkan pada ilmu Agama? Menurut pendapat saya, demikianlah seharusnya, dan saya juga berpendapat bahwa semakin cepat hal itu dilakukan, semakin baik. Jika suatu agama dihancurkan oleh penyelidikan semacam itu, maka selama ini agama itu memang sia-sia, takhayul yang tak berharga; dan semakin cepat ia lenyap, semakin baik. Saya sepenuhnya yakin bahwa kehancurannya akan menjadi hal terbaik yang dapat terjadi. Semua yang merupakan ampas tentu akan terbuang, namun bagian-bagian esensial agama akan muncul dengan penuh kejayaan dari penyelidikan ini. Bukan hanya ia akan dijadikan ilmiah — setidaknya seilmiah simpulan-simpulan fisika atau kimia — tetapi ia juga akan memiliki kekuatan yang lebih besar, sebab fisika atau kimia tidak memiliki mandat internal yang menjamin kebenarannya, sedangkan agama memilikinya.
Orang-orang yang menyangkal kemujaraban penyelidikan rasionalistik atas agama tampak bagi saya sedikit banyak telah membantah diri sendiri. Misalnya, orang Kristen mengklaim bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar, sebab agama itu diwahyukan kepada si fulan. Orang Muhammadan mengajukan klaim yang sama untuk agamanya; agamanyalah satu-satunya yang benar, sebab diwahyukan kepada si fulan. Tetapi orang Kristen berkata kepada orang Muhammadan, "Beberapa bagian etika engkau tampaknya tidak benar. Misalnya, kawan Muhammadan saya, kitabmu mengatakan bahwa seorang kafir boleh diubah menjadi pemeluk agama Muhammad dengan kekerasan, dan jika ia tidak mau menerima agama Muhammadan, ia boleh dibunuh; dan setiap orang Muhammadan yang membunuh kafir semacam itu akan mendapat jalan masuk yang pasti ke surga, betapa pun banyaknya dosa atau perbuatan buruknya." Orang Muhammadan akan membalas dengan berkata, "Adalah benar bagi saya untuk berbuat demikian, sebab kitab saya memerintahkannya. Akan salah bagi saya jika tidak berbuat demikian." Orang Kristen berkata, "Tetapi kitab saya tidak berkata demikian." Orang Muhammadan menjawab, "Saya tidak tahu; saya tidak terikat oleh otoritas kitab Anda; kitab saya berkata, 'Bunuhlah semua kafir.' Bagaimana Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah? Tentu saja yang tertulis dalam kitab saya benar dan yang dikatakan kitab Anda, 'Jangan membunuh,' adalah salah. Anda pun berkata hal yang sama, kawan Kristen saya; Anda berkata bahwa apa yang Yehuwa firmankan kepada orang Yahudi untuk dilakukan adalah benar, dan apa yang Ia larang adalah salah. Demikian pula saya berkata, Yang Mahakuasa telah berfirman dalam kitab saya bahwa hal-hal tertentu harus dilakukan, dan hal-hal tertentu tidak boleh dilakukan, dan itulah seluruh ujian benar dan salah." Meskipun demikian, orang Kristen tidak puas; ia bersikeras membandingkan moralitas Khotbah di Bukit dengan moralitas Quran. Bagaimana hal ini akan diputuskan? Tentu bukan oleh kitab-kitab itu sendiri, sebab kitab-kitab yang saling bertentangan tidak dapat menjadi hakim. Maka kita harus mengakui dengan tegas bahwa ada sesuatu yang lebih universal daripada kitab-kitab ini, sesuatu yang lebih tinggi daripada semua kode etika yang ada di dunia, sesuatu yang dapat menghakimi kekuatan ilham di antara bangsa-bangsa yang berbeda. Apakah kita menyatakannya dengan tegas, dengan jelas, ataupun tidak — sudah terang bahwa di sini kita berseru kepada akal.
Sekarang, timbul pertanyaan apakah cahaya akal ini mampu menghakimi antara ilham dengan ilham, dan apakah cahaya ini mampu menjunjung tinggi tolok ukurnya ketika perselisihan terjadi antara nabi dengan nabi, apakah ia memiliki kekuatan untuk memahami apa pun tentang agama. Jika tidak, tak ada yang dapat menyelesaikan pertarungan tanpa harapan antara kitab dan nabi yang telah berlangsung berabad-abad; sebab itu berarti semua agama hanyalah dusta belaka, saling bertentangan tanpa harapan, tanpa gagasan etika yang tetap. Bukti agama bergantung pada kebenaran susunan manusia, dan bukan pada kitab mana pun. Kitab-kitab ini adalah pancaran, akibat dari susunan manusia; manusialah yang membuat kitab-kitab ini. Kita masih harus menanti munculnya kitab-kitab yang menciptakan manusia. Akal pun adalah akibat dari sebab bersama itu, susunan manusia, ke sanalah seruan kita harus ditujukan. Namun, karena akal sendirilah yang terhubung langsung dengan susunan ini, kepadanyalah kita berpaling, selama ia mengikuti susunan itu dengan setia. Apa yang saya maksud dengan akal? Saya maksud apa yang setiap pria atau wanita terpelajar pada masa kini ingin lakukan, yaitu menerapkan penemuan-penemuan pengetahuan sekuler kepada agama. Asas pertama penalaran adalah bahwa yang khusus dijelaskan oleh yang umum, yang umum dijelaskan oleh yang lebih umum lagi, hingga kita sampai kepada yang universal. Misalnya, kita memiliki gagasan tentang hukum. Jika terjadi sesuatu dan kita yakin bahwa itu adalah akibat dari hukum tertentu, kita pun puas; itulah penjelasannya bagi kita. Yang kita maksud dengan penjelasan itu adalah telah terbukti bahwa satu akibat tertentu ini, yang sebelumnya membuat kita tidak puas, hanyalah satu kasus khusus dari massa kejadian umum yang kita sebut dengan kata "hukum". Ketika satu apel jatuh, Newton terganggu; tetapi ketika ia menemukan bahwa semua apel jatuh, itulah gravitasi, dan ia pun puas. Inilah salah satu asas pengetahuan manusia. Saya melihat suatu makhluk khusus, seorang manusia, di jalan. Saya merujuknya kepada konsep yang lebih besar tentang manusia, dan saya pun puas; saya tahu ia adalah manusia dengan merujuknya kepada yang lebih umum. Maka yang khusus harus dirujuk kepada yang umum, yang umum kepada yang lebih umum, dan pada akhirnya segala sesuatu kepada yang universal, konsep terakhir yang kita miliki, yang paling universal — yakni konsep eksistensi. Eksistensi adalah konsep yang paling universal.
Kita semua adalah manusia; artinya, masing-masing dari kita, boleh dikatakan, adalah bagian khusus dari konsep umum kemanusiaan. Seorang manusia, seekor kucing, dan seekor anjing, semuanya adalah hewan. Contoh-contoh khusus ini — manusia, anjing, atau kucing — adalah bagian-bagian dari konsep yang lebih besar dan lebih umum, yakni hewan. Manusia, kucing, anjing, tumbuhan, dan pohon, semuanya termasuk dalam konsep yang lebih umum lagi, yakni kehidupan. Selanjutnya, semua ini, semua makhluk dan semua materi, termasuk dalam satu konsep eksistensi, sebab kita semua berada di dalamnya. Penjelasan ini hanyalah berarti merujuk yang khusus kepada konsep yang lebih tinggi, menemukan lebih banyak yang sejenis dengannya. Pikiran, dapat dikatakan, telah menyimpan banyak sekali kelas penyamarataan semacam itu. Ia, boleh dikatakan, dipenuhi laci-laci kecil tempat semua gagasan ini dikelompokkan, dan setiap kali kita menemukan sesuatu yang baru, pikiran segera mencoba mencari jenisnya di salah satu laci itu. Jika kita menemukannya, kita masukkan benda baru itu ke sana dan kita pun puas, dan kita dikatakan telah mengenal benda itu. Inilah yang dimaksud dengan pengetahuan, tidak lebih dari itu. Dan jika kita tidak menemukan sesuatu yang sejenis dengannya, kita pun tidak puas, dan harus menunggu sampai kita menemukan klasifikasi lebih lanjut yang sudah ada dalam pikiran. Oleh karena itu, sebagaimana telah saya tunjukkan, pengetahuan kurang lebih adalah klasifikasi. Masih ada lagi. Penjelasan kedua tentang pengetahuan adalah bahwa penjelasan suatu benda harus datang dari dalam dan bukan dari luar. Dahulu ada kepercayaan bahwa, ketika seseorang melemparkan sebuah batu ke atas dan batu itu jatuh, suatu demon menariknya ke bawah. Banyak kejadian yang sebenarnya merupakan fenomena alam diatribusikan oleh orang-orang kepada makhluk-makhluk yang tidak alami. Bahwa hantu menarik batu itu ke bawah adalah penjelasan yang tidak berada di dalam benda itu sendiri, ia adalah penjelasan dari luar; tetapi penjelasan kedua, yakni gravitasi, adalah sesuatu yang berada di dalam kodrat batu itu sendiri; penjelasan itu datang dari dalam. Kecenderungan ini akan Anda temukan di seluruh pemikiran modern; dalam satu kata, yang dimaksud dengan ilmu adalah bahwa penjelasan tentang segala sesuatu berada dalam kodratnya sendiri, dan tidak diperlukan makhluk atau eksistensi eksternal untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di alam semesta. Ahli kimia tidak pernah membutuhkan demon, hantu, atau hal semacam itu, untuk menjelaskan fenomenanya. Ahli fisika tidak pernah membutuhkan satu pun dari hal-hal ini untuk menjelaskan hal-hal yang ia ketahui, demikian pula ilmuwan-ilmuwan lainnya. Dan inilah salah satu ciri ilmu yang hendak saya terapkan pada agama. Dalam hal ini, agama-agama didapati kurang, dan itulah sebabnya mereka berkeping-keping. Setiap ilmu menghendaki penjelasan dari dalam, dari kodrat hal-hal itu sendiri; dan agama-agama tidak mampu memenuhinya. Ada teori kuno tentang suatu dewata personal yang sepenuhnya terpisah dari alam semesta, yang telah dipegang teguh sejak zaman paling awal. Argumen-argumen yang mendukung hal ini telah diulang-ulang, betapa pentingnya memiliki Tuhan yang sepenuhnya terpisah dari alam semesta, suatu dewata ekstra-kosmik, yang telah menciptakan alam semesta dengan kehendak-Nya, dan oleh agama dianggap sebagai penguasanya. Kita mendapati, terlepas dari semua argumen ini, Tuhan Yang Mahakuasa dilukiskan sebagai Yang Maha Penyayang, dan pada saat yang sama, ketimpangan-ketimpangan tetap ada di dunia. Hal-hal ini sama sekali tidak mempersoalkan filsuf, tetapi ia berkata bahwa inti perkaranya keliru; itu adalah penjelasan dari luar, dan bukan dari dalam. Apakah penyebab alam semesta? Sesuatu di luarnya, suatu wujud yang menggerakkan alam semesta ini! Dan sebagaimana hal itu didapati tidak memadai untuk menjelaskan fenomena batu yang jatuh, demikian pula hal itu didapati tidak memadai untuk menjelaskan agama. Dan agama-agama berkeping-keping, karena mereka tidak dapat memberikan penjelasan yang lebih baik daripada itu.
Gagasan lain yang berkaitan dengan ini, manifestasi dari prinsip yang sama, bahwa penjelasan segala sesuatu datang dari dalamnya, adalah hukum evolusi modern. Seluruh makna evolusi adalah secara sederhana bahwa kodrat suatu benda direproduksi, bahwa akibat tidak lain hanyalah sebab dalam bentuk lain, bahwa segala potensi akibat sudah hadir dalam sebab, bahwa seluruh penciptaan hanyalah evolusi dan bukan penciptaan. Artinya, setiap akibat adalah reproduksi dari sebab yang mendahuluinya, hanya diubah oleh keadaan, dan demikianlah ia berlangsung di seluruh alam semesta, dan kita tidak perlu pergi ke luar alam semesta untuk mencari sebab-sebab dari perubahan ini; sebab-sebab itu berada di dalam. Tidak perlu mencari sebab apa pun di luar. Hal ini juga sedang meruntuhkan agama. Yang saya maksud dengan meruntuhkan agama adalah bahwa agama-agama yang berpegang pada gagasan tentang dewata ekstra-kosmik, yang menyatakan ia hanyalah manusia yang amat besar dan tidak lebih dari itu, tak lagi dapat berdiri di atas kakinya sendiri; mereka, dapat dikatakan, telah ditarik turun.
Adakah agama yang dapat memuaskan kedua prinsip ini? Saya kira ada. Pertama-tama, kita telah melihat bahwa kita harus memenuhi prinsip penyamarataan. Prinsip penyamarataan haruslah dipenuhi bersama dengan prinsip evolusi. Kita harus tiba pada suatu penyamarataan tertinggi, yang bukan hanya akan menjadi yang paling universal dari segala penyamarataan, tetapi juga sumber dari mana segala sesuatu yang lain harus berasal. Ia akan memiliki kodrat yang sama dengan akibat yang paling rendah; sebab, yakni yang tertinggi, yang tak terhingga, yang sebab primal, haruslah sama dengan yang paling rendah dan paling jauh dari akibat-akibatnya, melalui suatu rangkaian evolusi. Brahman Vedanta memenuhi syarat itu, sebab Brahman adalah penyamarataan terakhir yang dapat kita capai. Ia tidak memiliki atribut tetapi adalah Eksistensi, Pengetahuan, dan Kebahagiaan — Mutlak. Eksistensi, sebagaimana telah kita lihat, adalah penyamarataan paling utama yang dapat dicapai oleh pikiran manusia. Pengetahuan tidak berarti pengetahuan yang kita miliki, tetapi inti dari pengetahuan itu, yakni yang mengungkapkan dirinya dalam perjalanan evolusi pada manusia atau pada hewan-hewan lain sebagai pengetahuan. Inti pengetahuan itulah yang dimaksudkan, fakta tertinggi yang melampaui — jika saya boleh mengatakan demikian — bahkan kesadaran. Itulah yang dimaksud dengan pengetahuan dan apa yang kita lihat di alam semesta sebagai kesatuan esensial dari segala sesuatu. Menurut hemat saya, jika ilmu modern membuktikan sesuatu berulang kali, maka inilah yang dibuktikannya, yaitu bahwa kita adalah satu — secara mental, spiritual, dan fisikal. Adalah keliru untuk mengatakan bahwa kita berbeda bahkan secara fisikal. Andaikan kita penganut materialisme, demi argumen, kita akan sampai pada kesimpulan ini, bahwa seluruh alam semesta tidak lain hanyalah samudra materi, di dalamnya Anda dan saya bagaikan pusaran-pusaran kecil. Massa-massa materi masuk ke dalam setiap pusaran, mengambil bentuk pusaran, dan keluar lagi sebagai materi. Materi yang ada di tubuh saya barangkali beberapa tahun lalu ada di tubuh Anda, atau di matahari, atau pernah menjadi materi pada suatu tumbuhan, dan seterusnya, dalam keadaan arus yang sinambung. Apakah yang dimaksud dengan tubuh Anda dan tubuh saya? Itulah keesaan tubuh. Demikian pula halnya dengan pikiran. Pikiran adalah samudra pikiran, satu massa tak terhingga, di dalamnya pikiran Anda dan pikiran saya bagaikan pusaran-pusaran. Bukankah Anda sekarang melihat efeknya, bagaimana pikiran-pikiran saya memasuki pikiran Anda, dan pikiran Anda memasuki pikiran saya? Seluruh hidup kita adalah satu; kita adalah satu, bahkan dalam pikiran. Naik ke penyamarataan yang lebih lanjut lagi, inti materi dan pikiran adalah potensi roh; inilah kesatuan tempat semua berasal, dan itu pada hakikatnya haruslah satu. Kita adalah satu secara mutlak; kita satu secara fisikal, kita satu secara mental, dan sebagai roh — sudah barang tentu — kita adalah satu, jika kita memang percaya pada roh sama sekali. Keesaan ini adalah satu fakta yang setiap hari dibuktikan oleh ilmu modern. Kepada manusia yang sombong dikatakan: Anda sama dengan cacing kecil itu di sana; jangan mengira Anda adalah sesuatu yang sangat berbeda darinya; Anda adalah sama. Anda pernah menjadi itu dalam inkarnasi sebelumnya, dan cacing itu telah merangkak naik hingga ke keadaan manusia ini, yang membuat Anda begitu bangga. Khotbah agung ini, keesaan segala sesuatu, yang menjadikan kita satu dengan segala yang ada, adalah pelajaran besar yang harus dipelajari, sebab kebanyakan dari kita sangat senang dijadikan satu dengan makhluk-makhluk yang lebih tinggi, tetapi tak seorang pun ingin dijadikan satu dengan makhluk-makhluk yang lebih rendah. Begitulah ketidaktahuan manusia, sehingga jika nenek moyang seseorang adalah orang-orang yang dihormati masyarakat, sekalipun mereka kasar perangainya, sekalipun mereka perampok, bahkan baron-baron perampok, setiap orang dari kita akan berusaha melacak silsilahnya kepada mereka; tetapi jika di antara nenek moyang kita ada orang-orang miskin yang terhormat dan jujur, tak seorang pun dari kita ingin melacak silsilahnya kepada mereka. Tetapi sisik-sisik mulai berguguran dari mata kita, kebenaran mulai menyatakan dirinya semakin jelas, dan itu adalah kemenangan besar bagi agama. Itulah persis ajaran Advaita (non-dualitas), yang sedang saya kuliahkan kepada Anda. Diri adalah inti alam semesta ini, inti semua jiwa; Dia adalah inti dari kehidupan Anda sendiri, bahkan, "Itu adalah engkau". Anda adalah satu dengan alam semesta ini. Ia yang berkata bahwa dirinya berbeda dari yang lain, sekalipun selebar rambut, seketika menjadi sengsara. Kebahagiaan adalah milik dia yang mengetahui keesaan ini, yang mengetahui bahwa ia adalah satu dengan alam semesta ini.
Maka kita lihat bahwa agama Vedanta dapat memuaskan tuntutan dunia ilmu pengetahuan, dengan merujuknya kepada penyamarataan tertinggi dan kepada hukum evolusi. Bahwa penjelasan suatu benda datang dari dalam dirinya sendiri terpenuhi secara lebih sempurna oleh Vedanta. Brahman, Tuhan Vedanta, tidak memiliki apa pun di luar diri-Nya; tidak satu pun. Semua ini sesungguhnya adalah Dia: Dia berada di alam semesta: Dialah alam semesta itu sendiri. "Engkaulah laki-laki itu, Engkaulah perempuan itu, Engkaulah pemuda yang berjalan dalam keangkuhan masa muda, Engkaulah orang tua yang melangkah terhuyung." Dia ada di sini. Dialah yang kita lihat dan rasakan: di dalam Dia kita hidup, bergerak, dan memiliki keberadaan kita. Anda memiliki konsepsi itu dalam Perjanjian Baru. Itulah gagasan tentang Tuhan yang imanen di alam semesta, yang adalah inti, hati, jiwa segala sesuatu. Dia memanifestasikan diri-Nya, dapat dikatakan, di alam semesta ini. Anda dan saya adalah bagian-bagian kecil, titik-titik kecil, saluran-saluran kecil, ungkapan-ungkapan kecil, semuanya hidup di dalam samudra tak terhingga dari Eksistensi, Pengetahuan, dan Kebahagiaan itu. Perbedaan antara manusia dengan manusia, antara malaikat dengan manusia, antara manusia dengan hewan, antara hewan dengan tumbuhan, antara tumbuhan dengan batu bukanlah perbedaan jenis, sebab setiap entitas mulai dari malaikat tertinggi hingga partikel materi yang paling rendah hanyalah ungkapan dari satu samudra tak terhingga itu, dan perbedaannya hanyalah pada derajat. Saya adalah manifestasi rendah, Anda mungkin lebih tinggi, tetapi pada keduanya bahan-bahannya sama. Anda dan saya keduanya adalah saluran-saluran keluar dari saluran yang sama, dan itulah Tuhan; demikianlah, kodrat Anda adalah Tuhan, demikian pula kodrat saya. Anda berkodrat Tuhan karena hak kelahiran Anda; demikian pula saya. Anda mungkin malaikat kemurnian, dan saya mungkin demon yang paling hitam. Meskipun demikian, hak kelahiran saya adalah samudra tak terhingga dari Eksistensi, Pengetahuan, dan Kebahagiaan itu. Demikian pula hak kelahiran Anda. Anda telah lebih banyak memanifestasikan diri Anda pada hari ini. Tunggulah; saya pun akan memanifestasikan diri saya lebih banyak lagi, sebab saya memiliki semuanya di dalam diri saya. Tidak ada penjelasan eksternal yang dicari; tidak ada yang dimintakan. Jumlah keseluruhan dari seluruh alam semesta ini adalah Tuhan itu sendiri. Apakah Tuhan, dengan demikian, materi? Tidak, sama sekali tidak, sebab materi adalah Tuhan yang dipersepsi oleh lima indra; Tuhan yang dipersepsi melalui intelek adalah pikiran; dan ketika roh yang melihat, Dia tampak sebagai roh. Dia bukan materi, tetapi apa pun yang nyata dalam materi adalah Dia. Apa pun yang nyata pada kursi ini adalah Dia, sebab kursi memerlukan dua hal untuk membentuknya. Sesuatu yang berada di luar dibawa oleh indra saya kepada saya, dan kepada hal itu pikiran saya menyumbangkan sesuatu yang lain, dan gabungan dari kedua hal inilah yang menjadi kursi. Yang ada secara kekal, terlepas dari indra dan intelek, adalah Tuhan itu sendiri. Pada Diri-Nyalah indra-indra melukiskan kursi, meja, kamar, rumah, dunia, bulan, matahari, bintang-bintang, dan segala sesuatu lainnya. Lalu bagaimana mungkin kita semua melihat kursi yang sama ini, bagaimana kita semua melukiskan beragam benda ini pada Tuhan, pada Eksistensi, Pengetahuan, dan Kebahagiaan itu? Tidak harus semua melukis dengan cara yang sama, tetapi mereka yang melukis dengan cara yang sama berada pada bidang eksistensi yang sama dan karena itu mereka saling melihat lukisan-lukisan satu sama lain serta saling melihat satu dengan yang lain. Mungkin ada jutaan makhluk di antara Anda dan saya yang tidak melukiskan Tuhan dengan cara yang sama, dan mereka serta lukisan-lukisan mereka tidak kita lihat.
Di sisi lain, sebagaimana Anda semua tahu, riset-riset fisikal modern semakin cenderung membuktikan bahwa yang nyata hanyalah yang lebih halus; yang kasar hanyalah penampakan. Bagaimanapun adanya, kita telah melihat bahwa jika ada teori agama yang dapat lulus ujian penalaran modern, ia adalah Advaita, sebab ia memenuhi kedua syaratnya. Ia adalah penyamarataan tertinggi, melampaui bahkan personalitas, suatu penyamarataan yang berlaku untuk setiap makhluk. Suatu penyamarataan yang berakhir pada Tuhan Personal tidak akan pernah dapat menjadi universal, sebab, pertama-tama, untuk mengkonsepsikan Tuhan Personal kita harus berkata, Dia maha pengasih, maha baik. Tetapi dunia ini adalah hal yang campur aduk, sebagian baik dan sebagian buruk. Kita memotong apa yang kita sukai, dan kita menyamaratakannya menjadi suatu Tuhan Personal! Sebagaimana Anda berkata bahwa Tuhan Personal itu ini dan itu, Anda juga harus berkata bahwa Dia bukan ini dan bukan itu. Dan Anda akan selalu menemukan bahwa gagasan tentang Tuhan Personal harus membawa serta seorang iblis personal. Demikianlah jelas kita lihat bahwa gagasan tentang Tuhan Personal bukanlah suatu penyamarataan yang sejati, kita harus melampauinya, kepada Yang Impersonal. Di dalamnya alam semesta ini ada, dengan segala suka dan dukanya, sebab apa pun yang ada di dalamnya semuanya datang dari Yang Impersonal. Tuhan macam apakah Dia jika kepada-Nya kita atribusikan kejahatan dan hal-hal lain? Gagasannya adalah bahwa baik kebaikan maupun kejahatan adalah aspek-aspek atau manifestasi-manifestasi yang berbeda dari hal yang sama. Gagasan bahwa keduanya berdiri sendiri adalah gagasan yang sejak semula sangat keliru, dan itu telah menjadi penyebab banyak kesengsaraan di dunia kita ini — gagasan bahwa benar dan salah adalah dua hal yang terpisah, jelas dan pasti, lepas satu sama lain, bahwa kebaikan dan kejahatan adalah dua hal yang secara kekal dapat dipisahkan dan terpisah. Saya akan sangat senang bertemu dengan orang yang dapat menunjukkan kepada saya sesuatu yang baik sepanjang waktu, dan sesuatu yang buruk sepanjang waktu. Seakan-akan ada yang dapat berdiri tegak dan dengan khidmat mendefinisikan kejadian-kejadian tertentu dalam hidup kita ini sebagai baik dan baik belaka, dan beberapa lainnya sebagai buruk dan buruk belaka. Yang baik hari ini mungkin jahat esok hari. Yang buruk hari ini mungkin baik esok hari. Yang baik bagi saya mungkin buruk bagi Anda. Kesimpulannya, seperti segala sesuatu yang lain, ada evolusi pula dalam kebaikan dan kejahatan. Ada sesuatu yang dalam evolusinya, pada satu derajat kita sebut kebaikan, dan pada derajat lain kita sebut kejahatan. Badai yang membunuh sahabat saya saya sebut kejahatan, tetapi badai itu mungkin telah menyelamatkan nyawa ratusan ribu orang dengan membunuh bakteri-bakteri di udara. Mereka menyebutnya kebaikan, tetapi saya menyebutnya kejahatan. Maka kebaikan dan kejahatan keduanya termasuk ke dalam dunia relatif, ke dalam fenomena. Tuhan Impersonal yang kita usulkan bukanlah Tuhan yang relatif; oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa Ia baik atau buruk, melainkan bahwa Ia sesuatu yang melampaui, sebab Ia bukan baik bukan pula jahat. Namun, kebaikan adalah manifestasi-Nya yang lebih dekat daripada kejahatan.
Apakah dampak dari menerima Wujud Impersonal semacam itu, suatu Dewata Impersonal? Apa yang akan kita peroleh? Apakah agama akan tetap berdiri sebagai faktor dalam hidup manusia, penghibur kita, penolong kita? Apa jadinya hasrat hati manusia untuk memanjatkan doa memohon pertolongan kepada suatu wujud? Semua itu akan tetap ada. Tuhan Personal akan tetap ada, tetapi di atas landasan yang lebih baik. Ia telah diperkuat oleh Yang Impersonal. Kita telah melihat bahwa tanpa Yang Impersonal, Yang Personal tidak dapat bertahan. Jika yang Anda maksud adalah bahwa ada suatu Wujud yang sepenuhnya terpisah dari alam semesta ini, yang telah menciptakan alam semesta ini hanya dengan kehendak-Nya, dari ketiadaan, maka hal itu tidak dapat dibuktikan. Keadaan semacam itu tidak mungkin ada. Tetapi jika kita memahami gagasan tentang Yang Impersonal, maka gagasan tentang Yang Personal pun dapat tetap ada di situ. Alam semesta ini, dalam berbagai bentuknya, hanyalah pembacaan-pembacaan yang berbeda dari satu Yang Impersonal yang sama. Ketika kita membacanya dengan lima indra, kita menyebutnya dunia material. Jika ada makhluk dengan indra lebih dari lima, ia akan membacanya sebagai sesuatu yang lain. Jika salah satu dari kita memperoleh indra elektrik, ia akan melihat alam semesta sebagai sesuatu yang lain lagi. Ada beragam bentuk dari Keesaan yang sama itu, yang darinya semua gagasan tentang dunia yang beragam ini hanyalah pembacaan-pembacaan yang berbeda, dan Tuhan Personal adalah pembacaan tertinggi yang dapat dicapai, dari Yang Impersonal itu, oleh intelek manusia. Sehingga Tuhan Personal itu benar sebagaimana kursi ini benar, sebagaimana dunia ini benar, tetapi tidak lebih dari itu. Ia bukan kebenaran mutlak. Artinya, Tuhan Personal adalah Tuhan Impersonal itu juga dan, oleh karena itu, Ia benar, sama seperti saya, sebagai manusia, benar dan tidak benar pada saat yang bersamaan. Tidaklah benar bahwa saya adalah seperti yang Anda lihat saya sekarang ini; Anda dapat meyakinkan diri Anda dalam soal itu. Saya bukanlah makhluk yang Anda kira saya ini. Anda dapat memuaskan akal Anda dalam hal itu, sebab cahaya, dan berbagai getaran, atau keadaan atmosfer, dan segala macam gerakan di dalam diri saya turut menyumbang sehingga saya terlihat oleh Anda sebagaimana saya sekarang ini. Jika salah satu dari kondisi-kondisi ini berubah, saya pun menjadi berbeda lagi. Anda dapat membuktikannya dengan memotret orang yang sama dalam kondisi cahaya yang berbeda-beda. Jadi saya adalah apa yang tampak dalam hubungan dengan indra-indra Anda, namun, terlepas dari semua fakta ini, ada suatu sesuatu yang tidak berubah, yang semua hal ini hanyalah keadaan-keadaan eksistensinya yang berbeda-beda, yakni diri saya yang impersonal, yang darinya ribuan "saya" adalah pribadi-pribadi yang berbeda. Saya pernah menjadi anak-anak, saya pernah muda, saya semakin tua. Setiap hari dalam hidup saya, tubuh dan pikiran saya berubah, tetapi terlepas dari semua perubahan ini, jumlah totalnya membentuk satu massa yang merupakan kuantitas yang tetap. Itulah diri saya yang impersonal, yang darinya semua manifestasi ini, dapat dikatakan, membentuk bagian-bagiannya.
Demikian pula, jumlah total alam semesta ini, kita tahu, tidak bergerak, tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta ini terdiri dari gerakan, segala sesuatu berada dalam keadaan arus yang sinambung, segala sesuatu berubah dan bergerak. Pada saat yang sama, kita lihat bahwa alam semesta sebagai keseluruhan tidak bergerak, sebab gerakan adalah istilah relatif. Saya bergerak terhadap kursi, yang tidak bergerak. Setidaknya harus ada dua hal untuk membuat gerakan. Jika seluruh alam semesta ini diambil sebagai satu kesatuan, tidak ada gerakan; terhadap apa ia akan bergerak? Maka Yang Mutlak itu tidak berubah dan tidak bergerak, dan semua gerakan dan perubahan hanya ada di dunia fenomenal, dunia yang terbatas. Keseluruhan itu adalah Impersonal, dan di dalam Yang Impersonal ini terdapatlah semua pribadi yang beragam ini, mulai dari atom yang paling rendah, hingga Tuhan, Tuhan Personal, sang Pencipta, sang Penguasa Alam Semesta, kepada siapa kita berdoa, di hadapan siapa kita berlutut, dan seterusnya. Tuhan Personal semacam itu dapat diteguhkan dengan banyak alasan yang masuk akal. Tuhan Personal semacam itu dapat dijelaskan sebagai manifestasi tertinggi dari Yang Impersonal. Anda dan saya adalah manifestasi yang sangat rendah, dan Tuhan Personal adalah manifestasi tertinggi yang dapat kita konsepsikan. Anda maupun saya tidak akan dapat menjadi Tuhan Personal itu. Ketika Vedanta berkata Anda dan saya adalah Tuhan, ia tidak memaksudkan Tuhan Personal. Sebagai contoh. Dari segumpal tanah liat dibentuklah seekor gajah tanah liat raksasa, dan dari tanah liat yang sama, dibentuk pula seekor tikus tanah liat yang kecil. Apakah tikus tanah liat itu akan dapat menjadi gajah tanah liat? Tetapi masukkan keduanya ke dalam air dan keduanya hanyalah tanah liat; sebagai tanah liat keduanya adalah satu, tetapi sebagai tikus dan gajah akan ada perbedaan kekal di antara keduanya. Yang Tak Terhingga, Yang Impersonal, bagaikan tanah liat dalam contoh itu. Kita dan sang Penguasa Alam Semesta adalah satu, tetapi sebagai makhluk yang termanifestasi, sebagai manusia, kita adalah hamba-hamba kekal-Nya, para penyembah-Nya. Maka kita lihat bahwa Tuhan Personal tetap ada. Segala sesuatu yang lain dalam dunia relatif ini tetap ada, dan agama dibuat berdiri di atas landasan yang lebih kokoh. Oleh karena itu, perlulah, bahwa kita pertama-tama mengenal Yang Impersonal agar dapat mengenal Yang Personal.
Sebagaimana telah kita lihat, hukum nalar mengatakan bahwa yang khusus hanya dapat dikenal melalui yang umum. Maka segala yang khusus ini, dari manusia hingga Tuhan, hanya dapat dikenal melalui yang Impersonal, generalisasi tertinggi. Doa akan tetap ada, hanya saja ia akan memperoleh makna yang lebih baik. Semua gagasan doa yang tidak bermakna, tahap-tahap doa yang rendah, yang sekadar memberi kata-kata kepada segala macam keinginan dangkal dalam benak kita, barangkali harus ditinggalkan. Dalam semua agama yang berakal sehat, mereka tidak pernah memperkenankan doa kepada Tuhan; mereka memperkenankan doa kepada para dewa. Hal itu sungguh wajar. Umat Katolik Roma berdoa kepada para santo; itu cukup baik. Namun berdoa kepada Tuhan adalah hal yang tidak masuk akal. Meminta Tuhan agar memberi Anda sehembus udara, menurunkan hujan, menumbuhkan buah di kebun Anda, dan sebagainya, sungguh tidak wajar. Para santo, yang dahulu adalah makhluk kecil seperti kita, barangkali dapat menolong kita. Akan tetapi berdoa kepada Penguasa Alam Semesta, mengoceh tentang setiap kebutuhan kecil kita, dan sejak kanak-kanak berkata, "Ya Tuhan, kepala saya sakit; sembuhkanlah," adalah hal yang menggelikan. Telah ada jutaan jiwa yang mati di dunia ini, dan mereka semua ada di sini; mereka telah menjadi dewa dan malaikat; biarlah mereka datang menolong Anda. Namun Tuhan! Itu tidak mungkin. Kepada-Nya kita harus pergi untuk hal-hal yang lebih tinggi. Sungguh dungu orang yang, sembari beristirahat di tepi Sungai Gangga, menggali sumur kecil untuk mencari air; sungguh dungu orang yang, tinggal di dekat tambang berlian, menggali untuk mencari serpihan kristal.
Dan sungguh kita akan menjadi orang dungu jika kita pergi kepada Bapa segala rahmat, Bapa segala cinta, untuk hal-hal duniawi yang remeh. Kepada-Nya, oleh karena itu, kita akan pergi untuk cahaya, untuk kekuatan, untuk cinta. Namun selama masih ada kelemahan dan kerinduan akan ketergantungan yang menghamba dalam diri kita, doa-doa kecil dan gagasan-gagasan ibadat kepada Tuhan personal ini akan terus ada. Akan tetapi mereka yang telah sangat maju tidak peduli pada pertolongan-pertolongan kecil semacam itu; mereka hampir sepenuhnya melupakan pencarian segala sesuatu untuk diri sendiri, keinginan akan segala sesuatu untuk diri sendiri. Gagasan yang dominan dalam diri mereka adalah — bukan aku, melainkan engkau, saudaraku. Mereka itulah orang-orang yang layak untuk memuja Tuhan Impersonal. Lalu apakah pemujaan kepada Tuhan Impersonal itu? Di sana tidak ada perhambaan — "Ya Tuhan, saya bukan apa-apa, kasihanilah saya." Anda tahu puisi Persia tua yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: "Aku datang menemui kekasihku. Pintu tertutup. Aku mengetuk dan terdengarlah suara dari dalam. 'Siapakah engkau?' 'Aku ini si anu.' Pintu tidak terbuka. Untuk kedua kalinya aku datang dan mengetuk; aku ditanya dengan pertanyaan yang sama, dan kuberi jawaban yang sama. Pintu tidak terbuka. Aku datang untuk ketiga kalinya, dan datang pula pertanyaan yang sama. Aku menjawab, 'Aku adalah engkau, kekasihku,' dan pintu pun terbuka." Pemujaan kepada Tuhan Impersonal adalah melalui kebenaran. Lalu apakah kebenaran itu? Bahwa saya adalah Dia. Ketika saya berkata bahwa saya bukan Engkau, itu tidak benar. Ketika saya berkata saya terpisah dari Anda, itu adalah dusta, dusta yang mengerikan. Saya adalah satu dengan alam semesta ini, dilahirkan sebagai satu. Adalah jelas dengan sendirinya bagi indra saya bahwa saya satu dengan alam semesta. Saya satu dengan udara yang mengelilingi saya, satu dengan panas, satu dengan cahaya, kekal satu dengan seluruh Wujud Semesta, yang disebut alam semesta ini, yang disangka sebagai alam semesta, sebab Dialah dan tiada yang lain, subjek kekal di dalam hati yang berkata, "Aku ada," di dalam setiap hati — Yang Tak Mati, Yang Tak Tidur, selalu terjaga, Yang Baka, yang kemuliaan-Nya tak pernah pudar, yang kuasa-Nya tak pernah berkurang. Saya satu dengan Itu.
Inilah seluruh pemujaan kepada Yang Impersonal, dan apakah hasilnya? Seluruh hidup manusia akan berubah. Kekuatan, kekuatan itulah yang sangat kita butuhkan dalam hidup ini, sebab apa yang kita sebut dosa dan dukacita semuanya memiliki satu sebab, yaitu kelemahan kita. Dengan kelemahan datanglah ketidaktahuan, dan dengan ketidaktahuan datanglah kesengsaraan. Hal itu akan membuat kita kuat. Maka kesengsaraan akan ditertawakan, maka kekerasan orang keji akan disenyumi, dan harimau yang buas akan menyingkapkan, di balik sifat kemacanan-nya, Diri saya sendiri. Itulah hasilnya. Jiwa yang telah menjadi satu dengan Tuhan adalah jiwa yang kuat; tidak ada jiwa lain yang kuat. Dalam Alkitab Anda sendiri, menurut Anda apa sebab kekuatan Yesus dari Nazaret itu, kekuatan yang luar biasa dan tak terbatas yang menertawakan para pengkhianat, dan memberkati mereka yang ingin membunuh-Nya? Sebabnya adalah, "Aku dan Bapa-Ku adalah satu"; sebabnya adalah doa itu, "Bapa, sebagaimana Aku satu dengan Engkau, demikianlah jadikanlah mereka semua satu dengan-Ku." Itulah pemujaan kepada Tuhan Impersonal. Jadilah satu dengan alam semesta, jadilah satu dengan-Nya. Dan Tuhan Impersonal ini tidak memerlukan demonstrasi, tidak memerlukan bukti. Dia lebih dekat kepada kita daripada indra kita sendiri, lebih dekat kepada kita daripada pikiran kita sendiri; di dalam dan melalui Dialah kita melihat dan berpikir. Untuk melihat apa pun, saya pertama-tama harus melihat Dia. Untuk melihat dinding ini saya pertama-tama melihat Dia, lalu melihat dinding, sebab Dia adalah subjek yang kekal. Siapakah yang sedang melihat siapa? Dia ada di sini, di lubuk hati kita yang terdalam. Tubuh dan pikiran berubah; kesengsaraan, kebahagiaan, kebaikan dan kejahatan datang dan pergi; hari demi hari, tahun demi tahun berlalu; hidup datang dan pergi; tetapi Dia tidak mati. Suara yang sama, "Aku ada, Aku ada," adalah kekal, tak berubah. Di dalam Dia dan melalui Dia kita mengetahui segala sesuatu. Di dalam Dia dan melalui Dia kita melihat segala sesuatu. Di dalam Dia dan melalui Dia kita merasa, kita berpikir, kita hidup, dan kita ada. Dan "Aku" itu, yang kita sangka sebagai "aku" kecil yang terbatas, bukan hanya "Aku" saya, melainkan "Aku" Anda, "Aku" setiap orang, "Aku" para binatang, "Aku" para malaikat, "Aku" yang paling rendah dari yang rendah. "Aku ada" itu sama di dalam diri pembunuh seperti di dalam diri orang suci, sama di dalam diri orang kaya seperti di dalam diri orang miskin, sama di dalam diri laki-laki seperti di dalam diri perempuan, sama di dalam diri manusia seperti di dalam diri binatang. Dari ameba yang paling rendah hingga malaikat yang paling tinggi, Dia bersemayam di dalam setiap jiwa, dan kekal menyatakan, "Aku adalah Dia, Aku adalah Dia." Apabila kita telah memahami suara yang kekal hadir di sana itu, apabila kita telah mempelajari pelajaran ini, seluruh alam semesta akan menyatakan rahasianya. Alam akan menyerahkan rahasianya kepada kita. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diketahui. Demikianlah kita menemukan kebenaran yang dicari oleh semua agama, bahwa semua pengetahuan ilmu material itu hanyalah sekunder. Itulah satu-satunya pengetahuan sejati yang menjadikan kita satu dengan Tuhan Semesta Alam ini.
English
Reason And Religion
( Delivered in England )
A sage called Nârada went to another sage named Sanatkumâra to learn about truth, and Sanatkumara inquired what he had studied already. Narada answered that he had studied the Vedas, Astronomy, and various other things, yet he had got no satisfaction. Then there was a conversation between the two, in the course of which Sanatkumara remarked that all this knowledge of the Vedas, of Astronomy, and of Philosophy, was but secondary; sciences were but secondary. That which made us realise the Brahman was the supreme, the highest knowledge. This idea we find in every religion, and that is why religion always claimed to be supreme knowledge. Knowledge of the sciences covers, as it were, only part of our lives, but the knowledge which religion brings to us is eternal, as infinite as the truth it preaches. Claiming this superiority, religions have many times looked down, unfortunately, on all secular knowledge, and not only so, but many times have refused to be justified by the aid of secular knowledge. In consequence, all the world over there have been fights between secular knowledge and religious knowledge, the one claiming infallible authority as its guide, refusing to listen to anything that secular knowledge has to say on the point, the other, with its shining instrument of reason, wanting to cut to pieces everything religion could bring forward. This fight has been and is still waged in every country. Religions have been again and again defeated, and almost exterminated. The worship of the goddess of Reason during the French Revolution was not the first manifestation of that phenomenon in the history of humanity, it was a re-enactment of what had happened in ancient times, but in modern times it has assumed greater proportions. The physical sciences are better equipped now than formerly, and religions have become less and less equipped. The foundations have been all undermined, and the modern man, whatever he may say in public, knows in the privacy of his heart that he can no more "believe". Believing certain things because an organised body of priests tells him to believe, believing because it is written in certain books, believing because his people like him to believe, the modern man knows to be impossible for him. There are, of course, a number of people who seem to acquiesce in the so-called popular faith, but we also know for certain that they do not think. Their idea of belief may be better translated as "not-thinking-carelessness". This fight cannot last much longer without breaking to pieces all the buildings of religion.
The question is: Is there a way out? To put it in a more concrete form: Is religion to justify itself by the discoveries of reason, through which every other science justifies itself? Are the same methods of investigation, which we apply to sciences and knowledge outside, to be applied to the science of Religion? In my opinion this must be so, and I am also of opinion that the sooner it is done the better. If a religion is destroyed by such investigations, it was then all the time useless, unworthy superstition; and the sooner it goes the better. I am thoroughly convinced that its destruction would be the best thing that could happen. All that is dross will be taken off, no doubt, but the essential parts of religion will emerge triumphant out of this investigation. Not only will it be made scientific — as scientific, at least, as any of the conclusions of physics or chemistry — but will have greater strength, because physics or chemistry has no internal mandate to vouch for its truth, which religion has.
People who deny the efficacy of any rationalistic investigation into religion seem to me somewhat to be contradicting themselves. For instance, the Christian claims that his religion is the only true one, because it was revealed to so-and-so. The Mohammedan makes the same claim for his religion; his is the only true one, because it was revealed to so-and-so. But the Christian says to the Mohammedan, "Certain parts of your ethics do not seem to be right. For instance, your books say, my Mohammedan friend, that an infidel may be converted to the religion of Mohammed by force, and if he will not accept the Mohammedan religion he may be killed; and any Mohammedan who kills such an infidel will get a sure entry into heaven, whatever may have been his sins or misdeeds." The Mohammedan will retort by saying, "It is right for me to do so, because my book enjoins it. It will be wrong on my part not to do so." The Christian says, "But my book does not say so." The Mohammedan replies, "I do not know; I am not bound by the authority of your book; my book says, 'Kill all the infidels'. How do you know which is right and which is wrong? Surely what is written in my book is right and what your book says, 'Do not kill,' is wrong. You also say the same thing, my Christian friend; you say that what Jehovah declared to the Jews is right to do, and what he forbade them to do is wrong. So say I, Allah declared in my book that certain things should be done, and that certain things should not be done, and that is all the test of right and wrong." In spite of that the Christian is not satisfied; he insists on a comparison of the morality of the Sermon on the Mount with the morality of the Koran. How is this to be decided? Certainly not by the books, because the books, fighting between themselves, cannot be the judges. Decidedly then we have to admit that there is something more universal than these books, something higher than all the ethical codes that are in the world, something which can judge between the strength of inspirations of different nations. Whether we declare it boldly, clearly, or not — it is evident that here we appeal to reason.
Now, the question arises if this light of reason is able to judge between inspiration and inspiration, and if this light can uphold its standard when the quarrel is between prophet and prophet, if it has the power of understanding anything whatsoever of religion. If it has not, nothing can determine the hopeless fight of books and prophets which has been going on through ages; for it means that all religions are mere lies, hopelessly contradictory, without any constant idea of ethics. The proof of religion depends on the truth of the constitution of man, and not on any books. These books are the outgoings, the effects of man's constitution; man made these books. We are yet to see the books that made man. Reason is equally an effect of that common cause, the constitution of man, where our appeal must be. And yet, as reason alone is directly connected with this constitution, it should be resorted to, as long as it follows faithfully the same. What do I mean by reason? I mean what every educated man or woman is wanting to do at the present time, to apply the discoveries of secular knowledge to religion. The first principle of reasoning is that the particular is explained by the general, the general by the more general, until we come to the universal. For instance, we have the idea of law. If something happens and we believe that it is the effect of such and such a law, we are satisfied; that is an explanation for us. What we mean by that explanation is that it is proved that this one effect, which had dissatisfied us, is only one particular of a general mass of occurrences which we designate by the word "law". When one apple fell, Newton was disturbed; but when he found that all apples fell, it was gravitation, and he was satisfied. This is one principle of human knowledge. I see a particular being, a human being, in the street. I refer him to the bigger conception of man, and I am satisfied; I know he is a man by referring him to the more general. So the particulars are to be referred to the general, the general to the more general, and everything at last to the universal, the last concept that we have, the most universal — that of existence. Existence is the most universal concept.
We are all human beings; that is to say, each one of us, as it were, a particular part of the general concept, humanity. A man, and a cat, and a dog, are all animals. These particular examples, as man, or dog, or cat, are parts of a bigger and more general concept, animal. The man, and the cat, and the dog, and the plant, and the tree, all come under the still more general concept, life. Again, all these, all beings and all materials, come under the one concept of existence, for we all are in it. This explanation merely means referring the particular to a higher concept, finding more of its kind. The mind, as it were, has stored up numerous classes of such generalisations. It is, as it were, full of pigeon-holes where all these ideas are grouped together, and whenever we find a new thing the mind immediately tries to find out its type in one of these pigeon-holes. If we find it, we put the new thing in there and are satisfied, and we are said to have known the thing. This is what is meant by knowledge, and no more. And if we do not find that there is something like it, we are dissatisfied, and have to wait until we find a further classification for it, already existing in the mind. Therefore, as I have already pointed out, knowledge is more or less classification. There is something more. A second explanation of knowledge is that the explanation of a thing must come from inside and not from outside. There had been the belief that, when a man threw up a stone and it fell, some demon dragged it down. Many occurrences which are really natural phenomena are attributed by people to unnatural beings. That a ghost dragged down the stone was an explanation that was not in the thing itself, it was an explanation from outside; but the second explanation of gravitation is something in the nature of the stone; the explanation is coming from inside. This tendency you will find throughout modern thought; in one word, what is meant by science is that the explanations of things are in their own nature, and that no external beings or existences are required to explain what is going on in the universe. The chemist never requires demons, or ghosts, or anything of that sort, to explain his phenomena. The physicist never requires any one of these to explain the things he knows, nor does any other scientist. And this is one of the features of science which I mean to apply to religion. In this religions are found wanting and that is why they are crumbling into pieces. Every science wants its explanations from inside, from the very nature of things; and the religions are not able to supply this. There is an ancient theory of a personal deity entirely separate from the universe, which has been held from the very earliest time. The arguments in favour of this have been repeated again and again, how it is necessary to have a God entirely separate from the universe, an extra-cosmic deity, who has created the universe out of his will, and is conceived by religion to be its ruler. We find, apart from all these arguments, the Almighty God painted as the All-merciful, and at the same time, inequalities remain in the world. These things do not concern the philosopher at all, but he says the heart of the thing was wrong; it was an explanation from outside, and not inside. What is the cause of the universe? Something outside of it, some being who is moving this universe! And just as it was found insufficient to explain the phenomenon of the falling stone, so this was found insufficient to explain religion. And religions are falling to pieces, because they cannot give a better explanation than that.
Another idea connected with this, the manifestation of the same principle, that the explanation of everything comes from inside it, is the modern law of evolution. The whole meaning of evolution is simply that the nature of a thing is reproduced, that the effect is nothing but the cause in another form, that all the potentialities of the effect were present in the cause, that the whole of creation is but an evolution and not a creation. That is to say, every effect is a reproduction of a preceding cause, changed only by the circumstances, and thus it is going on throughout the universe, and we need not go outside the universe to seek the causes of these changes; they are within. It is unnecessary to seek for any cause outside. This also is breaking down religion. What I mean by breaking down religion is that religions that have held on to the idea of an extra-cosmic deity, that he is a very big man and nothing else, can no more stand on their feet; they have been pulled down, as it were.
Can there be a religion satisfying these two principles? I think there can be. In the first place we have seen that we have to satisfy the principle of generalisation. The generalisation principle ought to be satisfied along with the principle of evolution. We have to come to an ultimate generalisation, which not only will be the most universal of all generalisations, but out of which everything else must come. It will be of the same nature as the lowest effect; the cause, the highest, the ultimate, the primal cause, must be the same as the lowest and most distant of its effects, a series of evolutions. The Brahman of the Vedanta fulfils that condition, because Brahman is the last generalisation to which we can come. It has no attributes but is Existence, Knowledge, and Bliss — Absolute. Existence, we have seen, is the very ultimate generalisation which the human mind can come to. Knowledge does not mean the knowledge we have, but the essence of that, that which is expressing itself in the course of evolution in human beings or in other animals as knowledge. The essence of that knowledge is meant, the ultimate fact beyond, if I may be allowed to say so, even consciousness. That is what is meant by knowledge and what we see in the universe as the essential unity of things. To my mind, if modern science is proving anything again and again, it is this, that we are one — mentally, spiritually, and physically. It is wrong to say we are even physically different. Supposing we are materialists, for argument's sake, we shall have to come to this, that the whole universe is simply an ocean of matter, of which you and I are like little whirlpools. Masses of matter are coming into each whirlpool, taking the whirlpool form, and coming out as matter again. The matter that is in my body may have been in yours a few years ago, or in the sun, or may have been the matter in a plant, and so on, in a continuous state of flux. What is meant by your body and my body? It is the oneness of the body. So with thought. It is an ocean of thought, one infinite mass, in which your mind and my mind are like whirlpools. Are you not seeing the effect now, how my thoughts are entering into yours, and yours into mine? The whole of our lives is one; we are one, even in thought. Coming to a still further generalisation, the essence of matter and thought is their potentiality of spirit; this is the unity from which all have come, and that must essentially be one. We are absolutely one; we are physically one, we are mentally one, and as spirit, it goes without saying, that we are one, if we believe in spirit at all. This oneness is the one fact that is being proved every day by modern science. To proud man it is told: You are the same as that little worm there; think not that you are something enormously different from it; you are the same. You have been that in a previous incarnation, and the worm has crawled up to this man state, of which you are so proud. This grand preaching, the oneness of things, making us one with everything that exists, is the great lesson to learn, for most of us are very glad to be made one with higher beings, but nobody wants to be made one with lower beings. Such is human ignorance, that if anyone's ancestors were men whom society honoured, even if they were brutish, if they were robbers, even robber barons, everyone of us would try to trace our ancestry to them; but if among our ancestors we had poor, honest gentlemen, none of us wants to trace our ancestry to them. But the scales are falling from our eyes, truth is beginning to manifest itself more and more, and that is a great gain to religion. That is exactly the teaching of the Advaita, about which I am lecturing to you. The Self is the essence of this universe, the essence of all souls; He is the essence of your own life, nay, "Thou art That". You are one with this universe. He who says he is different from others, even by a hair's breadth, immediately becomes miserable. Happiness belongs to him who knows this oneness, who knows he is one with this universe.
Thus we see that the religion of the Vedanta can satisfy the demands of the scientific world, by referring it to the highest generalisation and to the law of evolution. That the explanation of a thing comes from within itself is still more completely satisfied by Vedanta. The Brahman, the God of the Vedanta, has nothing outside of Himself; nothing at all. All this indeed is He: He is in the universe: He is the universe Himself. "Thou art the man, Thou art the woman, Thou art the young man walking in the pride of youth, Thou art the old man tottering in his step." He is here. Him we see and feel: in Him we live, and move, and have our being. You have that conception in the New Testament. It is that idea, God immanent in the universe, the very essence, the heart, the soul of things. He manifests Himself, as it were, in this universe. You and I are little bits, little points, little channels, little expressions, all living inside of that infinite ocean of Existence, Knowledge, and Bliss. The difference between man and man, between angels and man, between man and animals, between animals and plants, between plants and stones is not in kind, because everyone from the highest angel to the lowest particle of matter is but an expression of that one infinite ocean, and the difference is only in degree. I am a low manifestation, you may be a higher, but in both the materials are the same. You and I are both outlets of the same channel, and that is God; as such, your nature is God, and so is mine. You are of the nature of God by your birthright; so am I. You may be an angel of purity, and I may be the blackest of demons. Nevertheless, my birthright is that infinite ocean of Existence, Knowledge, and Bliss. So is yours. You have manifested yourself more today. Wait; I will manifest myself more yet, for I have it all within me. No extraneous explanation is sought; none is asked for. The sum total of this whole universe is God Himself. Is God then matter? No, certainly not, for matter is that God perceived by the five senses; that God as perceived through the intellect is mind; and when the spirit sees, He is seen as spirit. He is not matter, but whatever is real in matter is He. Whatever is real in this chair is He, for the chair requires two things to make it. Something was outside which my senses brought to me, and to which my mind contributed something else, and the combination of these two is the chair. That which existed eternally, independent of the senses and of the intellect, was the Lord Himself. Upon Him the senses are painting chairs, and tables, and rooms, houses, and worlds, and moons, and suns, and stars, and everything else. How is it, then, that we all see this same chair, that we are all alike painting these various things on the Lord, on this Existence, Knowledge, and Bliss? It need not be that all paint the same way, but those who paint the same way are on the same plane of existence and therefore they see one another's paintings as well as one another. There may be millions of beings between you and me who do not paint the Lord in the same way, and them and their paintings we do not see.
On the other hand, as you all know, the modern physical researches are tending more and more to demonstrate that what is real is but the finer; the gross is simply appearance. However that may be, we have seen that if any theory of religion can stand the test of modern reasoning, it is the Advaita, because it fulfils its two requirements. It is the highest generalisation, beyond even personality, generalisation which is common to every being. A generalisation ending in the Personal God can never be universal, for, first of all, to conceive of a Personal God we must say, He is all-merciful, all-good. But this world is a mixed thing, some good and some bad. We cut off what we like, and generalise that into a Personal God! Just as you say a Personal God is this and that, so you have also to say that He is not this and not that. And you will always find that the idea of a Personal God has to carry with it a personal devil. That is how we clearly see that the idea of a Personal God is not a true generalisation, we have to go beyond, to the Impersonal. In that the universe exists, with all its joys and miseries, for whatever exists in it has all come from the Impersonal. What sort of a God can He be to whom we attribute evil and other things? The idea is that both good and evil are different aspects, or manifestations of the same thing. The idea that they were two was a very wrong idea from the first, and it has been the cause of a good deal of the misery in this world of ours — the idea that right and wrong are two separate things, cut and dried, independent of each other, that good and evil are two eternally separable and separate things. I should be very glad to see a man who could show me something which is good all the time, and something which is bad all the time. As if one could stand and gravely define some occurrences in this life of ours as good and good alone, and some which are bad and bad alone. That which is good today may be evil tomorrow. That which is bad today may be good tomorrow. What is good for me may be bad for you. The conclusion is, that like every other thing, there is an evolution in good and evil too. There is something which in its evolution, we call, in one degree, good, and in another, evil. The storm that kills my friend I call evil, but that may have saved the lives of hundreds of thousands of people by killing the bacilli in the air. They call it good, but I call it evil. So both good and evil belong to the relative world, to phenomena. The Impersonal God we propose is not a relative God; therefore it cannot be said that It is either good or bad, but that It is something beyond, because It is neither good nor evil. Good, however, is a nearer manifestation of It than evil.
What is the effect of accepting such an Impersonal Being, an Impersonal Deity? What shall we gain? Will religion stand as a factor in human life, our consoler, our helper? What becomes of the desire of the human heart to pray for help to some being? That will all remain. The Personal God will remain, but on a better basis. He has been strengthened by the Impersonal. We have seen that without the Impersonal, the Personal cannot remain. If you mean to say there is a Being entirely separate from this universe, who has created this universe just by His will, out of nothing, that cannot be proved. Such a state of things cannot be. But if we understand the idea of the Impersonal, then the idea of the Personal can remain there also. This universe, in its various forms, is but the various readings of the same Impersonal. When we read it with the five senses, we call it the material world. If there be a being with more senses than five, he will read it as something else. If one of us gets the electrical sense, he will see the universe as something else again. There are various forms of that same Oneness, of which all these various ideas of worlds are but various readings, and the Personal God is the highest reading that can be attained to, of that Impersonal, by the human intellect. So that the Personal God is true as much as this chair is true, as much as this world is true, but no more. It is not absolute truth. That is to say, the Personal God is that very Impersonal God and, therefore, it is true, just as I, as a human being, am true and not true at the same time. It is not true that I am what you see I am; you can satisfy yourself on that point. I am not the being that you take me to be. You can satisfy your reason as to that, because light, and various vibrations, or conditions of the atmosphere, and all sorts of motions inside me have contributed to my being looked upon as what I am, by you. If any one of these conditions change, I am different again. You may satisfy yourself by taking a photograph of the same man under different conditions of light. So I am what I appear in relation to your senses, and yet, in spite of all these facts, there is an unchangeable something of which all these are different states of existence, the impersonal me, of which thousands of me's are different persons. I was a child, I was young, I am getting older. Every day of my life, my body and thoughts are changing, but in spite of all these changes, the sum-total of them constitutes a mass which is a constant quantity. That is the impersonal me, of which all these manifestations form, as it were, parts.
Similarly, the sum-total of this universe is immovable, we know, but everything pertaining to this universe consists of motion, everything is in a constant state of flux, everything changing and moving. At the same time, we see that the universe as a whole is immovable, because motion is a relative term. I move with regard to the chair, which does not move. There must be at least two to make motion. If this whole universe is taken as a unit there is no motion; with regard to what should it move? Thus the Absolute is unchangeable and immovable, and all the movements and changes are only in the phenomenal world, the limited. That whole is Impersonal, and within this Impersonal are all these various persons beginning with the lowest atom, up to God, the Personal God, the Creator, the Ruler of the Universe, to whom we pray, before whom we kneel, and so on. Such a Personal God can be established with a great deal of reason. Such a Personal God is explicable as the highest manifestation of the Impersonal. You and I are very low manifestations, and the Personal God is the highest of which we can conceive. Nor can you or I become that Personal God. When the Vedanta says you and I are God, it does not mean the Personal God. To take an example. Out of a mass of clay a huge elephant of clay is manufactured, and out of the same clay, a little clay mouse is made. Would the clay mouse ever be able to become the clay elephant? But put them both in water and they are both clay; as clay they are both one, but as mouse and elephant there will be an eternal difference between them. The Infinite, the Impersonal, is like the clay in the example. We and the Ruler of the Universe are one, but as manifested beings, men, we are His eternal slaves, His worshippers. Thus we see that the Personal God remains. Everything else in this relative world remains, and religion is made to stand on a better foundation. Therefore it is necessary, that we first know the Impersonal in order to know the Personal.
As we have seen, the law of reason says, the particular is only known through the general. So all these particulars, from man to God, are only known through the Impersonal, the highest generalisation. Prayers will remain, only they will get a better meaning. All those senseless ideas of prayer, the low stages of prayer, which are simply giving words to all sorts of silly desire in our minds, perhaps, will have to go. In all sensible religions, they never allow prayers to God; they allow prayers to gods. That is quite natural. The Roman Catholics pray to the saints; that is quite good. But to pray to God is senseless. To ask God to give you a breath of air, to send down a shower of rain, to make fruits grow in your garden, and so on, is quite unnatural. The saints, however, who were little beings like ourselves, may help us. But to pray to the Ruler of the Universe, prating every little need of ours, and from our childhood saying, "O Lord, I have a headache; let it go," is ridiculous. There have been millions of souls that have died in this world, and they are all here; they have become gods and angels; let them come to your help. But God! It cannot be. Unto Him we must go for higher things. A fool indeed is he who, resting on the banks of the Gangâ, digs a little well for water; a fool indeed is he who, living near a mine of diamonds, digs for bits of crystal.
And indeed we shall be fools if we go to the Father of all mercy, Father of all love, for trivial earthly things. Unto Him, therefore, we shall go for light, for strength, for love. But so long as there is weakness and a craving for servile dependence in us, there will be these little prayers and ideas of the worship of the Personal God. But those who are highly advanced do not care for such little helps, they have wellnigh forgotten all about this seeking things for themselves, wanting things for themselves. The predominant idea in them is — not I, but thou, my brother. Those are the fit persons to worship the Impersonal God. And what is the worship of the Impersonal God? No slavery there — "O Lord, I am nothing, have mercy on me." You know the old Persian poem, translated into English: "I came to see my beloved. The doors were closed. I knocked and a voice came from inside. 'Who art thou?' 'I am so-and-so' The door was not opened. A second time I came and knocked; I was asked the same question, and gave the same answer. The door opened not. I came a third time, and the same question came. I answered, 'I am thee, my love,' and the door opened." Worship of the Impersonal God is through truth. And what is truth? That I am He. When I say that I am not Thou, it is untrue. When I say I am separate from you it is a lie, a terrible lie. I am one with this universe, born one. It is self evident to my senses that I am one with the universe. I am one with the air that surrounds me, one with heat, one with light, eternally one with the whole Universal Being, who is called this universe, who is mistaken for the universe, for it is He and nothing else, the eternal subject in the heart who says, "I am," in every heart — the deathless one, the sleepless one, ever awake, the immortal, whose glory never dies, whose powers never fail. I am one with That.
This is all the worship of the Impersonal, and what is the result? The whole life of man will be changed. Strength, strength it is that we want so much in this life, for what we call sin and sorrow have all one cause, and that is our weakness. With weakness comes ignorance, and with ignorance comes misery. It will make us strong. Then miseries will be laughed at, then the violence of the vile will be smiled at, and the ferocious tiger will reveal, behind its tiger's nature, my own Self. That will be the result. That soul is strong that has become one with the Lord; none else is strong. In your own Bible, what do you think was the cause of that strength of Jesus of Nazareth, that immense, infinite strength which laughed at traitors, and blessed those that were willing to murder him? It was that, "I and my Father are one"; it was that prayer, "Father, just as I am one with you, so make them all one with me." That is the worship of the Impersonal God. Be one with the universe, be one with Him. And this Impersonal God requires no demonstrations, no proofs. He is nearer to us than even our senses, nearer to us than our own thoughts; it is in and through Him that we see and think. To see anything, I must first see Him. To see this wall I first see Him, and then the wall, for He is the eternal subject. Who is seeing whom? He is here in the heart of our hearts. Bodies and minds change; misery, happiness, good and evil come and go; days and years roll on; life comes and goes; but He dies not. The same voice, "I am, I am," is eternal, unchangeable. In Him and through Him we know everything. In Him and through Him we see everything. In Him and through Him we sense, we think, we live, and we are. And that "I," which we mistake to be a little "I," limited, is not only my "I," but yours, the "I" of everyone, of the animals, of the angels, of the lowest of the low. That "I am" is the same in the murderer as in the saint, the same in the rich as in the poor, the same in man as in woman, the same in man as in animals. From the lowest amoeba to the highest angel, He resides in every soul, and eternally declares, "I am He, I am He." When we have understood that voice eternally present there, when we have learnt this lesson, the whole universe will have expressed its secret. Nature will have given up her secret to us. Nothing more remains to be known. Thus we find the truth for which all religions search, that all this knowledge of material sciences is but secondary. That is the only true knowledge which makes us one with this Universal God of the Universe.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.