Daya-daya Spiritual
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
APORISME YOGA PATANJALI BAB III DAYA-DAYA
Kita kini telah sampai pada bab yang menguraikan daya-daya Yoga.
देशबन्धश्चित्तस्य धारणा ॥१॥
1. Dharana ialah menahan pikiran pada suatu objek tertentu.
Dharana (konsentrasi) terjadi ketika pikiran berpegang pada suatu objek, entah di dalam tubuh atau di luar tubuh, dan mempertahankan dirinya dalam keadaan itu.
तत्र प्रत्ययैकतानता ध्यानम् ॥२॥
2. Aliran pengetahuan yang tak terputus pada objek itu disebut Dhyana.
Pikiran berupaya memikirkan satu objek, menahan dirinya pada satu titik tertentu, seperti puncak kepala, jantung, dan sebagainya; dan apabila pikiran berhasil menerima sensasi hanya melalui bagian tubuh itu, dan tidak melalui bagian lain, itulah Dharana; dan ketika pikiran berhasil mempertahankan keadaan itu untuk beberapa waktu, itulah yang disebut dhyana (meditasi).
तदेवार्थमात्रनिर्भासं स्वरूपशून्यमिव समाधिः ॥३॥
3. Ketika hal itu, dengan melepaskan segala bentuk, hanya memantulkan maknanya, itulah samadhi (penyerapan kontemplatif).
Itu terjadi ketika dalam meditasi bentuk atau bagian luar telah dilepaskan. Andaikan saya bermeditasi pada sebuah buku, dan saya secara bertahap berhasil memusatkan pikiran pada buku itu, dan hanya mempersepsi sensasi-sensasi batinnya, yakni maknanya, tanpa terungkap dalam bentuk apa pun — keadaan dhyana itu disebut samadhi.
त्रयमेकत्र संयमः ॥४॥
4. Ketiganya (apabila dilakukan) terhadap satu objek disebut samyama (disiplin batin tiga lipat).
Apabila seseorang dapat mengarahkan pikirannya kepada suatu objek tertentu dan memancangkannya di situ, lalu menahannya di sana untuk waktu yang lama, dengan memisahkan objek tersebut dari bagian batinnya, itulah samyama; atau Dharana, Dhyana, dan Samadhi, satu mengikuti yang lain dan menyatu menjadi satu. Bentuk dari hal itu telah lenyap, dan hanya maknanya yang tinggal dalam pikiran.
तज्जयात् प्रज्ञाऽऽलोकः ॥५॥
5. Dengan menaklukkan hal itu, datanglah cahaya pengetahuan.
Apabila seseorang berhasil melaksanakan samyama ini, segala daya pun berada di bawah kendalinya. Inilah piranti agung sang Yogi. Objek pengetahuan tidaklah terbatas, dan dibagi menjadi yang kasar, lebih kasar, paling kasar, dan yang halus, lebih halus, paling halus, dan seterusnya. Samyama ini pertama-tama harus diterapkan pada hal-hal yang kasar, dan ketika Anda mulai memperoleh pengetahuan tentang yang kasar, secara perlahan, bertahap, ia harus dibawa kepada hal-hal yang lebih halus.
तस्य भूमिषु विनियोगः ॥६॥
6. Hal itu harus dilakukan secara bertahap.
Ini merupakan peringatan agar jangan mencoba bergerak terlalu cepat.
त्रयमन्तरङ्गं पूर्वेभ्यः ॥७॥
7. Ketiga ini lebih bersifat batiniah daripada yang mendahuluinya.
Sebelum ketiga ini kita memiliki pratyahara (penarikan indra), pranayama (disiplin napas), asana (postur), yama (ajaran pantangan moral), dan niyama (ketaatan disiplin); kesemuanya merupakan bagian luar dari ketiga ini — Dharana, Dhyana, dan Samadhi. Apabila seseorang telah mencapainya, ia dapat mencapai kemahatahuan dan kemahakuasaan, tetapi itu bukanlah keselamatan. Ketiga ini tidak akan membuat pikiran menjadi Nirvikalpa, tak berubah, melainkan akan meninggalkan benih-benih untuk memperoleh tubuh kembali. Hanya ketika benih-benih itu, seperti kata sang Yogi, telah "digoreng", barulah benih itu kehilangan kemungkinan untuk menghasilkan tumbuhan lebih lanjut. Daya-daya ini tidak dapat menggoreng benih tersebut.
तदपि बहिरङ्गं निर्बीजस्य ॥८॥
8. Tetapi bahkan ketiganya pun bersifat luar terhadap samadhi tanpa benih.
Oleh karena itu, dibandingkan dengan samadhi tanpa benih itu, bahkan ketiga ini pun bersifat luar. Kita belum mencapai samadhi yang sejati, yang tertinggi, melainkan baru sampai pada tahap yang lebih rendah, di mana alam semesta ini masih ada sebagaimana kita lihat, dan di dalamnya berdiam segala daya tersebut.
व्युत्थान-निरोधसंस्कारयोरभिभव-प्रादुर्भावौ निरोधक्षणचित्तान्वयो निरोध-परिणामः ॥९॥
9. Dengan ditekannya impresi-impresi pikiran yang gelisah, dan dengan timbulnya impresi-impresi pengendalian, pikiran yang bertahan dalam momen pengendalian itu dikatakan mencapai modifikasi pengendalian.
Artinya, dalam keadaan samadhi pertama ini modifikasi-modifikasi pikiran telah dikendalikan, namun belum sempurna, sebab apabila telah sempurna, niscaya tidak ada lagi modifikasi. Apabila ada modifikasi yang mendorong pikiran untuk meluncur keluar melalui indra, dan sang Yogi berupaya mengendalikannya, justru pengendalian itu sendiri akan menjadi suatu modifikasi. Satu gelombang akan ditahan oleh gelombang lain, sehingga itu belum merupakan samadhi sejati di mana segala gelombang surut, sebab pengendalian itu sendiri pun merupakan suatu gelombang. Meskipun demikian, samadhi yang lebih rendah ini jauh lebih dekat kepada samadhi yang lebih tinggi daripada keadaan ketika pikiran sedang meluap keluar.
तस्य प्रशान्तवाहिता संस्कारात् ॥१०॥
10. Aliran itu menjadi mantap melalui kebiasaan.
Aliran dari pengendalian pikiran yang berkesinambungan ini menjadi mantap apabila dilakukan hari demi hari, dan pikiran memperoleh kemampuan konsentrasi yang konstan.
सर्वार्थतैकाग्रतयोः क्षयोदयौ चित्तस्य समाधि-परिणामः ॥११॥
11. Dengan menyerap segala macam objek, dan dengan berpusat pada satu objek, kedua daya ini dihancurkan dan diwujudkan masing-masing, dan chitta (substansi mental) memperoleh modifikasi yang disebut samadhi.
Pikiran menyerap berbagai objek, melarikan diri ke segala macam hal. Itulah keadaan yang lebih rendah. Ada pula keadaan pikiran yang lebih tinggi, ketika ia menyerap satu objek dan menyingkirkan semua yang lain; samadhi adalah hasil dari keadaan tersebut.
शान्तोदितौ तुल्यप्रत्ययौ चित्तस्यैकाग्रता-परिणामः ॥१२॥
12. Pemusatan satu titik dari chitta terjadi ketika impresi yang sudah lampau dan yang kini hadir adalah serupa.
Bagaimana kita mengetahui bahwa pikiran telah terpusat? Sebab gagasan tentang waktu akan lenyap. Semakin waktu berlalu tanpa kita sadari, semakin terpusat kita. Dalam hidup sehari-hari kita melihat bahwa ketika kita tertarik pada sebuah buku, kita sama sekali tidak memperhatikan waktu; dan apabila kita meletakkan buku itu, kita sering terkejut mendapati berapa banyak jam yang telah berlalu. Segala waktu akan cenderung datang dan berdiri pada satu kekinian. Maka definisinya adalah: Apabila masa lampau dan masa kini datang dan berdiri menjadi satu, pikiran dikatakan terpusat.
एतेन भूतेन्द्रियेषु धर्मलक्षणावस्थापरिणामा व्याख्याताः ॥१३॥
13. Dengan ini dijelaskan transformasi rangkap tiga dari bentuk, waktu, dan keadaan, dalam materi yang halus maupun kasar dan dalam organ-organ.
Dengan perubahan rangkap tiga dalam substansi mental berkenaan dengan bentuk, waktu, dan keadaan dijelaskan perubahan yang bersesuaian dalam materi kasar dan halus serta dalam organ-organ. Andaikan ada segumpal emas. Ia diubah menjadi gelang, lalu menjadi anting-anting. Inilah perubahan dalam hal bentuk. Fenomena yang sama yang dilihat dari sudut pandang waktu memberi kita perubahan dalam hal waktu. Selanjutnya, gelang atau anting-anting itu dapat berkilau atau pudar, tebal atau tipis, dan seterusnya. Inilah perubahan dalam hal keadaan. Sekarang merujuk pada aforisme 9, 11, dan 12, substansi mental sedang berubah menjadi vritti (modifikasi pikiran) — ini adalah perubahan dalam hal bentuk. Bahwa ia melewati momen-momen waktu lampau, kini, dan mendatang merupakan perubahan dalam hal waktu. Bahwa impresi-impresi bervariasi dalam intensitasnya di dalam suatu periode tertentu, katakanlah masa kini, merupakan perubahan dalam hal keadaan. Konsentrasi-konsentrasi yang diajarkan dalam aforisme-aforisme sebelumnya bertujuan memberi sang Yogi kendali sukarela atas transformasi substansi mentalnya, yang dengannya sajalah ia dapat melakukan samyama yang disebut dalam III.4.
शान्तोदिताव्यपदेश्यधर्मानुपातो धर्मी ॥१४॥
14. Yang dikenai transformasi, baik yang sudah lampau, kini, maupun yang belum diwujudkan, disebut yang berkualifikasi.
Artinya, yang berkualifikasi adalah substansi yang dikenai oleh waktu dan oleh samskara (jejak/impresi mental), berubah dan senantiasa terwujud.
क्रमान्यत्वं परिणामान्यत्वे हेतुः ॥१५॥
15. Suksesi perubahan adalah sebab dari evolusi yang beraneka.
परिणामत्रयसंयमादतीतानागतज्ञानम् ॥१६॥
16. Dengan melakukan samyama pada ketiga jenis perubahan, datanglah pengetahuan tentang masa lampau dan masa mendatang.
Kita tidak boleh kehilangan pandangan atas definisi awal tentang samyama. Apabila pikiran telah mencapai keadaan di mana ia mengidentifikasi dirinya dengan impresi batiniah dari objek, sambil meninggalkan yang lahiriah, dan apabila, melalui latihan yang panjang, hal itu dipertahankan oleh pikiran sehingga pikiran dapat memasuki keadaan itu dalam sekejap, itulah samyama. Apabila seseorang dalam keadaan itu ingin mengetahui masa lampau dan masa mendatang, ia harus melakukan samyama pada perubahan-perubahan dalam samskara (III.13). Sebagian sedang bekerja kini, sebagian telah selesai bekerja, dan sebagian menunggu untuk bekerja. Maka dengan melakukan samyama pada hal-hal ini, ia mengetahui masa lampau dan masa mendatang.
शब्दार्थप्रत्ययानामितरेतराध्यासात्सङ्करस्तत्प्रविभागसंयमात् सर्वभूतरुतज्ञानम् ॥१७॥
17. Dengan melakukan samyama pada kata, makna, dan pengetahuan, yang biasanya bercampur aduk, datanglah pengetahuan tentang segala suara hewan.
Kata merepresentasikan sebab lahiriah, makna merepresentasikan getaran batin yang merambat ke otak melalui saluran-saluran indra (indriya), yang menyampaikan impresi lahiriah kepada pikiran, dan pengetahuan merepresentasikan reaksi pikiran, yang menyertainya persepsi. Ketiganya yang bercampur aduk membentuk objek-objek inderawi kita. Andaikan saya mendengar sebuah kata; pertama-tama ada getaran lahiriah, lalu sensasi batiniah yang dibawa ke pikiran oleh organ pendengaran, kemudian pikiran bereaksi, dan saya mengetahui kata itu. Kata yang saya ketahui adalah campuran dari ketiganya — getaran, sensasi, dan reaksi. Biasanya ketiganya tak terpisahkan; tetapi melalui latihan sang Yogi dapat memisahkannya. Apabila seseorang telah mencapai hal ini, jika ia melakukan samyama pada bunyi apa pun, ia memahami makna yang dimaksudkan untuk diungkapkan oleh bunyi tersebut, entah dibuat oleh manusia atau oleh hewan lainnya.
संस्कारसाक्षात्करणात् पूर्वजातिज्ञानम् ॥१८॥
18. Dengan mempersepsi impresi-impresi, (datanglah) pengetahuan tentang kehidupan lampau.
Setiap pengalaman yang kita miliki datang dalam bentuk gelombang di dalam chitta, dan gelombang ini surut serta menjadi semakin halus, tetapi tidak pernah lenyap. Ia tetap ada di sana dalam bentuk yang sangat kecil, dan jika kita dapat memunculkan gelombang ini kembali, ia menjadi ingatan. Maka, jika sang Yogi dapat melakukan samyama pada impresi-impresi masa lampau dalam pikiran, ia akan mulai mengingat semua kehidupan lampaunya.
प्रत्ययस्य परचित्तज्ञानम् ॥१९॥
19. Dengan melakukan samyama pada tanda-tanda pada tubuh orang lain, datanglah pengetahuan tentang pikirannya.
Setiap orang memiliki tanda-tanda tertentu pada tubuhnya, yang membedakannya dari yang lain; ketika sang Yogi melakukan samyama pada tanda-tanda itu, ia mengetahui sifat dari pikiran orang itu.
न च तत् सालम्बनं तस्याविषयीभूतत्वात् ॥२०॥
20. Tetapi bukan isinya, karena itu bukanlah objek dari samyama.
Ia tidak akan mengetahui isi pikiran dengan melakukan samyama pada tubuh. Akan diperlukan samyama yang berlipat dua, pertama pada tanda-tanda dalam tubuh, dan kemudian pada pikiran itu sendiri. Sang Yogi kemudian akan mengetahui segala sesuatu yang ada dalam pikiran itu.
कायरूपसंयमात्तद्ग्राह्यशक्ति-स्तम्भे चक्षुःप्रकाशासंप्रयोगेऽन्तर्धानम् ॥२१॥
21. Dengan melakukan samyama pada bentuk tubuh, dengan dihalangi kemampuan tubuh itu dipersepsi serta dipisahkannya daya manifestasi dalam mata, tubuh sang Yogi menjadi tak terlihat.
Seorang Yogi yang berdiri di tengah ruangan ini dapat tampak menghilang. Ia sebenarnya tidak lenyap, tetapi ia tidak akan terlihat oleh siapa pun. Bentuk dan tubuh, seakan-akan, terpisah. Anda harus ingat bahwa hal ini hanya dapat dilakukan apabila sang Yogi telah mencapai daya konsentrasi sedemikian sehingga bentuk dan hal yang berbentuk telah terpisahkan. Lalu ia melakukan samyama pada hal itu, dan daya untuk mempersepsi bentuk pun terhalang, sebab daya untuk mempersepsi bentuk berasal dari perpaduan antara bentuk dan hal yang berbentuk.
एतेन शब्दाद्यन्तर्धानमुक्तम् ॥२२॥
22. Dengan ini hilangnya atau tersembunyinya kata-kata yang sedang diucapkan dan hal-hal lain semacam itu juga dijelaskan.
सोपक्रमं निरुपक्रमं च कर्म तत्संयमादपरान्तज्ञानमरिष्टेभ्यो वा ॥२३ ॥
23. Karma ada dua jenis — yang akan segera berbuah dan yang lambat berbuah. Dengan melakukan samyama pada ini, atau melalui tanda-tanda yang disebut Arishta, yakni pertanda, para Yogi mengetahui dengan persis waktu perpisahan dengan tubuh mereka.
Apabila seorang Yogi melakukan samyama pada karmanya sendiri, atas impresi-impresi dalam pikirannya yang kini sedang bekerja, dan atas yang sedang menunggu untuk bekerja, ia mengetahui dengan tepat melalui yang menunggu itu kapan tubuhnya akan gugur. Ia mengetahui kapan ia akan mati, pada jam berapa, bahkan pada menit berapa. Orang-orang Hindu sangat menghargai pengetahuan atau kesadaran akan kedekatan kematian itu, sebab diajarkan dalam Gita bahwa pikiran pada saat keberangkatan adalah daya yang besar dalam menentukan kehidupan berikutnya.
मैत्र्यादिषु बलानि ॥२४॥
24. Dengan melakukan samyama pada persahabatan, belas kasih, dan sebagainya (I.33), sang Yogi unggul dalam sifat-sifat tersebut.
बलेषु हस्तिबलादीनि ॥२५॥
25. Dengan melakukan samyama pada kekuatan gajah dan lain-lain, kekuatan mereka masing-masing datang kepada sang Yogi.
Apabila seorang Yogi telah mencapai samyama ini dan menginginkan kekuatan, ia melakukan samyama pada kekuatan gajah dan memperolehnya. Energi yang tak terbatas tersedia bagi siapa saja jika ia hanya tahu cara memperolehnya. Sang Yogi telah menemukan ilmu untuk memperolehnya.
प्रवृत्त्यालोकन्यासात् सूक्ष्म-व्यवहित-विप्रकृष्टज्ञानम् ॥२६॥
26. Dengan melakukan samyama pada Cahaya yang Berkilauan (I.36), datanglah pengetahuan tentang yang halus, yang terhalang, dan yang jauh.
Apabila sang Yogi melakukan samyama pada Cahaya yang Berkilauan di dalam jantung, ia melihat hal-hal yang sangat jauh, misalnya hal-hal yang sedang terjadi di tempat yang jauh, dan yang terhalang oleh penghalang-penghalang pegunungan, dan juga hal-hal yang sangat halus.
भुवनज्ञानं सूर्ये संयमात् ॥२७॥
27. Dengan melakukan samyama pada matahari, (datanglah) pengetahuan tentang dunia.
चन्द्रे ताराव्यूहज्ञानम् ॥२८॥
28. Pada bulan, (datanglah) pengetahuan tentang gugusan bintang-bintang.
ध्रुवे तद्गतिज्ञानम् ॥२९॥
29. Pada bintang kutub, (datanglah) pengetahuan tentang pergerakan bintang-bintang.
नाभिचक्रे कायव्यूहज्ञानम् ॥३०॥
30. Pada lingkaran pusar, (datanglah) pengetahuan tentang susunan tubuh.
कण्ठकूपे क्षुत्पिपासानिवृत्तिः ॥३१॥
31. Pada cekungan tenggorokan, (datanglah) lenyapnya rasa lapar.
Apabila seseorang sedang sangat lapar, jika ia dapat melakukan samyama pada cekungan tenggorokannya, rasa lapar pun mereda.
कूर्मनाड्यां स्थैर्यम् ॥३२॥
32. Pada saraf yang disebut Kurma, (datanglah) ketegapan tubuh.
Ketika ia berlatih, tubuh tidak terganggu.
मूर्धज्योतिषि सिद्धदर्शनम् ॥३३॥
33. Pada cahaya yang memancar dari puncak kepala, terlihatlah para Siddha.
Para Siddha adalah makhluk yang sedikit lebih tinggi daripada hantu. Apabila sang Yogi memusatkan pikirannya pada puncak kepalanya, ia akan melihat para Siddha ini. Kata Siddha tidak merujuk pada mereka yang telah menjadi bebas — suatu makna yang sering dipakai untuk kata itu.
प्रातिभाद्वा सर्वम् ॥३४॥
34. Atau dengan daya pratibha, segala pengetahuan.
Semua ini dapat datang tanpa samyama apa pun bagi orang yang memiliki daya pratibha (pencerahan spontan dari kemurnian). Apabila seseorang telah bangkit kepada keadaan pratibha yang tinggi, ia memiliki cahaya yang besar itu. Segala hal tampak jelas baginya. Segala sesuatu datang kepadanya secara wajar tanpa harus melakukan samyama.
ह्रदये चित्त-संवित् ॥३५॥
35. Di dalam jantung, pengetahuan tentang pikiran-pikiran.
सत्त्वपुरुषयोरत्यन्तासंकीर्णयोः प्रत्ययाविशेषाद् भोगः परार्थत्वात् स्वार्थसंयमात् पुरुषज्ञानम् ॥३६॥
36. Kenikmatan timbul dari ketidakmampuan membedakan jiwa dengan Sattva, yang sepenuhnya berbeda karena tindakan yang terakhir adalah demi yang lain. Samyama pada yang berpusat pada diri sendiri memberikan pengetahuan tentang Purusha (prinsip kesadaran / Roh).
Segala tindakan dari Sattva, suatu modifikasi Prakriti (alam purba / materi primordial) yang dicirikan oleh cahaya dan kebahagiaan, adalah demi jiwa. Apabila Sattva bebas dari rasa keakuan dan diterangi oleh intelegensi murni dari Purusha, ia disebut yang berpusat pada diri sendiri, sebab dalam keadaan itu ia menjadi mandiri terhadap segala relasi.
ततः प्रातिभश्रावणवेदनादर्शास्वादवार्ता जायन्ते ॥३७॥
37. Dari itu timbullah pengetahuan yang berkaitan dengan pratibha serta pendengaran, sentuhan, penglihatan, pengecapan, dan penciuman (yang adimanusiawi).
ते समाधावुपसर्गा व्युत्थाने सिद्धयः ॥३८॥
38. Hal-hal ini merupakan rintangan terhadap samadhi; tetapi merupakan daya dalam keadaan duniawi.
Bagi sang Yogi, pengetahuan tentang kenikmatan-kenikmatan dunia datang melalui perpaduan antara Purusha dan pikiran. Jika ia ingin melakukan samyama pada pengetahuan bahwa keduanya adalah dua hal yang berbeda, yakni alam dan jiwa, ia memperoleh pengetahuan tentang Purusha. Dari sana timbullah pembedaan. Apabila ia telah memperoleh pembedaan itu, ia memperoleh pratibha, yakni cahaya dari kejeniusan tertinggi. Akan tetapi, daya-daya ini merupakan rintangan terhadap pencapaian tujuan tertinggi, yakni pengetahuan tentang Diri yang murni, dan kebebasan. Hal-hal ini, seakan-akan, harus dijumpai di jalan; dan jika sang Yogi menolaknya, ia mencapai yang tertinggi. Jika ia tergoda untuk memperolehnya, kemajuan lebih lanjutnya terhalang.
बन्धकारणशैथिल्यात् प्रचारसंवेदनाच्च चित्तस्य परशरीरावेशः ॥३९ ॥
39. Apabila sebab dari belenggu chitta telah dilonggarkan, sang Yogi, dengan pengetahuannya tentang saluran-saluran aktivitasnya (yakni saraf-saraf), memasuki tubuh orang lain.
Sang Yogi dapat memasuki sebuah jenazah dan membuatnya bangkit serta bergerak, bahkan ketika ia sendiri sedang bekerja dalam tubuh lain. Atau ia dapat memasuki tubuh yang hidup dan menahan pikiran serta organ-organ orang itu, dan untuk sementara waktu bertindak melalui tubuh orang tersebut. Hal itu dilakukan oleh sang Yogi yang telah mencapai pembedaan antara Purusha dan alam ini. Jika ia ingin memasuki tubuh orang lain, ia melakukan samyama pada tubuh itu dan memasukinya, sebab, bukan hanya jiwanya yang maha hadir, melainkan juga pikirannya, sebagaimana diajarkan sang Yogi. Pikiran itu merupakan sekeping dari pikiran universal. Akan tetapi, kini, ia hanya dapat bekerja melalui arus-arus saraf dalam tubuh ini, namun apabila sang Yogi telah melepaskan dirinya dari arus-arus saraf ini, ia dapat bekerja melalui hal-hal lain.
उदानजयाज्जलपङ्ककण्टकादिष्वसङ्ग उत्क्रान्तिश्च ॥४०॥
40. Dengan menaklukkan arus yang disebut Udana, sang Yogi tidak tenggelam di air atau di rawa-rawa, ia dapat berjalan di atas duri-duri dan sebagainya, serta dapat mati sesuai kehendaknya.
Udana adalah nama arus saraf yang menguasai paru-paru dan seluruh bagian atas tubuh, dan apabila ia menguasainya, ia menjadi ringan beratnya. Ia tidak tenggelam di air; ia dapat berjalan di atas duri-duri dan mata pedang, berdiri di dalam api, dan dapat meninggalkan kehidupan ini kapan pun ia berkenan.
समानजयात् प्रज्वलनम् ॥४१॥
41. Dengan menaklukkan arus Samana, ia diliputi oleh kilauan cahaya.
Kapan pun ia berkenan, cahaya memancar dari tubuhnya.
श्रोत्राकाशयोः सम्बन्धसंयमाद्दिव्यं श्रोत्रम् ॥४२॥
42. Dengan melakukan samyama pada relasi antara telinga dan Akasha, datanglah pendengaran ilahi.
Ada Akasha, yakni eter, dan ada instrumen, yakni telinga. Dengan melakukan samyama pada keduanya, sang Yogi memperoleh pendengaran adimanusiawi; ia mendengar segala sesuatu. Apa pun yang diucapkan atau dibunyikan dari jarak bermil-mil pun dapat ia dengar.
कायाकाशयोः सम्बन्धसंयमाल्लघुतूलसमापत्तेश्चाकाशगमनम् ॥४३॥
43. Dengan melakukan samyama pada relasi antara Akasha dan tubuh, dan dengan menjadi ringan seperti kapas dan sebagainya, melalui meditasi padanya, sang Yogi melintas di angkasa.
Akasha ini adalah bahan dari tubuh ini; tubuh hanyalah Akasha dalam bentuk tertentu. Apabila sang Yogi melakukan samyama pada bahan Akasha dari tubuhnya ini, tubuh itu memperoleh keringanan Akasha, dan ia dapat pergi ke mana pun melalui udara. Demikian pula dalam kasus yang lain.
बहिरकल्पिता वृत्तिर्महाविदेहा ततः प्रकाशावरणक्षयः ॥४४॥
44. Dengan melakukan samyama pada "modifikasi nyata" dari pikiran, di luar tubuh, yang disebut ketakberbadanan agung, datanglah lenyapnya selubung terhadap cahaya.
Pikiran dalam kebodohannya menyangka bahwa ia bekerja dalam tubuh ini. Mengapa saya harus terikat oleh satu sistem saraf, dan menempatkan Ego hanya dalam satu tubuh, jika pikiran maha hadir? Tidak ada alasan untuk itu. Sang Yogi ingin merasakan Ego di mana pun ia berkenan. Gelombang-gelombang mental yang timbul tanpa adanya rasa keakuan dalam tubuh disebut "modifikasi nyata" atau "ketakberbadanan agung". Apabila ia telah berhasil melakukan samyama pada modifikasi-modifikasi ini, segala selubung terhadap cahaya pun lenyap, dan segala kegelapan serta ketidaktahuan sirna. Segala sesuatu tampak baginya penuh dengan pengetahuan.
स्थूल-स्वरूप-सूक्ष्मान्वयार्थवत्त्वसंयमाद्भूतजयः ॥४५॥
45. Dengan melakukan samyama pada bentuk kasar dan halus dari unsur-unsur, sifat-sifat hakikinya, kelekatan guna-guna dalamnya, serta sumbangsihnya pada pengalaman jiwa, datanglah penguasaan atas unsur-unsur.
Sang Yogi melakukan samyama pada unsur-unsur, pertama pada yang kasar, kemudian pada keadaan-keadaan yang lebih halus. Samyama ini lebih banyak diambil oleh sebuah mazhab pengikut Buddha. Mereka mengambil segumpal tanah liat dan melakukan samyama padanya, dan secara bertahap mereka mulai melihat materi-materi halus penyusunnya, dan apabila mereka telah mengenal segala materi halus di dalamnya, mereka memperoleh daya atas unsur tersebut. Demikian pula dengan segala unsur. Sang Yogi dapat menaklukkan semuanya.
ततोऽणिमादिप्रादुर्भावः कायसम्पत्तद्धर्मानभिघातश्च ॥४६॥
46. Dari itu datanglah keadaan menjadi sehalus partikel dan daya-daya lainnya, "pemuliaan tubuh", dan ketakdapatdihancurkannya sifat-sifat tubuh.
Ini berarti bahwa sang Yogi telah memperoleh delapan daya. Ia dapat membuat dirinya sehalus partikel, atau sebesar gunung, seberat bumi, atau seringan udara; ia dapat menjangkau apa pun yang ia inginkan, ia dapat menguasai segala sesuatu yang ia kehendaki, ia dapat menaklukkan segala sesuatu yang ia kehendaki, dan seterusnya. Seekor singa akan duduk di kakinya seperti seekor domba, dan segala keinginannya akan terkabul sesuai kehendaknya.
रूप-लावण्य-बल-वज्रसंहननत्वानि कायसम्पत् ॥४७॥
47. "Pemuliaan tubuh" itu ialah keindahan, warna kulit, kekuatan, dan kekerasan bagaikan intan.
Tubuh menjadi tak terhancurkan. Tiada apa pun yang dapat melukainya. Tiada apa pun yang dapat menghancurkannya sampai sang Yogi menghendakinya. "Mematahkan tongkat waktu, ia hidup di alam semesta ini dengan tubuhnya." Dalam Veda tertulis bahwa bagi orang itu tiada lagi penyakit, kematian, atau penderitaan.
ग्रहण-स्वरूपास्मितान्वयार्थवत्त्वसंयमादिन्द्रियजयः ॥४८॥
48. Dengan melakukan samyama pada keobjektivitasan dan daya penerangan dari organ-organ, pada rasa keakuan, pada kelekatan guna-guna padanya serta pada sumbangsihnya pada pengalaman jiwa, datanglah penaklukan atas organ-organ.
Dalam persepsi objek-objek lahiriah, organ-organ meninggalkan tempatnya dalam pikiran dan bergerak menuju objek; ini diikuti oleh pengetahuan. Rasa keakuan juga hadir dalam tindakan tersebut. Apabila sang Yogi melakukan samyama pada hal-hal ini dan pada dua yang lain secara bertahap, ia menaklukkan organ-organ. Ambillah apa pun yang Anda lihat atau rasakan, sebuah buku misalnya; pertama pusatkan pikiran padanya, kemudian pada pengetahuan yang berbentuk buku itu, lalu pada Ego yang melihat buku itu, dan seterusnya. Melalui latihan itu, segala organ akan ditaklukkan.
ततो मनोजवित्वं विकरणभावः प्रधानजयश्च ॥४९॥
49. Dari itu datanglah kepada tubuh daya pergerakan cepat seperti pikiran, daya organ-organ yang lepas dari tubuh, dan penaklukan atas alam.
Sebagaimana penaklukan atas unsur-unsur menghasilkan tubuh yang dimuliakan, demikian pula penaklukan atas organ-organ akan menghasilkan daya-daya yang disebutkan di atas.
सत्त्वपुरुषान्यताख्यातिमात्रस्य सर्वभावाधिष्ठातृत्वं सर्वज्ञातृत्वञ्च ॥५०॥
50. Dengan melakukan samyama pada pembedaan antara Sattva dan Purusha, datanglah kemahakuasaan dan kemahatahuan.
Apabila alam telah ditaklukkan, dan perbedaan antara Purusha dan alam telah disadari — bahwa Purusha itu tak terhancurkan, murni, dan sempurna — barulah datang kemahakuasaan dan kemahatahuan.
तद्वैराग्यादपि दोषबीजक्षये कैवल्यम् ॥५१॥
51. Dengan melepaskan daya-daya ini sekalipun, datanglah penghancuran benih kejahatan itu sendiri, yang membawa kepada Kaivalya.
Ia mencapai kesendirian, kemandirian, dan menjadi bebas. Apabila seseorang melepaskan bahkan gagasan tentang kemahakuasaan dan kemahatahuan, datanglah penolakan total terhadap kenikmatan, terhadap godaan dari makhluk-makhluk surgawi. Apabila sang Yogi telah melihat segala daya yang menakjubkan ini, dan menolaknya, ia mencapai tujuan. Apakah segala daya ini? Sekadar manifestasi belaka. Mereka tidak lebih baik daripada mimpi-mimpi. Bahkan kemahakuasaan pun adalah mimpi. Ia bergantung pada pikiran. Selama masih ada pikiran, ia dapat dipahami, tetapi tujuan itu berada bahkan di balik pikiran.
स्थान्युपनिमन्त्रणे सङ्गस्मयाकरणं पुनरनिष्टप्रसङ्गात् ॥५२॥
52. Sang Yogi tidak boleh merasa terpikat atau tersanjung oleh tawaran makhluk-makhluk surgawi, karena khawatir akan kembali pada keburukan.
Ada pula bahaya-bahaya lain; para dewata dan makhluk-makhluk lain datang untuk menggoda sang Yogi. Mereka tidak menginginkan siapa pun benar-benar bebas. Mereka cemburu, sama seperti kita, dan kadang-kadang lebih buruk daripada kita. Mereka sangat takut kehilangan tempat mereka. Para Yogi yang tidak mencapai kesempurnaan akan mati dan menjadi dewa-dewa; mereka meninggalkan jalan yang lurus dan tersesat ke salah satu jalan samping, lalu memperoleh daya-daya tersebut. Kemudian, mereka harus dilahirkan kembali. Akan tetapi, ia yang cukup kuat untuk menahan godaan-godaan ini dan menuju langsung kepada tujuan, akan menjadi bebas.
क्षण-तत्क्रमयोः संयमाद्विवेकजं ज्ञानम् ॥५३॥
53. Dengan melakukan samyama pada satu partikel waktu serta urutan sebelum dan sesudahnya, datanglah pembedaan (viveka).
Bagaimana kita dapat menghindari segala hal ini, para dewa, surga-surga, dan daya-daya itu? Melalui pembedaan, melalui kemampuan membedakan yang baik dari yang jahat. Oleh karena itu diberikan suatu samyama yang dengannya daya pembedaan dapat diperkuat. Yakni dengan melakukan samyama pada satu partikel waktu, dan pada waktu yang mendahului serta yang menyusul setelahnya.
जाति-लक्षण-देशैरन्यताऽनवच्छेदात्तुल्ययोस्ततः प्रतिपत्तिः ॥५४॥
54. Hal-hal yang tidak dapat dibedakan berdasarkan jenis, tanda, dan tempat sekalipun, akan dapat dibedakan oleh samyama tersebut.
Penderitaan yang kita alami berasal dari ketidaktahuan, dari ketidakmampuan membedakan yang nyata dari yang tidak nyata. Kita semua menganggap yang buruk itu baik, mimpi itu kenyataan. Jiwa adalah satu-satunya realitas, dan kita telah melupakannya. Tubuh adalah mimpi yang tidak nyata, dan kita mengira diri kita semuanya adalah tubuh. Ketidakmampuan membedakan ini adalah sebab dari penderitaan. Itu disebabkan oleh ketidaktahuan. Apabila pembedaan datang, ia membawa kekuatan, dan barulah kita dapat menghindari segala macam gagasan tentang tubuh, surga, dan dewa-dewa itu. Ketidaktahuan ini timbul melalui pembedaan berdasarkan jenis, tanda, dan tempat. Sebagai contoh, ambillah seekor sapi. Sapi dibedakan dari anjing berdasarkan jenis. Bahkan di antara sapi-sapi sendiri, bagaimana kita membuat pembedaan antara satu sapi dan sapi lainnya? Berdasarkan tanda. Jika dua objek persis serupa, mereka dapat dibedakan apabila berada di tempat yang berbeda. Apabila objek-objek begitu bercampur sehingga pembeda-pembeda ini pun tak dapat menolong kita, daya pembedaan yang diperoleh melalui latihan yang disebutkan di atas akan memberi kita kemampuan untuk membedakannya. Filsafat tertinggi dari sang Yogi didasarkan pada fakta ini, bahwa Purusha itu murni dan sempurna, dan merupakan satu-satunya "yang sederhana" yang ada di alam semesta ini. Tubuh dan pikiran adalah hal-hal yang majemuk, namun demikian kita senantiasa mengidentifikasi diri kita dengannya. Inilah kekeliruan besar bahwa pembedaan itu telah hilang. Apabila daya pembedaan ini telah diperoleh, manusia melihat bahwa segala sesuatu di dunia ini, baik yang mental maupun yang fisik, adalah hal yang majemuk, dan, sebagaimana adanya, tidak mungkin merupakan Purusha.
तारकं सर्वविषयं सर्वथाविषयमक्रमञ्चेति विवेकजं ज्ञानम् ॥५५॥
55. Pengetahuan yang menyelamatkan ialah pengetahuan pembedaan yang serentak meliputi segala objek, dalam segala variasinya.
Disebut menyelamatkan, karena pengetahuan itu membawa sang Yogi menyeberangi samudra kelahiran dan kematian. Seluruh Prakriti dalam segala keadaannya, yang halus maupun yang kasar, berada dalam genggaman pengetahuan ini. Tidak ada suksesi dalam persepsi melalui pengetahuan ini; ia menyerap segala sesuatu secara serentak, dalam sekali pandang.
सत्त्वपुरुषयोः शुद्धिसाम्ये कैवल्यमिति ॥५६॥
56. Melalui kesamaan kemurnian antara Sattva dan Purusha, datanglah Kaivalya.
Apabila jiwa menyadari bahwa ia tidak bergantung pada apa pun di alam semesta, dari para dewa sampai atom terkecil, itulah yang disebut Kaivalya (penyendirian) dan kesempurnaan. Ia tercapai apabila campuran kemurnian dan ketidakmurnian yang disebut Sattva (intelek) telah dibuat semurni Purusha itu sendiri; barulah Sattva memantulkan hanya hakikat kemurnian yang tak berkualifikasi, yang adalah Purusha.
## Notes
English
PATANJALI'S YOGA APHORISMS CHAPTER III POWERS
We have now come to the chapter in which the Yoga powers are described.
देशबन्धश्चित्तस्य धारणा ॥१॥
1. Dhāranā is holding the mind on to some particular object.
Dharana (concentration) is when the mind holds on to some object, either in the body, or outside the body, and keeps itself in that state.
तत्र प्रत्ययैकतानता ध्यानम् ॥२॥
2. An unbroken flow of knowledge in that object is Dhyāna.
The mind tries to think of one object, to hold itself to one particular spot, as the top of the head, the heart, etc., and if the mind succeeds in receiving the sensations only through that part of the body, and through no other part, that would be Dharana, and when the mind succeeds in keeping itself in that state for some time, it is called Dhyana (meditation).
तदेवार्थमात्रनिर्भासं स्वरूपशून्यमिव समाधिः ॥३॥
3. When that, giving up all forms, reflects only the meaning, it is Samādhi.
That comes when in meditation the form or the external part is given up. Suppose I were meditating on a book, and that I have gradually succeeded in concentrating the mind on it, and perceiving only the internal sensations, the meaning, unexpressed in any form — that state of Dhyana is called Samadhi.
त्रयमेकत्र संयमः ॥४॥
4. (These) three (when practised) in regard to one object is Samyama.
When a man can direct his mind to any particular object and fix it there, and then keep it there for a long time, separating the object from the internal part, this is Samyama; or Dharana, Dhyana, and Samadhi, one following the other, and making one. The form of the thing has vanished, and only its meaning remains in the mind.
तज्जयात् प्रज्ञाऽऽलोकः ॥५॥
5. By the conquest of that comes light of knowledge.
When one has succeeded in making this Samyama, all powers come under his control. This is the great instrument of the Yogi. The objects of knowledge are infinite, and they are divided into the gross, grosser, grossest and the fine, finer, finest and so on. This Samyama should be first applied to gross things, and when you begin to get knowledge of this gross, slowly, by stages, it should be brought to finer things.
तस्य भूमिषु विनियोगः ॥६॥
6. That should be employed in stages.
This is a note of warning not to attempt to go too fast.
त्रयमन्तरङ्गं पूर्वेभ्यः ॥७॥
7. These three are more internal than those that precede.
Before these we had the Pratyāhāra, the Prānāyāma, the Āsana, the Yama and Niyama; they are external parts of the three — Dharana, Dhyana and Samadhi. When a man has attained to them, he may attain to omniscience and omnipotence, but that would not be salvation. These three would not make the mind Nirvikalpa, changeless, but would leave the seeds for getting bodies again. Only when the seeds are, as the Yogi says, "fried," do they lose the possibility of producing further plants. These powers cannot fry the seed.
तदपि बहिरङ्गं निर्बीजस्य ॥८॥
8. But even they are external to the seedless (Samadhi).
Compared with that seedless Samadhi, therefore, even these are external. We have not yet reached the real Samadhi, the highest, but a lower stage, in which this universe still exists as we see it, and in which are all these powers.
व्युत्थान-निरोधसंस्कारयोरभिभव-प्रादुर्भावौ निरोधक्षणचित्तान्वयो निरोध-परिणामः ॥९॥
9. By the suppression of the disturbed impressions of the mind, and by the rise of impressions of control, the mind, which persists in that moment of control, is said to attain the controlling modifications.
That is to say, in this first state of Samadhi the modifications of the mind have been controlled, but not perfectly, because if they were, there would be no modifications. If there is a modification which impels the mind to rush out through the senses, and the Yogi tries to control it, that very control itself will be a modification. One wave will be checked by another wave, so it will not be real Samadhi in which all the waves subside, as control itself will be a wave. Yet this lower Samadhi is very much nearer to the higher Samadhi than when the mind comes bubbling out.
तस्य प्रशान्तवाहिता संस्कारात् ॥१०॥
10. Its flow becomes steady by habit.
The flow of this continuous control of the mind becomes steady when practised day after day, and the mind obtains the faculty of constant concentration.
सर्वार्थतैकाग्रतयोः क्षयोदयौ चित्तस्य समाधि-परिणामः ॥११॥
11. Taking in all sorts of objects, and concentrating upon one object, these two powers being destroyed and manifested respectively, the Chitta gets the modification called Samadhi.
The mind takes up various objects, runs into all sorts of things. That is the lower state. There is a higher state of the mind, when it takes up one object and excludes all others, of which Samadhi is the result.
शान्तोदितौ तुल्यप्रत्ययौ चित्तस्यैकाग्रता-परिणामः ॥१२॥
12. The one-pointedness of the Chitta is when the impression that is past and that which is present are similar.
How are we to know that the mind has become concentrated? Because the idea of time will vanish. The more time passes unnoticed the more concentrated we are. In common life we see that when we are interested in a book we do not note the time at all; and when we leave the book, we are often surprised to find how many hours have passed. All time will have the tendency to come and stand in the one present. So the definition is given: When the past and present come and stand in one, the mind is said to be concentrated.
एतेन भूतेन्द्रियेषु धर्मलक्षणावस्थापरिणामा व्याख्याताः ॥१३॥
13. By this is explained the threefold transformation of form, time and state, in fine or gross matter and in the organs.
By the threefold changes in the mind-stuff as to form, time and state are explained the corresponding changes in gross and subtle matter and in the organs. Suppose there is a lump of gold. It is transformed into a bracelet and again into an earring. These are changes as to form. The same phenomena looked at from the standpoint of time give us change as to time. Again, the bracelet or the earring may be bright or dull, thick or thin, and so on. This is change as to state. Now referring to the aphorisms 9, 11 and 12, the mind-stuff is changing into Vrittis — this is change as to form. That it passes through past, present and future moments of time is change as to time. That the impressions vary as to intensity within one particular period, say, present, is change as to state. The concentrations taught in the preceding aphorisms were to give the Yogi a voluntary control over the transformations of his mind-stuff, which alone will enable him to make the Samyama named in III.4.
शान्तोदिताव्यपदेश्यधर्मानुपातो धर्मी ॥१४॥
14. That which is acted upon by transformation, either past, present, or yet to be manifested is the qualified.
That is to say, the qualified is the substance which is being acted upon by time and by the Samskāras, and getting changed and being manifested always.
क्रमान्यत्वं परिणामान्यत्वे हेतुः ॥१५॥
15. The succession of changes is the cause of manifold evolution.
परिणामत्रयसंयमादतीतानागतज्ञानम् ॥१६॥
16. By making Samyama on the three sorts of changes comes the knowledge of past and future.
We must not lose sight of the first definition of Samyama. When the mind has attained to that state when it identifies itself with the internal impression of the object, leaving the external, and when, by long practice, that is retained by the mind and the mind can get into that state in a moment, that is Samyama. If a man in that state wants to know the past and future, he has to make a Samyama on the changes in the Samskaras (III.13). Some are working now at present, some have worked out, and some are waiting to work. So by making a Samyama on these he knows the past and future.
शब्दार्थप्रत्ययानामितरेतराध्यासात्सङ्करस्तत्प्रविभागसंयमात् सर्वभूतरुतज्ञानम् ॥१७॥
17. By making Samyama on word, meaning and knowledge, which are ordinarily confused, comes the knowledge of all animal sounds.
The word represents the external cause, the meaning represents the internal vibration that travels to the brain through the channels of the Indriyas, conveying the external impression to the mind, and knowledge represents the reaction of the mind, with which comes perception. These three, confused, make our sense-objects. Suppose I hear a word; there is first the external vibration, next the internal sensation carried to the mind by the organ of hearing, then the mind reacts, and I know the word. The word I know is a mixture of the three — vibration, sensation, and reaction. Ordinarily these three are inseparable; but by practice the Yogi can separate them. When a man has attained to this, if he makes a Samyama on any sound, he understands the meaning which that sound was intended to express, whether it was made by man or by any other animal.
संस्कारसाक्षात्करणात् पूर्वजातिज्ञानम् ॥१८॥
18. By perceiving the impressions, (comes) the knowledge of past life.
Each experience that we have, comes in the form of a wave in the Chitta, and this subsides and becomes finer and finer, but is never lost. It remains there in minute form, and if we can bring this wave up again, it becomes memory. So, if the Yogi can make a Samyama on these past impressions in the mind, he will begin to remember all his past lives.
प्रत्ययस्य परचित्तज्ञानम् ॥१९॥
19. By making Samyama on the signs in another's body, knowledge of his mind comes.
Each man has particular signs on his body, which differentiate him from others; when the Yogi makes a Samyama on these signs he knows the nature of the mind of that person.
न च तत् सालम्बनं तस्याविषयीभूतत्वात् ॥२०॥
20. But not its contents, that not being the object of the Samyama.
He would not know the contents of the mind by making a Samyama on the body. There would be required a twofold Samyama, first on the signs in the body, and then on the mind itself. The Yogi would then know everything that is in that mind.
कायरूपसंयमात्तद्ग्राह्यशक्ति-स्तम्भे चक्षुःप्रकाशासंप्रयोगेऽन्तर्धानम् ॥२१॥
21. By making Samyama on the form of the body, the perceptibility of the form being obstructed and the power of manifestation in the eye being separated, the Yogi's body becomes unseen.
A Yogi standing in the midst of this room can apparently vanish. He does not really vanish, but he will not be seen by anyone. The form and the body are, as it were, separated. You must remember that this can only be done when the Yogi has attained to that power of concentration when form and the thing formed have been separated. Then he makes a Samyama on that, and the power to perceive forms is obstructed, because the power of perceiving forms comes from the junction of form and the thing formed.
एतेन शब्दाद्यन्तर्धानमुक्तम् ॥२२॥
22. By this the disappearance or concealment of words which are being spoken and such other things are also explained.
सोपक्रमं निरुपक्रमं च कर्म तत्संयमादपरान्तज्ञानमरिष्टेभ्यो वा ॥२३ ॥
23. Karma is of two kinds — soon to be fructified and late to be fructified. By making Samyama on these, or by the signs called Arishta, portents, the Yogis know the exact time of separation from their bodies.
When a Yogi makes a Samyama on his own Karma, upon those impressions in his mind which are now working, and those which are just waiting to work, he knows exactly by those that are waiting when his body will fall. He knows when he will die, at what hour, even at what minute. The Hindus think very much of that knowledge or consciousness of the nearness of death, because it is taught in the Gita that the thoughts at the moment of departure are great powers in determining the next life.
मैत्र्यादिषु बलानि ॥२४॥
24. By making Samyama on friendship, mercy, etc. (I.33), the Yogi excels in the respective qualities.
बलेषु हस्तिबलादीनि ॥२५॥
25. By making Samyama on the strength of the elephant and others, their respective strength comes to the Yogi.
When a Yogi has attained to this Samyama and wants strength, he makes a Samyama on the strength of the elephant and gets it. Infinite energy is at the disposal of everyone if he only knows how to get it. The Yogi has discovered the science of getting it.
प्रवृत्त्यालोकन्यासात् सूक्ष्म-व्यवहित-विप्रकृष्टज्ञानम् ॥२६॥
26. By making Samyama on the Effulgent Light (I.36), comes the knowledge of the fine, the obstructed, and the remote.
When the Yogi makes Samyama on that Effulgent Light in the heart, he sees things which are very remote, things, for instance, that are happening in a distant place, and which are obstructed by mountain barriers, and also things which are very fine.
भुवनज्ञानं सूर्ये संयमात् ॥२७॥
27. By making Samyama on the sun, (comes) the knowledge of the world.
चन्द्रे ताराव्यूहज्ञानम् ॥२८॥
28. On the moon, (comes) the knowledge of the cluster of stars.
ध्रुवे तद्गतिज्ञानम् ॥२९॥
29. On the pole-star, (comes) the knowledge of the motions of the stars.
नाभिचक्रे कायव्यूहज्ञानम् ॥३०॥
30. On the navel circle, (comes) the knowledge of the constitution of the body.
कण्ठकूपे क्षुत्पिपासानिवृत्तिः ॥३१॥
31. On the hollow of the throat, (comes) cessation of hunger.
When a man is very hungry, if he can make Samyama on the hollow of the throat, hunger ceases.
कूर्मनाड्यां स्थैर्यम् ॥३२॥
32. On the nerve called Kurma, (comes) fixity of the body.
When he is practising, the body is not disturbed.
मूर्धज्योतिषि सिद्धदर्शनम् ॥३३॥
33. On the light emanating from the top of the head, sight of the Siddhas.
The Siddhas are beings who are a little above ghosts. When the Yogi concentrates his mind on the top of his head, he will see these Siddhas. The word Siddha does not refer to those men who have become free — a sense in which it is often used.
प्रातिभाद्वा सर्वम् ॥३४॥
34. Or by the power of Prātibha, all knowledge.
All these can come without any Samyama to the man who has the power of Pratibha (spontaneous enlightenment from purity). When a man has risen to a high state of Pratibha, he has that great light. All things are apparent to him. Everything comes to him naturally without making Samyama.
ह्रदये चित्त-संवित् ॥३५॥
35. In the heart, knowledge of minds.
सत्त्वपुरुषयोरत्यन्तासंकीर्णयोः प्रत्ययाविशेषाद् भोगः परार्थत्वात् स्वार्थसंयमात् पुरुषज्ञानम् ॥३६॥
36. Enjoyment comes from the non-discrimination of the soul and Sattva which are totally different because the latter's actions are for another. Samyama on the self-centred one gives knowledge of the Purusha.
All action of Sattva, a modification of Prakriti characterised by light and happiness, is for the soul. When Sattva is free from egoism and illuminated with the pure intelligence of Purusha, it is called the self-centred one, because in that state it becomes independent of all relations.
ततः प्रातिभश्रावणवेदनादर्शास्वादवार्ता जायन्ते ॥३७॥
37. From that arises the knowledge belonging to Pratibha and (supernatural) hearing, touching, seeing, tasting and smelling.
ते समाधावुपसर्गा व्युत्थाने सिद्धयः ॥३८॥
38. These are obstacles to Samadhi; but they are powers in the worldly state.
To the Yogi knowledge of the enjoyments of the world comes by the junction of the Purusha and the mind. If he wants to make Samyama on the knowledge that they are two different things, nature and soul, he gets knowledge of the Purusha. From that arises discrimination. When he has got that discrimination, he gets the Pratibha, the light of supreme genius. These powers, however, are obstructions to the attainment of the highest goal, the knowledge of the pure Self, and freedom. These are, as it were, to be met in the way; and if the Yogi rejects them, he attains the highest. If he is tempted to acquire these, his further progress is barred.
बन्धकारणशैथिल्यात् प्रचारसंवेदनाच्च चित्तस्य परशरीरावेशः ॥३९ ॥
39. When the cause of bondage of the Chitta has become loosened, the Yogi, by his knowledge of its channels of activity (the nerves), enters another's body.
The Yogi can enter a dead body and make it get up and move, even while he himself is working in another body. Or he can enter a living body and hold that man's mind and organs in check, and for the time being act through the body of that man. That is done by the Yogi coming to this discrimination of Purusha and nature. If he wants to enter another's body, he makes a Samyama on that body and enters it, because, not only is his soul omnipresent, but his mind also, as the Yogi teaches. It is one bit of the universal mind. Now, however, it can only work through the nerve currents in this body, but when the Yogi has loosened himself from these nerve currents, he can work through other things.
उदानजयाज्जलपङ्ककण्टकादिष्वसङ्ग उत्क्रान्तिश्च ॥४०॥
40. By conquering the current called Udāna the Yogi does not sink in water or in swamps, he can walk on thorns etc., and can die at will.
Udana is the name of the nerve current that governs the lungs and all the upper parts of the body, and when he is master of it, he becomes light in weight. He does not sink in water; he can walk on thorns and sword blades, and stand in fire, and can depart this life whenever he likes.
समानजयात् प्रज्वलनम् ॥४१॥
41. By the conquest of the current Samāna he is surrounded by a blaze of light.
Whenever he likes, light flashes from his body.
श्रोत्राकाशयोः सम्बन्धसंयमाद्दिव्यं श्रोत्रम् ॥४२॥
42. By making Samyama on the relation between the ear and the Akasha comes divine hearing.
There is the Akasha, the ether, and the instrument, the ear. By making Samyama on them the Yogi gets supernormal hearing; he hears everything. Anything spoken or sounded miles away he can hear.
कायाकाशयोः सम्बन्धसंयमाल्लघुतूलसमापत्तेश्चाकाशगमनम् ॥४३॥
43. By making Samyama on the relation between the Akasha and the body and becoming light as cotton-wool etc., through meditation on them, the Yogi goes through the skies.
This Akasha is the material of this body; it is only Akasha in a certain form that has become the body. If the Yogi makes a Samyama on this Akasha material of his body, it acquires the lightness of Akasha, and he can go anywhere through the air. So in the other case also.
बहिरकल्पिता वृत्तिर्महाविदेहा ततः प्रकाशावरणक्षयः ॥४४॥
44. By making Samyama on the "real modifications" of the mind, outside of the body, called great disembodiedness, comes disappearance of the covering to light.
The mind in its foolishness thinks that it is working in this body. Why should I be bound by one system of nerves, and put the Ego only in one body, if the mind is omnipresent? There is no reason why I should. The Yogi wants to feel the Ego wherever he likes. The mental waves which arise in the absence of egoism in the body are called "real modifications" or "great disembodiedness". When he has succeeded in making Samyama on these modifications, all covering to light goes away, and all darkness and ignorance vanish. Everything appears to him to be full of knowledge.
स्थूल-स्वरूप-सूक्ष्मान्वयार्थवत्त्वसंयमाद्भूतजयः ॥४५॥
45. By making Samyama on the gross and fine forms of the elements, their essential traits, the inherence of the Gunas in them and on their contributing to the experience of the soul, comes mastery of the elements.
The Yogi makes Samyama on the elements, first on the gross, and then on the finer states. This Samyama is taken up more by a sect of the Buddhists. They take a lump of clay and make Samyama on that, and gradually they begin to see the fine materials of which it is composed, and when they have known all the fine materials in it, they get power over that element. So with all the elements. The Yogi can conquer them all.
ततोऽणिमादिप्रादुर्भावः कायसम्पत्तद्धर्मानभिघातश्च ॥४६॥
46. From that comes minuteness and the rest of the powers, "glorification of the body," and indestructibleness of the bodily qualities.
This means that the Yogi has attained the eight powers. He can make himself as minute as a particle, or as huge as a mountain, as heavy as the earth, or as light as the air; he can reach anything he likes, he can rule everything he wants, he can conquer everything he wants, and so on. A lion will sit at his feet like a lamb, and all his desires will be fulfilled at will.
रूप-लावण्य-बल-वज्रसंहननत्वानि कायसम्पत् ॥४७॥
47. The "glorification of the body" is beauty, complexion, strength, adamantine hardness.
The body becomes indestructible. Nothing can injure it. Nothing can destroy it until the Yogi wishes. "Breaking the rod of time he lives in this universe with his body." In the Vedas it is written that for that man there is no more disease, death or pain.
ग्रहण-स्वरूपास्मितान्वयार्थवत्त्वसंयमादिन्द्रियजयः ॥४८॥
48. By making Samyama on the objectivity and power of illumination of the organs, on egoism, the inherence of the Gunas in them and on their contributing to the experience of the soul, comes the conquest of the organs.
In the perception of external objects the organs leave their place in the mind and go towards the object; this is followed by knowledge. Egoism also is present in the act. When the Yogi makes Samyama on these and the other two by gradation, he conquers the organs. Take up anything that you see or feel, a book for instance; first concentrate the mind on it, then on the knowledge that is in the form of a book, and then on the Ego that sees the book, and so on. By that practice all the organs will be conquered.
ततो मनोजवित्वं विकरणभावः प्रधानजयश्च ॥४९॥
49. From that comes to the body the power of rapid movement like the mind, power of the organs independently of the body, and conquest of nature.
Just as by the conquest of the elements comes glorified body, so from the conquest of the organs will come the above-mentioned powers.
सत्त्वपुरुषान्यताख्यातिमात्रस्य सर्वभावाधिष्ठातृत्वं सर्वज्ञातृत्वञ्च ॥५०॥
50. By making Samyama on the discrimination between the Sattva and the Purusha come omnipotence and omniscience.
When nature has been conquered, and the difference between the Purusha and nature realised — that the Purusha is indestructible, pure and perfect — then come omnipotence and omniscience.
तद्वैराग्यादपि दोषबीजक्षये कैवल्यम् ॥५१॥
51. By giving up even these powers comes the destruction of the very seed of evil, which leads to Kaivalya.
He attains aloneness, independence, and becomes free. When one gives up even the ideas of omnipotence and omniscience, there comes entire rejection of enjoyment, of the temptations from celestial beings. When the Yogi has seen all these wonderful powers, and rejected them, he reaches the goal. What are all these powers? Simply manifestations. They are no better than dreams. Even omnipotence is a dream. It depends on the mind. So long as there is a mind it can be understood, but the goal is beyond even the mind.
स्थान्युपनिमन्त्रणे सङ्गस्मयाकरणं पुनरनिष्टप्रसङ्गात् ॥५२॥
52. The Yogi should not feel allured or flattered by the overtures of celestial beings for fear of evil again.
There are other dangers too; gods and other beings come to tempt the Yogi. They do not want anyone to be perfectly free. They are jealous, just as we are, and worse than us sometimes. They are very much afraid of losing their places. Those Yogis who do not reach perfection die and become gods; leaving the direct road they go into one of the side streets, and get these powers. Then, again, they have to be born. But he who is strong enough to withstand these temptations and go straight to the goal, becomes free.
क्षण-तत्क्रमयोः संयमाद्विवेकजं ज्ञानम् ॥५३॥
53. By making Samyama on a particle of time and its precession and succession comes discrimination.
How are we to avoid all these things, these Devas, and heavens, and powers? By discrimination, by knowing good from evil. Therefore a Samyama is given by which the power of discrimination can be strengthened. This is by making a Samyama on a particle of time, and the time preceding and following it.
जाति-लक्षण-देशैरन्यताऽनवच्छेदात्तुल्ययोस्ततः प्रतिपत्तिः ॥५४॥
54. Those things which cannot be differentiated by species, sign, and place, even they will be discriminated by the above Samyama.
The misery that we suffer comes from ignorance, from non-discrimination between the real and the unreal. We all take the bad for the good, the dream for the reality. Soul is the only reality, and we have forgotten it. Body is an unreal dream, and we think we are all bodies. This non-discrimination is the cause of misery. It is caused by ignorance. When discrimination comes, it brings strength, and then alone can we avoid all these various ideas of body, heavens, and gods. This ignorance arises through differentiating by species, sign, and place. For instance, take a cow. The cow is differentiated from the dog by species. Even with the cows alone how do we make the distinction between one cow and another? By signs. If two objects are exactly similar, they can be distinguished if they are in different places. When objects are so mixed up that even these differentiae will not help us, the power of discrimination acquired by the above-mentioned practice will give us the ability to distinguish them. The highest philosophy of the Yogi is based upon this fact, that the Purusha is pure and perfect, and is the only "simple" that exists in this universe. The body and mind are compounds, and yet we are ever identifying ourselves with them. This is the great mistake that the distinction has been lost. When this power of discrimination has been attained, man sees that everything in this world, mental and physical, is a compound, and, as such, cannot be the Purusha.
तारकं सर्वविषयं सर्वथाविषयमक्रमञ्चेति विवेकजं ज्ञानम् ॥५५॥
55. The saving knowledge is that knowledge of discrimination which simultaneously covers all objects, in all their variations.
Saving, because the knowledge takes the Yogi across the ocean of birth and death. The whole of Prakriti in all its states, subtle and gross, is within the grasp of this knowledge. There is no succession in perception by this knowledge; it takes in all things simultaneously, at a glance.
सत्त्वपुरुषयोः शुद्धिसाम्ये कैवल्यमिति ॥५६॥
56. By the similarity of purity between the Sattva and the Purusha comes Kaivalya.
When the soul realises that it depends on nothing in the universe, from gods to the lowest atom, that is called Kaivalya (isolation) and perfection. It is attained when this mixture of purity and impurity called Sattva (intellect) has been made as pure as the Purusha itself; then the Sattva reflects only the unqualified essence of purity, which is the Purusha.
## Notes
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.