Arsip Vivekananda

Karma dan pengaruhnya pada watak

Jilid1 lecture
2,967 kata · 12 menit baca · Karma-Yoga

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

Kata Karma berasal dari kata Sanskerta Kri, yang berarti melakukan; semua tindakan adalah karma (hukum tindakan dan akibatnya). Secara teknis, kata ini juga berarti akibat dari tindakan. Dalam kaitannya dengan metafisika, kadang-kadang ia berarti akibat-akibat yang sebab-sebabnya adalah tindakan-tindakan kita di masa lampau. Namun dalam Karma-Yoga (jalan tindakan), kita semata-mata berurusan dengan kata karma dalam arti kerja. Tujuan umat manusia adalah pengetahuan. Itulah satu-satunya cita-cita yang ditempatkan di hadapan kita oleh filsafat Timur. Kesenangan bukanlah tujuan manusia, melainkan pengetahuan. Kesenangan dan kebahagiaan selalu berakhir. Adalah keliru menganggap bahwa kesenangan adalah tujuan. Sebab dari segala penderitaan yang kita alami di dunia ini ialah bahwa orang dengan bodoh mengira kesenangan sebagai cita-cita yang harus dikejar. Setelah beberapa waktu, manusia menemukan bahwa bukan kebahagiaan, melainkan pengetahuan, ke arah mana ia sedang menuju, dan bahwa kesenangan maupun kepedihan adalah guru-guru yang besar, dan bahwa ia belajar sama banyaknya dari keburukan seperti dari kebaikan. Saat kesenangan dan kepedihan berlalu di hadapan jiwanya, keduanya meninggalkan gambar-gambar yang berbeda padanya, dan hasil dari kesan-kesan gabungan ini adalah apa yang disebut "karakter" seseorang. Jika Anda mengamati karakter seseorang, sesungguhnya itu tidak lain daripada keseluruhan kecenderungan, jumlah total dari arah pikirannya; Anda akan menemukan bahwa kepedihan dan kebahagiaan adalah faktor yang setara dalam pembentukan karakter itu. Kebaikan dan keburukan memiliki andil yang setara dalam membentuk karakter, dan dalam beberapa hal, kepedihan adalah guru yang lebih besar daripada kebahagiaan. Dalam menelaah tokoh-tokoh besar yang pernah dihasilkan dunia, saya berani mengatakan, dalam sebagian besar kasus, akan ditemukan bahwa kepedihanlah yang lebih banyak mengajar daripada kebahagiaan, kemiskinanlah yang lebih banyak mengajar daripada kekayaan, dan pukulan-pukulanlah yang lebih membangkitkan api batin mereka daripada pujian.

Selanjutnya, pengetahuan ini, sekali lagi, adalah inheren dalam diri manusia. Tidak ada pengetahuan yang datang dari luar; semuanya berada di dalam. Apa yang kita katakan seseorang "ketahui", seharusnya, dalam bahasa psikologi yang ketat, adalah apa yang ia "temukan" atau "singkapkan"; apa yang seseorang "pelajari" sesungguhnya adalah apa yang ia "temukan" dengan menyibakkan selubung dari jiwanya sendiri, yang merupakan tambang pengetahuan yang tak terbatas.

Kita mengatakan bahwa Newton menemukan gravitasi. Apakah ia sedang duduk di suatu sudut menunggunya? Ia ada di dalam pikiran Newton sendiri; saatnya tiba dan ia menemukannya. Semua pengetahuan yang pernah diterima dunia berasal dari pikiran; perpustakaan tak terbatas dari alam semesta ada di dalam pikiran Anda sendiri. Dunia luar hanyalah saran, kesempatan, yang mendorong Anda untuk menelaah pikiran Anda sendiri, namun objek penelaahan Anda selalu adalah pikiran Anda sendiri. Jatuhnya sebuah apel memberikan saran kepada Newton, dan ia menelaah pikirannya sendiri. Ia menyusun ulang semua kaitan pemikiran sebelumnya dalam pikirannya dan menemukan suatu kaitan baru di antaranya, yang kita sebut hukum gravitasi. Hukum itu tidak terdapat dalam apel itu maupun dalam apa pun di pusat bumi.

Oleh karena itu, semua pengetahuan, baik duniawi maupun spiritual, ada di dalam pikiran manusia. Dalam banyak kasus pengetahuan itu tidak ditemukan, melainkan tetap tertutup, dan ketika selubungnya perlahan-lahan disibakkan, kita berkata, "Kami sedang belajar," dan kemajuan pengetahuan dicapai melalui kemajuan proses penyingkapan ini. Orang yang dari dirinya selubung ini sedang diangkat adalah orang yang lebih mengetahui, orang yang selubungnya tebal adalah orang yang tidak tahu, dan orang yang selubungnya telah seluruhnya sirna adalah orang yang serba tahu, mahatahu. Telah ada orang-orang yang mahatahu, dan, saya percaya, akan ada lagi; serta akan ada berjumlah-jumlah dari mereka dalam siklus-siklus mendatang. Seperti api dalam sepotong batu api, pengetahuan ada di dalam pikiran; saran adalah gesekan yang mengeluarkannya. Demikian juga dengan segala perasaan dan tindakan kita — air mata dan senyum kita, sukacita dan dukacita kita, tangis dan tawa kita, kutukan dan berkat kita, pujian dan celaan kita — setiap satunya, jika kita dengan tenang menelaah diri kita sendiri, dapat kita temukan telah dikeluarkan dari dalam diri kita oleh sekian banyak pukulan. Hasilnya adalah diri kita yang sekarang. Semua pukulan ini, jika digabungkan, disebut karma — kerja, tindakan. Setiap pukulan mental dan fisik yang diberikan kepada jiwa, yang darinya, seolah-olah, api dipantik, dan yang melaluinya kekuatan dan pengetahuannya sendiri ditemukan, adalah karma, kata ini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, kita semua sedang melakukan karma sepanjang waktu. Saya berbicara kepada Anda: itu karma. Anda mendengarkan: itu karma. Kita bernapas: itu karma. Kita berjalan: karma. Segala yang kita lakukan, fisik maupun mental, adalah karma, dan ia meninggalkan jejaknya pada kita.

Ada kerja-kerja tertentu yang, seolah-olah, merupakan gabungan, jumlah total, dari sejumlah besar kerja-kerja yang lebih kecil. Jika kita berdiri di dekat tepi pantai dan mendengar ombak menghempas kerikil, kita mengira itu suara yang begitu besar, padahal kita tahu bahwa satu ombak sesungguhnya tersusun dari jutaan dan jutaan ombak-ombak mungil. Masing-masing dari ombak kecil itu menghasilkan suara, namun kita tidak menangkapnya; baru ketika menjadi gabungan besar barulah kita mendengarnya. Demikian pula, setiap denyut jantung adalah kerja. Jenis kerja tertentu kita rasakan dan menjadi nyata bagi kita; sekaligus juga ia adalah gabungan dari sejumlah kerja kecil. Jika Anda benar-benar ingin menilai karakter seseorang, jangan melihat pada perbuatan-perbuatan besarnya. Setiap orang bodoh pun bisa sekali waktu menjadi pahlawan. Amatilah seseorang ketika ia melakukan tindakan-tindakan yang paling umum; itulah hal-hal yang akan mengungkapkan karakter sejati seorang besar kepada Anda. Peristiwa-peristiwa besar membangkitkan bahkan orang yang paling rendah pun kepada semacam kebesaran, tetapi hanya dialah yang sungguh-sungguh besar yang karakternya senantiasa besar, sama di mana pun ia berada.

Karma dalam pengaruhnya terhadap karakter adalah kekuatan paling dahsyat yang harus dihadapi manusia. Manusia ibaratnya sebuah pusat, dan ia menarik segala kekuatan alam semesta ke arah dirinya, dan di pusat ini ia melebur semuanya dan kembali memancarkannya keluar dalam satu arus besar. Pusat semacam itulah manusia sejati — yang mahakuasa, yang mahatahu — dan ia menarik seluruh alam semesta kepadanya. Kebaikan dan keburukan, kepedihan dan kebahagiaan, semuanya berlari ke arahnya dan melekat di sekelilingnya; dan dari semua itu ia membentuk aliran kecenderungan yang dahsyat yang disebut karakter dan memancarkannya keluar. Sebagaimana ia memiliki kekuatan untuk menarik apa pun ke dalam, demikian pula ia memiliki kekuatan untuk memancarkannya keluar.

Segala tindakan yang kita lihat di dunia, segala gerakan dalam masyarakat manusia, segala kerja yang ada di sekeliling kita, hanyalah pertunjukan pikiran, perwujudan kehendak manusia. Mesin atau peralatan, kota, kapal, atau kapal perang, semua ini hanyalah perwujudan kehendak manusia; dan kehendak ini disebabkan oleh karakter, dan karakter dibentuk oleh karma. Sebagaimana karma seseorang, demikianlah perwujudan kehendaknya. Orang-orang dengan kehendak yang mahaperkasa yang pernah dihasilkan dunia ini semuanya adalah pekerja yang luar biasa — jiwa-jiwa raksasa, dengan kehendak yang cukup kuat untuk menjungkirbalikkan dunia, kehendak yang mereka peroleh melalui kerja yang tekun, sepanjang zaman demi zaman. Kehendak raksasa seperti yang dimiliki seorang Buddha atau Yesus tidak mungkin diperoleh dalam satu kehidupan, sebab kita tahu siapa ayah mereka. Tidak diketahui bahwa ayah mereka pernah mengucapkan satu kata pun demi kebaikan umat manusia. Berjuta-juta tukang kayu seperti Yusuf telah hidup dan mati; berjuta-juta masih hidup hingga kini. Berjuta-juta raja kecil seperti ayah Buddha telah ada di dunia. Jika ini sekadar soal pewarisan turun-temurun, bagaimana Anda menjelaskan pangeran kecil ini, yang barangkali bahkan tidak ditaati oleh hamba-hambanya sendiri, menghasilkan putra ini, yang dipuja oleh setengah dunia? Bagaimana Anda menjelaskan jurang antara tukang kayu itu dengan putranya, yang dipuja oleh berjuta-juta manusia sebagai Tuhan? Hal ini tidak dapat dipecahkan dengan teori keturunan. Kehendak raksasa yang dipancarkan Buddha dan Yesus ke atas dunia, dari mana asalnya? Dari mana datangnya akumulasi kekuatan ini? Pastilah ia telah ada di sana sepanjang zaman demi zaman, terus-menerus tumbuh semakin besar dan semakin besar, sampai ia meledak ke dalam masyarakat dalam wujud seorang Buddha atau seorang Yesus, bahkan masih bergulir sampai hari ini.

Semua ini ditentukan oleh karma, kerja. Tak seorang pun bisa memperoleh apa pun kecuali ia menghasilkannya sendiri. Inilah hukum yang kekal. Kita kadang-kadang mungkin mengira bahwa tidak demikian, namun pada akhirnya kita akan diyakinkan akan kebenarannya. Seseorang mungkin berjuang sepanjang hidupnya demi kekayaan; ia mungkin menipu ribuan orang, tetapi akhirnya ia mendapati bahwa ia tidak pantas menjadi kaya, dan hidupnya menjadi kesusahan dan beban baginya. Kita boleh terus menimbun barang-barang demi kenikmatan jasmani kita, namun hanya apa yang kita hasilkan sendirilah yang sungguh-sungguh menjadi milik kita. Seorang bodoh boleh membeli seluruh buku di dunia, dan buku-buku itu akan terjajar di perpustakaannya; tetapi ia hanya akan dapat membaca buku-buku yang pantas dibacanya; dan kepantasan ini dihasilkan oleh karma. Karma kita menentukan apa yang pantas bagi kita dan apa yang dapat kita serap. Kita bertanggung jawab atas keadaan diri kita; dan apa pun yang kita inginkan untuk menjadi diri kita, kita memiliki kekuatan untuk mewujudkannya. Jika diri kita yang sekarang adalah hasil dari tindakan-tindakan kita di masa lampau, maka sudah pasti bahwa apa pun yang kita inginkan untuk menjadi diri kita di masa depan dapat dihasilkan oleh tindakan-tindakan kita saat ini; sehingga kita perlu mengetahui cara bertindak. Anda akan berkata, "Apa gunanya mempelajari cara bekerja? Setiap orang sudah bekerja dengan satu atau lain cara di dunia ini." Tetapi ada hal seperti memboroskan tenaga kita secara sia-sia. Mengenai Karma-Yoga, Bhagavad-Gita (Nyanyian Yang Mahamulia) mengatakan bahwa ia adalah melakukan kerja dengan kecerdikan dan sebagai sebuah ilmu; dengan mengetahui cara bekerja, seseorang dapat memperoleh hasil yang terbesar. Anda harus ingat bahwa segala kerja semata-mata adalah untuk membangkitkan kekuatan pikiran yang sudah ada di sana, untuk membangunkan jiwa. Kekuatan itu ada di dalam setiap orang, demikian pula pengetahuan; berbagai kerja itu seperti pukulan-pukulan untuk mengeluarkannya, untuk membangunkan para raksasa ini.

Manusia bekerja dengan berbagai motif. Tidak mungkin ada kerja tanpa motif. Sebagian orang ingin meraih ketenaran, dan mereka bekerja demi ketenaran. Sebagian lain menginginkan uang, dan mereka bekerja demi uang. Sebagian lain ingin memiliki kekuasaan, dan mereka bekerja demi kekuasaan. Sebagian lain ingin masuk surga, dan mereka bekerja demi hal itu. Sebagian lain ingin meninggalkan nama ketika mereka meninggal, sebagaimana mereka lakukan di Tiongkok, di mana tidak ada seorang pun yang memperoleh gelar sampai ia meninggal; dan itu, pada akhirnya, adalah cara yang lebih baik daripada cara kita. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang sangat baik di sana, mereka memberikan gelar bangsawan kepada ayahnya yang telah meninggal, atau kepada kakeknya. Sebagian orang bekerja demi hal itu. Sebagian pengikut sekte-sekte Muslim tertentu bekerja sepanjang hidupnya agar dibangunkan makam yang besar bagi mereka ketika mereka meninggal. Saya mengenal sekte-sekte yang di kalangannya, segera setelah seorang anak lahir, sebuah makam dipersiapkan untuknya; itulah bagi mereka kerja terpenting yang harus dilakukan seseorang, dan semakin besar dan semakin indah makamnya, semakin baik dianggap kedudukan orang itu. Sebagian lain bekerja sebagai laku tobat; melakukan segala macam perbuatan jahat, lalu mendirikan sebuah kuil, atau memberikan sesuatu kepada para imam untuk menebus dosa mereka dan memperoleh dari mereka surat lintas ke surga. Mereka mengira bahwa kemurahan hati semacam ini akan membersihkan mereka dan mereka akan lolos tanpa hukuman meskipun penuh dosa. Demikianlah sebagian dari berbagai motif untuk bekerja.

Kerja demi kerja itu sendiri. Ada sebagian orang yang sungguh-sungguh adalah garam bumi di setiap negeri, yang bekerja demi kerja itu sendiri, yang tidak peduli pada nama, atau ketenaran, atau bahkan untuk masuk surga. Mereka bekerja semata-mata karena kebaikan akan datang darinya. Ada pula yang berbuat baik kepada kaum miskin dan menolong umat manusia dari motif yang lebih tinggi lagi, karena mereka percaya pada perbuatan baik dan mencintai kebaikan. Motif untuk nama dan ketenaran jarang sekali membawa hasil yang segera, sebagai aturan umum; hasilnya datang kepada kita ketika kita sudah tua dan hampir selesai dengan hidup. Jika seseorang bekerja tanpa motif yang mementingkan diri, apakah ia tidak memperoleh apa-apa? Ya, ia memperoleh yang tertinggi. Sikap tidak mementingkan diri lebih menguntungkan, hanya saja orang tidak memiliki kesabaran untuk mempraktikkannya. Ia lebih menguntungkan juga dari sudut pandang kesehatan. Cinta, kebenaran, dan sikap tidak mementingkan diri bukan sekadar kiasan moral, melainkan membentuk cita-cita tertinggi kita, sebab di dalamnya terkandung perwujudan kekuatan yang demikian besarnya. Pertama-tama, seseorang yang dapat bekerja selama lima hari, atau bahkan lima menit, tanpa motif yang mementingkan diri sama sekali, tanpa memikirkan masa depan, surga, hukuman, atau hal semacam itu, memiliki di dalam dirinya kemampuan untuk menjadi raksasa moral yang perkasa. Sulit melakukannya, tetapi di lubuk hati yang terdalam kita mengetahui nilainya, dan kebaikan yang dibawanya. Itulah perwujudan kekuatan yang terbesar — pengendalian diri yang luar biasa ini; pengendalian diri adalah perwujudan kekuatan yang lebih besar daripada semua tindakan yang mengarah keluar. Sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda dapat meluncur menuruni bukit tanpa kendali, atau sang sais dapat mengekang kuda-kudanya. Manakah perwujudan kekuatan yang lebih besar, melepaskannya atau menahannya? Sebuah bola meriam yang melesat di udara menempuh jarak jauh dan jatuh. Bola meriam lain dihentikan dalam terbangnya oleh sebuah dinding, dan tumbukan itu menghasilkan panas yang hebat. Semua energi yang dilepaskan keluar mengikuti motif yang mementingkan diri menjadi sia-sia; ia tidak akan membuat kekuatan kembali kepada Anda; tetapi jika dikekang, ia akan menghasilkan perkembangan kekuatan. Pengendalian diri ini cenderung menghasilkan kehendak yang perkasa, karakter yang melahirkan seorang Kristus atau Buddha. Orang-orang bodoh tidak mengetahui rahasia ini; namun begitu mereka ingin menguasai umat manusia. Bahkan orang bodoh sekalipun dapat memerintah seluruh dunia jika ia bekerja dan menunggu. Biarlah ia menunggu beberapa tahun, mengekang gagasan bodoh untuk memerintah itu; dan ketika gagasan itu sirna seluruhnya, ia akan menjadi sebuah kekuatan di dunia. Sebagian besar dari kita tidak dapat melihat lebih jauh dari beberapa tahun, seperti halnya beberapa hewan tidak dapat melihat lebih jauh dari beberapa langkah. Hanya lingkaran sempit yang kecil — itulah dunia kita. Kita tidak memiliki kesabaran untuk melihat lebih jauh, dan dengan demikian menjadi tidak bermoral dan jahat. Inilah kelemahan kita, ketakberdayaan kita.

Bahkan bentuk-bentuk kerja yang paling rendah pun tidak boleh dipandang hina. Biarlah orang yang tidak mengetahui yang lebih baik bekerja demi tujuan-tujuan yang mementingkan diri, demi nama dan ketenaran; tetapi setiap orang harus selalu berupaya bergerak menuju motif-motif yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, serta memahaminya. "Atas kerja kita memiliki hak, namun bukan atas buah-buahnya." Lepaskan buah-buahnya. Mengapa peduli pada hasil? Jika Anda ingin menolong seseorang, jangan pernah memikirkan bagaimana sikap orang itu seharusnya terhadap Anda. Jika Anda ingin melakukan suatu kerja yang besar atau baik, jangan susah memikirkan apa hasilnya nanti.

Muncul pertanyaan yang sulit dalam cita-cita kerja ini. Aktivitas yang sungguh-sungguh diperlukan; kita harus selalu bekerja. Kita tidak dapat hidup satu menit pun tanpa kerja. Lalu di manakah letak istirahat? Inilah satu sisi dari perjuangan hidup — kerja, di mana kita diputar dengan cepat. Dan inilah sisi yang lain — yaitu sikap pelepasan yang tenang dan menarik diri: semuanya damai di sekeliling, sangat sedikit kegaduhan dan kemegahan, hanya alam dengan hewan-hewan, bunga-bunga, dan gunung-gunungnya. Tidak satu pun dari keduanya merupakan gambaran yang sempurna. Seseorang yang biasa dengan kesendirian, jika dihadapkan pada pusaran dunia yang bergelombang, akan tergilas olehnya; sebagaimana ikan yang hidup di kedalaman laut, segera setelah dibawa ke permukaan, hancur berkeping-keping, kehilangan tekanan air yang menyatukannya. Dapatkah seseorang yang sudah biasa dengan keriuhan dan kebut-kebutan hidup tinggal dengan tenteram jika ia datang ke sebuah tempat yang sunyi? Ia akan menderita dan barangkali kehilangan akal. Manusia yang ideal adalah ia yang, di tengah keheningan dan kesendirian yang terbesar, menemukan aktivitas yang paling intens, dan di tengah aktivitas yang paling intens, menemukan keheningan dan kesendirian gurun. Ia telah mempelajari rahasia pengendalian, ia telah menguasai dirinya. Ia menyusuri jalan-jalan kota besar dengan segala lalu lintasnya, dan pikirannya setenang seolah-olah ia berada di dalam goa, di mana tak ada suara yang dapat mencapainya; dan ia sedang bekerja dengan sepenuh hati sepanjang waktu. Itulah cita-cita Karma-Yoga, dan jika Anda telah mencapainya, Anda sungguh-sungguh telah mempelajari rahasia kerja.

Namun kita harus mulai dari awal, mengambil pekerjaan-pekerjaan sebagaimana datangnya kepada kita dan perlahan-lahan menjadikan diri kita lebih tidak mementingkan diri setiap hari. Kita harus melakukan kerja itu dan menyelidiki daya pendorong yang menggerakkan kita; dan, hampir tanpa kecuali, pada tahun-tahun pertama, kita akan mendapati bahwa motif kita selalu mementingkan diri; tetapi lambat laun sikap mementingkan diri ini akan luruh oleh ketekunan, sampai akhirnya tiba saatnya ketika kita akan mampu melakukan kerja yang sungguh-sungguh tidak mementingkan diri. Kita semua boleh berharap bahwa pada suatu hari nanti, ketika kita berjuang menapaki jalan-jalan kehidupan, akan tiba saatnya ketika kita akan menjadi sepenuhnya tidak mementingkan diri; dan pada saat kita mencapainya, segala kekuatan kita akan terpusatkan, dan pengetahuan yang menjadi milik kita akan terwujud.

English

The word Karma is derived from the Sanskrit Kri, to do; all action is Karma. Technically, this word also means the effects of actions. In connection with metaphysics, it sometimes means the effects, of which our past actions were the causes. But in Karma-Yoga we have simply to do with the word Karma as meaning work. The goal of mankind is knowledge. That is the one ideal placed before us by Eastern philosophy. Pleasure is not the goal of man, but knowledge. Pleasure and happiness come to an end. It is a mistake to suppose that pleasure is the goal. The cause of all the miseries we have in the world is that men foolishly think pleasure to be the ideal to strive for. After a time man finds that it is not happiness, but knowledge, towards which he is going, and that both pleasure and pain are great teachers, and that he learns as much from evil as from good. As pleasure and pain pass before his soul they have upon it different pictures, and the result of these combined impressions is what is called man's "character". If you take the character of any man, it really is but the aggregate of tendencies, the sum total of the bent of his mind; you will find that misery and happiness are equal factors in the formation of that character. Good and evil have an equal share in moulding character, and in some instances misery is a greater teacher than happiness. In studying the great characters the world has produced, I dare say, in the vast majority of cases, it would be found that it was misery that taught more than happiness, it was poverty that taught more than wealth, it was blows that brought out their inner fire more than praise.

Now this knowledge, again, is inherent in man. No knowledge comes from outside; it is all inside. What we say a man "knows", should, in strict psychological language, be what he "discovers" or "unveils"; what a man "learns" is really what he "discovers", by taking the cover off his own soul, which is a mine of infinite knowledge.

We say Newton discovered gravitation. Was it sitting anywhere in a corner waiting for him? It was in his own mind; the time came and he found it out. All knowledge that the world has ever received comes from the mind; the infinite library of the universe is in your own mind. The external world is simply the suggestion, the occasion, which sets you to study your own mind, but the object of your study is always your own mind. The falling of an apple gave the suggestion to Newton, and he studied his own mind. He rearranged all the previous links of thought in his mind and discovered a new link among them, which we call the law of gravitation. It was not in the apple nor in anything in the centre of the earth.

All knowledge, therefore, secular or spiritual, is in the human mind. In many cases it is not discovered, but remains covered, and when the covering is being slowly taken off, we say, "We are learning," and the advance of knowledge is made by the advance of this process of uncovering. The man from whom this veil is being lifted is the more knowing man, the man upon whom it lies thick is ignorant, and the man from whom it has entirely gone is all-knowing, omniscient. There have been omniscient men, and, I believe, there will be yet; and that there will be myriads of them in the cycles to come. Like fire in a piece of flint, knowledge exists in the mind; suggestion is the friction which brings it out. So with all our feelings and action — our tears and our smiles, our joys and our griefs, our weeping and our laughter, our curses and our blessings, our praises and our blames — every one of these we may find, if we calmly study our own selves, to have been brought out from within ourselves by so many blows. The result is what we are. All these blows taken together are called Karma — work, action. Every mental and physical blow that is given to the soul, by which, as it were, fire is struck from it, and by which its own power and knowledge are discovered, is Karma, this word being used in its widest sense. Thus we are all doing Karma all the time. I am talking to you: that is Karma. You are listening: that is Karma. We breathe: that is Karma. We walk: Karma. Everything we do, physical or mental, is Karma, and it leaves its marks on us.

There are certain works which are, as it were, the aggregate, the sum total, of a large number of smaller works. If we stand near the seashore and hear the waves dashing against the shingle, we think it is such a great noise, and yet we know that one wave is really composed of millions and millions of minute waves. Each one of these is making a noise, and yet we do not catch it; it is only when they become the big aggregate that we hear. Similarly, every pulsation of the heart is work. Certain kinds of work we feel and they become tangible to us; they are, at the same time, the aggregate of a number of small works. If you really want to judge of the character of a man, look not at his great performances. Every fool may become a hero at one time or another. Watch a man do his most common actions; those are indeed the things which will tell you the real character of a great man. Great occasions rouse even the lowest of human beings to some kind of greatness, but he alone is the really great man whose character is great always, the same wherever he be.

Karma in its effect on character is the most tremendous power that man has to deal with. Man is, as it were, a centre, and is attracting all the powers of the universe towards himself, and in this centre is fusing them all and again sending them off in a big current. Such a centre is the real man — the almighty, the omniscient — and he draws the whole universe towards him. Good and bad, misery and happiness, all are running towards him and clinging round him; and out of them he fashions the mighty stream of tendency called character and throws it outwards. As he has the power of drawing in anything, so has he the power of throwing it out.

All the actions that we see in the world, all the movements in human society, all the works that we have around us, are simply the display of thought, the manifestation of the will of man. Machines or instruments, cities, ships, or men-of-war, all these are simply the manifestation of the will of man; and this will is caused by character, and character is manufactured by Karma. As is Karma, so is the manifestation of the will. The men of mighty will the world has produced have all been tremendous workers — gigantic souls, with wills powerful enough to overturn worlds, wills they got by persistent work, through ages, and ages. Such a gigantic will as that of a Buddha or a Jesus could not be obtained in one life, for we know who their fathers were. It is not known that their fathers ever spoke a word for the good of mankind. Millions and millions of carpenters like Joseph had gone; millions are still living. Millions and millions of petty kings like Buddha's father had been in the world. If it was only a case of hereditary transmission, how do you account for this petty prince, who was not, perhaps, obeyed by his own servants, producing this son, whom half a world worships? How do you explain the gulf between the carpenter and his son, whom millions of human beings worship as God? It cannot be solved by the theory of heredity. The gigantic will which Buddha and Jesus threw over the world, whence did it come? Whence came this accumulation of power? It must have been there through ages and ages, continually growing bigger and bigger, until it burst on society in a Buddha or a Jesus, even rolling down to the present day.

All this is determined by Karma, work. No one can get anything unless he earns it. This is an eternal law. We may sometimes think it is not so, but in the long run we become convinced of it. A man may struggle all his life for riches; he may cheat thousands, but he finds at last that he did not deserve to become rich, and his life becomes a trouble and a nuisance to him. We may go on accumulating things for our physical enjoyment, but only what we earn is really ours. A fool may buy all the books in the world, and they will be in his library; but he will be able to read only those that he deserves to; and this deserving is produced by Karma. Our Karma determines what we deserve and what we can assimilate. We are responsible for what we are; and whatever we wish ourselves to be, we have the power to make ourselves. If what we are now has been the result of our own past actions, it certainly follows that whatever we wish to be in future can be produced by our present actions; so we have to know how to act. You will say, “What is the use of learning how to work? Everyone works in some way or other in this world.” But there is such a thing as frittering away our energies. With regard to Karma-Yoga, the Gita says that it is doing work with cleverness and as a science; by knowing how to work, one can obtain the greatest results. You must remember that all work is simply to bring out the power of the mind which is already there, to wake up the soul. The power is inside every man, so is knowing; the different works are like blows to bring them out, to cause these giants to wake up.

Man works with various motives. There cannot be work without motive. Some people want to get fame, and they work for fame. Others want money, and they work for money. Others want to have power, and they work for power. Others want to get to heaven, and they work for the same. Others want to leave a name when they die, as they do in China, where no man gets a title until he is dead; and that is a better way, after all, than with us. When a man does something very good there, they give a title of nobility to his father, who is dead, or to his grandfather. Some people work for that. Some of the followers of certain Mohammedan sects work all their lives to have a big tomb built for them when they die. I know sects among whom, as soon as a child is born, a tomb is prepared for it; that is among them the most important work a man has to do, and the bigger and the finer the tomb, the better off the man is supposed to be. Others work as a penance; do all sorts of wicked things, then erect a temple, or give something to the priests to buy them off and obtain from them a passport to heaven. They think that this kind of beneficence will clear them and they will go scot-free in spite of their sinfulness. Such are some of the various motives for work.

Work for work's sake. There are some who are really the salt of the earth in every country and who work for work's sake, who do not care for name, or fame, or even to go to heaven. They work just because good will come of it. There are others who do good to the poor and help mankind from still higher motives, because they believe in doing good and love good. The motive for name and fame seldom brings immediate results, as a rule; they come to us when we are old and have almost done with life. If a man works without any selfish motive in view, does he not gain anything? Yes, he gains the highest. Unselfishness is more paying, only people have not the patience to practice it. It is more paying from the point of view of health also. Love, truth, and unselfishness are not merely moral figures of speech, but they form our highest ideal, because in them lies such a manifestation of power. In the first place, a man who can work for five days, or even for five minutes, without any selfish motive whatever, without thinking of future, of heaven, of punishment, or anything of the kind, has in him the capacity to become a powerful moral giant. It is hard to do it, but in the heart of our hearts we know its value, and the good it brings. It is the greatest manifestation of power — this tremendous restraint; self-restraint is a manifestation of greater power than all outgoing action. A carriage with four horses may rush down a hill unrestrained, or the coachman may curb the horses. Which is the greater manifestation of power, to let them go or to hold them? A cannonball flying through the air goes a long distance and falls. Another is cut short in its flight by striking against a wall, and the impact generates intense heat. All outgoing energy following a selfish motive is frittered away; it will not cause power to return to you; but if restrained, it will result in development of power. This self-control will tend to produce a mighty will, a character which makes a Christ or a Buddha. Foolish men do not know this secret; they nevertheless want to rule mankind. Even a fool may rule the whole world if he works and waits. Let him wait a few years, restrain that foolish idea of governing; and when that idea is wholly gone, he will be a power in the world. The majority of us cannot see beyond a few years, just as some animals cannot see beyond a few steps. Just a little narrow circle — that is our world. We have not the patience to look beyond, and thus become immoral and wicked. This is our weakness, our powerlessness.

Even the lowest forms of work are not to be despised. Let the man, who knows no better, work for selfish ends, for name and fame; but everyone should always try to get towards higher and higher motives and to understand them. "To work we have the right, but not to the fruits thereof:" Leave the fruits alone. Why care for results? If you wish to help a man, never think what that man's attitude should be towards you. If you want to do a great or a good work, do not trouble to think what the result will be.

There arises a difficult question in this ideal of work. Intense activity is necessary; we must always work. We cannot live a minute without work. What then becomes of rest? Here is one side of the life-struggle — work, in which we are whirled rapidly round. And here is the other — that of calm, retiring renunciation: everything is peaceful around, there is very little of noise and show, only nature with her animals and flowers and mountains. Neither of them is a perfect picture. A man used to solitude, if brought in contact with the surging whirlpool of the world, will be crushed by it; just as the fish that lives in the deep sea water, as soon as it is brought to the surface, breaks into pieces, deprived of the weight of water on it that had kept it together. Can a man who has been used to the turmoil and the rush of life live at ease if he comes to a quiet place? He suffers and perchance may lose his mind. The ideal man is he who, in the midst of the greatest silence and solitude, finds the intensest activity, and in the midst of the intensest activity finds the silence and solitude of the desert. He has learnt the secret of restraint, he has controlled himself. He goes through the streets of a big city with all its traffic, and his mind is as calm as if he were in a cave, where not a sound could reach him; and he is intensely working all the time. That is the ideal of Karma-Yoga, and if you have attained to that you have really learnt the secret of work.

But we have to begin from the beginning, to take up the works as they come to us and slowly make ourselves more unselfish every day. We must do the work and find out the motive power that prompts us; and, almost without exception, in the first years, we shall find that our motives are always selfish; but gradually this selfishness will melt by persistence, till at last will come the time when we shall be able to do really unselfish work. We may all hope that some day or other, as we struggle through the paths of life, there will come a time when we shall become perfectly unselfish; and the moment we attain to that, all our powers will be concentrated, and the knowledge which is ours will be manifest.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.