Kemerdekaan
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
APORISME YOGA PATANJALI BAB IV KEMANDIRIAN
जन्मौषधि-मन्त्र-तपः-समाधिजाः सिद्धयः ॥१॥
1. Siddhi (daya spiritual) — yakni kekuatan-kekuatan luar biasa — diperoleh melalui kelahiran, sarana kimiawi, kekuatan kata-kata, pertapaan, atau konsentrasi.
Kadang-kadang seseorang dilahirkan dengan siddhi, yaitu kekuatan-kekuatan yang tentunya telah ia peroleh dalam penjelmaannya yang lampau. Kali ini ia dilahirkan, seakan-akan, untuk menikmati buah dari kekuatan-kekuatan itu. Tentang Kapila, bapak agung filsafat Samkhya, dikatakan bahwa ia adalah seorang Siddha sejak lahir, yang secara harfiah berarti seorang yang telah mencapai keberhasilan.
Para yogi mengklaim bahwa kekuatan-kekuatan ini dapat diperoleh melalui sarana kimiawi. Anda semua tahu bahwa ilmu kimia pada mulanya bermula sebagai alkimia; orang-orang mencari batu para filsuf dan ramuan kehidupan, dan sebagainya. Di India dahulu ada sebuah mazhab yang disebut kaum Rāsāyana. Pandangan mereka adalah bahwa idealitas, pengetahuan, kerohanian, dan agama semuanya sangat baik, tetapi tubuh adalah satu-satunya alat untuk mencapai semua itu. Apabila tubuh berakhir setiap kali, maka akan diperlukan lebih banyak waktu lagi untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya, seseorang ingin berlatih yoga (disiplin penyatuan spiritual), atau ingin menjadi rohani. Sebelum ia maju jauh, ia mati. Lalu ia mengambil tubuh lain dan memulai lagi, kemudian mati, demikian seterusnya. Dengan cara ini banyak waktu akan terbuang dalam kematian dan kelahiran berulang-ulang. Apabila tubuh dapat dijadikan kuat dan sempurna, sehingga terbebas dari kelahiran dan kematian, kita akan memiliki jauh lebih banyak waktu untuk menjadi rohani. Maka, kaum Rasayana ini berkata, pertama-tama jadikanlah tubuh sangat kuat. Mereka mengklaim bahwa tubuh ini dapat dibuat abadi. Pandangan mereka adalah bahwa apabila pikiran membuat tubuh, dan apabila benar bahwa setiap pikiran hanyalah salah satu saluran keluar bagi energi tak terhingga, maka seharusnya tidak ada batas bagi setiap saluran tersebut untuk memperoleh kekuatan dari luar dalam jumlah berapa pun. Mengapa tidak mungkin mempertahankan tubuh kita sepanjang waktu? Kita harus membuat sendiri semua tubuh yang pernah kita miliki. Begitu tubuh ini mati, kita harus membuat tubuh yang lain. Apabila kita dapat melakukan itu, mengapa kita tidak dapat melakukannya di sini dan sekarang, tanpa keluar dari tubuh yang sekarang? Teori ini sepenuhnya benar. Apabila mungkin kita hidup setelah kematian, dan membuat tubuh-tubuh lain, mengapa tidak mungkin kita memiliki daya untuk membuat tubuh di sini, tanpa membubarkan sepenuhnya tubuh ini, melainkan hanya mengubahnya terus-menerus? Mereka juga berpikir bahwa dalam air raksa dan belerang tersembunyi daya yang paling menakjubkan, dan bahwa melalui ramuan-ramuan tertentu dari keduanya seseorang dapat mempertahankan tubuhnya selama yang ia kehendaki. Yang lain percaya bahwa obat-obatan tertentu dapat memberikan kekuatan-kekuatan, seperti terbang melalui udara. Banyak obat paling menakjubkan zaman sekarang kita peroleh dari kaum Rasayana, terutama penggunaan logam dalam pengobatan. Mazhab-mazhab tertentu para yogi mengklaim bahwa banyak guru utama mereka masih hidup dalam tubuh lama mereka. Patanjali, otoritas besar dalam yoga, tidak menyangkal hal ini.
Kekuatan kata-kata. Ada kata-kata suci tertentu yang disebut mantra (rumusan suci), yang memiliki kekuatan, apabila diulang dalam kondisi yang tepat, untuk menghasilkan kekuatan-kekuatan luar biasa ini. Kita hidup di tengah-tengah begitu banyak keajaiban, siang dan malam, sehingga kita tidak menganggapnya sebagai apa-apa. Tidak ada batas bagi kekuatan manusia, kekuatan kata-kata, dan kekuatan pikiran.
Pertapaan. Anda akan menjumpai bahwa di setiap agama, laku tapa dan asketisme telah dipraktikkan. Dalam konsepsi-konsepsi keagamaan ini, orang Hindu selalu pergi ke ekstrem. Anda akan melihat orang-orang dengan tangan terangkat sepanjang hidup mereka, sampai tangan mereka layu dan mati. Orang-orang tetap berdiri, siang dan malam, sampai kaki mereka membengkak, dan apabila mereka tetap hidup, kaki menjadi begitu kaku dalam posisi ini sehingga mereka tidak dapat lagi membengkokkannya, melainkan harus berdiri sepanjang hidup mereka. Saya pernah melihat seorang yang telah menjaga tangannya terangkat dengan cara ini, dan saya bertanya kepadanya bagaimana rasanya ketika ia pertama kali melakukannya. Ia berkata itu adalah siksaan yang dahsyat. Siksaan itu begitu hebat sehingga ia harus pergi ke sungai dan merendam diri di dalam air, dan itu meredakan rasa sakitnya untuk sementara waktu. Setelah sebulan ia tidak terlalu menderita. Melalui praktik-praktik semacam itu, daya spiritual (siddhi) dapat dicapai.
Konsentrasi. Konsentrasi adalah samadhi (penyerapan kontemplatif), dan itulah yoga yang sejati; itulah tema utama ilmu ini, dan itulah sarana tertinggi. Sarana-sarana yang disebutkan sebelumnya hanyalah sekunder, dan kita tidak dapat mencapai yang tertinggi melaluinya. Samadhi adalah sarana yang melaluinya kita dapat memperoleh apa pun dan segala sesuatu, baik mental, moral, maupun spiritual.
जात्यन्तरपरिणामः प्रकृत्यापूरात् ॥२॥
2. Perubahan menjadi spesies lain terjadi melalui pengisian oleh alam.
Patanjali telah mengemukakan dalil bahwa kekuatan-kekuatan ini datang melalui kelahiran, kadang melalui sarana kimiawi, atau melalui pertapaan. Ia juga mengakui bahwa tubuh ini dapat dipertahankan untuk jangka waktu berapa pun. Sekarang ia melanjutkan dengan menyatakan apa penyebab perubahan tubuh menjadi spesies lain. Ia berkata bahwa hal ini dilakukan melalui pengisian oleh alam, yang ia jelaskan dalam aporisme berikutnya.
निमित्तमप्रयोजकं प्रकृतीनां वरणभेदस्तु ततः क्षेत्रिकवत् ॥३॥
3. Perbuatan baik dan buruk bukanlah penyebab langsung dalam transformasi alam, tetapi keduanya bekerja sebagai pemecah penghalang bagi evolusi alam: sebagaimana seorang petani memecah penghalang aliran air, yang kemudian mengalir sendiri menurut kodratnya.
Air untuk irigasi sawah sudah ada di dalam saluran, hanya tertahan oleh pintu-pintu air. Petani membuka pintu-pintu ini, dan air mengalir dengan sendirinya, oleh hukum gravitasi. Demikian pula, segala kemajuan dan kekuatan sudah ada di dalam setiap manusia; kesempurnaan adalah kodrat manusia, hanya saja ia terhalang dan dicegah untuk menempuh jalur yang semestinya. Apabila ada yang dapat menyingkirkan penghalang itu, alam akan mengalir masuk. Maka manusia mencapai kekuatan-kekuatan yang sebenarnya sudah menjadi miliknya. Mereka yang kita sebut jahat menjadi para suci, segera setelah penghalang itu dipecahkan dan alam mengalir masuk. Alamlah yang sedang mendorong kita menuju kesempurnaan, dan pada akhirnya ia akan membawa setiap orang ke sana. Segala praktik dan perjuangan untuk menjadi religius hanyalah pekerjaan negatif, yaitu menyingkirkan penghalang-penghalang, dan membuka pintu-pintu menuju kesempurnaan yang merupakan hak kelahiran kita, kodrat kita.
Dewasa ini, teori evolusi para yogi kuno akan lebih dipahami dalam terang penelitian modern. Namun demikian, teori para yogi merupakan penjelasan yang lebih baik. Dua penyebab evolusi yang dikemukakan oleh kaum modern, yakni seleksi seksual dan kelangsungan hidup yang terkuat, tidak memadai. Andaikata pengetahuan manusia telah maju sedemikian rupa sehingga menghapuskan persaingan, baik dari fungsi memperoleh nafkah jasmani maupun memperoleh pasangan. Maka, menurut kaum modern, kemajuan manusia akan berhenti dan umat manusia akan punah. Akibat dari teori ini adalah memberikan setiap penindas suatu argumen untuk menenangkan suara hati mereka. Tidak kurang orang yang, dengan berpose sebagai filsuf, ingin membinasakan semua orang yang jahat dan tidak cakap (dan tentu saja, mereka sendirilah satu-satunya hakim atas kecakapan tersebut), dan dengan demikian melestarikan umat manusia! Akan tetapi, Patanjali, evolusionis kuno yang besar, menyatakan bahwa rahasia sejati evolusi adalah pewujudan kesempurnaan yang sudah ada dalam setiap makhluk; bahwa kesempurnaan ini telah terhalang dan gelombang tak terhingga di belakangnya sedang berjuang untuk menyatakan dirinya. Perjuangan dan persaingan ini tidak lain hanyalah akibat dari ketidaktahuan kita, sebab kita tidak mengetahui cara yang benar untuk membuka gerbang dan membiarkan air masuk. Gelombang tak terhingga di belakang ini harus menyatakan dirinya; itulah sebab dari segala perwujudan.
Persaingan untuk hidup atau untuk kepuasan seksual hanyalah akibat sesaat, tidak perlu, dan asing, yang ditimbulkan oleh ketidaktahuan. Sekalipun seluruh persaingan telah berhenti, kodrat sempurna di belakang ini akan membuat kita terus maju sampai setiap orang menjadi sempurna. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa persaingan diperlukan bagi kemajuan. Di dalam binatang, manusia tertekan, tetapi begitu pintu terbuka, manusia melesat keluar. Demikian pula, di dalam manusia, ada tuhan yang berpotensi, tertahan oleh kunci-kunci dan palang-palang ketidaktahuan. Apabila pengetahuan memecahkan palang-palang ini, sang tuhan menjadi nyata.
निर्माणचित्तान्यस्मितामात्रात् ॥४॥
4. Dari keakuan saja muncul pikiran-pikiran yang diciptakan.
Teori karma (hukum tindakan dan akibatnya) adalah bahwa kita menderita karena perbuatan baik atau buruk kita, dan seluruh cakupan filsafat adalah untuk mencapai kemuliaan manusia. Semua kitab suci menyanyikan kemuliaan manusia, kemuliaan jiwa, dan kemudian, dalam satu tarikan napas yang sama, mereka mengkhotbahkan karma. Suatu perbuatan baik mendatangkan akibat tertentu, dan suatu perbuatan buruk akibat yang lain, tetapi apabila jiwa dapat dipengaruhi oleh suatu perbuatan baik atau buruk, maka jiwa itu tidak ada artinya. Perbuatan-perbuatan buruk menjadi penghalang bagi perwujudan kodrat Purusha (prinsip kesadaran / Roh); perbuatan-perbuatan baik menyingkirkan rintangan-rintangan, sehingga kemuliaan Purusha menjadi nyata. Purusha itu sendiri tidak pernah berubah. Apa pun yang Anda lakukan tidak pernah menghancurkan kemuliaan Anda sendiri, kodrat Anda sendiri, sebab jiwa tidak dapat dipengaruhi oleh apa pun; hanyalah sebuah tabir yang dibentangkan di hadapannya, menyembunyikan kesempurnaannya.
Dengan tujuan untuk menghabiskan karma mereka dengan cepat, para yogi menciptakan Kāya-vyuha, atau kelompok-kelompok tubuh, untuk mengerjakan karma itu. Untuk semua tubuh ini mereka menciptakan pikiran-pikiran dari keakuan. Pikiran-pikiran ini disebut "pikiran-pikiran yang diciptakan", sebagai lawan dari pikiran asli mereka.
प्रवृत्तिभेदे प्रयोजकं चित्तमेकमनेकेषाम् ॥५॥
5. Meskipun aktivitas dari pikiran-pikiran ciptaan yang berbeda-beda itu beragam, namun satu pikiran asli adalah pengendali atas semuanya.
Pikiran-pikiran berbeda ini, yang bertindak dalam tubuh-tubuh yang berbeda ini, disebut pikiran-buatan, dan tubuh-tubuhnya disebut tubuh-buatan; artinya, tubuh dan pikiran yang dibuat. Materi dan pikiran adalah seperti dua gudang yang tidak habis-habisnya. Apabila Anda menjadi seorang yogi, Anda mempelajari rahasia pengendaliannya. Rahasia itu sebenarnya selalu menjadi milik Anda, tetapi Anda telah melupakannya. Apabila Anda menjadi seorang yogi, Anda mengingatnya kembali. Maka Anda dapat melakukan apa pun dengannya, memanipulasinya dengan segala cara yang Anda kehendaki. Bahan yang darinya pikiran-buatan diciptakan adalah bahan yang sama persis yang digunakan untuk makrokosmos. Bukanlah bahwa pikiran adalah satu hal dan materi adalah hal lain; keduanya adalah aspek-aspek yang berbeda dari hal yang sama. Asmitā, yakni keakuan, adalah bahan, keadaan keberadaan yang halus, yang darinya pikiran-buatan dan tubuh-buatan sang yogi itu dibuat. Oleh karena itu, ketika sang yogi telah menemukan rahasia energi-energi alam ini, ia dapat membuat tubuh atau pikiran dalam jumlah berapa pun dari substansi yang dikenal sebagai keakuan.
तत्र ध्यानजमनाशयम् ॥६॥
6. Di antara berbagai chitta (substansi mental), yang dicapai melalui samadhi adalah yang bebas dari keinginan.
Di antara seluruh pikiran beragam yang kita lihat dalam berbagai manusia, hanya pikiran yang telah mencapai samadhi, yakni konsentrasi yang sempurna, yang merupakan pikiran tertinggi. Seseorang yang telah memperoleh kekuatan-kekuatan tertentu melalui obat-obatan, atau melalui kata-kata, atau melalui pertapaan, masih memiliki keinginan-keinginan, tetapi orang yang telah mencapai samadhi melalui konsentrasi adalah satu-satunya yang bebas dari segala keinginan.
कर्माशुक्लाकृष्णं योगिनस्त्रिविधमितरेषाम् ॥७॥
7. Pekerjaan bagi para yogi tidaklah hitam maupun putih; bagi yang lain, pekerjaan itu rangkap tiga — hitam, putih, dan campuran.
Apabila sang yogi telah mencapai kesempurnaan, tindakan-tindakannya, dan karma yang dihasilkan oleh tindakan-tindakan itu, tidak mengikatnya, sebab ia tidak menginginkannya. Ia hanya bekerja terus; ia bekerja untuk berbuat baik, dan ia berbuat baik, tetapi tidak memedulikan hasilnya, dan hasil itu tidak akan datang kepadanya. Akan tetapi, bagi orang biasa, yang belum mencapai keadaan tertinggi, pekerjaan ada tiga macam: hitam (tindakan jahat), putih (tindakan baik), dan campuran.
ततस्तद्विपाकानुगुणानामेवाभिव्यक्तिर्वासनानाम् ॥८॥
8. Dari pekerjaan rangkap tiga ini, dalam setiap keadaan, hanya termanifestasi keinginan-keinginan (yang) sesuai dengan keadaan itu saja. (Yang lain ditangguhkan untuk sementara waktu.)
Andaikan saya telah membuat tiga jenis karma — baik, buruk, dan campuran — dan andaikan saya mati lalu menjadi seorang dewa di surga. Keinginan-keinginan dalam tubuh dewa tidaklah sama dengan keinginan-keinginan dalam tubuh manusia; tubuh dewa tidak makan dan tidak minum. Apa yang terjadi dengan karma-karma masa lalu saya yang belum bekerja, yang menghasilkan keinginan untuk makan dan minum sebagai akibatnya? Ke mana karma-karma ini pergi ketika saya menjadi seorang dewa? Jawabannya adalah bahwa keinginan hanya dapat menyatakan dirinya dalam lingkungan yang tepat. Hanya keinginan-keinginan yang lingkungannya sesuai yang akan keluar; selebihnya akan tetap tersimpan. Dalam hidup ini kita memiliki banyak keinginan ilahi, banyak keinginan manusiawi, banyak keinginan hewani. Apabila saya mengambil tubuh dewa, hanya keinginan-keinginan baik yang akan muncul, sebab lingkungannya sesuai untuk keinginan-keinginan tersebut. Dan apabila saya mengambil tubuh hewan, hanya keinginan-keinginan hewani yang akan muncul, dan keinginan-keinginan baik akan menunggu. Apa yang ditunjukkan hal ini? Bahwa melalui lingkungan kita dapat menahan keinginan-keinginan ini. Hanya karma yang sesuai dan cocok bagi lingkungan yang akan keluar. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan lingkungan adalah pengendali besar untuk mengontrol bahkan karma itu sendiri.
जाति-देश-काल-व्यवहितानामप्यानन्तर्यं स्मृतिसंस्कारयोरेकरूपत्वात् ॥९॥
9. Ada kesinambungan dalam keinginan-keinginan, meskipun terpisah oleh spesies, ruang, dan waktu, karena adanya identifikasi antara ingatan dan impresi.
Pengalaman yang menjadi halus menjadi impresi; impresi yang dihidupkan kembali menjadi ingatan. Kata "ingatan" di sini mencakup koordinasi bawah sadar antara pengalaman masa lalu, yang telah direduksi menjadi impresi, dengan tindakan sadar saat ini. Dalam setiap tubuh, kelompok impresi yang diperoleh dalam tubuh yang serupa sajalah yang menjadi penyebab tindakan dalam tubuh tersebut. Pengalaman-pengalaman dari tubuh yang berbeda ditangguhkan. Setiap tubuh bertindak seakan-akan ia merupakan keturunan dari serangkaian tubuh dari spesies tersebut saja; dengan demikian, kesinambungan keinginan tidak terputus.
तासामनादित्वं चाशिषो नित्यत्वात् ॥१०॥
10. Karena dahaga akan kebahagiaan bersifat kekal, keinginan-keinginan tidak memiliki awal.
Seluruh pengalaman didahului oleh keinginan akan kebahagiaan. Tidak ada awal bagi pengalaman, sebab setiap pengalaman baru dibangun di atas kecenderungan yang dihasilkan oleh pengalaman masa lalu; oleh karena itu, keinginan tidak memiliki awal.
हेतुफलाश्रयालम्बनैः संगृहीतत्वादेषामभावे तदभावः ॥११॥
11. Karena terikat bersama oleh sebab, akibat, penyangga, dan objek, dengan tidak adanya hal-hal ini, tidak ada pula keinginan itu.
Keinginan-keinginan terikat bersama oleh sebab dan akibat; apabila suatu keinginan telah dibangkitkan, ia tidak akan mati tanpa menghasilkan akibatnya. Lalu, kemudian, substansi-pikiran adalah gudang besar, penyangga bagi seluruh keinginan masa lalu yang telah direduksi ke dalam bentuk samskara (jejak/impresi mental); sampai keinginan-keinginan itu bekerja menuntaskan dirinya, ia tidak akan mati. Lebih jauh lagi, selama indra-indra menerima objek-objek luar, keinginan-keinginan baru akan muncul. Apabila mungkin untuk menyingkirkan sebab, akibat, penyangga, dan objek keinginan, barulah keinginan itu akan lenyap.
अतीतानागतं स्वरूपतोऽस्त्यध्वभेदाद्धर्माणाम् ॥१२॥
12. Masa lalu dan masa depan ada dalam kodratnya sendiri, sebab kualitas-kualitas memiliki cara yang berbeda-beda.
Gagasannya adalah bahwa keberadaan tidak pernah muncul dari ketiadaan. Masa lalu dan masa depan, meskipun tidak ada dalam bentuk yang termanifestasi, namun tetap ada dalam bentuk yang halus.
ते व्यक्त-सूक्ष्मा गुणात्मानः ॥१३॥
13. Mereka termanifestasi atau halus, sebab merupakan kodrat dari guna-guna.
Guna-guna adalah tiga substansi: Sattva, Rajas, dan Tamas, yang keadaan kasarnya adalah alam semesta inderawi. Masa lalu dan masa depan muncul dari berbagai modus perwujudan guna-guna ini.
परिणामैकत्वाद्वस्तुतत्त्वम् ॥१४॥
14. Kesatuan dalam hal-hal berasal dari kesatuan dalam perubahan-perubahan.
Meskipun ada tiga substansi, karena perubahan-perubahannya terkoordinasi, semua objek memiliki kesatuannya.
वस्तुसाम्ये चित्तभेदात्तयोर्विभक्तः पन्थाः ॥१५॥
15. Karena persepsi dan keinginan berbeda-beda terhadap objek yang sama, maka pikiran dan objek bersifat berbeda.
Artinya, ada dunia objektif yang independen dari pikiran kita. Hal ini merupakan sanggahan terhadap idealisme Buddhis. Karena orang yang berbeda-beda memandang hal yang sama secara berbeda-beda, maka hal itu tidak mungkin sekadar imajinasi dari individu tertentu.
तदुपरागापेक्षित्वाच्चित्तस्य वस्तु ज्ञाताज्ञातम् ॥१६॥
16. Sesuatu diketahui atau tidak diketahui oleh pikiran, bergantung pada warna yang ia berikan kepada pikiran.
सदा ज्ञाताश्चित्तवृत्तयस्तत्प्रभोः पुरुषस्यापरिणामित्वात् ॥१७॥
17. Keadaan-keadaan pikiran selalu diketahui, sebab penguasa pikiran, yakni Purusha, tidak berubah.
Seluruh inti teori ini adalah bahwa alam semesta bersifat mental sekaligus material. Keduanya berada dalam keadaan aliran yang terus-menerus. Apa itu buku ini? Buku ini adalah suatu kombinasi molekul dalam perubahan yang terus-menerus. Sekumpulan molekul keluar, dan kumpulan yang lain masuk; ia adalah pusaran air, tetapi apa yang menjadikannya satu kesatuan? Apa yang menjadikannya buku yang sama? Perubahan-perubahan itu berirama; dalam tatanan yang harmonis, perubahan-perubahan itu mengirim impresi-impresi kepada pikiran saya, dan impresi-impresi ini yang dirangkai bersama membentuk sebuah gambar yang berkesinambungan, meskipun bagian-bagiannya terus-menerus berubah. Pikiran itu sendiri terus-menerus berubah. Pikiran dan tubuh adalah seperti dua lapisan dalam substansi yang sama, bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Secara relatif, yang satu lebih lambat dan yang lain lebih cepat, sehingga kita dapat membedakan antara kedua gerakan tersebut. Sebagai contoh, sebuah kereta api sedang bergerak, dan sebuah kereta kuda sedang bergerak di sampingnya. Sampai batas tertentu, gerakan keduanya dapat ditemukan. Tetapi, masih diperlukan sesuatu yang lain. Gerakan hanya dapat dipersepsi apabila ada sesuatu yang lain yang tidak bergerak. Akan tetapi, ketika dua atau tiga hal bergerak secara relatif, kita pertama-tama mempersepsi gerakan dari yang paling cepat, lalu gerakan dari yang lebih lambat. Bagaimana pikiran dapat mempersepsi? Pikiran juga berada dalam aliran. Oleh karena itu, diperlukan hal lain yang bergerak lebih lambat, lalu kita harus sampai pada sesuatu yang gerakannya bahkan lebih lambat lagi, dan seterusnya, dan kita tidak akan menemukan ujungnya. Oleh karena itu, logika memaksa kita untuk berhenti di suatu titik. Anda harus menyempurnakan rangkaian itu dengan mengetahui sesuatu yang tidak pernah berubah. Di balik rantai gerakan yang tak berkesudahan ini adalah Purusha, yang tidak berubah, tanpa warna, dan murni. Semua impresi ini hanya terpantul ke atasnya, seperti sebuah lentera ajaib yang melemparkan gambar-gambar ke atas layar, tanpa sedikit pun menodai layar itu.
न तत् स्वाभासं दृश्यत्वात् ॥१८॥
18. Pikiran tidak bercahaya sendiri, sebab ia adalah objek.
Kekuatan yang dahsyat termanifestasi di mana-mana dalam alam, tetapi alam itu sendiri tidak bercahaya sendiri, tidak pada hakikatnya cerdas. Purusha sajalah yang bercahaya sendiri, dan memberikan cahayanya kepada segala sesuatu. Kekuatan Purusha itulah yang merembes melalui seluruh materi dan daya.
एकसमये चोभयानवधारणम् ॥१९॥
19. Karena ia tidak dapat mengenali keduanya pada saat yang sama.
Apabila pikiran bercahaya sendiri, maka pikiran akan dapat mengenali dirinya sendiri sekaligus objek-objeknya pada saat yang sama, padahal ia tidak dapat melakukannya. Ketika ia mengenali objek, ia tidak dapat merenungkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Purusha-lah yang bercahaya sendiri, dan pikiran tidak.
चित्तान्तरदृश्ये बुद्धिबुद्धेरतिप्रसङ्गः स्मृतिसङ्करश्च ॥२०॥
20. Apabila diasumsikan adanya pikiran lain yang mengenali, maka asumsi semacam itu tidak akan ada habisnya, dan akibatnya akan terjadi kekacauan ingatan.
Andaikan ada pikiran lain yang mengenali pikiran biasa, maka harus ada lagi pikiran yang lain untuk mengenali yang pertama tadi, dan demikianlah tidak akan ada akhirnya. Hal ini akan berakibat pada kekacauan ingatan, dan tidak akan ada gudang ingatan.
चितेरप्रतिसंक्रमायास्तदाकारापत्तौ स्वबुद्धि-संवेदनम् ॥२१॥
21. Karena hakikat pengetahuan (yakni Purusha) tidak berubah, maka ketika pikiran mengambil bentuknya, pikiran menjadi sadar.
Patanjali mengatakan hal ini untuk memperjelas bahwa pengetahuan bukanlah kualitas dari Purusha. Ketika pikiran mendekat kepada Purusha, Purusha terpantul, seakan-akan, ke atas pikiran, dan pikiran, untuk sementara waktu, menjadi mengetahui dan tampak seakan-akan ia sendiri adalah Purusha.
द्रष्टृदृश्योपरक्तं चित्तं सर्वार्थम् ॥२२॥
22. Diwarnai oleh sang pelihat dan yang dilihat, pikiran mampu memahami segala sesuatu.
Pada satu sisi pikiran, dunia luar — yang dilihat — terpantul, dan pada sisi yang lain, sang pelihat terpantul. Dengan demikian, datanglah kepada pikiran kekuatan dari segala pengetahuan.
तदसंख्येयवासनाभिश्चित्रमपि परार्थं संहत्यकारित्वात् ॥२३॥
23. Pikiran, meskipun beraneka ragam oleh keinginan-keinginan yang tak terhitung banyaknya, bertindak untuk yang lain (yakni Purusha), sebab ia bertindak dalam kombinasi.
Pikiran adalah suatu paduan dari berbagai hal, dan oleh karena itu, pikiran tidak dapat bekerja untuk dirinya sendiri. Segala sesuatu yang merupakan kombinasi di dunia ini memiliki suatu objek untuk kombinasi itu, suatu hal ketiga untuk kepentingan siapa kombinasi itu berlangsung. Maka, kombinasi pikiran ini adalah untuk Purusha.
विशेषदर्शिन आत्मभाव-भावनाविनिवृत्तिः ॥२४॥
24. Bagi yang membedakan, persepsi pikiran sebagai Atman (Diri sejati) berhenti.
Melalui pembedaan, sang yogi mengetahui bahwa Purusha bukanlah pikiran.
तदा विवेकनिम्नं कैवल्यप्राग्भावं चित्तम् ॥२५॥
25. Maka, dengan condong kepada pembedaan, pikiran mencapai keadaan sebelumnya, yakni Kaivalya (keterpisahan).
Demikianlah praktik yoga mengantar kepada daya pembeda, kepada kejernihan penglihatan. Tabir jatuh dari mata, dan kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Kita menemukan bahwa alam adalah suatu paduan, dan sedang menampilkan panorama bagi Purusha, sang saksi; bahwa alam bukanlah Tuhan, bahwa semua kombinasi alam hanyalah demi menampilkan fenomena-fenomena ini kepada Purusha, sang raja yang bertakhta di dalam. Apabila pembedaan datang melalui praktik yang panjang, rasa takut berhenti, dan pikiran mencapai keterpisahan.
तच्छिद्रेषु प्रत्ययान्तराणि संस्कारेभ्यः ॥२६॥
26. Pikiran-pikiran yang muncul sebagai penghalang bagi hal itu berasal dari impresi-impresi.
Segala gagasan beraneka ragam yang muncul, yang membuat kita percaya bahwa kita memerlukan sesuatu dari luar untuk membuat kita bahagia, adalah penghalang bagi kesempurnaan itu. Purusha adalah kebahagiaan dan keberkahan menurut kodratnya sendiri. Akan tetapi, pengetahuan itu tertutup oleh impresi-impresi masa lalu. Impresi-impresi ini harus bekerja menuntaskan dirinya sendiri.
हानमेषां क्लेशवदुक्तम् ॥२७॥
27. Pemusnahannya adalah dengan cara yang sama seperti pemusnahan ketidaktahuan, keakuan, dan sebagainya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya (II.10).
प्रसंख्यानेऽप्यकुसीदस्य सर्वथा विवेकख्यातेर्धर्ममेघः समाधिः ॥२८॥
28. Bahkan ketika sampai pada pengetahuan pembeda yang benar atas hakikat-hakikat, ia yang melepaskan buah-buah hasilnya, kepadanyalah datang, sebagai hasil dari pembedaan yang sempurna, samadhi yang disebut awan kebajikan.
Apabila sang yogi telah mencapai pembedaan ini, semua kekuatan yang disebutkan dalam bab terakhir datang kepadanya, tetapi sang yogi sejati menolak semuanya. Datanglah kepadanya suatu pengetahuan yang khas, suatu cahaya yang istimewa, yang disebut Dharma-megha, yakni awan kebajikan. Semua nabi besar dunia yang dicatat dalam sejarah memiliki ini. Mereka telah menemukan seluruh landasan pengetahuan di dalam diri mereka sendiri. Kebenaran bagi mereka telah menjadi nyata. Damai dan ketenangan, dan kemurnian sempurna menjadi kodrat mereka sendiri, setelah mereka melepaskan kesia-siaan dari kekuatan-kekuatan.
ततः क्लेशकर्मनिवृत्तिः ॥२९॥
29. Dari itu datang berhentinya kepedihan dan pekerjaan.
Apabila awan kebajikan itu telah datang, maka tidak ada lagi rasa takut akan jatuh, tidak ada apa pun yang dapat menyeret sang yogi turun. Tidak akan ada lagi kejahatan baginya. Tidak ada lagi kepedihan.
तदा सर्वावरणमलापेतस्य ज्ञानस्याऽनन्त्याज्ज्ञेयमल्पम् ॥३०॥
30. Pengetahuan, yang dilepaskan dari tabir dan kekotorannya, menjadi tak terhingga, maka yang dapat diketahui menjadi kecil.
Pengetahuan itu sendiri sudah ada di sana; tabirnya telah lenyap. Salah satu kitab suci Buddhis mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Buddha (yang merupakan nama dari sebuah keadaan) sebagai pengetahuan yang tak terhingga, tak terhingga seperti langit. Yesus mencapai keadaan itu dan menjadi sang Kristus. Anda semua akan mencapai keadaan itu. Pengetahuan menjadi tak terhingga, yang dapat diketahui menjadi kecil. Seluruh alam semesta, dengan segala objek pengetahuannya, menjadi seperti tiada apa-apanya di hadapan Purusha. Manusia biasa menganggap dirinya sangat kecil, sebab baginya yang dapat diketahui tampak tak terhingga.
ततः कृतार्थानां परिणामक्रमसमाप्तिर्गुणानाम् ॥३१॥
31. Maka selesailah transformasi berturut-turut dari kualitas-kualitas itu, karena telah mencapai akhirnya.
Maka, segala transformasi beraneka ragam dari kualitas-kualitas, yang berubah dari spesies ke spesies, berhenti untuk selamanya.
क्षणप्रतियोगी परिणामापरान्तनिर्ग्राह्यः क्रमः ॥३२॥
32. Perubahan-perubahan yang ada dalam kaitannya dengan saat-saat dan yang dipersepsi pada ujung lainnya (yakni pada akhir suatu rangkaian) adalah suksesi.
Di sini Patanjali mendefinisikan kata suksesi, yakni perubahan-perubahan yang ada dalam kaitannya dengan saat-saat. Sementara saya berpikir, banyak saat berlalu, dan dengan setiap saat ada perubahan gagasan, tetapi saya hanya mempersepsi perubahan-perubahan ini pada akhir suatu rangkaian. Hal ini disebut suksesi, tetapi bagi pikiran yang telah merealisasikan kemahahadiran, tidak ada suksesi. Segala sesuatu telah menjadi hadir baginya; baginya yang ada hanyalah saat ini, masa lalu dan masa depan telah hilang. Waktu berdiri terkendali, segala pengetahuan ada di sana dalam satu detik. Segala sesuatu diketahui seperti dalam sekilas cahaya.
पुरुषार्थशून्यानां गुणानां प्रतिप्रसवः कैवल्यं स्वरूपप्रतिष्ठा वा चितिशक्तेरिति ॥३३॥
33. Peleburan kualitas-kualitas dalam urutan terbalik, ketika tiada lagi motif tindakan bagi Purusha, adalah Kaivalya, atau penegakan daya pengetahuan dalam kodratnya sendiri.
Tugas alam telah selesai, tugas tidak mementingkan diri yang telah dibebankan oleh perawat kita yang lembut, yakni alam, kepada dirinya sendiri. Dengan lembut ia menggandeng tangan jiwa yang telah melupakan dirinya, seakan-akan, dan menunjukkan kepadanya semua pengalaman di alam semesta, semua perwujudan, dengan membawanya lebih tinggi dan lebih tinggi melalui berbagai tubuh, sampai kemuliaannya yang hilang kembali, dan ia mengingat kodratnya sendiri. Maka sang ibu yang baik hati kembali melalui jalan yang sama dengan jalan ia datang, demi yang lain yang juga telah tersesat dalam padang gurun kehidupan yang tak berjalur. Dan demikianlah ia bekerja, tanpa awal dan tanpa akhir. Dan demikianlah, melalui kenikmatan dan kepedihan, melalui kebaikan dan kejahatan, sungai jiwa-jiwa yang tak terhingga itu mengalir ke samudra kesempurnaan, yakni realisasi diri.
Kemuliaan bagi mereka yang telah merealisasikan kodratnya sendiri. Semoga berkat mereka tercurah kepada kita semua!
## Notes
English
PATANJALI'S YOGA APHORISMS CHAPTER IV INDEPENDENCE
जन्मौषधि-मन्त्र-तपः-समाधिजाः सिद्धयः ॥१॥
1. The Siddhis (powers) are attained by birth, chemical means, power of words, mortification, or concentration.
Sometimes a man is born with the Siddhis, powers, of course, those he had earned in his previous incarnation. This time he is born, as it were, to enjoy the fruits of them. It is said of Kapila, the great father of the Sankhya philosophy, that he was a born Siddha, which means literally a man who has attained to success.
The Yogis claim that these powers can be gained by chemical means. All of you know that chemistry originally began as alchemy; men went in search of the philosopher's stone and elixirs of life, and so forth. In India there was a sect called the Rāsāyanas. Their idea was that ideality, knowledge, spirituality, and religion were all very right, but that the body was the only instrument by which to attain to all these. If the body came to an end every now and again, it would take so much more time to attain to the goal. For instance, a man wants to practise Yoga, or wants to become spiritual. Before he has advanced very far he dies. Then he takes another body and begins again, then dies, and so on. In this way much time will be lost in dying and being born again. If the body could be made strong and perfect, so that it would get rid of birth and death, we should have so much more time to become spiritual. So these Rasayanas say, first make the body very strong. They claim that this body can be made immortal. Their idea is that if the mind manufactures the body, and if it be true that each mind is only one outlet to the infinite energy, there should be no limit to each outlet getting any amount of power from outside. Why is it impossible to keep our bodies all the time? We have to manufacture all the bodies that we ever have. As soon as this body dies, we shall have to manufacture another. If we can do that, why cannot we do it just here and now, without getting out of the present body? The theory is perfectly correct. If it is possible that we live after death, and make other bodies, why is it impossible that we should have the power of making bodies here, without entirely dissolving this body, simply changing it continually? They also thought that in mercury and in sulphur was hidden the most wonderful power, and that by certain preparations of these a man could keep the body as long as he liked. Others believed that certain drugs could bring powers, such as flying through the air. Many of the most wonderful medicines of the present day we owe to the Rasayanas, notably the use of metals in medicine. Certain sects of Yogis claim that many of their principal teachers are still living in their old bodies. Patanjali, the great authority on Yoga, does not deny this.
The power of words. There are certain sacred words called Mantras, which have power, when repeated under proper conditions, to produce these extraordinary powers. We are living in the midst of such a mass of miracles, day and night, that we do not think anything of them. There is no limit to man's power, the power of words and the power of mind.
Mortification. You find that in every religion mortifications and asceticisms have been practised. In these religious conceptions the Hindus always go to the extremes. You will find men with their hands up all their lives, until their hands wither and die. Men keep standing, day and night, until their feet swell, and if they live, the legs become so stiff in this position that they can no more bend them, but have to stand all their lives. I once saw a man who had kept his hands raised in this way, and I asked him how it felt when he did it first. He said it was awful torture. It was such torture that he had to go to a river and put himself in water, and that allayed the pain for a little while. After a month he did not suffer much. Through such practices powers (Siddhis) can be attained.
Concentration. Concentration is Samādhi, and that is Yoga proper; that is the principal theme of this science, and it is the highest means. The preceding ones are only secondary, and we cannot attain to the highest through them. Samadhi is the means through which we can gain anything and everything, mental, moral, or spiritual.
जात्यन्तरपरिणामः प्रकृत्यापूरात् ॥२॥
2. The change into another species is by the filling in of nature.
Patanjali has advanced the proposition that these powers come by birth, sometimes by chemical means, or through mortification. He also admits that this body can be kept for any length of time. Now he goes on to state what is the cause of the change of the body into another species. He says this is done by the filling in of nature, which he explains in the next aphorism.
निमित्तमप्रयोजकं प्रकृतीनां वरणभेदस्तु ततः क्षेत्रिकवत् ॥३॥
3. Good and bad deeds are not the direct causes in the transformations of nature, but they act as breakers of obstacles to the evolutions of nature: as a farmer breaks the obstacles to the course of water, which then runs down by its own nature.
The water for irrigation of fields is already in the canal, only shut in by gates. The farmer opens these gates, and the water flows in by itself, by the law of gravitation. So all progress and power are already in every man; perfection is man's nature, only it is barred in and prevented from taking its proper course. If anyone can take the bar off, in rushes nature. Then the man attains the powers which are his already. Those we call wicked become saints, as soon as the bar is broken and nature rushes in. It is nature that is driving us towards perfection, and eventually she will bring everyone there. All these practices and struggles to become religious are only negative work, to take off the bars, and open the doors to that perfection which is our birthright, our nature.
Today the evolution theory of the ancient Yogis will be better understood in the light of modern research. And yet the theory of the Yogis is a better explanation. The two causes of evolution advanced by the moderns, viz. sexual selection and survival of the fittest, are inadequate. Suppose human knowledge to have advanced so much as to eliminate competition, both from the function of acquiring physical sustenance and of acquiring a mate. Then, according to the moderns, human progress will stop and the race will die. The result of this theory is to furnish every oppressor with an argument to calm the qualms of conscience. Men are not lacking, who, posing as philosophers, want to kill out all wicked and incompetent persons (they are, of course, the only judges of competency) and thus preserve the human race! But the great ancient evolutionist, Patanjali, declares that the true secret of evolution is the manifestation of the perfection which is already in every being; that this perfection has been barred and the infinite tide behind is struggling to express itself. These struggles and competitions are but the results of our ignorance, because we do not know the proper way to unlock the gate and let the water in. This infinite tide behind must express itself; it is the cause of all manifestation.
Competitions for life or sex-gratification are only momentary, unnecessary, extraneous effects, caused by ignorance. Even when all competition has ceased, this perfect nature behind will make us go forward until everyone has become perfect. Therefore there is no reason to believe that competition is necessary to progress. In the animal the man was suppressed, but as soon as the door was opened, out rushed man. So in man there is the potential god, kept in by the locks and bars of ignorance. When knowledge breaks these bars, the god becomes manifest.
निर्माणचित्तान्यस्मितामात्रात् ॥४॥
4. From egoism alone proceed the created minds.
The theory of Karma is that we suffer for our good or bad deeds, and the whole scope of philosophy is to reach the glory of man. All the scriptures sing the glory of man, of the soul, and then, in the same breath, they preach Karma. A good deed brings such a result, and a bad deed such another, but if the soul can be acted upon by a good or a bad deed, the soul amounts to nothing. Bad deeds put a bar to the manifestation of the nature of the Purusha; good deeds take the obstacles off, and the glory of the Purusha becomes manifest. The Purusha itself is never changed. Whatever you do never destroys your own glory, your own nature, because the soul cannot be acted upon by anything, only a veil is spread before it, hiding its perfection.
With a view to exhausting their Karma quickly, Yogis create Kāya-vyuha, or groups of bodies, in which to work it out. For all these bodies they create minds from egoism. These are called "created minds", in contradistinction to their original minds.
प्रवृत्तिभेदे प्रयोजकं चित्तमेकमनेकेषाम् ॥५॥
5. Though the activities of the different created minds are various, the one original mind is the controller of them all.
These different minds, which act in these different bodies are called made-minds, and the bodies, made-bodies; that is, manufactured bodies and minds. Matter and mind are like two inexhaustible storehouses. When you become a Yogi, you learn the secret of their control. It was yours all the time, but you had forgotten it. When you become a Yogi, you recollect it. Then you can do anything with it, manipulate it in every way you like. The material out of which a manufactured mind is created is the very same material which is used for the macrocosm. It is not that mind is one thing and matter another, they are different aspects of the same thing. Asmitā, egoism, is the material, the fine state of existence out of which these made-minds and made-bodies of the Yogi are manufactured. Therefore, when the Yogi has found the secret of these energies of nature, he can manufacture any number of bodies or minds out of the substance known as egoism.
तत्र ध्यानजमनाशयम् ॥६॥
6. Among the various Chittas, that which is attained by Samadhi is desireless.
Among all the various minds that we see in various men, only that mind which has attained to Samadhi, perfect concentration, is the highest. A man who has attained certain powers through medicines, or through words, or through mortifications, still has desires, but that man who has attained to Samadhi through concentration is alone free from all desires.
कर्माशुक्लाकृष्णं योगिनस्त्रिविधमितरेषाम् ॥७॥
7. Works are neither black nor white for the Yogis; for others they are threefold — black, white, and mixed.
When the Yogi has attained perfection, his actions, and the Karma produced by those actions, do not bind him, because he did not desire them. He just works on; he works to do good, and he does good, but does not care for the result, and it will not come to him. But, for ordinary men, who have not attained to the highest state, works are of three kinds, black (evil actions), white (good actions), and mixed.
ततस्तद्विपाकानुगुणानामेवाभिव्यक्तिर्वासनानाम् ॥८॥
8. From these threefold works are manifested in each state only those desires (which are) fitting to that state alone. (The others are held in abeyance for the time being.)
Suppose I have made the three kinds of Karma, good, bad, and mixed, and suppose I die and become a god in heaven. The desires in a god body are not the same as the desires in a human body; the god body neither eats nor drinks. What becomes of my past unworked Karmas which produce as their effect the desire to eat and drink? Where would these Karmas go when I become a god? The answer is that desires can only manifest themselves in proper environments. Only those desires will come out for which the environment is fitted; the rest will remain stored up. In this life we have many godly desires, many human desires, many animal desires. If I take a god body, only the good desires will come up, because for them the environments are suitable. And if I take an animal body, only the animal desires will come up, and the good desires will wait. What does this show? That by means of environment we can check these desires. Only that Karma which is suited to and fitted for the environments will come out. This shows that the power of environment is the great check to control even Karma itself.
जाति-देश-काल-व्यवहितानामप्यानन्तर्यं स्मृतिसंस्कारयोरेकरूपत्वात् ॥९॥
9. There is consecutiveness in desires, even though separated by species, space, and time, there being identification of memory and impressions.
Experiences becoming fine become impressions; impressions revivified become memory. The word memory here includes unconscious co-ordination of past experiences, reduced to impressions, with present conscious action. In each body, the group of impressions acquired in a similar body only becomes the cause of action in that body. The experiences of a dissimilar body are held in abeyance. Each body acts as if it were a descendant of a series of bodies of that species only; thus, consecutiveness of desires is not to be broken.
तासामनादित्वं चाशिषो नित्यत्वात् ॥१०॥
10. Thirst for happiness being eternal, desires are without beginning.
All experience is preceded by desire for happiness. There was no beginning of experience, as each fresh experience is built upon the tendency generated by past experience; therefore desire is without beginning.
हेतुफलाश्रयालम्बनैः संगृहीतत्वादेषामभावे तदभावः ॥११॥
11. Being held together by cause, effect, support, and objects, in the absence of these is its absence.
Desires are held together by cause and effect; if a desire has been raised, it does not die without producing its effect. Then, again, the mind-stuff is the great storehouse, the support of all past desires reduced to Samskāra form; until they have worked themselves out, they will not die. Moreover, so long as the senses receive the external objects, fresh desires will arise. If it be possible to get rid of the cause, effect, support, and objects of desire, then alone it will vanish.
अतीतानागतं स्वरूपतोऽस्त्यध्वभेदाद्धर्माणाम् ॥१२॥
12. The past and future exist in their own nature, qualities having different ways.
The idea is that existence never comes out of non-existence. The past and future, though not existing in a manifested form, yet exist in a fine form.
ते व्यक्त-सूक्ष्मा गुणात्मानः ॥१३॥
13. They are manifested or fine, being of the nature of the Gunas.
The Gunas are the three substances, Sattva, Rajas, and Tamas, whose gross state is the sensible universe. Past and future arise from the different modes of manifestation of these Gunas.
परिणामैकत्वाद्वस्तुतत्त्वम् ॥१४॥
14. The unity in things is from the unity in changes.
Though there are three substances, their changes being co-ordinated, all objects have their unity.
वस्तुसाम्ये चित्तभेदात्तयोर्विभक्तः पन्थाः ॥१५॥
15. Since perception and desire vary with regard to the same object, mind and object are of different nature.
That is, there is an objective world independent of our minds. This is a refutation of Buddhistic Idealism. Since different people look at the same thing differently, it cannot be a mere imagination of any particular individual.
तदुपरागापेक्षित्वाच्चित्तस्य वस्तु ज्ञाताज्ञातम् ॥१६॥
16. Things are known or unknown to the mind, being dependent on the colouring which they give to the mind.
सदा ज्ञाताश्चित्तवृत्तयस्तत्प्रभोः पुरुषस्यापरिणामित्वात् ॥१७॥
17. The states of the mind are always known, because the lord of the mind, the Purusha, is unchangeable.
The whole gist of this theory is that the universe is both mental and material. Both of these are in a continuous state of flux. What is this book? It is a combination of molecules in constant change. One lot is going out, and another coming in; it is a whirlpool, but what makes the unity? What makes it the same book? The changes are rhythmical; in harmonious order they are sending impressions to my mind, and these pieced together make a continuous picture, although the parts are continuously changing. Mind itself is continuously changing. The mind and body are like two layers in the same substance, moving at different rates of speed. Relatively, one being slower and the other quicker, we can distinguish between the two motions. For instance, a train is in motion, and a carriage is moving alongside it. It is possible to find the motion of both these to a certain extent. But still something else is necessary. Motion can only be perceived when there is something else which is not moving. But when two or three things are relatively moving, we first perceive the motion of the faster one, and then that of the slower ones. How is the mind to perceive? It is also in a flux. Therefore another thing is necessary which moves more slowly, then you must get to something in which the motion is still slower, and so on, and you will find no end. Therefore logic compels you to stop somewhere. You must complete the series by knowing something which never changes. Behind this never-ending chain of motion is the Purusha, the changeless, the colourless, the pure. All these impressions are merely reflected upon it, as a magic lantern throws images upon a screen, without in any way tarnishing it.
न तत् स्वाभासं दृश्यत्वात् ॥१८॥
18. The mind is not self-luminous, being an object.
Tremendous power is manifested everywhere in nature, but it is not self-luminous, not essentially intelligent. The Purusha alone is self-luminous, and gives its light to everything. It is the power of the Purusha that is percolating through all matter and force.
एकसमये चोभयानवधारणम् ॥१९॥
19. From its being unable to cognise both at the same time.
If the mind were self-luminous it would be able to cognise itself and its objects at the same time, which it cannot. When it cognises the object, it cannot reflect on itself. Therefore the Purusha is self-luminous, and the mind is not.
चित्तान्तरदृश्ये बुद्धिबुद्धेरतिप्रसङ्गः स्मृतिसङ्करश्च ॥२०॥
20. Another cognising mind being assumed, there will be no end to such assumptions, and confusion of memory will be the result.
Let us suppose there is another mind which cognises the ordinary mind, then there will have to be still another to cognise the former, and so there will be no end to it. It will result in confusion of memory, there will be no storehouse of memory.
चितेरप्रतिसंक्रमायास्तदाकारापत्तौ स्वबुद्धि-संवेदनम् ॥२१॥
21. The essence of knowledge (the Purusha) being unchangeable, when the mind takes its form, it becomes conscious.
Patanjali says this to make it more clear that knowledge is not a quality of the Purusha. When the mind comes near the Purusha it is reflected, as it were, upon the mind, and the mind, for the time being, becomes knowing and seems as if it were itself the Purusha.
द्रष्टृदृश्योपरक्तं चित्तं सर्वार्थम् ॥२२॥
22. Coloured by the seer and the seen the mind is able to understand everything.
On one side of the mind the external world, the seen, is being reflected, and on the other, the seer is being reflected. Thus comes the power of all knowledge to the mind.
तदसंख्येयवासनाभिश्चित्रमपि परार्थं संहत्यकारित्वात् ॥२३॥
23. The mind, though variegated by innumerable desires, acts for another (the Purusha), because it acts in combination.
The mind is a compound of various things and therefore it cannot work for itself. Everything that is a combination in this world has some object for that combination, some third thing for which this combination is going on. So this combination of the mind is for the Purusha.
विशेषदर्शिन आत्मभाव-भावनाविनिवृत्तिः ॥२४॥
24. For the discriminating, the perception of the mind as Atman ceases.
Through discrimination the Yogi knows that the Purusha is not mind.
तदा विवेकनिम्नं कैवल्यप्राग्भावं चित्तम् ॥२५॥
25. Then, bent on discriminating, the mind attains the previous state of Kaivalya (isolation).
Thus the practice of Yoga leads to discriminating power, to clearness of vision. The veil drops from the eyes, and we see things as they are. We find that nature is a compound, and is showing the panorama for the Purusha, who is the witness; that nature is not the Lord, that all the combinations of nature are simply for the sake of showing these phenomena to the Purusha, the enthroned king within. When discrimination comes by long practice, fear ceases, and the mind attains isolation.
तच्छिद्रेषु प्रत्ययान्तराणि संस्कारेभ्यः ॥२६॥
26. The thoughts that arise as obstructions to that are from impressions.
All the various ideas that arise, making us believe that we require something external to make us happy, are obstructions to that perfection. The Purusha is happiness and blessedness by its own nature. But that knowledge is covered over by past impressions. These impressions have to work themselves out.
हानमेषां क्लेशवदुक्तम् ॥२७॥
27. Their destruction is in the same manner as of ignorance, egoism, etc., as said before (II.10).
प्रसंख्यानेऽप्यकुसीदस्य सर्वथा विवेकख्यातेर्धर्ममेघः समाधिः ॥२८॥
28. Even when arriving at the right discriminating knowledge of the essences, he who gives up the fruits, unto him comes, as the result of perfect discrimination, the Samadhi called the cloud of virtue.
When the Yogi has attained to this discrimination, all the powers mentioned in the last chapter come to him, but the true Yogi rejects them all. Unto him comes a peculiar knowledge, a particular light, called the Dharma-megha, the cloud of virtue. All the great prophets of the world whom history has recorded had this. They had found the whole foundation of knowledge within themselves. Truth to them had become real. Peace and calmness, and perfect purity became their own nature, after they had given up the vanities of powers.
ततः क्लेशकर्मनिवृत्तिः ॥२९॥
29. From that comes cessation of pain and works.
When that cloud of virtue has come, then no more is there fear of falling, nothing can drag the Yogi down. No more will there be evils for him. No more pains.
तदा सर्वावरणमलापेतस्य ज्ञानस्याऽनन्त्याज्ज्ञेयमल्पम् ॥३०॥
30. The knowledge, bereft of covering and impurities, becoming infinite, the knowable becomes small.
Knowledge itself is there; its covering is gone. One of the Buddhistic scriptures defines what is meant by the Buddha (which is the name of a state) as infinite knowledge, infinite as the sky. Jesus attained to that and became the Christ. All of you will attain to that state. Knowledge becoming infinite, the knowable becomes small. The whole universe, with all its objects of knowledge, becomes as nothing before the Purusha. The ordinary man thinks himself very small, because to him the knowable seems to be infinite.
ततः कृतार्थानां परिणामक्रमसमाप्तिर्गुणानाम् ॥३१॥
31. Then are finished the successive transformations of the qualities, they having attained the end.
Then all these various transformations of the qualities, which change from species to species, cease for ever.
क्षणप्रतियोगी परिणामापरान्तनिर्ग्राह्यः क्रमः ॥३२॥
32. The changes that exist in relation to moments and which are perceived at the other end (at the end of a series) are succession.
Patanjali here defines the word succession, the changes that exist in relation to moments. While I think, many moments pass, and with each moment there is a change of idea, but I only perceive these changes at the end of a series. This is called succession, but for the mind that has realised omnipresence there is no succession. Everything has become present for it; to it the present alone exists, the past and future are lost. Time stands controlled, all knowledge is there in one second. Everything is known like a flash.
पुरुषार्थशून्यानां गुणानां प्रतिप्रसवः कैवल्यं स्वरूपप्रतिष्ठा वा चितिशक्तेरिति ॥३३॥
33. The resolution in the inverse order of the qualities, bereft of any motive of action for the Purusha, is Kaivalya, or it is the establishment of the power of knowledge in its own nature.
Nature's task is done, this unselfish task which our sweet nurse, nature, had imposed upon herself. She gently took the self-forgetting soul by the hand, as it were, and showed him all the experiences in the universe, all manifestations, bringing him higher and higher through various bodies, till his lost glory came back, and he remembered his own nature. Then the kind mother went back the same way she came, for others who also have lost their way in the trackless desert of life. And thus is she working, without beginning and without end. And thus through pleasure and pain, through good and evil, the infinite river of souls is flowing into the ocean of perfection, of self-realisation.
Glory unto those who have realised their own nature. May their blessing be on us all!
## Notes
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.