Arsip Vivekananda

Pernapasan

Jilid1 lecture
3,432 kata · 14 menit baca · Lectures and Discourses

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

Latihan pernapasan telah sangat populer di India sejak zaman paling kuno, demikian populernya [hingga] menjadi bagian dari agama mereka, sama seperti pergi ke gereja dan mengulangi doa-doa tertentu.... Saya akan mencoba menghadirkan gagasan-gagasan itu di hadapan Anda.

Saya telah menyampaikan kepada Anda bagaimana filsuf India mereduksi seluruh alam semesta menjadi dua bagian — Prana (napas/daya hidup) dan Akasha.

Prana berarti daya — segala sesuatu yang memanifestasikan dirinya sebagai gerak atau gerak potensial, daya, atau daya tarik. ... Listrik, magnetisme, semua gerakan dalam tubuh, semua [gerakan] dalam pikiran — semuanya ini adalah berbagai manifestasi dari satu hal yang disebut Prana. Akan tetapi, bentuk Prana yang terbaik ada di [otak], memanifestasikan dirinya sebagai cahaya [pemahaman]. Cahaya ini berada di bawah bimbingan pikiran.

Pikiran seharusnya mengendalikan setiap bagian Prana yang telah dibangkitkan di dalam tubuh.... [Pikiran] semestinya memiliki kendali penuh atas tubuh. Itu bukan [keadaan yang sebenarnya] pada semua orang. Pada sebagian besar dari kita justru sebaliknya. Pikiran semestinya mampu mengendalikan setiap bagian [tubuh] sesuai kehendak. Itulah nalar, filsafat; tetapi [ketika] kita sampai pada kenyataan, hal itu tidak demikian. Bagi Anda, sebaliknya, gerobak ditempatkan di depan kuda. Tubuhlah yang menguasai pikiran. Jika jari saya terjepit, saya menjadi sedih. Tubuh bekerja atas pikiran. Jika terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan, saya gelisah; pikiran saya [terlempar] keluar dari keseimbangannya. Tubuhlah penguasa pikiran. Kita telah menjadi tubuh. Kita kini tidak lain hanyalah tubuh.

Di sinilah [hadir] sang filsuf untuk menunjukkan kepada kita jalan keluar, untuk mengajarkan kepada kita siapa kita sebenarnya. Anda boleh menalarnya dan memahaminya secara intelektual, tetapi terdapat jarak yang panjang antara pemahaman intelektual dan realisasi praktisnya. Antara denah bangunan dan bangunan itu sendiri terbentang jarak yang cukup jauh. Oleh karena itu, harus ada berbagai metode [untuk mencapai tujuan agama]. Dalam kursus terakhir, kita telah mempelajari metode filsafat, berupaya menundukkan segala sesuatu di bawah kendali, sekali lagi menegaskan kebebasan jiwa. ... "Sangat sulit. Jalan ini bukan untuk [setiap] orang. Pikiran yang berbadan menempuhnya dengan susah payah" (Gita, XII. 5).

Sedikit bantuan jasmani akan membuat pikiran lebih nyaman. Apa yang lebih masuk akal daripada membiarkan pikiran sendiri yang menyelesaikannya? Namun, ia tidak dapat melakukannya. Bantuan jasmani perlu bagi sebagian besar dari kita. Sistem Raja-Yoga adalah memanfaatkan bantuan jasmani ini, memanfaatkan daya dan kekuatan dalam tubuh untuk menghasilkan keadaan mental tertentu, untuk membuat pikiran semakin kuat hingga ia memperoleh kembali kerajaannya yang hilang. Apabila ada orang yang mampu mencapai itu dengan kekuatan kehendak semata, itu lebih baik lagi. Tetapi sebagian besar dari kita tidak mampu, sehingga kita akan menggunakan sarana jasmani, dan membantu kehendak menempuh jalannya.

... Seluruh alam semesta adalah kasus kesatuan dalam keragaman yang luar biasa. Hanya ada satu kumpulan pikiran. [Keadaan-keadaan] berbeda dari pikiran itu memiliki nama yang berbeda-beda. [Itulah] pusaran-pusaran kecil yang berbeda di samudra pikiran ini. Kita bersifat universal sekaligus individual pada saat yang sama. Demikianlah permainan berlangsung.... Pada hakikatnya, kesatuan ini tidak pernah pecah. [Materi, pikiran, roh semuanya satu.]

Semua itu hanyalah berbagai nama. Hanya ada satu kenyataan di alam semesta, dan kita memandangnya dari berbagai sudut pandang. [Kenyataan] yang sama, dilihat dari satu sudut pandang, menjadi materi. Yang satu yang sama, dari sudut pandang lain, menjadi pikiran. Tidak ada dua hal. Karena keliru mengira tali sebagai ular, rasa takut datang [pada seseorang] dan membuatnya memanggil orang lain untuk membunuh ular itu. Sistem sarafnya mulai bergetar; jantungnya mulai berdebar.... Semua manifestasi ini [muncul] dari rasa takut, dan ia menemukan bahwa itu adalah tali, dan semuanya lenyap. Inilah yang kita lihat dalam kenyataan. Bahkan apa yang dilihat oleh indra — yang kita sebut materi — itu [pun] adalah Yang Nyata; hanya saja tidak seperti yang telah kita lihat. Pikiran [yang] melihat tali [dan] mengiranya sebagai ular tidaklah berada di bawah delusi. Andai demikian, ia tidak akan melihat apa-apa. Satu hal dikira sebagai hal lain, bukan sebagai sesuatu yang tidak ada. Apa yang kita lihat di sini adalah tubuh, dan kita menganggap Yang Tak Terhingga sebagai materi.... Kita hanyalah sedang mencari Kenyataan itu. Kita tidak pernah tertipu. Kita selalu mengetahui kebenaran, hanya pembacaan kita atas kebenaran kadang-kadang keliru. Anda hanya dapat mempersepsi satu hal pada satu waktu. Ketika saya melihat ular, tali sepenuhnya telah lenyap. Dan ketika saya melihat tali, ular telah lenyap. Itu pasti satu hal....

Ketika kita melihat dunia, bagaimana mungkin kita melihat Tuhan? Pikirkanlah dalam benak Anda sendiri. Yang dimaksud dengan dunia adalah Tuhan yang terlihat sebagai segala sesuatu [oleh] indra kita. Di sini Anda melihat ular; tali tidak ada. Ketika Anda mengenal Roh, segala sesuatu yang lain akan lenyap. Ketika Anda melihat Roh itu sendiri, Anda tidak melihat materi, karena yang Anda sebut materi adalah persis hal yang merupakan Roh. Semua variasi ini [ditumpangkan] oleh indra kita. Matahari yang sama, dipantulkan oleh ribuan gelombang kecil, akan tampil bagi kita sebagai ribuan matahari kecil. Jika saya memandang alam semesta dengan indra saya, saya menafsirkannya sebagai materi dan daya. Ia satu dan banyak pada saat yang sama. Yang berlipat ganda tidak menghancurkan kesatuan. Jutaan gelombang tidak menghancurkan kesatuan samudra. Ia tetap samudra yang sama. Ketika Anda memandang alam semesta, ingatlah bahwa kita dapat mereduksinya menjadi materi atau daya. Jika kita menambah kecepatannya, massanya berkurang. ... Sebaliknya, kita dapat menambah massa dan mengurangi kecepatan.... Kita bahkan dapat hampir mencapai titik ketika seluruh massa lenyap sama sekali. ...

Materi tidak dapat dikatakan menyebabkan daya, dan daya [pun tidak dapat dikatakan] sebagai penyebab materi. Keduanya [berhubungan] sedemikian rupa sehingga yang satu dapat lenyap ke dalam yang lain. Tentu harus ada [faktor] ketiga, dan sesuatu yang ketiga itu adalah pikiran. Anda tidak dapat menghasilkan alam semesta dari materi, demikian pula tidak dari daya. Pikiran adalah sesuatu [yang] bukan daya dan bukan pula materi, namun sepanjang waktu melahirkan daya dan materi. Pada akhirnya, pikiranlah yang melahirkan segala daya, dan itulah yang dimaksud dengan pikiran universal, jumlah total dari semua pikiran. Setiap orang sedang mencipta, dan [dalam] jumlah total dari semua ciptaan ini Anda memiliki alam semesta — kesatuan dalam keragaman. Ia satu dan banyak pada saat yang sama.

Tuhan Personal hanyalah jumlah total dari semuanya, namun ia tetap merupakan individu pada dirinya sendiri, sebagaimana Anda adalah tubuh individual yang setiap selnya pun merupakan bagian individual.

Segala sesuatu yang memiliki gerak termasuk dalam Prana atau daya. [Adalah] Prana ini yang menggerakkan bintang-bintang, matahari, bulan; Prana adalah gravitasi. ...

Oleh karena itu, semua daya alam pasti diciptakan oleh pikiran universal. Dan kita, sebagai serpihan-serpihan kecil pikiran, [sedang] mengambil Prana itu dari alam, mengolahnya kembali dalam kodrat kita sendiri, menggerakkan tubuh kita dan memproduksi pikiran kita. Jika [Anda mengira] pikiran tidak dapat diproduksi, berhentilah makan selama dua puluh hari dan lihatlah bagaimana perasaan Anda. Mulailah hari ini dan hitunglah. ... Bahkan pikiran pun diproduksi oleh makanan. Tidak ada keraguan tentang hal itu.

Kendali atas Prana yang menggerakkan segala sesuatu ini, kendali atas Prana di dalam tubuh, disebut Pranayama (disiplin napas). Kita melihat dengan akal sehat bahwa napaslah [yang] menggerakkan segala sesuatu. Jika saya berhenti bernapas, saya berhenti. Jika napas dimulai, [tubuh] mulai bergerak. Yang ingin kita raih bukanlah napas itu sendiri; melainkan sesuatu yang lebih halus di balik napas itu.

[Dahulu kala ada seorang menteri di bawah seorang raja besar. Sang] raja, yang murka kepada menteri itu, memerintahkan agar ia dipenjarakan di puncak [sebuah menara yang sangat tinggi. Hal itu dilakukan, dan menteri itu ditinggalkan di sana untuk binasa. Istrinya datang ke menara itu pada malam hari dan memanggil suaminya.] Sang menteri berkata kepadanya, "Tidak ada gunanya menangis." Ia menyuruh istrinya mengambil sedikit madu, [seekor kumbang], segulung benang halus, segulung tali pengikat, dan seutas tambang. Ia mengikatkan benang halus itu pada salah satu kaki kumbang dan meletakkan madu di atas kepalanya, lalu melepaskannya [dengan kepala menghadap ke atas]. [Kumbang itu perlahan-lahan merayap maju, dengan harapan mencapai madu itu, hingga akhirnya sampai di puncak menara, ketika sang menteri menangkap kumbang itu, dan memperoleh benang sutra, kemudian tali pengikat, kemudian tambang yang lebih kuat, dan akhirnya tambang besar itu. Sang menteri turun dari menara dengan tambang itu, dan melarikan diri. Dalam tubuh kita ini gerak napas adalah "benang sutra"; dengan memegangnya kita menggenggam tali pengikat arus saraf, dan dari sana tambang pemikiran yang kuat, dan akhirnya tambang Prana, yang dengan mengendalikannya kita mencapai kebebasan. (Vide ante.)

Dengan bantuan hal-hal pada bidang material, kita harus sampai pada [persepsi] yang semakin halus dan halus. Alam semesta itu satu, di titik mana pun Anda menyentuhnya. Semua titik hanyalah variasi dari satu titik itu. Di seluruh alam semesta terdapat kesatuan (di dasarnya).... Bahkan melalui sesuatu yang kasar seperti napas, saya dapat menggenggam Roh itu sendiri.

Melalui latihan pernapasan, kita mulai merasakan semua gerakan tubuh yang [sekarang] tidak kita rasakan. Begitu kita mulai merasakannya, kita mulai menguasainya. Pikiran-pikiran dalam bentuk benihnya akan terbuka bagi kita, dan kita akan mampu menggenggamnya. Tentu saja, tidak semua dari kita memiliki kesempatan, kehendak, kesabaran, atau keyakinan untuk menempuh hal semacam itu; tetapi ada gagasan akal sehat yang bermanfaat bagi setiap orang.

Manfaat pertama adalah kesehatan. Sembilan puluh sembilan persen dari kita sama sekali tidak bernapas dengan benar. Kita tidak mengembangkan paru-paru cukup banyak.... Keteraturan [napas] akan menyucikan tubuh. Ia menenangkan pikiran.... Ketika Anda dalam keadaan damai, napas Anda berjalan dengan damai, [ia] berirama. Jika napas berirama, Anda pastilah dalam keadaan damai. Ketika pikiran terganggu, napas pun terpatah-patah. Jika Anda dapat membawa napas ke dalam irama dengan paksa melalui latihan, mengapa Anda tidak dapat menjadi damai? Ketika Anda terganggu, masuklah ke ruangan dan tutuplah pintu. Jangan mencoba mengendalikan pikiran, melainkan teruskan pernapasan berirama selama sepuluh menit. Hati akan menjadi damai. Inilah manfaat akal sehat yang datang kepada setiap orang. Yang lainnya adalah milik sang Yogi....

Latihan pernapasan mendalam [hanyalah langkah pertama]. Ada sekitar delapan puluh empat [postur untuk] berbagai latihan. Sebagian [orang] menjadikan pernapasan ini sebagai seluruh [tujuan] hidup. Mereka tidak melakukan apa pun tanpa berkonsultasi dengan napas. Mereka sepanjang waktu [mengamati] di lubang hidung mana terdapat lebih banyak napas. Ketika napas itu di sebelah kanan, [mereka] akan melakukan hal-hal tertentu, dan ketika [ia] di sebelah kiri, mereka melakukan hal-hal lain. Ketika [napas] mengalir setara melalui kedua lubang hidung, mereka akan beribadat.

Ketika napas datang dengan berirama melalui kedua lubang hidung, itulah saatnya untuk mengendalikan pikiran Anda. Melalui napas Anda dapat membuat arus tubuh bergerak melalui bagian tubuh mana pun, sesuai [dengan] kehendak. Setiap kali [ada] bagian tubuh yang sakit, kirimkan Prana ke bagian itu, semuanya melalui napas.

Berbagai hal lain pun dilakukan. Ada sekte yang berupaya untuk sama sekali tidak bernapas. Mereka tidak akan melakukan apa pun yang akan membuat mereka bernapas berat. Mereka memasuki semacam keadaan kerasukan.... Hampir tidak ada bagian tubuh yang [berfungsi]. Jantung nyaris berhenti [berdetak].... Sebagian besar latihan-latihan ini sangat berbahaya; metode-metode yang lebih tinggi [adalah] untuk memperoleh daya-daya yang lebih tinggi. Ada seluruh sekte yang berupaya [meringankan] seluruh tubuh dengan menarik napas dan kemudian mereka akan naik di udara. Saya tidak pernah melihat seorang pun naik.... Saya tidak pernah melihat seorang pun terbang di udara, tetapi kitab-kitab mengatakan demikian. Saya tidak berpura-pura tahu segalanya. Sepanjang waktu saya menyaksikan hal-hal yang paling menakjubkan.... [Pernah saya mengamati seorang] pria mengeluarkan buah-buahan dan bunga-bunga, dan sebagainya [entah dari mana].

... Sang Yogi, ketika ia menjadi sempurna, dapat membuat tubuhnya begitu kecil sehingga ia akan dapat melewati dinding ini — tubuh ini juga. Ia dapat menjadi begitu berat sehingga dua ratus orang tidak akan dapat mengangkatnya. Ia akan mampu terbang di udara jika ia menghendaki. [Tetapi] tidak ada yang dapat sekuat Tuhan sendiri. Jika mereka mampu, dan yang satu mencipta, yang lain akan menghancurkan....

Ini ada dalam kitab-kitab. Saya [hampir tidak] dapat mempercayainya, dan saya pun tidak menolaknya. Apa yang telah saya lihat, itulah yang saya terima....

Jika perbaikan hal-hal di dunia ini mungkin, itu bukanlah melalui persaingan, melainkan dengan mengatur pikiran. Orang Barat berkata, "Itu adalah kodrat kami; kami tidak dapat berbuat apa-apa." Mempelajari persoalan sosial Anda, [saya menyimpulkan] Anda pun tidak dapat memecahkannya. Dalam beberapa hal Anda lebih buruk daripada kami, ... dan semua hal ini tidak membawa dunia ke mana pun....

Yang kuat mengambil segalanya; yang lemah terpinggirkan. Yang miskin menunggu.... Orang yang dapat mengambil, akan mengambil segalanya. Yang miskin membenci orang itu. Mengapa? Karena mereka sedang menunggu giliran. Semua sistem yang mereka ciptakan, semuanya mengajarkan hal yang sama. Persoalan itu hanya dapat dipecahkan dalam pikiran manusia.... Tidak ada hukum yang akan pernah membuatnya melakukan apa yang tidak ingin ia lakukan. ... Hanya jika [manusia] berkehendak menjadi baik, ia akan menjadi baik. Semua hukum dan dewan juri ... tidak dapat membuatnya baik. Manusia yang mahakuasa itu berkata, "Saya tidak peduli." ... Satu-satunya solusi adalah jika kita semua ingin menjadi baik. Bagaimana hal itu dapat dilakukan?

Semua pengetahuan ada di dalam pikiran. Siapakah yang melihat pengetahuan di dalam batu, atau astronomi di dalam bintang? Semuanya ada di dalam manusia.

Marilah kita menyadari [bahwa] kita adalah daya tak terhingga. Siapa yang menetapkan batas pada daya pikiran? Marilah kita menyadari bahwa kita seluruhnya adalah pikiran. Setiap tetes mengandung seluruh samudra di dalamnya. Itulah pikiran manusia. Pikiran India merenungkan [daya dan potensi] ini dan ingin mengeluarkan [semuanya]. Untuk dirinya sendiri ia tidak peduli apa yang terjadi. Akan dibutuhkan rentang waktu yang sangat panjang [untuk mencapai kesempurnaan]. Jika dibutuhkan lima puluh ribu tahun, apa artinya itu! ...

Dasar masyarakat itu sendiri, pembentukannya, menimbulkan cacat. [Kesempurnaan] hanya mungkin jika pikiran manusia berubah, jika ia, atas kehendaknya sendiri yang manis, mengubah pikirannya; dan kesulitan besarnya adalah, ia pun tidak dapat memaksa pikirannya sendiri.

Anda boleh tidak meyakini semua klaim Raja-Yoga ini. Adalah sangat perlu bahwa setiap individu dapat menjadi ilahi. Itu hanya [mungkin] ketika setiap individu memiliki penguasaan mutlak atas pikirannya sendiri.... [Pikiran-pikiran, indra-indra] semestinya menjadi semua hamba saya, bukan tuan saya. Hanya pada saat itulah dimungkinkan kejahatan akan lenyap....

Pendidikan bukanlah mengisi pikiran dengan banyak fakta. Menyempurnakan instrumen dan memperoleh penguasaan lengkap atas pikiran saya sendiri [adalah ideal pendidikan]. Jika saya ingin memusatkan pikiran saya pada suatu titik, ia pergi ke sana, dan begitu saya memanggil, ia bebas [kembali]....

Itulah kesulitan besarnya. Melalui perjuangan besar kita memperoleh daya konsentrasi tertentu, daya keterikatan pikiran pada hal-hal tertentu. Tetapi kemudian tidak ada daya pelepasan. Saya bersedia memberikan separuh hidup saya untuk melepaskan pikiran saya dari objek itu! Saya tidak mampu. Adalah daya konsentrasi dan keterikatan sekaligus daya pelepasan [yang harus kita kembangkan]. [Jika] manusia [bersifat] sama kuatnya dalam keduanya — manusia itu telah mencapai kedewasaan. Anda tidak dapat membuatnya sengsara meskipun seluruh alam semesta runtuh di sekitarnya. Buku apa yang dapat mengajarkan itu kepada Anda? Anda boleh membaca buku dalam jumlah berapa pun.... Jejalkan lima puluh ribu kata setiap saat kepada anak, ajarkan kepadanya semua teori dan filsafat.... Hanya ada satu ilmu yang akan mengajarkan kepadanya fakta-fakta, dan itu adalah psikologi.... Dan pekerjaannya dimulai dengan kendali napas.

Perlahan-lahan dan bertahap Anda memasuki bilik-bilik pikiran dan secara bertahap memperoleh kendali atas pikiran. Itu adalah [perjuangan yang panjang dan berat]. Tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang ingin tahu belaka. Ketika seseorang ingin melakukan sesuatu, ia memiliki rencana. [Raja-Yoga] tidak mengusulkan iman, tidak ada keyakinan, tidak ada Tuhan. Jika Anda percaya pada dua ribu dewa, Anda dapat mencobanya. Mengapa tidak? ... [Tetapi dalam Raja-Yoga] yang ada adalah prinsip-prinsip impersonal.

Apakah kesulitan yang terbesar? Kita berbicara dan berteori. Mayoritas umat manusia yang amat besar harus berurusan dengan hal-hal yang konkret. Sebab orang-orang yang tumpul tidak dapat melihat semua filsafat tertinggi. Demikianlah ia berakhir. Anda boleh menjadi lulusan [dalam] semua ilmu di dunia, ... tetapi jika Anda belum merealisasikannya, Anda harus menjadi bayi dan belajar.

... Jika Anda memberikan kepada mereka hal-hal yang abstrak dan tak terhingga, mereka tersesat. Berikan kepada mereka hal-hal [untuk dikerjakan,] sedikit demi sedikit. [Katakan kepada mereka,] "Anda menarik napas sekian kali, Anda melakukan ini." Mereka melanjutkan, [mereka] memahaminya, dan menemukan kesenangan di dalamnya. Inilah taman kanak-kanak agama. Itulah sebabnya latihan pernapasan akan begitu bermanfaat. Saya memohon kepada Anda semua untuk tidak sekadar ingin tahu. Berlatihlah selama beberapa hari, dan jika Anda tidak menemukan manfaat apa pun, maka datanglah dan kutukilah saya....

Seluruh alam semesta adalah massa energi, dan ia hadir di setiap titik. Sebutir saja cukup bagi kita semua, jika kita tahu cara memperoleh apa yang ada di sana....

Keharusan untuk berbuat inilah racun yang membunuh kita.... [Kewajiban adalah] apa yang menyenangkan budak.... [Tetapi] saya bebas! Apa yang saya kerjakan adalah permainan saya. [Saya bukan budak. Saya sedang] bersenang-senang sedikit — itu saja....

Roh-roh yang telah meninggal — mereka lemah, sedang berupaya memperoleh vitalitas dari kita....

Vitalitas spiritual dapat diberikan dari satu pikiran ke pikiran lain. Orang yang memberi adalah sang Guru. Orang yang menerima adalah murid. Itulah satu-satunya cara kebenaran spiritual dibawa ke dunia.

[Pada saat kematian] semua indra masuk ke dalam [pikiran] dan pikiran masuk ke dalam Prana, vitalitas. Jiwa keluar dan membawa sebagian pikiran keluar bersamanya. Ia membawa sebagian tertentu dari vitalitas, dan ia juga membawa sejumlah tertentu materi yang sangat halus, sebagai benih tubuh spiritual. Prana tidak dapat berada tanpa semacam [wahana].... Ia bersarang dalam pikiran-pikiran, dan ia akan keluar lagi. Maka Anda memproduksi tubuh baru dan otak baru. Melalui itu ia akan memanifestasikan dirinya....

[Roh-roh yang telah meninggal] tidak dapat memproduksi tubuh; dan mereka yang sangat lemah tidak ingat bahwa mereka telah mati.... Mereka berupaya memperoleh lebih banyak kenikmatan dari kehidupan [roh] ini dengan masuk ke dalam tubuh orang lain, dan setiap orang yang membuka tubuhnya bagi mereka menanggung risiko yang mengerikan. Mereka mengejar vitalitasnya....

Di dunia ini tidak ada yang kekal kecuali Tuhan.... Keselamatan berarti mengetahui kebenaran. Kita tidak menjadi apa-apa; kita adalah seperti adanya kita. Keselamatan [datang] melalui iman dan bukan melalui pekerjaan. Itu adalah persoalan pengetahuan! Anda harus tahu siapa Anda, dan urusan itu selesai. Mimpi pun lenyap. Anda [dan yang lain] ini sedang bermimpi di sini. Ketika mereka mati, mereka pergi ke [surga] mimpi [mereka]. Mereka tinggal dalam mimpi itu, dan [ketika ia berakhir], mereka mengambil tubuh yang bagus [di sini], dan mereka adalah orang-orang yang baik....

[Orang yang bijak berkata,] "Semua [hasrat] ini telah lenyap dari saya. Kali ini saya tidak akan menempuh semua pernak-pernik ini." Ia berupaya memperoleh pengetahuan dan berjuang keras, dan ia melihat betapa itu adalah mimpi, betapa mimpi buruk semuanya itu - [mimpi ini], dan menyusun surga-surga dan dunia-dunia dan yang lebih buruk lagi. Ia menertawakannya.

[Menurut SWAMI VIVEKANANDA HIS SECOND VISIT TO THE WEST (h. 461), pidato ini disampaikan pada 29 Maret 1900 dengan judul "The Science of Breathing". — Ed.]

English

Breathing exercises have been very popular in India from the most ancient times, so much so [that] they form a part of their religion, just as going to church and repeating certain prayers.... I will try to bring those ideas before you.

I have told you how the Indian philosopher reduces the whole universe into two parts — Prâna and Âkâsha.

Prana means force — all that is manifesting itself as movement or possible movement, force, or attraction. ... Electricity, magnetism, all the movements in the body, all [the movements] in the mind — all these are various manifestations of one thing called Prana. The best form of Prana, however, is in [the brain], manifesting itself as light [of understanding]. This light is under the guidance of thought.

The mind ought to control every bit of Prana that has been worked up in the body.... [The] mind should have entire control of the body. That is not [the case] with all. With most of us it is the other way. The mind should be able to control every part of [the body] just at will. That is reason, philosophy; but [when] we come to matters of fact, it is not so. For you, on the other hand, the cart is before the horse. It is the body mastering the mind. If my finger gets pinched, I become sorry. The body works upon the mind. If anything happens which I do not like to happen, I am worried; my mind [is] thrown off its balance. The body is master of the mind. We have become bodies. We are nothing else but bodies just now.

Here [comes] the philosopher to show us the way out, to teach us what we really are. You may reason it out and understand it intellectually, but there is a long way between intellectual understanding and the practical realisation of it. Between the plan of the building and the building itself there is quite a long distance. Therefore there must be various methods [to reach the goal of religion]. In the last course, we have been studying the method of philosophy, trying to bring everything under control, once more asserting the freedom of the soul. ... "It is very difficult. This way is not for [every]body. The embodied mind tries it with great trouble" (Gita, XII. 5).

A little physical help will make the mind comfortable. What would be more rational than to have the mind itself accomplish the thing? But it cannot. The physical help is necessary for most of us. The system of Râja-Yoga is to utilise these physical helps, to make use of the powers and forces in the body to produce certain mental states, to make the mind stronger and stronger until it regains its lost empire. By sheer force of will if anyone can attain to that, so much the better. But most of us cannot, so we will use physical means, and help the will on its way.

... The whole universe is a tremendous case of unity in variety. There is only one mass of mind. Different [states] of that mind have different names. [They are] different little whirlpools in this ocean of mind. We are universal and individual at the same time. Thus is the play going on.... In reality this unity is never broken. [Matter, mind, spirit are all one.]

All these are but various names. There is but one fact in the universe, and we look at it from various standpoints. The same [fact] looked at from one standpoint becomes matter. The same one from another standpoint becomes mind. There are not two things. Mistaking the rope for the snake, fear came [to a man] and made him call somebody else to kill the snake. [His] nervous system began to shake; his heart began to beat.... All these manifestations [came] from fear, and he discovered it was a rope, and they all vanished. This is what we see in reality. What even the senses see — what we call matter — that [too] is the Real; only not as we have seen it. The mind [which] saw the rope [and] took it for a snake was not under a delusion. If it had been, it would not have seen anything. One thing is taken for another, not as something that does not exist. What we see here is body, and we take the Infinite as matter.... We are but seeking that Reality. We are never deluded. We always know truth, only our reading of truth is mistaken at times. You can perceive only one thing at a time. When I see the snake, the rope has vanished entirely. And when I see the rope, the snake has vanished. It must be one thing....

When we see the world, how can we see God? Think in your own mind. What is meant by the world is God as seen as all things [by] our senses. Here you see the snake; the rope is not. When you know the Spirit, everything else will vanish. When you see the Spirit itself, you see no matter, because that which you called matter is the very thing that is Spirit. All these variations are [superimposed] by our senses. The same sun, reflected by a thousand little wavelets, will represent to us thousands of little suns. If I am looking at the universe with my senses, I interpret it as matter and force. It is one and many at the same time. The manifold does not destroy the unity. The millions of waves do not destroy the unity of the ocean. It remains the same ocean. When you look at the universe, remember that we can reduce it to matter or to force. If we increase the velocity, the mass decreases. ... On the other hand, we can increase the mass and decrease the velocity.... We may almost come to a point where all the mass will entirely disappear. ...

Matter cannot be said to cause force nor [can] force [be] the cause of matter. Both are so [related] that one may disappear in the other. There must be a third [factor], and that third something is the mind. You cannot produce the universe from matter, neither from force. Mind is something [which is] neither force nor matter, yet begetting force and matter all the time. In the long run, mind is begetting all force, and that is what is meant by the universal mind, the sum total of all minds. Everyone is creating, and [in] the sum total of all these creations you have the universe — unity in diversity. It is one and it is many at the same time.

The Personal God is only the sum total of all, and yet it is an individual by itself, just as you are the individual body of which each cell is an individual part itself.

Everything that has motion is included in Prana or force. [It is] this Prana which is moving the stars, sun, moon; Prana is gravitation. ...

All forces of nature, therefore, must be created by the universal mind. And we, as little bits of mind, [are] taking out that Prana from nature, working it out again in our own nature, moving our bodies and manufacturing our thought. If [you think] thought cannot be manufactured, stop eating for twenty days and see how you feel. Begin today and count. ... Even thought is manufactured by food. There is no doubt about it.

Control of this Prana that is working everything, control of this Prana in the body, is called Prânâyâma. We see with our common sense that it is the breath [that] is setting everything in motion. If I stop breathing, I stop. If the breath begins, [the body] begins to move. What we want to get at is not the breath itself; it is something finer behind the breath.

[There was once a minister to a great king. The] king, displeased with the minister, ordered him to be confined in the top of [a very high tower. This was done, and the minister was left there to perish. His wife came to the tower at night and called to her husband.] The minister said to her, "No use weeping." He told her to take a little honey, [a beetle], a pack of fine thread, a ball of twine, and a rope. She tied the fine thread to one of the legs of the beetle and put honey on the top of its head and let it go [with its head up]. [The beetle slowly crept onwards, in the hope of reaching the honey, until at last it reached the top of the tower, when the minister grasped the beetle, and got possession of the silken thread, then the pack thread, then the stout twine, and lastly of the rope. The minister descended from the tower by means of the rope, and made his escape. In this body of ours the breath motion is the "silken thread"; by laying hold of it we grasp the pack thread of the nerve currents, and from these the stout twine of our thoughts, and lastly the rope of Prana, controlling which we reach freedom. (Vide ante.)

By the help of things on the material plane, we have to come to finer and finer [perceptions]. The universe is one, whatever point you touch. All the points are but variations of that one point. Throughout the universe is a unity (at bottom).... Even through such a gross thing as breath I can get hold of the Spirit itself.

By the exercise of breathing we begin to feel all the movements of the body that we [now] do not feel. As soon as we begin to feel them, we begin to master them. Thoughts in the germ will open to us, and we will be able to get hold of them. Of course, not all of us have the opportunity nor the will nor the patience nor the faith to pursue such a thing; but there is the common sense idea that is of some benefit to everyone.

The first benefit is health. Ninety-nine per cent of us do not at all breathe properly. We do not inflate the lungs enough.... Regularity [of breath] will purify the body. It quiets the mind.... When you are peaceful, your breath is going on peacefully, [it is] rhythmic. If the breath is rhythmic, you must be peaceful. When the mind is disturbed, the breath is broken. If you can bring the breath into rhythm forcibly by practice, why can you not become peaceful? When you are disturbed, go into the room and close the door. Do not try to control the mind, but go on with rhythmic breathing for ten minutes. The heart will become peaceful. These are common sense benefits that come to everyone. The others belong to the Yogi....

Deep-breathing exercises [are only the first step]. There are about eighty-four [postures for] various exercises. Some [people] have taken up this breathing as the whole [pursuit] of life. They do not do anything without consulting the breath. They are all the time [observing] in which nostril there is more breath. When it is the right, [they] will do certain things, and when [it is] the left, they do other things. When [the breath is] flowing equally through both nostrils, they will worship.

When the breath is coming rhythmically through both nostrils, that is the time to control your mind. By means of the breath you can make the currents of the body move through any part of the body, just [at] will. Whenever [any] part of the body is ill, send the Prana to that part, all by the breath.

Various other things are done. There are sects who are trying not to breathe at all. They would not do anything that would make them breathe hard. They go into a sort of trance.... Scarcely any part of the body [functions]. The heart almost ceases [to beat].... Most of these exercises are very dangerous; the higher methods [are] for acquiring higher powers. There are whole sects trying to [lighten] the whole body by withdrawal of breath and then they will rise up in the air. I have never seen anyone rise.... I have never seen anyone fly through the air, but the books say so. I do not pretend to know everything. All the time I am seeing most wonderful things.... [Once I observed a] man bringing out fruits and flowers, etc. [out of nowhere].

... The Yogi, when he becomes perfect, can make his body so small it will pass through this wall — this very body. He can become so heavy, two hundred persons cannot lift him. He will be able to fly through the air if he likes. [But] nobody can be as powerful as God Himself. If they could, and one created, another would destroy....

This is in the books. I can [hardly] believe them, nor do I disbelieve them. What I have seen I take....

If the study [improvement?] of things in this world is possible, it is not by competition, it is by regulating the mind. Western people say, "That is our nature; we cannot help it." Studying your social problems, [I conclude] you cannot solve them either. In some things you are worse off than we are, ... and all these things do not bring the world anywhere at all...

The strong take everything; the weak go to the wall. The poor are waiting.... The man who can take, will take everything. The poor hate that man. Why? Because they are waiting their turn. All the systems they invent, they all teach the same thing. The problem can only be solved in the mind of man.... No law will ever make him do what he does not want to do. ... It is only if [man] wills to be good that he will be good. All the law and juries ... cannot make him good. The almighty man says, "I do not care." ... The only solution is if we all want to be good. How can that be done?

All knowledge is within [the] mind. Who saw knowledge in the stone, or astronomy in the star? It is all in the human being.

Let us realise [that] we are the infinite power. Who put a limit to the power of mind? Let us realise we are all mind. Every drop has the whole of the ocean in it. That is the mind of man. The Indian mind reflects upon these [powers and potentialities] and wants to bring [them] all out. For himself he doesn't care what happens. It will take a great length of time [to reach perfection]. If it takes fifty thousand years, what of that! ...

The very foundation of society, the formation of it, makes the defect. [Perfection] is only possible if the mind of man is changed, if he, of his own sweet will, changes his mind; and the great difficulty is, neither can he force his own mind.

You may not believe in all the claims of this Raja-Yoga. It is absolutely necessary that every individual can become divine. That is only [possible] when every individual has absolute mastery over his own thoughts.... [The thoughts, the senses] should be all my servants, not my masters. Then only is it possible that evils will vanish....

Education is not filling the mind with a lot of facts. Perfecting the instrument and getting complete mastery of my own mind [is the ideal of education]. If I want to concentrate my mind upon a point, it goes there, and the moment I call, it is free [again]....

That is the great difficulty. By great struggle we get a certain power of concentration, the power of attachment of the mind to certain things. But then there is not the power of detachment. I would give half my life to take my mind off that object! I cannot. It is the power of concentration and attachment as well as the power of detachment [that we must develop]. [If] the man [is] equally powerful in both — that man has attained manhood. You cannot make him miserable even if the whole universe tumbles about his ears. What books can teach you that? You may read any amount of books.... Crowd into the child fifty thousand words a moment, teach him all the theories and philosophies.... There is only one science that will teach him facts, and that is psychology.... And the work begins with control of the breath.

Slowly and gradually you get into the chambers of the mind and gradually get control of the mind. It is a long, [hard struggle]. It must not be taken up as something curious. When one wants to do something, he has a plan. [Raja-Yoga] proposes no faith, no belief, no God. If you believe in two thousand gods, you can try that. Why not? ... [But in Raja-Yoga] it is impersonal principles.

The greatest difficulty is what? We talk and theorise The vast majority of mankind must deal with things that are concrete. For the dull people cannot see all the highest philosophy. Thus it ends. You may be graduates [in] all sciences in the world, ... but if you have not realised, you must become a baby and learn.

... If you give them things in the abstract and infinite, they get lost. Give them things [to do,] a little at a time [Tell them,] "You take [in] so many breaths, you do this." They go on, [they] understand it, and find pleasure in it. These are the kindergartens of religion. That is why breathing exercises will be so beneficial. I beg you all not to be merely curious. Practise a few days, and if you do not find any benefit, then come and curse me....

The whole universe is a mass of energy, and it is present at every point. One grain is enough for all of us, if we know how to get what there is....

This having to do is the poison that is killing us.... [Duty is] what pleases slaves.... [But] I am free! What I do is my play. [I am not a slave. I am] having a little fun — that is all....

The departed spirits — they are weak, are trying to get vitality from us....

Spiritual vitality can be given from one mind to another. The man who gives is the Guru. The man who receives is the disciple. That is the only way spiritual truth is brought into the world.

[At death] all the senses go into the [mind] and the mind goes into Prana, vitality. The soul goes out and carries part of the mind out with him. He carries a certain part of the vitality, and he carries a certain amount of very fine material also, as the germ of the spiritual body. The Prana cannot exist without some sort of [vehicle].... It gets lodgement in the thoughts, and it will come out again. So you manufacture this new body and new brain. Through that it will manifest....

[Departed spirits] cannot manufacture a body; and those that are very weak do not remember that they are dead.... They try to get more enjoyment from this [spirit] life by getting into the bodies of others, and any person who opens his body to them runs a terrible risk. They seek his vitality....

In this world nothing is permanent except God.... Salvation means knowing the truth. We do not become anything; we are what we are. Salvation [comes] by faith and not by work. It is a question of knowledge! You must know what you are, and it is done. The dream vanishes. This you [and others] are dreaming here. When they die, they go to [the] heaven [of their dream]. They live in that dream, and [when it ends], they take a nice body [here], and they are good people....

[The wise man says,] "All these [desires] have vanished from me. This time I will not go through all this paraphernalia." He tries to get knowledge and struggles hard, and he sees what a dream, what a nightmare this is - [this dreaming], and working up heavens and worlds and worse. He laughs at it.

[According to SWAMI VIVEKANANDA HIS SECOND VISIT TO THE WEST (P. 461), this address was delivered on 29 March 1900 under the title "The Science of Breathing". — Ed.]


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.